Rabu, 27 Mei 2009

RAHASIA SI DUKUN CILIK ASAL JOMBANG

Oleh:
Agung Ari Widodo

Para dokter mulai mengeluarkan suaranya tentang kontroversi dukun cilik. Dukun yang masih duduk di kelas 3 SD diyakini masyarakat setempat mempunyai kekuatan gaib. Menurut pemberitaan dari Surya (2 Febuari 2009), kekuatan si dukun cilik berasal dari batu sebesar kepalan tangan manusia. Si dukun cilik yang mempunyai nama asli Muhammad Ponari, menemukan ”batu sakti” itu dengan tidak sengaja di tepi sungai (atau di suatu tempat). Ketika hujan deras, Ponari berkali-kali mendengar suara petir disertai dengan kilat yang menyambar. Batu yang ditemukan Ponari kemudian menyala berwarna merah. Melihat sesuatu yang aneh Ponari membawa batu itu pulang ke rumah.
Berita tentang kesaktian batu dengan cepat tersebar. Masyarakat percaya akan kasiat dari batu itu yaitu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tidak heran banyak orang-orang yang berobat ke dukun cilik tersebut. Orang yang berobat bahkan ada yang datang dari luar desa. Begitu ampuhkah batu tersebut? Polisi menutup klinik dukun cilik karena ada dua pasiennya yang meninggal. Penyebab meninggalnya pasien tersebut masih dalam proses penyelidikan. Penulis rasa kedua pasien tersebut meninggal karena penyakitnya sendiri. Ditambah lagi dengan rasa depresi sehingga menyebabkan kedua pasien tersebut berobat ke dukun cilik. Tapi sebelum obatnya diminum Tuhan sudah memanggil duluan, Allahualam.
Kembali ke dukun cilik. Benarkah sang dukun cilik itu sakti? Benarkah batu yang merupakan ”pusaka” sang dukun bisa menyembuhkan segala macam penyakit? Hanya dengan menyelupkan batu di dalam air mineral kemudian diminum oleh pasien, sembuhkah?
Jawabannya adalah ya kenapa tidak.. Kenapa bisa begitu? Kunci dari kesembuhan penyakit sebenarnya bukan pada kesaktian dari si dukun cilik dan bukan pula pada kasiat dari batu ”pusaka” melainkan pada iman (percaya), sugesti kalau menurut bahasa ilmiah. Percaya bahwa sesuatu itu ada dan terjadi pasti akan terjadi. Percaya atau iman merupakan energi positif yang bisa mewujukan keinginan. Kalau boleh jujur, sebenarnya segala obat yang bersifat kimia maupun alami adalah racun dan hanya meredam rasa sakit dalam waktu yang tidak lama. Kesembuhan hanya bisa disembuhkan oleh badan kita sendiri. Jika seseorang hanya memikirkan penyakitnya, bukan kesembuhan yang datang tapi penyakitnya tambah parah atau bahkan ajal menjemput. Seseorang yang selalu mempunyai pikiran positif dan keadaan psikologis yang sehat, penyakit yang dideritanya akan berangsur sembuh. Orang yang percaya pasti keinginannya akan terwujud, percaya bahwa penyakit ini akan sembuh, maka sembuhlah.
Itulah rahasia (the secret), kekuatan yang dimiliki oleh si dukun cilik dan batu ajaibnya. Apapun keinginan Anda, keinginan kita, tariklah keinginan tersebut dalam angan kita dan percayalah bahwa keinginan itu akan terwujud. Dalam buku The Secret karya Ronda Byrne teori itu disebut The Law Of Attraction (hukum tarik menarik). Apapun keinginan Anda, apapun yang Anda pikirkan, semuanya akan datang dan pasti datang dan tercapai.

PIAGAM PERJUANGAN SEBAGAI DASAR PEMBENTUKAN PEMERINTAH REVOLUSIONER REPUBLIK INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Nasib malang yang menimpa Indonesia dalam era Demokrasi Liberal ditandai oleh pemerintahan yang tidak stabil antara tahun 1950-1957, ada tujuh kali jatuh bangun kabinet parlementer. Tidak terdapat satu pun pemerintah pasca revolusi yang dapat memenuhi harapan rakyat setelah kemenangan perjuangan nasionalis melawan kolonialisme Belanda.
Pada masa Kabinet Ali Sastroamijoyo II harus menghadapi kesukaran adanya perasaan tidak senang yang muncul di daerah-daerah seperti di Sumatera dan Sulawesi yang dikarenakan ketidakpuasan terhadap alokasi biaya pembangunan yang diterima dari pusat . Selain alasan tersebut mereka juga tidak lagi menaruh kepercayaan terhadap pemerintah. Karena mengubah pemerintah dengan jalan parlementer tidak bisa dilakukan, maka mereka menempuh jalan ekstra parlementer. Gerakan-gerakan daerah mendapat dukungan dari beberapa panglima dan terbentuklah dewan-dewan daerah yaitu Dewan Banteng di Sumatera Barat yang dibentuk oleh Letnan Kolonel Achmad Husein, Komandan Resimern Infanteri empat pada tanggal 20 Desember 1956. Dewan Gajah dibentuk oleh Kolonel Maludin Simbolon Panglima Tentara dan Territorium I (TT I) di Medan pada tanggal 22 Desember 1956, Dewan Garuda di Sumatera Selatan dan Dewan Manguni dibentuk oleh Letnan Kolonel Ventje Sumual di Manado pada tanggal 18 Februari 1957 .
Untuk meredakan pergolakan di daerah-daerah, dari tanggal 10 sampai 14 September 1957 telah dilangsungkan Musyawarah Nasional (Munas) yang dihadiri oleh tokoh-tokoh nasional baik di Pusat maupun di Daerah. Hadir pada pertemuan itu juga mantan Wakil Presiden Moh. Hatta. Di dalam musyawarah itu antara lain telah dibicarakan masalah-masalah pemerintahan, soal-soal daerah, ekonomi, keuangan, Angkatan Perang, kepartaian serta masalah yang menyangkut Dwitunggal Sukarno-Hatta .

2. Rumusan Masalah

Dari uraian di atas maka dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana proses pembentukan PRRI?
2. Bagaimana strategi Pemerintah dalam menghadapi PRRI?

3. Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah;
1. Untuk mengetahui proses pembentukan PRRI
2. Untuk mengetahui strategi Pemerintah dalam menghadapi PRRI.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pembentukan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia)

PRRI merupakan pemerintahan Revolusioner yang didirikan oleh sekelompok orang yang merasa “kecewa” dengan kebijakan pemerintah. Mereka melakukan pembangkangan dengan membentuk suatu pemerintahan sendiri . Mereka adalah para politisi pemerintah yang terdiri dari militer dan sipil, antara lain dari pihak militer, Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel Dahlan Djambek, Kawilarang. Dari pihak sipil antara M. Syarifuddin Prawiranegara, Mohammad Natsir, Mr. Burhanuddin Harahap, Mr. Asaat, Dr. Sumitrojoyohadikusumo serta dihormati dan didukung oleh pemerintah daerah.
Latar belakang pembentukan ini berawal dari pertemuan dari eks Dewan Banteng di Padang pada bulan November 1956 yang dihadiri oleh sekitar 600 orang. Pada pertemuan ini awalnya membahas tentang kesejahteraan mantan pejuang, terutama yang berasal dari Divisi Banteng, namun kemudian acara reuni ini pembahasannya berkembang lebih jauh, mereka mulai menyoroti masalah-masalah yang bersifat nasional. Ada semacam koreksi terhadap pemerintahan pusat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Diantaranya membahas masalah ekonomi, politik, pemerintahan, serta pembangunan.
Dalam bidang pemerintahan, problem yang muncul yaitu pada sentralisasi kekuasaan yang seluruhnya dipusatkan serta ditentukan di Jakarta. Sehingga terdapat banyak pejabat yang didatangkan langsung dari pusat ke daerah. Dalam bidang politik, masyarakat daerah melihat bahwa pemerintahan pusat telah mendapat pengaruh dari PKI yang terbukti dari masuknya PKI di Kabinet Djuanda. Sedangkan dalam bidang ekonomi yaitu pada pembangunan yang tidak merata. Pada saat itu pembangunan dikenal dengan pembangunan proyek-proyek mercusuar.
Pertemuan ini melahirkan suatu dewan yang dikenal dengan Dewan Banteng. Dewan ini menghasilkan maklumat yang dikenal dengan nama “Piagam Perjuangan“(Syamdani, 2001: 73-74). Piagam ini di keluarkan pada tanggal 10 februari 1958 dan berisi sejumlah tuntutan yang ditujukan kepada pemerintah agar bersedia kembali kepada kedudukan yang konstitusional. Isi tuntutan tersebut antara lain :
1. Tuntutan supaya Kabinet Juanda mengundurkan diri dan mengembalikan mandatnya kepada Presiden.
2. Agar pejabat Presiden Sartono membentuk kabinet baru.
3. Tuntutan agar kabinet baru diberi mandat sepenuhnya untuk bekerja sampai diselenggarakannya Pemilu.
4. Tuntutan agar Presiden Sukarno membatasi diri menurut konstitusi.
Apabila tuntutan semua di atas tidak dipenuhi dalam waktu 5x24 jam maka Dewan Perjuangan akan mengambil langkah kebijaksanaan sendiri.
Faktanya ultimatum dari Dewan Perjuangan tersebut ditolak secara tegas oleh Pemerintah. Tindakan pemerintah ini mengakibatkan Dewan Banteng mendeklarasikan:
1. Mendirikan “Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia“ (PRRI) pada 15 Februari 1958 dengan Syarifuddin Prawiranegara sebagai perdana menteri. Anggota kabinet terdiri dari tokoh-tokoh asal Sumatera dan Sulawesi termasuk para bekas menteri yang meninggalkan Jawa seperti Mohammad Natsir, Burhanuddin Harahap, Sumitro Joyohadikusumo.
2. Menolak Demokrasi Terpimpin buatan Sukarno dan Komunis.

2. Usaha Pemerintah Dalam Menghadapi PRRI

Pada tanggal 16 Februari 1958 Sukarno kembali mendesak diterapkannya perlakuan keras terhadap kaum “pemberontak“. Juanda, Nasution, serta kebanyakan pemimpin PNI dan PKI juga menghendaki “pemberontakan“ itu ditumpas. Hatta bersama-sama dengan para pemimpin Masyumi dan PSI di Jakarta mendesak suatu penyelesaian dengan perundingan sehingga menempatkan diri mereka pada posisi kompromis. Hamengkubuwono IX, yang secara tidak resmi merupakan sekutu PSI, juga lebih menyukai perundingan dan tidak bersedia menerima jabatan dalam kabinet ketika diubah susunannya pada bulan Juni 1958 karena adanya garis keras pemerintah terhadap PRRI .
Karena usaha melalui musyawarah tidak berhasil, maka untuk memulihkan keamanan negara, pemerintah dan KSAD memutuskan untuk melancarkan operasi militer. Operasi gabungan AD-AL-AU terhadap PRRI di Sumatera Tengah itu diberi nama Operasi 17 Agustus. Selain untuk menghancurkan kaum separatis, operasi ini juga bermaksud mencegah mereka meluaskan diri ke tempat-tempat lain dan mencegah turut campurnya kekuatan asing. Kekuatan asing dikhawatirkan akan mengadakan intervensi dengan dalih melindungi modal dan warganegara, sebab di Sumatera Timur dan Riau banyak terdapat kepentingan modal asing. Oleh sebab itu gerakan Angkatan Perang (APRI) pertama kali ditujukan ke Pekanbaru untuk mengamankan sumber-sumber minyak di situ. Pasukan APRI dapat menguasai Pekanbaru sejak tanggal 14 Maret 1958. Dari Pekanbaru operasi dikembangkan ke pusat pertahanan PRRI dan akhirnya pada tanggal 4 Mei 1958 Bukittinggi dapat direbut kembali. Setelah itu APRI membersihkan daerah bekas kekuasaan PRRI di mana banyak anggotanya yang melarikan diri ke hutan-hutan .

BAB III
PENUTUP

Analisis Dan Kesimpulan
Sejarah perjalanan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di gambarkan sebagai persekutuan para politisi dan petualang militer yang menemui jalan buntu untuk menjatuhkan Bung karno. Pandangan ini tentunya akan di tolak oleh siapapun yang mengerti duduk perkaranya.tetapi, dalam kurun waktu 40 tahun peristiwa PRRI banyak meninggalkan kenangan yang mempunyai citra negatif. Dalam buku-buku sejarah anak sekolah, keterangan-keterangan tentang PRRI, yang biasanya sejalan dengan Permesta, menyodorkan fakta-fakta, yang menimbulkan ketakutan, yang maknanya pujian untuk pusat kekuasaan jakarta.
Dalam buku Kontrovesi Sejarah Di indonesia banyak para pelaku sejarah baik dari PRRI, ulama dan budayawan, yang mengatakan senada bahwa PRRI yang ada saat itu adalah akibat dari pemerintahan pusat yang mengabaikan daerah. Keikutsertaan Muhammad Natsir bukan untuk mendirikan negara sumatra melainkan memberikan pelajaran kepada pemerintahan bung Karno yang dinilai sudah melanggar UUD 1945. Selain itu juga PRRI merupakan hasil dari akumulasi, kekecewaan anggota-anggota Resimen 6 Divisi IV Banteng terhadap induk kesatuan, yang pada saat itu hanya divisi ini yang di melikuidir oleh Kasad Kolonel A.H. Nasution, dan hanya satu-satunya divisi ini yang di perlakukan demikian.
Jadi bisa dianalisis bahwa yang bergabung dengan PRRI adalah merupakan barisan sakit hati baik dari kalangan sipil maupun militer, selain itu juga perang ideologi untuk saling mempengaruhi sangat mencolok dimana di Padang banyak yang beridealiskan agamis, sedangkan dari pusat banyak ditumpangi oleh ideologi Komunis hal ini terbukti dengan diikut sertakanya OPR (Organisasi Pemuda Rakyat) yang merupakan sayap dari Komunis tersebut dalam melakukan penumpasan PRRI, dimana telah kita ketahui bahwa. Pemerintahan memanfaatkan Komunis untuk melakukan penumpasan karena memang keduanya sudah saling bermusuhan. Salah-satunya koreksi yang tidak disukai oleh PRRI terhadap pemerintahan pusat dibidang politik adalah Komunisme yang membonceng di belakang pemerintah hal itulah yang menyebabkan komunis untuk menyerang balik. Hal ini sudah tidak diherankan lagi jika kedua ideologi ini sangat bertentang, bila kita tarik latar belakang sejarah sejak tahun 1914 yang merupakan malapetaka bagi SI (Sarekat dagang) dengan masuknya ideologi komunis, yang kedepannya memecah belah SI menjadi dua bagian.
Sedangkan analisis dimiliter, akibat adanya perampingan di dalam tubuh militer banyak prajurit yang kecewa, wajar bila prajurit kecewa, karena para prajurit merasa mempunyai andil dalam membangun republik ini, perwakilan dari pihak Dewan Banteng yang mengirimkan perwiranya ke Jakarta untuk memprotes hasil keputusan Kasad. Klonel.A.H Nasution untuk mengubah keputusannya menghapuskan Divisi Banteng tidak digubrisnya. Hal ini membuat banyak kecewa pada para mantan Prajurit dari kesatuan Divisi Banteng.
Dampak dari ketidakpuasan dari pemerintahan pusat ini adalah dengan berkumpulnya para tokoh politis maupun militer yang menuangkan tuntutan terhadap pemerintahan pusat pada tanggal 19 Februari 1958, melalui Radio Republik Indonesia (RRI) Padang, atas nama “Dewan Perjuangan“ mengeluarkan pernyataan “Piagam Perjuangan“. Tetapi setelah tenggang waktu yang telah diberikan tidak ada jawaban dari pemerintahan pusat, maka pada tanggal 15 Februari 1958 Dewan Perjuangan mengumumkan mendirikan pemerintahan tandingan lengkap dengan kabinetnya dan mereka menamakan dengan sebutan “Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)“


DAFTAR RUJUKAN
Pontoh, H. 2005. Menentang Mitos Tentara Rakyat. Yogyakarta: Resist Book.
Poesponegoro dan Notosusanto. 1993. Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka.
Ricklefs, M.C. 1981. Sejarah Indonesia Baru. Terjemahan. Prof. Dharmono Hardjowidjono.2005. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Syamdani. 2001. Kontrovesi Sejarah Di Indonesia. Jakarta:Grasindo.
Taher, Y.T. 2007. Fakta Sejarah PRRI. (www.kabarindonesia.com). Di akses Tanggal,10 Maret 2008. Pukul, 20:14:58 WIB

BENDA CAGAR BUDAYA

BENDA CAGAR BUDAYA
Haruskah kita lindungi…?

Oleh:
Agung Ari Widodo

Baru-baru ini di situs kota kuno Trowulan digemparkan dengan pembangunan PIM (Pusat Informasi Majapahit). Pembangunan proyek ini bisa mengakibatkan kerusakan pada situs-situs purbakala di sekitar Trowulan. Kontan saja para sejarawan dan arkeolog mengkritik pembangunan proyek besar ini.
Kalau boleh jujur, sebenarnya perusakan pada Benda Cagar Budaya (selanjutnya di singkat BCB) tidak hanya pada pembangunan PIM itu saja. Di mana-mana, di setiap daerah yang terdapat BCB atau situs sejarah rawan sekali mengalami perusakan. Ada saja yang diperbuat manusia-manusia jahil untuk merusak tatanan BCB, seperti misalnya, mencorat-coret dinding (batu) pada candi (seperti yang ada di Candi Badut), mengambil bagian dari bangunan BCB, menjual BCB atau malah merusaknya habis-habisan seperti kasus perusakan bekas penjara militer di kawasan Koblen, Surabaya (padahal bangunan itu dinyatakan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata sebagai BCB).
Pemerintah sudah mengeluarkan Undang-undang Perlindungan Benda Cagar Budaya No. 5 Tahun 1992 (nanti dilihat lagi) sebagai upaya melindungi BCB. Dalam UU tersebut sudah terlampir ancaman dan denda bagi orang yang merusak BCB. Tidak tanggung-tanggung mereka yang merusak, mengambil, atau menjual akan dikenakan denda Rp. 500.000.000,- dan akan dihukum penjara selama 5 tahun. Agaknya peraturan hukum ini masih lemah jika melihat kenyataan (fenomena) yang ada. Papan pengumuman yang bertuliskan larangan merusak BCB yang dipasang di sekitar BCB hanya berfungsi sebagai hiasan pelengkap saja, bahkan sampai karatan hingga tidak bisa dibaca.
Orang-orang “jail” sering melakukan perusakan pada BCB terutama bangunan atau situs-situs dari masa prasejarah maupun dari masa klasik (Hindu-Budha). Peninggalan bercorak Islam (kerajaan Islam kuno) jarang mengalami perusakan, demikian juga dengan bangunan Hindis (bangunan Eropa). Pertanyaannya kenapa? Agaknya permasalahan ini harus dilihat pada perjalanan sejarah Indonesia dan masyarakat pendukung kebudayaan.
Indonesia mengalami perubahan sejarah dari masa ke masa. Berdasarkan penemuan-penemuan BCB yang terselamatkan, perjalanan sejarah Indonesia diawali dari masa Prasejarah. Kemudian dilanjutkan pada masa kerajaan klasik (Hindu-Budha), diteruskan pada masa kerajaan Islam, kemudian masa Hindia Belanda, dan terakhir masa Kemerdekaan. Tentu saja dari setiap periode ini terdapat tinggalan kebudayaan, dan masyarakat yang hidup di setiap periode tentu merupakan masyarakat pendukung kebudayaan. Masyarakat Prasejarah mendukung dan melindungi punden berundak, menhir, sarkofagus, alat-alat dari batu, tembikar, dan sebagainya. Mereka menganggap benda-benda tersebut memiliki kekuatan magis, hal ini tentu saja berkaitan dengan religi di setiap periode. Begitu juga dengan candi Hindu maupun Budha, dan masjid kuno pada masa Islam. Masyarakat pendukung ini menjadi hal penting dalam melindungi dan melestarikan peninggalan Budaya.
Bagaimana dengan masyarakat sekarang? Agaknya masyarakat sekarang sangat pragmatis dan tidak begitu memperdulikan BCB, terutama peninggalan masa Hindu-Budha. Masyarakat awam menganggap reruntuhan candi ataupun situs tidak memiliki nilai. Mereka menganggap itu hanya sebuah sisa batu saja, dan malah mengambil batu-batuan tersebut untuk tambahan pondasi rumah atau keperluan yang lain. Berbeda dengan situs masjid kuno dan bangunan-bangunan Hindis. Masyarakat masih mau merawat dan melestarikan karena masih bisa digunakan lagi yaitu untuk tempat ibadah dan tempat tinggal. Masyarakat tidak sepenuhnya mendukung pelestarian bangunan Hindu-Budha, hanya yang memiliki emosi keagamaan yang memanfaatkan situs-situs Hindu-Budha. Biasanya mereka melakukan ritual-ritual, misalnya nyepi, sendratari (Sendratari Ramayana di Prambanan), ataupun berdoa meminta rezeki.
BCB memiliki arti penting dalam Sejarah, Budaya, dan Ilmu Pengetahuan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya, kata Soekarno. Perlu introspeksi diri, apakah kita ini bangsa yang besar? Walaupun Cuma seonggok batu atauu reruntuhan bangunan, ini merupakan identitas bangsa Indonesia. Kemegahan bangunan-bangunan kuno tersebut merupakan suatu seni arsitektur yang luar biasa di masa lampau. Sangatlah bijak jika dalam menata kehidupan yang sekarang kita menengok di masa lalu. Di Jakarta tidak akan banjir jika tatanan kota yang rapi dari masa Hindia Belanda tidak di acuhkan. Di Mojokerto tidak akan kekeringan jika kanal-kanal kuno (ancient canal) di kota Trowulan tetap dipertahankan sebagai sarana irigasi.
Memang perawatan BCB tidak membutuhkan biaya yang sedikit. Pemerintah harus mengeluarkan jutaan uang hanya untuk membersihkan situs. Pemerintah pun bisa menggali devisa dari BCB. Pemerintah bisa membuka BCB sebagai kawasan wisata, baik wisata religi maupun wisata pendidikan. Para mahasiswa dari jurusan Pariwisata dan dari jurusan Sejarah bisa membantu memberikan informasi tentang BCB. Dengan cara ini diharapkan batu, arca, dan situs-situs yang lain bisa “bicara” dan “berkomunikasi” dengan masyarakat melalui informasi yang diberikan para mahasiswa ataupun orang yang ahli di bidang sejarah dan arkeologi. Pemerintah juga hendaknya bekerja sama dengan para ahli sejarah dan arkeologi untuk membangun tempat wisata BCB. Hal ini perlu sekali dilakukan agar pembangunan nantinya tidak merusak tatanan situs yang ada seperti kasus pembangunan PIM di Trowulan, Mojokerto
Jika kita tahu dan paham akan nilai dari BCB, akan banyak keuntungan yang kita peroleh. Masyarakat hanya perlu informasi dan pemahaman untuk melindungi BCB. Setelah tahu dan paham arti penting dari BCB, masih perlukah kita melindungi BCB?

Sabtu, 28 Maret 2009

PON PIN (Pondok Pintar)

BAB I PENDAHULUAN


  1. Judul Kegiatan: PON-PIN (Pondok Pintar)

Usaha Pon-Pin ini menyajikan berbagai jenis makanan dengan harga sangat terjangkau. Selain makanan, pondok ini juga menyajikan buku bacaan. Tujuan dari adanya buku-buku bacaan ini adalah sebagai pengisi waktu konsumen yang menunggu makanan. Pon-pin juga menyewakan buku-buku tersebut pada konsumen yang merasa tertarik pada buku yang dibacanya. Di Pon-pin juga menjual buku berdiskon. Selain usaha di atas, di Pon-pin juga menyediakan pelayanan pulsa elektrik dan fisik. Pada kesimpulannya Pon-pin ini adalah suatu perusahaan kecil yang menyediakan berbagai macam usaha.


  1. Status Usaha:

Pon-pin ini sudah berdiri sejak tanggal 10 November 2007. Pendiri Pon-pin ini adalah 5 mahasiswa dari Universitas Negeri Malang. Saat ini Pon-pin sudah berjalan selama empat bulan. Hal ini berarti status usaha Pon-pin adalah dalam masa pengembangan.


  1. Rasional Kegiatan

Usaha ini merupakan wadah yang menampung ide-ide para mahasiswa pendiri Pon-pin. Mereka mempunyai ide dalam hal interpreneurship. Pertemuan kelima mahasiswa tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa untuk menampung ide-ide itu maka didirikanlah Pon-pin.

Pon-pin menyediakan berbagai macam menu makanan. Tersedia juga buku-buku bacaan yang bisa disewakan dan dibeli dengan harga diskon

Alasan saya mengembangkan usaha ini adalah:

  • Faktor lokasi: Lokasi Pon-pin berada dipinggir jalan tepatnya di Jalan Bendungan Sutami No. 109 B Malang. Letak yang strategis ini memungkinkan untuk mendapatkan laba.

  • Faktor relasi: Pon-pin ini sering menjadi sebuah tempat diskusi dan berkumpulnya teman-teman mahasiswa khususnya dari Universitas Negeri Malang. Banyaknya relasi ini juga membuat Pon-pin ramai dikunjungi konsumen.

  • Faktor harga: Harga makanan dan buku di Pon-pin sangat terjangkau, apalagi oleh mahasiswa. Penulis menyadari bahwa mahasiswa suka akan harga yang murah. Oleh karena itulah Pon-pin memberikan harga mahasiswa.


  1. Tujuan

Tujuan dari didirikannya usaha Pon-pin ini adalah:

  1. Untuk memberikan pelayanan yang maksimal agar bisa menyenangkan konsumen.

  2. Untuk mendapatkan pengalaman dari berinteraksi dengan orang lain (konsumen).

  3. Untuk mendapatkan relasi dan memperluas jaringan usaha.

  4. Untuk mendapatkan penghasilan dari laba Pon-pin.


BAB II. METODE PELAKSANAAN


  1. Produk

Pon-pin menyediakan aneka menu makanan dan buku-buku bacaan. Adapun menu makanan adalah sebagai berikut:

    • Nasi lengko

    • Nasi goreng ala Pon-pin

    • Mie Sunda

    • Aneka lalapan

    • Kopi

    • Susu

    • Aneka jus

    • Es Ngecebong

    • Teh Tarik

Buku-buku bacaan yang ada di Pon-pin antara lain komik, novel, dan buku-buku pengetahuan umum. Pada penjualan buku, sementara ini kami menjalin kerja sama dengan penerbit Ar ruzz. Dalam pengembangan usaha nantinya kami akan menjalin kerja sama dengan penerbit buku yang lain.

Pada usaha counter pulsa, Pon-pin Cell menyediakan pulsa elektrik untuk semua operator, voucher fisik, dan berbagai kartu perdana. Rencana penulis nantinya akan mengembangkan counter pulsa menjadi server atau grosir pulsa elektrik.


  1. Bahan Baku

Usaha makanan di Pon-pin menyediakan berbagai menu makanan seperti yang sudah penulis tulis di atas. Penulis akan memaparkan bahan baku dari masing-masing menu makanan di atas, adalah sebagai berikut:nanti tanya mbak putri

Pada usaha buku, untuk sementara ini kami mengambil dari penerbit Ar-Ruzz. Anggota kami nantinya akan memperluas jaringan dengan melakukan kerja sama dengan penerbit yang lain.

Counter pulsa kami menyediakan pulsa voucher elektrik, pulsa voucher fisik, dan kartu perdana. Voucher elektrik kami stok dari agen/ grossir pulsa elektrik all operator Brawijaya E Reload. Voucher fisik dan kartu perdana kami ambil dari Millenium.


  1. Proses Produksi

  • Proses produksi makanan pada menu makanan: (tanya mbak putri)

  • Proses penjualan buku

    1. Menyetok buku dari penerbit sejumlah yang diperlukan.

    2. Melakukan perjanjian mengenai harga dan diskon.

    3. Menjual buku di Pon-pin.

      • Proses penjualan pulsa (elektrik)

  1. Menyetok pulsa (deposit) pada agen pulsa elektrik berupa saldo pulsa kemudian dijual kembali.

  2. Cara mengisi pulsa elektrik pada konsumen: ketik kode voucher (sesuai di brosur) (titik) no Hp kirim ke nomer pusat pesan transaksi

Kamis, 05 Februari 2009

PENGATURAN AIR DI KOTA TROWULAN PADA MASA MAJAPAHIT

PENGATURAN AIR DI KOTA TROWULAN PADA MASA MAJAPAHIT


Oleh:
Agung Ari Widodo
(305262479251)


Sejarah tanpa geografi melayang-layang di angkasa, dan sebaliknya geografi tanpa sejarah hanya merupakan mayat yang kaku saja.
(E.G. East)


Indonesia pernah mengalami jaman kejayaan. Kejayaan itu muncul pada jaman klasik atau disebut jaman kerajaan Hindu-Budha. Masuknya peradaban dari India membuat suatu perubahan di Indonesia. Lihat saja kemegahan Kerajaan Sriwijaya pada abad 8 kemudian dilanjutkan dengan kemegahan Wilwatikta atau lebih dikenal dengan nama Majapahit pada abad 14. Majapahit mengalami puncak kemegahannya pada masa Hayam Wuruk (Sri Rajasanagara) (1350-1389) dengan Maha Patihnya yang bernama Gajah Mada yang terkenal dengan amukti palapa -nya.
Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya yang merupakan menantu dari Kertanegara. Ketika Kerajaan Singhasari diserang oleh pasukan Jayaktwang, Raden Wijaya, istri-istrinya, dan beberapa pejabat kerajaan berhasil melarikan diri. Mereka mengungsi ke Madura dan bertemu dengan Arya Wiraraja1. Melalui Arya Wiraraja ini Raden Wijaya diberi ijin tinggal di wilayah kekuasaan Jayaktwang (Kadiri) dan diberi tanah di hutan Terik. Hutan ini kemudian di ubah menjadi desa dengan dalih untuk pertahanan2. Desa ini kemudian diberi nama Majapahit3.
Diam-diam Raden Wijaya membangun kekuatan di desa Majapahit. Kemudian datanglah pasukan Kubilai Khan untuk membalas dendam atas perlakuan Kertanegara yang melukai utusan Kubulai Khan. Dengan tipu muslihatnya Raden Wijaya berhasil menghasut pasukan Kubilai Khan supaya menyerang Jayaktwang. Berhasil menaklukkan Jayakatwang, pasukan Kubilai Khan yang terlena dengan kemenangan dihancurkan oleh pasukan Raden Wijaya. Setelah itu kemudian berdirilah Kerajaan Majapahit dengan Raden Wijaya sebagai rajanya dengan gelar Sri Kertarajasa Jayawardhana4.
Lokasi kota Majapahit diperkirakan berada di Trowulan, Mojokerto. Peninggalan-peninggalan arkeologis dari masa Majapahit banyak ditemukan di daerah ini. Trowulan banyak dikaji oleh para sejarawan dan arkeolog. Penelitian itu menghasilkan rekonstruksi tata kota Majapahit. Menurut Atmadi (1993) salah satu dasar yang rupanya digunakan dalam menentukan tata ruang dan letak bengunan di Majapahit dan di Jawa pada waktu itu adalah orientasi pada alam sekitarnya seperti gunung, dataran, dan laut5. Gunung disimbolkan sebagai tempat suci dan laut sebagai tempat kurang suci.
Bangunan air di kota Majapahit juga sudah tertata. Pengairan atau irigasi yang teratur sudah dikenal di Majapahit. Hal ini dapat dilihat dari bangunan-bangunan tadah air, kanal-kanal, dan patirtan, seperti kolam Segaran, Candi Tikus, sisa-sisa waduk kuno, sisa-sisa tinggalan saluran-saluran air. Sayangnya tidak ada sumber data tertulis tentang kanal-kanal air ini. Tapi pembuatan kanal ini membuktikan bahwa arsitek-arsitek Majapahit sudah bisa mengatur alam. Ketika informasi tentang kanal-kanal di kota Majapahit sangat terbatas, maka latar belakang pembuatan kanal-kanal ini bisa dianalisis dengan menggunakan pendekatan geografi.
Peranan bangunan air ini sangat penting bagi kehidupan di kota Majapahit. Sebagai kerajaan yang bersifat agraris, diperlukan pengairan yang teratur untuk mengairi sawah sehingga dibangun kanal air sebagai sistem pengairan. Begitu juga ketika pada musim kemarau panjang, maka dibangunlah tempat penampungan air yang nantinya disalurkan ke pemukiman penduduk. Penampungan air tersebut diperkirakan adalah kolam Segaran.
Selain sebagai kebutuhan agraris, bangunan-bangunan air ini juga mempunyai fungsi magis, yaitu sebagai tempat pemandian suci, misalnya di Candi Tikus. Bangunan air di kota Majapahit juga mempunyai peranan dalam mengatur air di Sungai Brantas agar tidak meluap.
Pembangunan saluran-saluran air ini tentu tidak asal-asalan. Ada pertimbangan alam kondisi alam. Untuk mengetahui latar belakang pembuatan bangunan air ini perlu diketahui terlebih dulu tentang kondisi alam pada masa Majapahit. Setelah mengetahui kondisi alam pada masa Majapahit, selanjutnya bagaimana kondisi alam tersebut mempengaruhi pembuatan bangunan air.


Keadaan Alam Kota Majapahit

Setelah mendapat ijin dari Jayaktwang, Raden Wijaya mendapat tanah di hutan Terik. Hutan ini kemudian di buka dijadikan sebuah perkampungan. Raden Wijaya mendapat bantuan dari orang-orang Madura (Wiraraja) dalam membangunan perkampungannya. Perkampungan baru itu dinamakan Majapahit6. Ketika kekuatan di Majapahit sudah terkumpul, Raden Wijaya dan pasukannya menyerang Jayaktwang. Setelah mengalahkan Jayaktwang maka berdirilah kerajaan Majapahit.
Lokasi pusat kerajaan Majapahit diperkirakan berada di dekat Trowulan yang letakknya ± 10 km di sebelah barat daya kota Mojokerto sekarang. Dugaan ini dilandaskan pada banyaknya temuan-temuan berupa pondasi candi, gapura, reservoar air, umpak-umpak, pernik-pernik, dan patung-patung yang kini masih dapat dilihat di museum Trowulan.
Pusat kerajaan Majapahit berada pada ujung bawah suatu kipas aluvial pada ketinggian 30-40 m di atas permukaan laut. Di sebelah utaranya terhampar dataran banjir kali Brantas sedangkan disebelah Selatan dan Tenggaranya sejauh ± 25 km menjulang tinggi kompleks gunung Anjasmoro, Arjuna, dan Welirang dengan ketinggian antara 2000-3000 m7. Di sebelah utara deretan pegunungan tersebut terdapat gunung Penanggungan yang merupakan gunung yang penting bagi kerajaan Hindu di Jawa Timur.
Dengan dikelilingi oleh pegunungan dan sungai bisa dipastikan bahwa Majapahit memiliki tanah yang subur. Lahan yang subur ini sangat baik untuk pertanian. Oleh karena itu sektor pertanian menjadi penyangga kehidupan perekonomian Majapahit8.
Kondisi geografis daerah kraton Majapahit dan sekitarnya pada masa lampau bisa dianalisis dengan membandingkan keadaan geografis pada masa sekarang. Tentu saja ada perbedaannya, tetapi perbedaan tersebut masih berada pada julat (range) yang dapat diterima. Perbedaan tersebut tentunya lebih banyak diakibatkan oleh aktivitas gunung api yang relatif terletak di sebelah selatannya (Gunung Api Anjasmoro, Kelud, dan Penanggungan)9.
Menurut Sutikno, daerah Trowulan dan sekitarnya dapat dibedakan menjadi beberapa satuan bentuk lahan, yaitu: dataran aluvial, dataran fluvio vulkanik, dan kipas fluvio vulkanik10.
Dataran aluvial terdapat di sebelah utara Trowulan ke arah Mojokerto. Dataran aluvial terbentuk oleh aktivitas aliran air. Aliran air yang berperan terhadap pembentukan dataran aluvial tersebut adalah Sungai Brantas yang sering menimbulkan banjir. Dataran aluvial tersebut meluas dari arah Jombang ke arah timur melalui Mojokerto hingga mencapai Sidoarjo. Dataran aluvial tersebut di cirikan oleh topografi datar dengan kemiringan lereng ± 2%, material penyusunnya yang utama adalah endapan dengan tekstur yang relatuf halus, pasir, geluh, dan lempung. Masalah yang dihadapi lingkungan macam ini adalah banjir. Oleh karena materi penyusun utamanya adalah material lepas dengan tekstur pasir dengan gradien sungai pada lokasi tersebut rendah, maka alur sungai sering mengalami karena erosi lateral dan air banjir. Sebagai akibat pergeseran Sungai Brantas tersebut di masa lalu. Di beberapa tempat terdapat daerah rendah yang merupakan bekas rawa belakang (backswamp). Daerah dataran aluvial pada umumnya subur, sehingga menjadi pemusatan penduduk, meskipun ada hambatan karena sering terkena banjir. Selain tanahnya subur, topografinya datar sehingga aksesebilitasnya mudah.
Dataran fluvio vulkanik terdapat di sebelah barat Trowulan, meluas ke arah selatan dari Mojoagung. Dataran tersebut dicirikan oleh topografi yang landai serta dilalui oleh sungai-sungai yang berpola radial, misalnya Sungai Jarak dan Sungai Gunting yang berasal dari lereng barat Gunung Argowayang dan Blokoburuh. Material penyusun dataran fluvio vulkanik adalah material yang berasal dari kompleks Gunung Api Arjuna dan Kelud. Karena materialnya berasal dari material gunung api, terletak pada topografi yang datar, serta persediaan air yang cukup banyak, maka daerah di sebelah barat Trowulan sampai selatan Mojoagung merupakan daerah yang subur. Kemungkinan daerah tersebut merupakan daerah hutan yang pada awal kerajaan Majapahit dibuka seperti hutan Terik. Setelah daerah dibuka kemudian menjadi lahan pertanian yang subur, bahkan mungkin menjadi lumbung padi. Banjir lahar dimungkinkan terjadi karena sungai yang mengalir banyak terpengaruh oleh aktivitas Gunung Kelud. Sedangkan banjir yang diperkirakan terjadi pada dataran fluvio vulkanik ini didasarkan pada pola sungai yang berkelok-kelok (meander) dengan belokan-belokan yang tajam.
Dataran kipas fluvio vulkanik meluas dari daerah Trowulan ke arah tenggara11. Pembentukan kipas fluvial vulkanik diakibatkan oleh aliran sungai yang berasal dari Gunung Api Anjasmoro dan Welirang yang mengalir ke arah barat melalui daerah dengan perubahan topografi yang tegas. Semula sungai-sungai tersebut mengalir di daerah yang relatif berlereng terjal kemudian mengalir pada daerah yang relatif datar seperti yang terjadi di hulu Sungai Brangkal di sebelah tenggara Trowulan. Trowulan yang merupakan lokasi Kraton Majapahit didirikan terletak pada bagian bawah kipas fluvio vulkanik tersebut.
Dari keadaan geomorfologis di atas dapat di interpretasikan bahwa kehancuran kerajaan Majapahit bisa disebabkan karena faktor alam. Penelitian dari Institut Teknologi Bandung tahun 1980 menghasilkan suatu teori bahwa kehancuran kerajaan Majapahit disebabkan oleh ledakan gunung berapi yang disertai dengan banjir besar12.
Bagaimana dengan iklim di Majapahit? Iklim di Majapahit bisa diintepretasikan mirip dengan keadaan sekarang. Berdasarkan kualifikasi iklim, menurut Koppen daerah sekitar Trowulan beriklim hujan tropika (tipe A). Syarat tipe iklim A adalah sebagai berikut :
1.temperatur udara bulan terdingin >18°,
2.curah hujan rata-rata tahunan adalah :
a.lebih besar 20 t, apabila kebanyakan hujan jatuh pada musim dingin,
b.lebih besar 20 (t + 7), apabila hujan jatuh sepanjang tahun,
c.lebih besar 20 (t + 14), apabila hujan jatuh kebanyakan pada musim panas; dalam hal ini t adalah temperatur rata-rata tahunan13
Tipe iklim A menurut Koppen tersebut dapat di bedakan menjadi :
a.Af: apabila jumlah hujan rata-rata bulan terkering >60 mm,
b.Am: apabila jumlah hujan bulan basah dapat mengimbangi kekeringan hujan pada bulan kering,
c.Aw: apabila jumlah hujan bulan basah tidak dapat mengimbangi kekeringan hujan pada bulan kering14.
Berdasarkan klasifikasi tipe iklim di atas maka daerah Trowulan dan sekitarnya termasuk tipe Aw. Daerah yang bertipe iklim Aw mempunyai musim kemarau yang panjang. Oleh karena itu bisa diperkirakan bahwa temuan arkeologis yang berkaitan dengan air berhubungan dengam iklim di Trowulan. Di Trowulan terdapat tinggalan tinggalan kepurbakalaan yang berkaitan dengan air yaitu 6 buah waduk, 3 kolam buatan, dan sejumlah saluran air15. Tiga kolam buatan tersebut adalah Segaran, Balong Dowo, dan Balong Bunder. Penelitian terbaru menyebutkan jumlah waduk di daerah Trowulan sekitar 20 buah yang tersebar di dataran sebelah utara Gunung Anjasmoro, Welirang, dan Arjuno. Waduk Baureno, Kumitir, Domas, Kraton, Temon, dan Kedung Wulan adalah waduk-waduk yang berhubungan dengan Kota Majapahit yang letaknya di antara Kali Brangkal di sebelah timur dan Kali Gunting di sebelah barat. Hanya waduk Kedung Wulan yang tidak ditemukan lagi sisa-sisa bangunannya, baik dari foto udara maupun di lapangan16.
Tipe iklim di daerah hulu-hulu sungai yang mengalir melalui daerah Trowulan, yaitu yang terdapat di sebelah selatannya, memiliki tipe iklim Cw (lihat pada gambar 3). Ciri-ciri iklim C adalah temperatur rata-rata bulan terdingin lebih besar dari -3°, tetapi lebih kecil dari 18°, dan rata-rata temperatur bulan terpanas lebih besar dari 10°. Tipe iklim Cw mempunyai musim kering dalam musim dingin tengah tahun, yang pada bulan tersebut hujan paling terkecil sepersepuluh dari hujan bulan panas terbasah. Tipe iklim di sebelah selatan daerah Trowulan yang merupakan pegunungan tersebut mempunyai curah hujan relatif lebih tinggi. Hal ini bahwa daerah pegunungan tersebut memberi imbuhan air yang banyak ke daerah bawah. Oleh karena daearh pegunungan di sebelah selatan tersebut pada umumnya berlereng curam, maka air hujan banyak menjadi aliran permukaan. Oleh sebab itu apabila tidak ada tandon air di bawah kemungkinan air kurang mencukupi sepanjang tahun17.


Bangunan Air Masa Majapahit

Melihat keadaan alam pada masa Majapahit dan masalah kekeringan air maka bisa diinterpretasikan bahwa pembangunan kolam-kolam dan waduk-waduk buatan bertujuan untuk mengatasi masalah kekurangan air. Penduduk Majapahit sangat membutuhkan air karena Majapahit merupakan kerajaan agraris. Pertanian merupakan penopang ekonomi kerajaan. Oleh karena itu jika tidak ada air bisa dimungkinkan tidak ada kehidupan.
Bicara tentang bangunan air di Majapahit tidak terlepas dari Sungai Brantas. Sungai inilah yang menjadi ”senjata andalan” Raden Wijaya dalam membangun kerajaan Majapahit18. Raden Wijaya ketika mengungsi ke Madura tentunya keluar masuk desa-desa yang sekitarnya masih penuh dengan rawa-rawa. Kemudian setelah wilayah tersebut dihadiahkan oleh raja Jayaktwang kepadanya lalu dikeringkan. Untuk pekerjaan raksasa itu Raden Wijaya mendatangkan tenaga dari Tumapel dan Madura19. Dengan adanya Sungai Brantas ini kerajaan Majapahit bisa berhubungan dengan dunia luar, terutama dengan pelabuhannya yang terkenal yaitu Hujung galuh (Surabaya)20. Selain Sungai Brantas, Gunung Penanggungan juga mempunyai peran penting. Air yang mengalir dari gunung ini juga memberi kehidupan pada penduduk Majapahit. Selain berfungsi sebagai penopang kehidupan, Gunung Penanggungan juga di anggap gunung suci. Oleh karena itulah banyak peninggalan-peninggalan arkeologis yang tersebar di Gunung Penanggungan.
Pembangunan bangunan-bangunan air masa Majapahit mengikuti kondisi geografis wilayah Majapahit. Di sekitar-sekitar sungai dan pegunungan di bangun kanal-bangunan air air yang saling berhubungan. Untuk mengatasi masalah kekeringan dibangunlah kolam buatan, sumur buatan, dan waduk buatan.
Pada tahun 1973 pemotretan dilakukan di Trowulan dengan memakai alat multispektral foto dan fales colour infra red. Pemotretan ini berhasil menangkap jaringan air. Lebar jaringan air antara 20-30 m dengan kedalaman sekitar 4 m21. Kemudian dilakukan penelitian lebih lanjut dan menghasilkan interpretasi bahwa ibukota Majapahit dikelilingi oleh jaringan jalur air yang lebar dan dalam serta mempunyai jalan keluar ke arah barat menuju ke Sungai Brantas22. Interpretasi udara yang pankhromatik, ditemukan pula jalur-jalur lurus yang saling tegak di antara reruntuhan bangunan Segaran, Sumur Upas, Candi Tikus, Candi Bajang Ratu, Wringin Lawang, dsb. Kemudian dengan teknik geolistrik menjadi lebih jelas. Jalur-jalur lurus yang semula diduga jaringan jalan raya berupa pengerasan tanah ternyata salah. Isinya justru lumpur basah. Adapun bangunan di sekitarnya sekarang berupa sisa-sisa bata yang digali oleh penduduk untuk bahan bangunan baru23.
Solusi masalah kekeringan di Majapahit adalah dengan pembangunan waduk buatan, sumur buatan, dan kolam buatan. Waduk Baureo adalah waduk yang terbesar yang terletak 0,5 km dari pertemuan Kali Boro dengan Kali Landean. Bendungannya dikenal dengan sebutan Candi Lima. Tidak jauh dari Candi Lima, gabungan sungai tersebut bersatu dengan Kali Pikatan membentuk Kali Brangkal. Bekas waduk ini sekarang merupakan cekungan alamiah yang ukurannya besar dan dialiri oleh beberapa sungai. Seperti halnya Waduk Baureno, waduk-waduk lainnya sekarang telah rusak dan yang terlihat hanya berupa cekungan alamiah, misalnya Waduk Domas yang terletak di utara Waduk Baureno, Waduk Kumitir (Rawa Kumitir) yang terletak di sebelah barat Waduk Baureno, Waduk Kraton yang terletak di utara Gapura Bajangratu, dan Waduk Temon yang terletak di selatan Waduk Kraton dan di barat daya Waduk Kumitir24.
Di daerah-daerah dekat sungai yang meluap di musim hujan dan surut di musim kemarau, penduduk biasa membuat suatu tempat penampungan air yang dinamakan belik untuk persedian di musim kemarau. Belik adalah suatu galian di tepi sungai yang lebarnya kurang dari setengah meter dan dalamnya tidak melebihi satu meter25.
Di Trowulan terdapat tiga kolam buatan yang letaknya berdekatan, yaitu Segaran, Balong Bunder dan Balong Dowo. Kolam Segaran26 memperoleh air dari saluran yang berasal dari Waduk Kraton. Balong Bunder sekarang merupakan rawa yang terletak 250 meter di sebelah selatan Kolam Segaran. Balong Dowo juga merupakan rawa yang terletak 125 meter di sebelah barat daya Kolam Segaran. Hanya Kolam Segaran yang diperkuat dengan dinding-dinding tebal di keempat sisinya, sehingga terlihat merupakan bangunan air paling monumental di Kota Majapahit.27
Bangunan-bangunan air yang berupa waduk, sumur, dan kolam tersebut dihubungkan oleh kanal-kanal air. Foto udara yang dibuat pada tahun 1970an di wilayah Trowulan dan sekitarnya memperlihatkan dengan jelas adanya kanal-kanal berupa jalur-jalur yang bersilangan saling tegak lurus dengan orientasi utara-selatan dan barat-timur. Juga terdapat jalur-jalur yang agak menyerong dengan lebar bervariasi, antara 35-45 m atau hanya 12 m, dan bahkan 94 m yang kemungkinan disebabkan oleh aktivitas penduduk masa kini28.
Kanal-kanal di daerah pemukiman, berdasarkan pengeboran yang pernah dilakukan memperlihatkan adanya lapisan sedimentasi sedalam empat meter dan pernah ditemukan susunan bata setinggi 2,5 meter yang memberi kesan bahwa dahulu kanal-kanal tersebut diberi tanggul, seperti di tepi kanal yang terletak di daerah Kedaton yang lebarnya 26 meter diberi tanggul. Kanal-kanal itu ada yang ujungnya berakhir di Waduk Temon dan Kali Gunting, dan sekurang-kurangnya tiga kanal berakhir di Kali Kepiting, di selatan Kota Majapahit. Kanal-kanal yang cukup lebar menimbulkan dugaan bahwa fungsinya bukan sekedar untuk mengairi sawah (irigasi), tetapi mungkin juga untuk sarana transportasi yang dapat dilalui oleh perahu kecil29.
Kanal, waduk dan kolam buatan ini didukung pula oleh saluran-saluran air yang lebih kecil yang merupakan bagian dari sistem jaringan air di Majapahit30. Di wilayah Trowulan gorong-gorong yang dibangun dari bata sering ditemukan ukurannya cukup besar, memungkinkan orang dewasa untuk masuk ke dalamnya. Candi Tikus yang merupakan pemandian (petirtaan) misalnya, mempunyai gorong-gorong yang besar untuk menyalurkan airnya ke dalam dan ke luar candi. Selain gorong-gorong atau saluran bawah tanah, banyak pula ditemukan saluran terbuka untuk mengairi sawah-sawah, serta temuan pipa-pipa terakota yang kemungkinan besar digunakan untuk menyalurkan air ke rumah-rumah, serta selokan-selokan dari susunan bata di antara sisa-sisa rumah-rumah kuno.
Epilog

Keterangan tentang keadaan alam dan bangunan-bangunan air memang tidak ada dalam sumber tertulis (prasasti dan kitab). Hal ini bisa dibantu dengan menggunakan analisis Geografi. Dengan analisis secara geografis bisa mengetahui tentang kondisi alam pada masa lampau.
Analisa geografis menyebutkan bahwa kondisi alam Majapahit bisa di interpretsikan dengan keadaan yang sekarang. Trowulan sebagai kota Majapahit terletak di dataran aluvial. Oleh karena itulah tanah di wilayah ini sangat subur dan baik untuk pertanian. Hal ini di dukung juga oleh aliran-aliran air yang mengalir dari pegunungan di selatan Majapahit yaitu Anjasmoro, Arjuno, Welirang dan Penanggungan.
Pembangunan bangunan-bangunan air pada masa Majapahit juga di pengaruhi oleh iklim. Daerah Trowulan memiliki iklim Aw yang mempunyai musim kemarau yang panjang. Untuk mengatasi masalah kekeringan maka di buatlah waduk, sumur, dan kolam buatan. Di antara bangunan-bangunan ini terdapat kanal-kanal (saluran-saluran) yang saling berhubungan.
Pemerintah kerajaan membuat waduk-waduk, kolam-kolam, dan saluran air untuk persediaan di musim kemarau dari sungai-sungai besar yang letaknya beberapa km dari Trowulan, untuk kepentingan masyarakat dan perekonomian negara31.Melihat banyak dan besarnya bangunan-bangunan air dapat diperkirakan bahwa pembangunan dan pemeliharaannya membutuhkan suatu sistem organisasi yang teratur. Hal ini terbukti dari pengetahuan dana teknologi yang mereka miliki yang memungkinkan mereka mampu mengendalikan banjir dan menjadikan pusat kota terlindungi serta aman dihuni32.
DAFTAR RUJUKAN

Sumber Buku :

Atmadi, Parmono. 1993. Bunga rampai Arsitektur Dan Pola Kota Keraton Majapahit, dalam Sartono Kartodirjo, dkk (editor), 700 Tahun Majapahit Suatu Bunga rampai. Surabaya: Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Jawa Timur.

Daldjoeni, N. 1982. Geografi Kesejarahan II. Bandung: Alumni.

Muljana, Slamet. 2006. Tafsir Sejarah Nagarakretagama. Yogyakarta: Lkis.

Bambang Sumadio, Sejarah Nasiona Indonesia Jilid II, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), hal 423.

Subroto, Ph. 1993. Sektor Pertanian Sebagai Penyangga Kehidupan Perekonomian Majapahit, dalam Sartono Kartodirjo dkk (editor), 700 tahun Majapahit Suatu Bunga rampai. Surabaya: Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Jawa Timur.

Sukardjo, Agung. Beberapa Catatan Tentang Temuan Sumur Kuna di Trowulan, Pertemuan Ilmiah Arkeologi III Ciloto 23-28 Mei 1983.

Sutikno. 1993. Kondisi Geografis Keraton Majapahit, dalam Sartono Kartodirjo, dkk (editor), 700 tahun Majapahit Suatu Bunga rampai. Surabaya: Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Jawa Timur.

Pinardi, Slamet & Mambo, Winston S. D. Perdagangan Masa Majapahit, dalam 700 tahun Majapahit Suatu Bunga rampai. Surabaya: Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Jawa Timur.

Sumber Internet :

Arifin, Karina. 2008. Bangunan Air Dari Masa Majapahit, www.majapahit-kingdom.com, diakses pada 7 Oktober 2008.

BERANGKAT KE JAKARTA

BERANGKAT KE JAKARTA

Tulisan ini bisa dibilang lanjutan dari cerpen pertamaku. Entahlah bisa diterbitkan buku atau tidak. Aku masih bercerita tentang kekasihku, pujaan hatiku, kusumaning atiku.
Tanggal 16 Januari kemarin Tyas (nama kecil pacarku) diterima di Axa Mandiri (dalam cerpenku aku tulis Axtra Mandiri). Suatu keberuntungan yang besar. Tapi aku rasa itu bukan keberuntungan yang kebetulan. Itu adalah impian, keinginan dan Tyas percaya itu bakal datang padanya. Kau yahu kawan rahasia kehidupan, jika kau percaya pada keinginanmu, itu akan bakal terwujud.
Alot, sulit, terjal, dan melelahkan itulah yang dirasakan Tyas. Aku salut sekaligus malu pada diriku. Aku sangat lemah jika dibandingkan dengan Tyas. Maka dari itu aku akan terus berusaha, belajar, dan percaya aku bakan bisa menggapai impian dan keinginanku. Luar biasa..
Kemarin Senin, 2 Februari 2009 aku mengantar Tyas ke Surabaya. Langsung dia membawa tas ransel banyak, sampai aku tidak membawa ranselku, aku hanya membawa laptop. Memang laptop adalah sarana menyalurkan inspirasiku kawan. Aku tidak tahu perusahaan yang menerima Nyo2 (sebutanku kepada Tyas) ini. Kok tidak memberikan informasi kapan tepatnya training di Jakarta. Semua serba dadakan. Kalau umpama Nyo2 tidak bertindak dengan menelepon bagian tiket aku rasa berangkat ke Jakarta hanya sekedar impian belaka tidak menjadi kenyataan. Ketika sudah di telepon ternyata training diadakan pada 4 Februari 2009. Tapi informasi ini pun masih ngambang. Apa ini disengaja oleh perusahaan untuk menguji 4 calon karyawannya. Aku tidak tahu.
Akhirnua Senin siang aku dan Nyo2 berangkat ke Surabaya. Kami seperti orang yang mau pindah rumah atau sedang pulang kampung. Motorku penuh sesak dengan 2 tas ransel besar. Untung saja Nyo2 kuat. Arus lalu lintas ke arah Surabaya pun tidak begitu padat. Agak macet sih tapi lancar. Sampai di Surabaya langsung menuju ke Ketintang rumah mbaknya Nyo2. Begitu sampai dan kami masuk ke dalam rumah, langsung disambut hujan deras.
Di rumah mbaknya, Nyo2 ditelepon oleh pegawai perusahaan bagian tiket. Katanya tiket sudah dipesankan dan sekarang dibawa oleh Selly temannya yang juga terseleksi ke Jakarta. Gila bener, serba mendadak. Nyo2 harus ke Juanda Selasa pagi jam 5.00. Apakah memang perusahaan menguji atau sengaja membiarkan, aku tidak tahu. Mendengar informasi itu, Nyo2 segera bertindak. Segala sesuatunya harus segera disiapkan.
Memang tidak pas aku ke Surabaya, aku menginap di rumahnya Mbak Ira sendirian. Ketika aku datang ke rumah, Mbak Ira dan Bude mau pergi ke Jakarta menjemput Mbak Ayu. Mereka berangkat dengan kereta jam 18.30. Tidak masalah bagiku sendirian, ya agak malas sebenarnya tapi aku bersyukur, pokoknya ada tempat untuk berteduh. Surabaya sedang dingin-dinginnya. Semalaman diguyur hujan. Baru kali ini aku tidur di Surabaya memakai selimut. Tapi aku tidak bisa tidur nyenyak. Aku terus memikirkan Nyo2. Bahkan gangguan tikus dan mungkin roh halus tidak aku gubris.
Selasa paginya hari ini (3 Februari 2009) Nyo2 berangkat. Karena tidak bisa tidur aku tadi masak mie buat saur. Aku puasa weton kawan bukan berarti ikut REG SPASI WETON. Jam 4.00 aku ke Ketintang. Ternyata pagar masih belum dibuka. Nyo2 juga baru bangun tidur. Dengan segera tanpa mandi aku, Mas Her, Mbak Ika, dan anaknya mengantar Nyo2 ke Bandara Juanda.
Dalam perjalanan ke Juanda Nyo2 ditelepon terus oleh temannya. Kok belum datang-datang?
Tapi akhirnya sampai di Juanda. Kau tahu kawan aku baru pertama kali berkunjung ke bandara udara. Aku baru pertama kali melihat pesawat secara langsung. Bagaimana dengan perasaan Nyo2 yang pertama kali terbang ya? Entahlah tapi aku sangat terharu seperti melepas kepergian seorang presiden yang mau perang ke Gaza (tapi apakah presiden kita mau?). Semua serba pertama kali. Aku jadi salah tingkah. Ingin sekali aku peluk Nyo2 tapi kok ditempat umum. Kemudian dia mengarahkan pipinya kepadaku. Dan jam 6.00 terbang ke Jakarta.
Perasaanku meninggalkan Bandara Juanda meninggi. Aku diam-diam bersumpah aku harus menjadi dosen telada, menjadi ilmuwan, menjadi penulis terkenal dan tentu saja mempunyai penghasilan sendiri. Matahari pagi telah terbit begitu pula semangatku.
Di Jakarta Nyo2 dkk masih ditelantarkan oleh Axa. Ini bagaimana sih? Untung saja ada pamannya Sally. Jadi bisa diantarkan sampai mess penginapannya. Kata Nyo2 di smsnya, messnya seperti villa. Aku semakin berdebar, tapi aku positif thinking aja. Nyo2 pasti bisa dan sukses. Aku akan terus memantau perkembangan Nyo2 dan aku menunggu satu bulan kemudian.

HARI JADI KOTA NGANJUK DALAM PERSPEKTIF SEJARAH

HARI JADI KOTA NGANJUK DALAM PERSPEKTIF SEJARAH


Oleh:

Agung Ari Widodo

(305262479251)


Bulan Agustus angin berhembus kencang di Kabupaten Nganjuk. Penulis merasakan kencangnya angin ini ketika pindah ke Kertosono, salah satu kecamatan di Nganjuk. Rumah penulis ketika itu dekat dengan sungai Brantas. Di atas sungai Brantas itu terdapat tiga jembatan kembar yang terkenal di Kertosono. Satu di antara ketiga jembatan tersebut, yang terletak di tengah, merupakan jembatan lama yang dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Dari kondisi geografisnya ternyata Nganjuk merupakan kota kuno yang bersejarah, kota yang dahulunya merupakan awal dari peradaban manusia di Indonesia (khususnya di pulau Jawa). Indikator yang paling mudah dijumpai adalah Sungai Brantas. Dalam perjalanan sejarah Indonesia, sungai Brantas merupakan penghasil peradaban kuno. Fosil-fosil manusia purba banyak ditemukan di sekitar lembah sungai Brantas. Kejayaan Majapahit juga tercipta dengan kesuburan lembah sungai Brantas. Jauh sebelum kerajaan Majapahit, di lembah sungai Brantas telah berdiri Kerajaan Mataram Jawa Timur masa pemerintaha Pu Sindok sampai Airlangga, serta sempat berdiri juga Kerajaan Kadiri.

Selain Sungai Brantas, indikator lain yang menunjukkan kota Nganjuk sebagai kota yang bersejarah adalah temuan-temuan benda-benda purbakala. Situs yang sekarang masih utuh (walaupun mengalami kerusakan) diantaranya Candi Lor, tempat penemuan prasasti Anjuk Ladang yang merupakan asal nama Nganjuk, Candi Ngetos, Masjid Al Mubarok Brebek dan situs-situs lain yang tersebar di berbagai wilayah di Nganjuk1.

Pada masa kolonial Belanda Nganjuk masuk dalam wilayah Karesidenan Kediri (tahun 1885). Pada masa ini terjadi perubahan wilayah karesidenan. Hal ini disebabkan oleh campur tangannya Belanda dalam urusan pengaturan wilayah mancanegara Kasultanan Yogyakarta. Hal inilah yang nantinya memunculkan Perjanjian Sepreh. Perjanjian ini memuat tentang pembagian wilayah kekuasaan mancanegara.

Seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa Nganjuk masuk dalam wilayah Karesidenan Kediri. Wilayah Nganjuk (sekarang) yang dahulunya masuk dalam Karesidenan Kediri adalah Nganjuk, Brebek, Kertosono, dan Warungjayeng2. Ada suatu peristiwa yang menentukan posisi kota Nganjuk, yaitu perpindahan pusat pemerintahan dari Brebek ke Nganjuk yang dilakukan oleh Raden Tumenggung Sosrokoesoemo III3.

Nganjuk telah melintasi masa dalam periode yang diakronik. Awal mula kemunculan nama Nganjuk dikaitkan dengan penemuan prasasti Anjukladang yang dikeluarkan oleh raja Pu Sindok. Prasasti ini berisi penganugerahan sima kepada desa Anjukladang yang telah berjasa menghalau serangan dari timur (diperkirakan dari Sriwajaya). Kemudian pada masa Kolonial Belanda terjadi peristiwa perpindahan pusat pemerintahan dari Brebek ke Nganjuk oleh RT. Sosrokoesoemo III. Perpindahan ini menjadikan Nganjuk sebagai kota pemerintahan. Pada paper ini penulis akan mencoba mendeskripsikan tentang asal mula hari jadi kota Nganjuk berdasarkan fakta sejarah.


Anjukladang


Pralaya yang melanda Kerajaan Mataram kuna di Jawa Tengah menjadi salah satu sebab perpindahan pusat Kerajaan Mataram ke Jawa Timur. Raja yang memerintah Kerajaan Mataram di Jawa Timur adalah Pu Sindok. Berdasarkan landasan kosmologis wangsa yang memimpin suatu kerajaan yang hancur harus diganti dengan wangsa yang baru. Karena itu maka Pu Sindok, yang membangun kerajaan di Jawa Timur, dianggap sebagai cikal-bakal wangsa baru, yaitu wangsa Isana4.

Ibukota Kerajaan Mataram Jawa Timur yang pertama adalah di Tamwlang. Nama ini terdapat pada akhir prasasti Turyyan tahun 929 M. Letak Tamwlang, yang hingga kini hanya ditemui di dalam prasasti Turyyan itu saja, mungkin di dekat Jombang sekarang, dimana masih ada desa Tembelang5.

Di desa Candi Rejo Kecamatan Loceret terdapat situs Candi Lor. Di sekitar candi ini ditemukan prasasti Anjukladang. Prasasti Anjukladang berangka tahun 859 Saka (937 M) merupakan sumber tertulis tertua yang memuat toponimi Anjukladang sebagai satuan teritorial watek, yang dikepalai seorang samgat dan seorang rama6. Di dalam prasasti Anjukladang dikatakan bahwa raja Pu Sindok telah memerintahkan agar tanah sawah kakatikan di Anjukladang dijadikan sima, dan dipersembahkan kepada bhatara di sang hyang prasada kabhaktyan di Jayamerta, dharmma dari Samgat Anjukladang7. Itu merupakan anugerah raja bagi penduduk desa Anjukladang. Sayang sekali prasasti ini bagian atasnya usang, sehingga tidak jelas alasan kenapa penduduk desa Anjukladang diberi anugerah oleh raja.

Menurut J.G. de Casparis prasasti Anjukladang mengandung keterangan tentang adanya serbuan dari Malayu (Sumatera)8. Tentara Malayu bergerak sampai dekat Nganjuk9, tetapi dapat dihalau oleh pasukan raja di bawah pimpinan Pu Sindok yang waktu itu masih belum menjadi raja. Atas jasanya yang besar terhadap kerajaan itu maka Pu Sindok diangkat menjadi raja10. Sayang sekali bahwa prasasti Anjukladang itu belum terbaca seluruhnya. Apa yang terdapat dalam transkripsi peninggalan Brandes tidak membayangkan adanya peperangan itu, sekalipun ada juga didapatkan kata jayastambha, yaitu keterangan bahwa di tempat sang hyang prasada itu dibangun pula jayastambha, yaitu tugu kemenangan11.

Toponimi desa Anjukladang merupakan asal mula kata Nganjuk yang sekarang. Oleh karena itulah maka penemuan prasasti Anjukladang dipilih untuk dijadikan hari jadi Nganjuk. Menurut unsur penanggalannya maka tanggal 12 bulan Caitra, Krsnapaksa, HA PO SO, bertepatan dengan tahun masehi: 10 April 937, secara lengkap jatuh pada hari SENIN PON, HARI YANG (SADWARA) BENTENG (TRIWARA), WUKU SINTA, 10 APRIL 937. Itulah tanggal yang sesuai dan layak sebagai hari jadi Nganjuk12.

Menurut cerita yang rakyat yang masih hidup di kalangan penduduk setempat, bahwa desa tempat didirikannya Candi Lor dahulu bernama desa Nganjuk, yang berasal dari kata anjuk. Tetapi setelah Nganjuk dipergunakan untuk nama daerah yang lebih luas, maka nama desa tersebut diubah menjadi Tanggungan. Tanggungan berasal dari kata ketanggungan (Jawa: mertanggung)13. Istilah ini mengandung maksud bahwa nama Nganjuk tanggung untuk digunakan sebagai nama daerah dari desa tersebut karena sudah digunakan nama daerah yang lebih luas. Oleh karena itu sudah tidak berarti lagi (tanggung atau mertanggung) desa sekecil itu disebut Nganjuk.


Dari Berbek Pindah ke Nganjuk


Abad XV merupakan abad perkembangan kerajaan-kerajaan Islam. Pada abad ini kerajaan klasik Hindu-Budha mengalami kemunduran, atau bahkan hancur14. Di berbagai wilayah Indonesia (Nusantara) berdiri kerajaan-kerajaan bercorak Islam. Di Aceh berdiri Kerajaan Samudera Pasai dan Kerajaan Aceh, Kerajaan Demak yang nantinya menjadi cikal bakal Kerajaan Mataram Islam, Kerajaan Makassar, Ternate, Tidore dan sebagainya.

Di pulau Jawa berdiri kerajaan bercorak Islam yang mengalami perkembangan yang pesar. Kerajaan ini bernama Mataram (Islam). Didirikan oleh Panembahan Senopati15. Kejayaan Mataram berlangsung ketika diperintah oleh Sultan Agung. Tetapi ketika Sultan Agung meninggal, terjadi perebutan kekuasaan diantara anak-anaknya, suatu masalah klasik yang merugikan. Mataram mulai surut, apalagi ditambah dengan campur tangan Kolonial Belanda terhadap kerajaan. Campur tangan Belanda ini mengakibatkan perpecahan Kerajaan. Mataram kemudian dibagi-bagi melalui perjanjian Gianti (Kamis, 13 Februari 1755). Wilayah Mataram dibagi menjadi dua yaitu separuh untuk Mangkubumi (Yogyakarta) dan separuh untuk Susuhunan Surakarta.

Pada pembagian wilayah ini Nganjuk termasuk dalam wilayah mancanegara Susuhunan Surakarta. Ketika itu nama tidak memakai nama Nganjuk tapi Pace. Kertosono masuk dalam wilayah kekuasaan Sultan Yogyakarta. Ada hal unik, kedua wilayah Nganjuk di atas masuk dalam dua wilayah mancanegara. Status Pace dan Kertosono adalah setingkat kabupaten. Berdasarkan Jawa Tengah dan Jawa Timur tahun 1811 di wilayah Nganjuk terdapat empat wilayah yaitu Berbek, Godean, Nganjuk, dan Kertsono. Keempat wilayah tersebut berada di bawah penguasaan daerah mancanegara yang berbeda. Daerah Berbek, Godean, dan Kertosono berada di bawah pengawasan Belanda dan Kasultanan Yogyakarta sedangkan daerah Nganjuk merupakan daerah mancanegara Kasunanan Surakarta16.

Pada dasawarsa terakhir abad XVII kerajaan-kerajaan Jawa, Surakarta dan Yogyakarta mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan karena intrik dari dalam kerajaan dan campur tangan Hindia Belanda17. Pada 4 Juli 1830 disepakati perjanjian Sepreh. Berdasarkan perjanjian ini Nederlandsch Gouvernement melaksanakan pengawasan tertinggi dan menguasai daerah-daerah mancanegara.

Pada tahun 1875 Nganjuk adalah wilayah yang memiliki status distrik (wilayah kerja pembantu bupati) dari Kabupaten Berbek yang merupakan wilayah Karesidenan Kediri18. Berbek ditetapkan sebagai kabupaten sudah sejak tahun 1745 dengan bupati pertama Raden Tumenggung Sosrokoesoemo I. Berbek sebagai kota kabupaten atau kota pusat pemerintahan, masih menunjukkan unsur-unsur tradisional karena masih terdapat pengaruh kehidupan desa. Pola pemukimannya sangat sederhana dan belum terpisahkan antara kota dan desa19.

Kabupaten Berbek merupakan wilayah Residensi bagian utara. Kabupaten Berbek sebelah utara berbatasan dengan Residensi Rembang yang dipisahkan oleh Pegunungan Kendeng. Di bagian utara Kabupaten Berbek dari arah barat sampai timur dibatasi oleh Sungai Widas yang bersumber dari Gunung Wilis dan bermuara di Sungai Brantas. Kabupaten Berbek sebelah timur berbatasan dengan Residensi Jombang dan Residensi Surabaya yang dipisahkan oleh Sungai Brantas.

Berbek sebagai kota kabupaten memiliki letak geografis yang kurang strategis, sehingga dalam pengembangan tata kota dan pemerintahannya berjalan dengan lambat20. Lokasi Kabupaten Berbek berada di daerah pedalaman yang jauh dengan jalur transportasi yaitu jalan raya dari Solo ke Surabaya dan jalur kereta api yang oada tahun 1878 baru dalam proses pengerjaan. Kabupaten Berbek berada di arah selatan ±7 km dari kedua ruas jalan yang melintasi wilayah Nganjuk.

Melihat keadaan geografis yang terisolasi dan jauh dari jalur transportasi menjadikan Berbek sebagai wilayah yang kurang menerima informasi dan teknologi. Selain itu kondisi alamnya sangat dipengaruhi oleh terpaan angin dari pegunungan Wilis yang sangat kencang, karena wilayah Berbek berada di lereng Gunung Wilis sebelah utara. Dilihat dari struktur tanahnya Kabupaten Berbek adalah tanah bebatuan dengan dua aliran Sungai Berbek dan Sungai Kucir. Kedua sungai ini pun tidak bisa digunakan untuk sarana trasnportasi, beda dengan Sungai Brantas yang telah menghasilkan peradaban dan kerajaan-kerajaan besar. Dari pertimbangan inilah pusat pemerintahan Berbek dipindahkan ke Nganjuk.

Nganjuk dipilih sebagai pusat pemerintahan karena letaknya yang strategis, yaitu di tengah-tengah wilayah (Nganjuk sekarang) sehingga mudah untuk melakukan pengawasan. Secara kosmologis letak tengah-tengah ini merupakan letak yang magis dan sakral. Selain itu Nganjuk juga terletak di dekat jalur kereta api, jalur jalan Surabaya Solo, dan lebih mudah dalam hubungan komunikasi dengan dunia luar21. Boyongan ini dilakukan oleh Raden Tumenggung Sosrokoesoemo III (1878-1901).

Sumber yang menyebutkan waktu perpindahan ada pada sumber tertulis pada masjid Agung Baitus Salam Nganjuk. Pada mimbar masjid tersebut tertulis angka tahun yang ditulis dengan huruf Arab Pegon yang berbunyi: ngalihipun negari saking Berbek, Bupati Kanjeng Adipati Sosrokoesoemo tahun walandi 1880, tahun 28-3-1901 lajeng gantos putro Kanjeng Raden Mas Sosrohadikusoesoemo (Pindahnya negara dari Berbek bupati Kanjeng Adipati Sosrokoesoemo pada tahun 1880, tahun 28-3-1991 lalu digantikan oleh putra Kanjeng Raden Mas Sosrohadikusoesoemo)22.

Sumber lain yang diperoleh adalah foto dokumentasi peringatan HUT ke-50 berdirinya kota Nganjuk yang dibuat pada tahun 1930. Dengan mengetahui HUT kota Nganjuk maka dapat diketahui pelaksanaan perpindahan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk dengan cara melihat ke belakang dari tahun 1930, sehingga diperoleh jawaban bahwa 50 tahun sebelum tahun 1930 adalah tahun 188023.


Epilog


Penelurusan hari jadi Kota Nganjuk menggunakan dua periode. Periode yang pertama adalah masa Kerajaan Mataram Jawa Timur dengan rajanya Pu Sindok. Nama Nganjuk diperoleh dari penemuan Prasasti Anjukladang berangka tahun 937 M yang dikeluarkan oleh Pu Sindok. Sampai sekarang Anjukladang dipakai sebagai hari jadi kota Nganjuk.

Periode yang kedua adalah pada masa Pemerintahan Hindia Belanda. Pada masa ini nama Nganjuk sudah ada dan termasuk dalam wilayah Karesidenan Kediri. Nganjuk menjadi kota setingkat kabupaten setelah terjadi peristiwa pemindahan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk. Berdasarkan penelusuran data, perpindahan ini terjadi pada tahun 1880.

Dari pemaparan di atas maka bisa ditafsirka bahwa Nganjuk mempunyai dua hari jadi. Hari jadi yang pertama berawal dari sebuah desa Anjukladang yang diberi anugerah sima oleh Pu Sindok. Perlu diperhatikan di sini bahwa pada saat Anjukladang masih berupa watek atau desa. Kemudian mengalai perkembangan sehingga menjadi kota Nganjuk dan nama desa Anjukladang menjadi desa tanggungan. Sedangkan pada 1880 Nganjuk merupakan sebuah Kabupaten, kota pusat pemerintahan daerah. Bisa saja hari jadi kota Nganjuk mengacu pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Berdasarkan kesepakatan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Nganjuk, Hari Jadi Nganjuk ditetapkan pada 10 April 937, yakni berdasarkan angka tahun pada prasasti Anjukladang24. Penetapan hari jadi kota Nganjuk ini juga didukung dengan pembangunan simbol tugu kemenangan di alun-alun Nganjuk. Tugu ini adalah simbol warga Anjukladang yang berhasil menahan serangan pasukan Malayu. Simbol hari jadi kota Nganjuk pada masa pemerintahan Hindia Belanda hampir tidak ada.

Hari jadi kota Nganjuk merujuk pada penemuan prasasti Anjukladang. Ini adalah masa Pu Sindok. Oleh karena hari jadi kota Nganjuk berdasarkan pada sejarah Indonesia klasik maka yang perlu diperhatikan oleh pemerintah daerah maupun masyarakat Nganjuk adalah pelestarian benda cagar budaya. Situs-situs yang merupakan representasi dari hari jadi kota Nganjuk hendaknya dijaga dan dirawat. Hal ini sangat perlu dilakukan untuk menjaga identitas asal-usul Nganjuk..








DAFTAR RUJUKAN


Harimintadji, dkk, Nganjuk dan Sejarahnya, (Jakarta: Pustaka Kartini, 1994


Napsriatun, Perpindahan Pusat Pemerintahan dari Brebek ke Nganjuk Tahun 1880, (Malang: Skripsi tidak diterbitkan, 2004


Bambang Sumadio, Sejarah Nasional Indonesia II Jaman Kuna, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984.


M.C. Ricklefs, Yogyakarta Di bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792, Sejarah Pembagian Jawa, (Yogyakarta: Mata Bangsa, 2002)


M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1991

1 Temuan-temuan benda purbakala ini di data oleh Harimintadji dkk. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada Harimintadji, dkk, Nganjuk dan Sejarahnya, (Jakarta: Pustaka Kartini, 1994), hal. 86-90.

2 Untuk Kertosono dan Warungjayeng sekarang statusnya berubah menjadi Kecamatan.

3 Napsriatun, Perpindahan Pusat Pemerintahan dari Brebek ke Nganjuk Tahun 1880, (Malang: Skripsi tidak diterbitkan, 2004), hal. 30.

4 Bambang Sumadio, Sejarah Nasional Indonesia II Jaman Kuna, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), hal. 157.

5 Ibid, hal. 158. Letak ibukota kerajaan Pu Sindok masih menjadi perdebatan. Agaknya Boechari (anggota Bambang Sumadio dalam menulis SNI II) masih ragu-ragu mengatakan bahwa Tamwlang adalah Tembelang. Prasasti Turryan sendiri sekarang masih insitu di Turen, Malang. Di Malang sendiri juga ada desa yang bernama Tembalangan. Jadi Tamwlang kemungkinan berlokasi di Malang. Hal ini juga didukung oleh penemuan prasasti Turyyan di Kecamatan Turen Malang (prasasti Turen).

6 Harimintadji, dkk, op cit, hal. 47.

7 Bambang Sumadio, op cit, hal. 160.

8 Ibid, hal. 161. Diperkirakan sebuan dari Malayu ini dilakukan oleh pasukan dari Kerajaan Sriwijaya.

9 Di Nganjuk terdapat desa Jambi. Kata Jambi ini bisa dihubungkan dengan Jambi yang ada di Sumatera. Konon desa ini merupakan tempat permukiman tentara Malayu ketika menyerang kerajaan Mataram. Hipotesis ini masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

10 Ibid.

11 Ibid.

12 Harimintadji, dkk, loc cit.

13 Ibid.

14 Kerajaan Majapahit sebagai kerajaan besar yang menyatukan Nusantara berhasil dihancurkan oleh Raden Patah dengan dibantu oleh para wali dan pasukan Islam. Indikator ini yang menjadi awal kemunduran kerajaan Hindu-Budha. Raja berserta pemeluk agama Hindu-Budha kemudian mengungsi ke daerah pegunungan dan ke arah barat (Bali).

15 M.C. Ricklefs, Yogyakarta Di bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792, Sejarah Pembagian Jawa, (Yogyakarta: Mata Bangsa, 2002), hal. 13. Berg mengemukakan pendapatnya bahwa sebenarnya Panembahan Senopati tidak ada, dan hanya merupakan ciptaan pada tahun-tahun belakangan, yang dimaksud untuk memberi garis keturunan bangsawan yang fiktif kepada Sultan Agung (1613-1646).

16 Napsriatun, op cit, hal. 37.

17 M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1991), hal. 167.

18 Napsriatun, loc cit.

19 Ibid, hal. 20.

20 Ibid, hal. 18.

21 Harimintadji, op cit, hal. 64.

22 Napsriatun, op cit, hal. 48.

23 Ibid, hal. 49.

24 Harimintadji dkk, op cit, lampiran hal. 135-136.