Kamis, 31 Juli 2008

Jam kuliah sudah selesai, untuk mengisi waktu luang saya pergi ke perpustakaan pusat Universitas Negeri Malang. Supaya lebih tenang membaca, saya langsung menuju ke lantai 3. di lantai ini banyak sekali terpajang buku-buku yang “langka” karena selain usia dari buku-buku sudah tua juga sudah jarang atau bahkan tidak ada dalam toko-toko buku. Tentunya saya berpikir semoga ada perawatan lebih intensif agar buku-buku langka ini tidak rusak.

Saya tertarik pada buku yang bergambar wayang. Pengarangnya adalah Anton E. Lucas, berjudul Peristiwa Tiga Daerah, Revolusi Dalam Revolusi. Pertama yang saya buka pada buku ini adalah halaman daftar isi dan kata pengantar. Menarik, buku ini diberi kata pengantar oleh Prof. Dr. Sartono Kartodirjo, salah satu sejarawan Indonesia. Buku ini aslinya adalah disertasi dari Antony E Lucas di Australian National University, Canberra dengan judul The Bamboo Spear Pierces the Payung : The Revolution againts the Bureaucratic Elite in North central Java ini 1945.

Buku memberikan informasi tentang pergolakan sosial yang terjadi di tiga daerah di pesisir utara Jawa Tengah, yaitu; Brebes-Tegal-Pemalang. Sejarah Tiga Daerah penting sebagai peristiwa local revolusi Indonesia, karena merupakan sebuah revolusi sosial dengan ciri khas tersendiri. Disini revolusi sosial diartikan sebagai suatu revolusi untuk mengubah struktur masyarakat kolonial/feudal menjadi suatu susunan masayrakat yang lebih demokratis. Cita-ciata ini mulai diperjuangkan oleh Sarekat Islam di Pekalongan pada tahun 1918, diteruskan oleh gerakan PKI dan Sarekat Rakyat samapi tahun 1926, tetapi baru tercapai pada bulan Oktober-November 1945[1].

Dalam Peristiwa Tiga Daerah ini menceritakan tentang penggulingan elite birokrasi masa kolonial oleh para revolusioner yang ”sakit hati” pada Oktober-Desember 1945. Tidak hanya digulingkan, malah terjadi gerakan sosial yang menimbulkan korban jiwa di pihak kalangan birokrat, bahkan sebelum dibunuh para birokrat ini di arak keliling kampung dulu (atau dalam buku ini disebut dombreng). Hal inilah yang membedakan dengan karya seajrah yang lain, seperti misalnya William H. Frederick yang membahas tentang Surabaya, yang tidak menimbulkan korban jiwa selama revolusi[2]. Atau dalam Taufik Abdullah (editor), Kumpulan tulisan tentang Sejarah Lokal, memuat tentang revolusi ditilik dari segi politik[3].

Karya ini menggunakan style Sejarah Sosial. Dari bab pertama sudah disuguhkan situasi dan kondisi pada masa kolonial, sehingga pembaca bisa merasakan apa yang terjadi pada waktu itu. Anton E. Lucas menggunakan sejarah lisan untuk menambah dan melengkapi sumber-sumber dokumen. Dengan teknik sejarah lisan (wawancara) rekonstruksi peristiwa-peristiwa di tiga daerah menjadi lebih hidup[4]. Tidak hanya peristiwa saja yang diceritakan, kehidupan sosial budaya di tiga daerah pada waktu itu juga diungkapkan dengan detail.

Elite-elite birokrat di tiga daerah merupakan pejabat yang diangkat oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Seperti yang sudah diketahui bahwa pada akhir abad 19 samapi awal abad 20 Belanda melakukan eksploitasi sumber alam untuk mengisi kas negara yang kosong. Untuk mengadakan eksploitasi itu Pemerintah Kolonial mengangikat para priyayi untuk dijadikan pejabat birokrasi yang menangani penyerahan pajak dan hasil bumi rakyat. Dari sinilah timbul korupsi yang dilakukan oleh birokrat priyayi tadi. Ketika Pendudukan Jepang para birokrat juga melakukan hal yang sama. Mereka memeras rakyat agar menetorkan padi dengan paksa. Hal ini dilakuakan oleh birokrat paling bawah, yaitu lurah, untuk menimbun hasil padi[5].

ada perlawanan dari rakyat terhadap birokrat pada masa Pendudukan Jepang. Seperti yang terjadi pada insiden Comal. Dalam insiden ini Camat Raden Basirun tewas ditusuk bambu runcing karena dikeroyok warga. Warga Comal tidak suka pada perlakuan dari R. Basirun yang sering menggunakan kekerasan fisik[6].

Perlawanan rakyat terhadap pangreh praja, lurah, dan kaum birokrat yang lain semakin ”ganas” ketika pasca Proklamasi 17 Agustus 1945. Aksi-aksi yang terjadi adalah kekerasan yaitu merusak, merampok, membakar, atau bahkan membunuh. Seperti yang erjadi pada Juwito, bekas pegawai Jawatan pertanian yang tewas ketika rakyat membakar rumah lurah dan camat di Pemalang[7].

Ada ritual menarik pada revolusi ini, yaitu ritual dombreng. Pola ritual ini ada sebagai berikut. Kalau yang kedapatan, ia pun diseret keluar dan dipertontonkan di muka umum. Seringkali ia di dikalungi beras atau padi, dan diiringi bunyi ”breng dong breng” yang berasal dari kaleng kosong yang dipukul-pukul. Hal ini selalu terjadi di siang hari, supaya sebanyak mungkin orang dapat menyaksikan[8]. Aksi ini tidak lepas dari peran para Lenggaong[9] yang memimpin ritual dombreng. Para lenggaong ini juga mempunyai peran dalam Revolusi Tiga Daerah.

Struktrur birokrasi juga mengalami perubahan. Yang merubah adalah orang-orang dari organisasi seperti AMRI, API, Sareikat Rakyat dan PKI bawah tanah. Bahkan budaya pun juga berubah. Seperti dalam hal bahasa. Bahasa kromo dihilangkan, dan menggunakan bahasa ngoko untuk berkomunikasi. Hal ini bertujuan supaya terjalin keakraban dan menghilangkan sikap feodal.

Revolusi selalu terjadi pada suatu peristiwa yang menjadi peralihan jaman. Peristiwa Tiga Daerah ini terjadi pada peralihan masa dari masa Kolonial Hindia Belanda, Pendudukan Jepang, sampai proklamasi kemerdekaan. Proklamasi membuka pintu untuk kekuatan sosial dan politik, cita-cita dan nilai-nilai di kalangan masyarakat, yang sebelumnya tertindas atau tidak dapat ditampilkan[10].

Peralihan jaman pada 1965-1966 juga menimbulkan gejolak pada masyarakat. Juga pada 1998. karena itulah diperlukan suatu saling mengerti dan saling percaya antara pemerintah dan rakyat. Pemerintah harus selalu terbuka terhadap rakyat dan selalu memperhatikan nasib rakyat. Rakyat juga harus legowo dengan melaksanakan aturan-aturan pemerintah. Tetapi jika ada tindakan pemerintah yang menyeleweng, maka rakyat harus bertindak.

Hanya kedekatan penguasa dan rakyatlah suatu negara bisa makmur.



[1] Hal. 2.

[2]William H. Frederick, Pandangan dan Gejolak, Masyarakat Kota dan Lahirnya Revolusi Indonesia (Surabaya 1926-1946), Jakarta: Gramedia, 1989. Temporal dalam karya ini juga relatif panjang yaitu antara 1926-1946 dan puncak gejolaknya yaitu pada pertempuran 10 November 1945

[3] Taufik Abdullah, Sejarah Lokal Indonesia

[4] Seperti pada karya disertasi lainnya, dala buku ini juga dilampirkan transkripsi wawancara dengan saksi mata. Selain itu juga terdapat foto, arsip, dan sumber pustaka.

[5] Hal. 41.

[6] Hal. 68.

[7] Hal. 204.

[8] Hal. 193.

[9] Orang yang mempunyai pekerjaan merampok/ mencuri barang. Ada juga Lenggaong yang merampok harta orang kaya untuk diberikan kepada orang miskin (seperti cerita robin hood saja...).

[10] Hal. 299.

tebal muka

busyet hampir saja gue jadi malu neh. maunya ngenet gratis eh hampir aje dapatnya malu...tapi gpp wong aku ini orangnya hampir bermuka tebal (eh semua kok hampir2?). begini ceritanya kawan
aku mau ngenet gratis neh, la stop contactnya itu dah penuh. ada satu yang kosong tapi di aku harus mencabut salah satu steker terus tak pindah biar aku kebagian. stekerku kan model gemuk, la orang yang mau stekernya tak ganti tu steker yang kecil. waduh kok mumet gini!! jadi begini, steker gemuk tak pasang di pinggir dan steker yang kecil tak pasang di tengah. la punyaku yang besar (jangan mikir jorok lho ya!!!) tah pasang di pinggir. jadi kan pas. nah uniknya nih kan tadi sebelum pasang- memasang, orang yang punya laptpop agak mrengut, la gimana laptopnya tidak ada batrenya, jadi harus dimatikan dulu. sebenarnya ada colokan (stop contact) nganggur di depanku tapi ramai. la gak enaknya eh pas aku hampir malu karena gangguin dua cewek yang anunya (hayo..hayooo) tak copot terus tak pasang lagi, kata enaknya menganggu. la kok orang-orang yang ngenet di depanku dah selesai dan pada pergi. wah kalau tahu gitu aku ngenet di sana aja. tapi pokoke gue tebal muka deh.....

Rabu, 23 Juli 2008

PILGUB IN LOVE

Hari ini wilayah propinsi Jawa Timur mengadakan pesta demokrasi (bukan demo masak), yaitu apa yang dikenal dengan Pilihan Gubernur, halah cara gampangnya coblosan gitu lochhhh.
Eh tau gk kawan ada cerita unik dari seorang temen nih. ternyata cinta dan nafsu itu tidak hanya ada di filem-filem atau di majalah-majalah, atau juga yang ada di internet apa yang di sebut kaum wajah mesum dengan nama BOKEP..... Ternyata eh ternyata dalam sebuah peristiwa seperti PILGUB ini ada yang hooootttttt
This is the story:
Pagi-pagi bangun. sebut saja namanya dengan inisial Bd, dia cewek men end statusnya menikah (jadi ente-ente muka mesum jangan coba-coba deketin!!!). Ya sebagai warganegara Indonesia yan g baik Bd melakukan pesta demokrasi dengan mencoblos dan masuk ke dalam dan goooollllll!!!! Ini bukan sepak bola dan sepak-sepak yang lain lho ya.....
Nah Bd ini pergi nyoblos dengan suaminya, sebut saja namanya Smk. Pasangan ini serasi lho sudah mempunyai 1 cucu (berarti sudah mbah-mbah donkkk). Eit jangan salah walaupun mbah-mbah,, tapi tenaga masih GRENGGGGG.... Berangkat deh ke TPS terdekat. dan coblos coblos dan coblos.... Selesai ya pulang.,,,
Nah all right baby this is the story begin....
sampai dirumah yang sepi dan agak gelap dan romantis sehingga menimbulkan hawa manusiawi yang haus akan gairah.... Smk langsung menutup pintu ketika mereka sudah masuk rumah. Dengan terkaman harimau, Smk menikam dengan beringas dari belakang tubuh Bd... Dan mulailah adegan-adegan meremas-remas. Tanpa ganti baju Smk langsung membopong Bd menuju ke sebuah ruangan tempat belangsungnya hawa panassss. Dan Ahhh pesta demoKRASI bagian kedua dimulai secara langsung, rahasia dan dengan berbagai macam gaya. Dan coblos-menncoblos pun berlangsung........ Bola digiring....... lalu di operkan dengan formasi segitiga....d an....dan....dannn....dannnn OH YESSSSSS.... GUOOOOOOLLLLLLLLLLL.......

Ps: This story only for adult......

Minggu, 29 Juni 2008

Brondong OK punya

Liburan panjang... Enaknya ngapain??? Dengan kontemplasi tinggi tapa brata di tengah gunung Kawi, akhirnya aku dapat pencerahan, halah kayak apa aje!! Tapi emang dari pada nganggur, aku ikut SP (Semester Pendek) aja di kampus. Itung2 cari ilmu.
Kata teman-teman c kita angkatan 2005 yang ikut SP kayak anak kecil aja, tapi biarin wong juga kita cari ilmu, bener gk kawan!!!??
Baru masuk SP aja sudah ada tugas2 banyak. Mungkin resiko kale ya, gpp deh yang penting semangat gitu. Tugas ini adalah dari mata kuliah Sejarah Maritim, dosennya namanya P. Mashuri (sudah Pak, ada Mas nya lagi). Sebenarnya bukan tugas, tapi rekreasi sambil meneliti. Ya sama AJA. Bagiku ini merupakan keasyikan, sambil menyelam buang air dan buang gas....
Tempat meneliti kita disepakati di pantai Brondong, Paciran, Lamongan. Bayanganku, wah ini tempat asyik, jadi setelah meneliti nantinya aku mau "kecek" di air. Sudah lama aku tidak melihat laut. Kita sepakat berangkat jam 5 pagi pada 28 Juni 2008 berkumpul di depan LPM, tempat biasa orang kumpul-kumpul (bukan kumpul sapi, kambing atau kebo). Oh ya kelompokku ada 8 orang, yaitu aku, Ubed, Hunter, si pendiam tapi menyakitkan Hendri, duo Luk (Luk2 dan Lu2k), Gilang, dan Lusi. Yang nyopir kakanya Lusi, Mas Lukas.
di kamar kos aku sudah membayangkan pantai, laut, banyak ikan, pokoke indah deh. terlarut dalam bayang-bayang aku tertidur...........
Nyenyak sekali tidurku, la kok kebablasan.... Jam 5 aku baru bangun. Wah kalau tidak di mised call ama Lu2k aku gk bakal bangun ini. Wah langsung aja bangun gk perlu mandi, cuci muka, wudhu, Subuhan, langsung tancap gas ke Asramanya Hunter. EE la kok Hunter juga baru bangun, malah lama di kamar mandi, lagi boker sapi kalee lama banget...
Si Lu2k Mursidah, ibu negara, marah-marah pas nelpon aku. Suruh cepat katanya atau aku&Hunter dideportasi.
Ketika udah siap aku&raja boker (Hunter) dah menuju ke LPM ternyata kita dijemput. Enak neh, wis gk usah pakai lama... Eh ternyata Lu2k, Gilang, dan Hendri dah di LPM sejak jam 4 pagi,pas itu aku lagi mimpi indah berjalan di tepi pantai.
Nah apalagi ni si Ubed, dah rupanya kayak rambut semua, ehh di jemput malah narik selimut lagi. Langsung aja Hunter menendang "anunya" berteriak-teriaklah dia seperti singa...
Ubed: " Waduuuuhhhh nde remaahhhh!!!!"
Hunter:" Hei, ikut ke Lamongan gk??!!! Ayo cepet!!!"
dengan logat Madura Ubed langsung ke kamar mandi. Wuah ternyata gk hanya aku thok yang malas mandi....
selesai, siap, lengkap semua, ayo berangkat ke pantai........
Sepanjang perjalanan ngantuk semua.... tapi semua terbangun tatkala Ubed dengan logat Maduranya teriak-teriak nerima telpon...
Ubed:"WOi, nde remah, sengkok bedhehehehe dakdeinfdisiefndllzlds""""
Hunter: "Bed jangan ngomong jorok donk!!!!!!"
wah kata-katanya penuh reduplikasi," sengkok di bil-mobil, mau ke Lamongan, ntr aja mu-ketemu di pus kampus, ato di mah-rumahku. be'en dan kan-makan??Sengkok tak len-jelen lu dulu ya"... KAlau bicara kayak orang keselek cicak dan tokek......
Daerah Paciran ini memang pesisir, dari jalan saja sudah terlihat laut. Ternyata macet juga di Paciran, apalagi kalau lewat pasar..
Akhirnya pantai yang ditunggu-tunggu sampai juga. Wah laut....
Tapi la kok baunya amis banget, kayak bau ikan???? Wah ternyata ini Tempat Pelelangan ikan, pantas saja!!!!
Di sana kita disangka wartawan, la iya pada bawa tas, buku, dan kamera. Trus ada anak kecil yang minta di suting dan difoto...
Aku dan teman-teman jalan-jalan di TPI ini.... Banyak ikan, perahu...Aku mencari pantai yang biasanya kok gak ada, yang ada hanya pelabuhan dan tempat tambat perahu/kapal yang mau ngelelang ikan...
Oke lah gpp yang penting tujua kita disini adalah meneliti. tidak ada 1 langkah berjalan aku tercebur kolam limbah ikan.... Waduh amis banget kena celana lagi. Wah jadi ikan asin deh aku.... MAna temen2 cuma ketawa lagi, ditambah ada anak kecil yang tadi "hahahahaha.... wartawan kok kecemplung, ati2 mas di luar banyak kucing!!!"" Edan apa emangnya aku pindang!!!!!
Wauauauah pokoknya pantai Brondong, Lamongan OK punya>>>>>!!!!!!

Rabu, 25 Juni 2008

Tragedi Gurami Bakar

TRAGEDI GURAMI BAKAR

Sabtu pagi 21 Juni 2008 biasa aku bangun agak siang, la gumana gkm ada kuliah kok, nganggur, ya udah ngebo aja. Maklum lah semalam aku dan kawan-kawan lagi lihat Euro (padahal aku ketiduran pas nonton). Sambil nguap-nguap aku menuju ke kamar mandi, langsung deh aku mandi. Mataku mulai melek lebar-lebar ketika air mulai menyentuh badanku. Busyet hawa Malang semakin dingin saja.

Pagi ini rencananya teman-teman sekosan mau ngajak rekreasi dan tour ke Selecta. Ya walaupun tidak semua teman kosan ikut. Kita berangkat hanya anak enam, aku sendiri dengan pacar tersayangku, Syam dengan pacarnya juga, dan pasangan serasi terbaru tahun ini Yanwar (Si Coklat) dan Gesang (Si Stroberry). Gk tau Yanwar dan Gesang ini kok jadi mesra banget akhir-akhir ini. Setiap hari berdua terus, bahkan kalau bobok pun berdua… jadi iri aku melihatnya.

Oke kembali ke topic, ini merupakan liburan yang sangat mesra, menyenangkan, dan sekaligus menyeramkan… Gk salah juga aku ikut rombongan ini. Selain belum tahu Selecta (sebenarnya pernah sekali ketika aku bau kencur), cari kesibukan dan kita gk pernah main-main bersama.

Perjalanan lancar-lancar saja, peristiwa besar terjadi tatkala aku melintasi garis batas pembelian karcis. Aku dengan sengaja melewati garis batas itu dengan tidak membayar karcis. La gimana di depanku ada cewek berkendaraan Mio melaju kencang dengan amannya dan lancarnya tanpa membayar. Ya gw langsung tancap gas aja. Eee malah dua motor dibelakangku (Syam dan Pasangan Mesra) ikut-ikutan nyelonong. Dan akhirnya hujatan kata-kata Jawa Timuran yang paling halus keluar dari mulut Satpam yang jaga pos karcis

Karcisman: Daaa#####k heiii bayar!!!!

La sampai di depan pos yang kedua kita dicegat oleh Satpam lagi. Dia menanyakan karcis pada kita. La kita kagak punya donkkk. Akhirnya dengan wajah tanpa dosa kita meminta maaf dan membeli karcis di pos kedua itu…

Akhirnya bisa masuk juga. Kita jalan-jalan masuk ke dalam lihat-lihat bukit-bukit indah nan permai. Bagus banget deh pokoke. Syam dan pacarnya (sebut saja Tissa) sedang main india-indiaan di taman bunga. Wah mesra banget kayak Kuch-kuch hotahe aja…….

Bagaiamana dengan pasangan termesra kita??? Yanwar dan Gesang ternyata melintas ke perbukitan mencari tempat untuk berdua saja…….. sekilas informasi kawan, ternyata banyak tempat sepi dan romantis di Selecta. Silahkan kalau mau kesana dengan membawa pacarnya, baik yang sejenis maupun yang berlainan. hari semakin siang membuat kami lapar, akhirnya sepakat kami turun gunung seperti murid shaolin yang selesai belajar kung fu, mencari tempat makan yang enak. Tadi pas diperjalanan pacarku lihat sebuah warung yang kelihatannya enak dan dia mendapat rekomendasi dari teman-temannya kalau tempat ini enak. Tempat ini adalah Warung Bambu.

Sebenarnya Gesang sudah merasa tidak enak ketika kita merapat kesebuah tempat parkir yang hanya dipenuhi oleh mobil-mobil mewah. Motor kami diparkirkan ditempat yang nyempil dan sempit karena saking banyak mobil. Aku juga punya pikiran yang sama seperti Gesang, soalnya aku tidak membawa uang, tadi saja karcis dan lain sebagainya termasuk bensin dibayar dulu oleh pacarku (pacarku ini memang baik deh orangnya).

Masuk ke dalam semakin asyik, padahal kita nanti tidak tahu kalau ada sebuah tragedi. Warung bambu ini sangat asyik, bagus, dan ueeenaak tempatnya. Tempatnya sejuk karena bangunannya terbuat dari bambu dan dibawahnya ada kolam ikan koi. Ikannya banyak sekali. Setelah dapat tempat duduk mulai kita merundingkan harga. Kawan, ternyata harganya tidak pas dengan kantong kita. Apalagi kita sebagai anak kos, tentu daftar harga itu wuiiih lumayan mencekik leher.. Semua di atas 5000 rupiah, padahal dengan uang segitu aku udah makan nasi+lauk yang banyak dan dapat minum lagi.. La ini??? Tapi dengan cerdik pacarku mengusulkan trik, yaitu membeli satu porsi gurami baker dan 5 nasi putih dalam wakul, yang lain mesan es jeruk, soda, jahe, aku, Gesang dan Syam minum air putih saja.

Laammaa sekali pesanan kita datang. Aku sudah membayangkan sebuah gurami dengan ukuran besar terus di bagi enam orang. Melihat ikan-ikan yang banyak di kolam aku membayangkan kalau mereka di masak atau dibakar, pasti uenaak. Dan inilah yang ditunggu-tunggu, pesanan kita datang. Tak seperti kubayangkan ternayta ikannya tidak begitu besar dan panjang. Panjangnya sekitar 40 cm dan lebarnya 20 cm. Dan ini harus dibagi anak enam. Nasinya pun juga ya boleh dibilang sedikitlah. Wong biasanya aku dan teman-teman kosan kalau beli nasi, nasinya sangat banyak. Kita anak kos lebih mementingkan kuantitas daripada kuantitas.

Dengan terpaksa dan penuh penghayatan kami makan seadanya, dan ikan gurami yang tergeletak dengan luka bakar yang terlihat lezat habis dengan cepat dimakan oleh 6 manusia yang kelaparan. Semuanya kena bagiab tubuh yang banyak dagingnya kecuali Syam.

Syam: “Wis aku bagian kepalanya saja kan banyak dagingnya”

Analisis Syam ternyata salah, di bagian kepala gurami itu tidakada daging sama sekali, yang ada hanya tulang-tulang ikan. Dengan menyedihkan Syam mencungkil daging yang masih tersisa sedikit di kepala dan tulang-tulang (duri) gurami..

Kamu tau kawan kita habis Rp. 80.000,- Cuma makan segitu. Untung saja Syam bawa banyak uang, soalnya dia baru pulang ke rumah. Sudah dapt durinya thok, e disuruh bayarin, nasibmu Syam….

Tapi setidaknya ini merupakan pengalaman yang sangat menarik dan sekaligus menyeramkan. Hampir kita pulang dengan tidak membawa uang sepeserpun.

Sampai rumah kos, Syam berteriak teriak

Syam: “HAAI KEMBALIKAN UANGGGKUUU, GANTII RUGIII!!!!:”

Rabu, 18 Juni 2008

closed gaul

CLOSED GAUL

Surabaya I’m coming again. Kemarin sore aku tiba di Kota Panas Jatim Surabaya. Dari Malang yang duingin aku mencari “kehangatan” di Surabaya. Tidak seperti biasanya jalannya lancar-lancar aja. Tidak begitu ramai, karena memang aku berangkatnya sore. Tapi sampai di Surabaya tetap ramai sih. Tetap semangat aja, karena aku membawa “supporter” yang selalu memberiku semangat. Siapa lagi kalau bukan pacarku yang manis ;-).

Seperti biasanya Surabaya memang padat. Sore hari banyak orang pada pulang kerja. Sampai Surabaya aku cuapek banget dan terakumlasi dari cara menyetirku yang agak kalem dan pelan.

Rencanaku di Surabaya sih happy fun aja. Jalan-jalan ya ke Pantai Kenjeran lah atau apa. Jalan-jalan ke Maal (maklum orang desa). Tapi yang terjadi malah diluar dugaan. Ternyata Pakde ku yang di Surabaya opname. Jadi tidak bisa jalan-jalan. Aku dan pacarku hanya jalan-jalan di Royal saja. itupun butuh perjuangan hati dan energi, sebelumnya harus bertengkar dulu dengan sang kekasih, biasalah terjadi konflik seperti teori konfliknya Marx berbeda pendapat (kayaknya gak nyanbung).

Ada satu masalah yang sering dihadapi manusia, buang air besar. Masalah kedua adala kebiasaan untuk melakukannya. Ada orang yang biasa melakukan buang air besa ato disingkat B-OL, dilakukan di sungai, di tanah, di closed atau dijalanan (sembarang tempat). Permasalahan juga kebiasaan melakukan posisi yang enak untuk melakukan pembuangan limbah alami. Bisa dengan Jongkok atau dengan duduk.

Nah ini permasalahan ane, ane kagak bisa kalao buang hajat dengan duduk. Apalagi closed saudaraku berbentuk duduk. Waduh berabe neh, padahal perut mules banget. Ya sudah akhirnya dengan sangat terpaksa, closed duduk itu aku tumpangi dengan posisi jongkok. aaahhh yessss keluar semua isi perut berwarna kuning keclokatan. Lega bangeeet. Agaknya closet duduk bisa buat jongkok lho. Silakan aja kalau mau coba!!!!!!!

Selasa, 03 Juni 2008

Mencari Jejak Kerajaan Kanjuruhan

PENDAHULUAN

Malang, kota berhawa dingin di Propinsi Jawa timur bagian Selatan ini memang menyimpan sejuta pesona. Wilayah Malang ini dikelilingi oleh pegunungan. Oleh sebab itu Malang dikenal dengan sebutan Dataran Tinggi Malang[1]. Jika dilihat dari udara, kawasan Malang ini terlihat seperti mangkok seperti dalam film Ice Age II.

Dalam panggung sejarah Indonesia, Malang juga mempunyai nama dan peran penting. Dari jaman prasejarah kawasan Malang juga pernah dihuni oleh manusia purba. Buktinya adalah ditemukannya situs gua Pagak di daerah Pagak, Kecamatan Pagak[2]. Gua tersebut dapat dikategorikan sebagai goa paying dan di bagian sisi timurnya terdapat sumber mata air yang berupa sungai. Dalam situs gua ini ditemukan alat-alat dari tradisi mesolitik di mulut gua berupa serpihan-serpihan batuan gamping kersikan. Alat serpih yang berhasil dikumpulkan terdiri atas serpih besar dan serpih kecil. Alat-alat serpih tersebut berupa serpih bilah, serut, serut ujung dan coper dan semua dipersiapkan dari batu kersikan[3].

Pada jaman Sejarah, terutama masa Hindhu Budha, juga pernah melintasi Malang. Kalau periode ini memang sangat terkenal di kawasan Malang. Malang pernah menjadi awal kebangkitan kerajaan-kerajaan klasik seperti Kerajaan Mataram Pu Sindok, Kerajaan Kanjuruhan, Kerajaan Kadiri, Kerajaan Singhasari, dan tentu saja Kerajaan Majapahit. Bukti yang ditinggalan pada masa kerajaan ini adalah berupa situs bangunan candi, patirtan, dan prasasti juga banyak reruntuhan-reruntuhan bangunan.

Pada jaman Revolusi tentu saja kawasan Malang menjadi ajang perang gerilya bagi laskar-laskar dan pejuang republik. Hal ini bisa dimengerti karena memang kawasan Malang di kelilingi oleh pegunungan dan hutan yang lebat. Suatu kawasan yang memang sangat potensial untuk dijadikan markas dan senjata alam dalam melawan Agresi Militer Belanda.

Tulisan ini panulis batasi periodenya yaitu pada masa jaman Hindu Budha (sekitar abad 7 Masehi). Kajian yang penulis angkat adalah Kerajaan Kanjuruhan. Mengapa penulis tertarik pada kerajaan ini? Alasannya adalah Kerajaan Kanjuruhan mempunyai periode yang relative singkat. Dalam panggung Sejarah Indonesia nama Kerajaan Kanjuruhan sempat tercuat sebagai salah satu kerajaan Hindu tertua di Jawa yaitu pada tahun 760 M[4]. Tapi kerajaan ini kemudian hilang begitu saja dalam kancah Sejarah Indonesia. Ini yang menjadi misteri. Nama kerajaan ini sekarang menjadi nama Universitas yaitu Universitas Kanjuruhan.

Meskipun Kerajaan Kanjuruhan mempunyai waktu pendek, ternyata ada peninggalan benda-benda arkeologisnya. Jika dilihat, diraba, dan diterawang benda-benda tersebut memiliki umur yang sama (boleh dibilang relatif sama) dengan periode Kerajaan Kanjuruhan. Penulis mencoba mencari trace dari peninggalana Kerajaan Kanjuruhan

Sejarah Kerajaan Kanjuruhan

Informasi adanya suatu kerajaan di Malang yang bernama Kanjuruhan diperoleh dari Prasasti Dinoyo. Prasasti ini memuat penanggalan dalam candara sengkala yang berbunyi: nayana-vayu-rase yang bernilai 682 Caka atau 760 Masehi[5]. Prasasti ini ditemukan terpisah, bagian atas ditemukan di daerah Dinoyo dan bagian bawah di daerah Merjosari. Prasasti ini ditemukan oleh Laydie Melville pada tahun 1904. Kemudian berhasil diterjemahkan oleh Poerbatjaraka pada tahun 1976.

Boleh jadi penamaannya sebagai “Prasasti Dinoyo” itu adalah salah kaprah, yang disebabkan karena yang pertama kali diketemukan adalah sebagian dari tiga pecahan prasasti ini di daerah Dinoyo. Padahal dua pecahan lainnya ditemukan di Merjosari. Kedua, jika benar pendapat Casparis (1946) bahwa prasasti ini asalnya dari Desa Kejuron – perubahan dari toponimi “Kanjuruhan”, maka semestinya dinamai “Prasasti Kejuron” atau “Prasasti Kanjuruhan”. Ketiga, prasasti ini dikeluarkan oleh raja dari kerajaan Kanjuruhan[6].

Adapun transkrip dalam Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

Selama tahun caka berjalan 682

Ada seorang raja bijasana dan sangat sakti, sang Dewasimha namanya. Ia menjaga keratonnya yang berkilau-kilauan disucikan api Putikecwara (yakni sang Ciwa).

Anakda yalah seorang liswa namanya, yang juga terkenal dengan nama Sang Gajayana, setelah ramanda pulang kembali ke swarga, maka sang Liswa-lah yang menjaga keratonnya yang besar, bernama Kanjuruhan.

Sang Liswa melahirkan seorang putrid yang oleh ramanda sang raja diberi nama sang Uttejana, seorang putrid kerajaan yang hendak meneruskan kulawarga ramanda yang bijaksana itu.

Sang raja Gajayana, yang memberi ketentraman kepada sekalian para Brahmana dan dicintai oleh rakyatnya, yalah bakti kepada yang mulia sang Agastya. Dengan sekalian pembesar negeri dan penduduknya ia membuat tempat (candi) sangat bagus bagi sang maharesi (Agastya) untuk membinasakan penyakit yang menghilangkan kekuatan (semangat).

Setelah ia melihat arca Agastya yang dibuat dari kayu cendana oleh nenek moyangda, maka raja murah hati dan pencipta kemasyuran ini memerintah kepada pelukis yang pandai untuk membuat (arca Agastya) dari batu hitam yang elok, supaya ia selalu dapat melihatnya.

Atas perintah sang raja yang sangat teguh budinya ini, maka (arca) sang Agastya yang juga bernama Kubhayoni didirikan (dengan upacara dan selamatan besar) oleh para ahli regweda, para ahli weda lain-lainnya, para brahmana besar, para pandita yang terkemulia dan para penduduk negeri yang ahli kepandaian lain-lainnya, pada tahun 682 Caka, bulan Margacirsa, hari Jumat tanggal 1 paro petang?

Dihadiahkan pula oleh sang raja sebagian tanah dengan sapi yang gemuk-gemuk serta sejumlah kerbau, dengan beberapa orang budak lelaki dan perempuan dan segala keperluan hidup para pandita yang terkemuka, seperti sabun pemandian, bahan untuk selamatan dan sajen-sajen; juga sebuah rumah besar yang sangat penuh (perabotan) untuk penginapan para brahmana tetamu dengan disediakan pakaian, tempat tidur, pada jawawut dan lain-lain.

Manakala ada kulawarga (kerajaan) atau anak-raja dan sekalian para pembesar negeri bermaksud melanggar atau berbuat jahat, berdosa tidak mengindahkan (peraturan) hadiah sang raja ini, moga-moga mereka jatuh ke dalam neraka; janganlah mereka mendapat nasib yang mulia, baik dalam akhirat maupun dunia.

(Sebaliknya) mana kala kulawarga sang raja, yang girang akan terkembangnya hadiah itu, mengindahkannya dengan pikiran yang suci, melakukan penghormatan kepada brahmana dan berbuat ibadah, maka karena berkat selamatan kebaikan dan kemurahan itu haraplah mereka menjaga kerajaan yang tak bandingkan ini seperti sang raja menjaganya[7].

Informasi dari prasasti di atas menyebutkan nama Kerajaan Kanjuruhan dengan rajanya bernama Dewasimha yang mempunyai putra yang nantinya menggamntikan dirinya menjadi raja bernama Liswa bergelar Gajayana. Kemudian Gajayana mempunyai putri bernama Uttejana.

Selain silsilah keluarga raja di atas, prasasti Dinoyo juga memberikan informasi tentang pembangunan bangunan suci yang diperuntukkan kepada Resi Agstya. Inilah keunikan dari Kerajaan Kanjuruhan. Tidak seperti kerajaan Hindhu lainnya di Indonesia yang pada umumnya membuat bangunan suci (candi) untuk dewa Siwa, Wisnu, ataupun Brahma. Berdasarkan prasasti Dinoyo raja Gajayana menyembah Agastya dan menghormati Agstya sehingga mengubah arca Agastya dari kayu cendana menjadi batu hitam yang mengkilat. Kemudian Gajayana memerintahakan untuk membangun sebuah bangunan suci untuk Resi Agastya.

Menurut Poerbatjaraka dalam disertasinya (1926)[8], di India, Asia Tenggara ataupun di Nusantara, Agastya diposisikan secara istimewa. Oleh karena, secara mitologis Agastya digambarkan sebagai “culture hero” yang berperan dalam mengembangkan Siwaisme dari India barat laut ke selatan, yang untuk itu Agastya harus meminum air samodra hingga habis. Mitos tentang perluasan Hinduisme ke arah selatan dengan menyeberangi laut ini, menurut Poerbatjaraka dapat dijadikan petunjuk mengenai perluasan lebih lanjut agama Hindu (Brahmanisme) ke Nusantara. Dalam hal ini, Agastya telah menemukan jalan laut ke Nusantara. Sesungguhnya Agastya adalah salah seorang resi yang menjadi murid (sisya) dari Siwa. Diantara para murid Siwa, bahkan di antara tujuh resi utama (saptarsi) murid Siwa, Agastya adalah yang paling utama. Oleh karena keutamaannya ini, maka maharsi Agastya sering dikonsepsikan “wakil” Siwa di dunia. Bahkan, Agastya diidentikkan dengan Siwa, utamanya Siwa sebagai Mahaguru.

Bangunan suci atau candi untuk Agastya ini belum diketahui secara pasti. Beberapa sarjana menyamakan bangunan ini dengan Candi Badut yang in situ di desa Badut. Tapi ada suatu keanehan pada candi ini. Di dalam grba grha terdapat lingga dan yoni yang merupakan simbol Dewa Siwa. Lagi pula ciri candi seperti ini merupakan ciri candi kerajaan Hindhu yang merupakan pendharmaan seorang raja[9]. Dan juga arca Agastya ini diletakkan di relung utara candi yang sekarang arcanya sudah tidak in situ. Sebenarnya ada kemungkinan bangunan untuk Agastya ini berada di situs Karang Besuki yang letaknya tidak jauh dari Candi Badut. Situs ini berupa reuntuhan candi. Tapi sayang sekali tidak ada petunjuk untuk menjawab dimana bangunan untuk Agastya.

Riwayat Kerajaan Kanjuruhan ini mengalami pemutusan. Dalam sumber tertulis seperti prasasti Dinoyo tidak menyebutkan keberlanjutan Kerajaan Kanjuruhan pada masa Uttejana, putri dari Gajayana. Baru ada informasi tentang Kanjuruhan yaitu pada prasasti Watukura Dyah Balitung. Mungkin kemudian kerajaan Kanjuruhan yang beribukota di Malang ditaklukkan oleh Mataram di Jawa Tengah dan penguasanya di anggap sebagai raja bawahan dengan gelar Rakryan Kanuruhan. Gelar ini mulai muncul di dalam prasasti Watukura Dyah Balitung dan kedudukannya sangat penting pada masa pemerintahan Dharmawangsa Airlangga dan jaman Kadiri[10].

Situs Peninggalan Kerajaan Kanjuruhan di Malang

Menurut Undang-undang No, 5 tahun 1992, situs merupakan wilayah atau daerah yang diduga mengandung benda cagar budaya. Situs ini bisa berupa artifak, epsefak, dan ekofak. Untuk mencari asal-usul suatu benda sejarah, bisa ditelusuri dari situs-situs tempat benda itu ditemukan. Siapa tahu akan banyak ditemukan data-data yang lebih akurat.

Setiap peradaban pasti meninggalkan benda-benda. Seperti kata Koentjaraningrat bahwa manusia selalu meninggalkan hasil kebudayaannya karena kebudayaan merupakan kumpulan ide-ide atau gagasan yang diperoleh dengan belajar kemudian di terapkan dalam masyarakat yang inilah akan menghasilkan benda budaya atau artifact[11].

Bagaimana dengan Peninggalan dari Kerajaan Kanjuruhan? Tentu saja walaupun mempunyai umur yang relatif sedikit, Kerajaan Kanjuruhan juga merupakan salah satu peradaban di Indonesia. Peninggalan dari Kerajaan ini meliputi candi dan situs reruntuhan. Selama ini yang ditemukan di Malang terutama daerah Dinoyo dan desa Kejuron (toponimi Kanjuruhan) yang terletak di lembah sungai Metro. Peninggalan itu berupa prasasti yang merupakan sumber tertulis[12], Candi Badut yang merupakan candi kerajaan, dan reruntuhan-reruntuhan candi di situs Karang Besuki di belakang kuburan. Benda-benda tersebut merupakan jejak peninggalan dari Kerajaan Kanjuruhan yang memiliki umur yang relatif sama.

Candi Badut merupakan tipe candi Jawa Tengahan yang berada di Jawa Timur[13]. Mengapa kok disebut begitu? Kemarin juga teman-teman dari Unair juga menanyakan hal tersebut. Candi Badut memiliki badan yang tambun atau disebut langgam Jawa Tengahan[14]. Berbeda dengan candi-candi di Jawa Timur yang berbadan langsing (langgam Jawa Timuran). Kemudian baturnya pendek tidak setinggi di candi-canri jawa timur[15]. Dari bahan bangunannya pun masih menggunakan batu andesit yang masih kasar. Hal ini karena dulu ketika dibangun, para kuli tidak menemukan batu andesit yang asli, akhirnya mereka menggunakan batu kali sebagai pelengkap. Batu kali itu diperoleh di sekitar sungai Metro.

Mengenai umur dari candi Badut bisa disamakan dengan penemuan prasasti Dinoyo karena prasasti ini juga ditemukan di area sekitar candi Badut. Jadi bisa diperkirakan berasal sekitar abad ke 8 Masehi. Dalam prasasti Dinoyo juga memberi informasi bahwa raja Gajayana membangun sebuah perkampungan di sekitar area Candi Badut, yang sekarang menjadi perumahan Tidar[16]. Pengumuran yang sama juga terdapat pada situs Karang Besuki. Situs yang berupa reruntuhan candi ini juga mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan candi Badut. Jadi bisa diperkirakan bahwa wilayah Keraton Kerajaan Kanjuruhan berada disekitar Dinoyo, desa Kejuron dan lembah sungai Metro.

Sebenarnya masih ada peninggalan yang lain untuk periode ini. Jika di gali lagi areal sekitar Candi Badut kemungkinan juga ada dan ditemukan. Hal ini sesuai dengan kitab silpasastra yang merupakan rujukan untuk membangun sebuah candi. Di depan candi seharusnya terdapat 4-6 buah gerbang bentar, kemudian ada satu gerbang paduraksa. Di depan candi induk juga terdapat dua candi Perwara[17]. Sayang sekali untuk melakukan penggalian (eskavasi) itu membutuhkan dana yang besar, lagi pula di sekitar areal candi sudah dibangun perumahan dan perkampungan penduduk. Tentu saja akan terjadi pralaya jika melakukan penggusuran.

Epiolog

Berdasarkan benda-benda arkeologis yang di tinggalkan yang memang jumlahnya sedikit bisa memberikan informasi tentang ada dan berdirinya Kerajaan Kanjuruhan. Situs-situs seperti Candi Badut dan reruntuhan candi di Karang Besuki ditambah dengan prasasti Dinoyo yang ditemukan di sekitar candi Badut menguatkan bukti bahwa di Malang berdiri salah kerajaan Hindhu tertua di Jawa Timur.

Berdasarkan temuan prasasti Watukura Dyah Balitung, Kerajaan Kanjuruhan hilang dan berganti menjadi wilayah watek dari kerajaan Jawa Tengah. Sehingga kemungkinan Kerajaan Kanjuruhan mendapat serangan dari kerajaan di Jawa Tengah dan statusnya berubah menjadi wilayah watek yang dipimpin oleh rakryan

Memang data-data tulis dan artifak belum cukup untuk mengungkap sejarah Kerajaan Kanjuruhan ini. Tapi mudah-mudahan ada usaha untuk menemukan bukti-bukti yang terbaru. Tapi lebih penting lagi adalah melestarikan benda cagar budaya, karena bila dirusak hilanglah informasi tentang asal usul atau identitas kita. Mari kita lesarikan Benda Cagar Budaya.


DAFTAR RUJUKAN

Boechari, 1984. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka.

Dwi Cahyono. 2005. Kanjuruhan, Benang Merah Dari Kerajaan ke Universitas, orasi Ilmiah ulang tahun ke-30 Universitas Kanjuruhan. Malang : tanpa penerbit.

Dwi Cahyono. 2006. Dinamika Sejarah dan Sosial Malang. Public Policy Analysis and Community Development Studies (PLaCID’S) AVERROES bekerja sama dengan Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID).

Koentjaraningrat. 2000. Pengantar Antropologi. Jakarta; Rineka Cipta.

Poerbatjaraka. 1976. Riwayat Indonesia I. Yogyakarta: Yayasan Purbakala Yogyakarta.

Soejono, RP. 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid I. Jakarta: Balai Pustaka.

Soekmono. 1977. Candi, Fungsi, dan Artinya. Semarang: IKIP Press.

Soekmono. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilid 2. Jakarta: Kanisius.

Suprapta, Blasius. 2007. Kawasan Dataran TInggi Malang Dari Masa Prasejarah hingga Hindhu-Budha, makalah yang di sampaikan pada kegiatan Subject Content SMA Negeri 10 Malang.



[1] Blasius Suprapta, Kawasan Dataran TInggi Malang Dari Masa Prasejarah hingga Hindhu-Budha, makalah yang di sampaikan pada kegiatan Subject Content SMA Negeri 10 Malang ,2007, hal 2

[2] Ibid, hal 4.

[3] Mengenai alat-alat sepih bilah ini dan juga alat-alat yang digunakan oleh manusia prasejarah bisa dilihat pada RP. Soejono, Sejarah Nasional Indonesia Jilid I, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990).

[4] Keterangan tentang Kerajaan Kanjuruhan ini berdasarkan inskripsi dalam prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 M. Lihat dalam Boechari, Sejarah Nasional Indonesia Jilid II, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984).

[5] Blasius Suprapta, Op Cit, hal 10.

[6] Dwi Cahyono, Kanjuruhan, Benang Merah Dari Kerajaan ke Universitas, orasi Ilmiah ulang tahun ke-30 Universitas Kanjuruhan. (Malang : tanpa penerbit, 2005), hal 18

[7] Poerbatjaraka, Riwayat Indonesia I, (Yogyakarta: Yayasan Purbakala Yogyakarta, 1976), hal. 92-97).

[8] dalam Dwi Cahyono,Op cit, hal 9.

[9] Soekmono, Candi, Fungsi, dan Artinya, (Semarang: IKIP Press, 1977).

[10] Bochari,Op Cit, hal 108-109.

[11] Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi, (Jakarta; Rineka Cipta, 2000).

[12] Pada jaman kerajaan orang yang menulis pada prasasti adalah citralekha.

[13] Menurt Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilid 2, (Jakarta: Kanisius, 1973)

[14] Ibid, hal 86.

[15] Sebagai perbandingan bisa dilihat pada situs-situs candi di Trowulan.

[16] Dwi Cahyono, Dinamika Sejarah dan Sosial Malang (Public Policy Analysis and Community Development Studies (PLaCID’S) AVERROES bekerja sama dengan Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID), 2006) hal 14.

[17] Reruntuhan candi perwara di Candi Badut masih ada dan berada di kompleks Candi Badut.