Selasa, 03 Juni 2008

kurang tidur

waduh selasa pagi yang dingin dan payah. Semalam aku tidur larut, jadi ya sekarang ngantuk. Apalagi nanti ujian akhir semester Sejarah Politik, lisan lagi!!!??? Capek deh.... Dosenku yan satu ini sungguh "menyeramkan", maksudnya otaknya lho bukan orangnya. Ya semoga saja manti kalau pas ujian otakku "nutut" (sampai).
sekedar mengisi waktu. Aku punya cerita neh. Biasa aktornya sama si syam. Kini dia punya julukan baru si Syampak alias Syam kayak Sempak (kampes bahasa Malangnya). waktu itu si syam mau pulang, nah cuciannya banyak, rencananya mau di laundry. ya lumayan banyak laundryannya. nah yang menjengkelkan, dia masukkan sempak alias kampes alias celana dalam alias CD. gendeng banget dia. tapi si syampak cuek saja. baju, celana plus sempak itu di bawa di laundryan.
ya akhirnya syam pulang dengan tersenyum tanpa memperhatikan sempaknya.
ketika balik di Malang syampak langsung mengambil laundryannya. dan dia agak marah ketika ada secarik kertas bertuliskan "MAS, LAIN KALI KAMI TIDAK MELAYANI CD, APALAGI YANG SUDAH BOLONG".... lalu aku menyarankan kepada syampak, "Syam lain kali kalau ngelaundry sempaknya yang banyak sekalian, kalau tidak bisa kita bikin laundry sendiri khusus daleman"......Oke punya tuh>>>>

Kamis, 29 Mei 2008

Day 2nd


Setelah semalam melakukan perang antar dunia dengan nyamuk, akhirnya pagi hari peperangan dihentikan sejenak. Pagi-pagi aku jam 5.00 sudah bangun, segera aku melakukan sholat subuh kemudian mandi. Mandi pun aku harus antri lagi, busyet para wanita kalau mandi lama sekali. Setelah lama menunggu antri mandi akhirnya aku mandi juga. Selesai mandi ganti pakaian tidak lupa almamater, kemudian kami sarapan bersama. Aku, Hunter, Khoiruddin, Khotim, dan orang-orang jalanan sarapan di tempat kami tidur semalam.

Kamar kami para laki-laki memang istimewa, letaknya disamping rumah kos penginapan kami. Jadi bangunan ini merupakan pavilion yang sengaja dibangun dipisah dari bangunan utama. Hanya tembok yang menghalangi. Ruangan sebesar 4mx4m ini menjadi kamp para laki-laki. Entah apa pertimbangan teman-teman kami yang menempatkan laki-laki di pavilion itu. Mungkin karena kami para laki-laki terbiasa mbambung1 jadi bisa tidur dimana saja.

Walaupun semalam di area penginapan kami diguyur hujan deras, hawa panas tetap saja menyelimuti. Tapi pagi hari sebelum berangkat hawa sangat sejuk, aku melihat pohon jambu, mangga sangat ceria memperlihatkan daunnya yang hijau. Jalan gangnya bersih, belum ada Homo sapiens yang membuang limbahnya. Kami sudah berkumpul di depan penginapan, siap untuk berpetualang lagi. Sambil menunggu sopir dan kedua kernetnya mempersiapkan mobil kami melakukan beberapa kegiatan, ada yang telepon pacarnya, ada yang ngerumpi (bisanya ibu-ibu dengan dipimpin oleh Ibu Negara), ada juga yang foto-foto.

Kendaraan besi roda empat berwarna biru jenis elf sudah siap untuk bekerja lagi. Rombongan kami bersiap menuju instansi berikutnya. Sebelumnya kami menjemput kedua dosen kami di penginapan Green House. Pagi ini kedua dosen kami terlihat ceria, mungkin kemarin beliau-beliau tidur dengan nyenyak sekali tanpa melakukan perang antar dunia dengan serangga penghisap darah seperti apa yang kami alami di penginapan istimewa kami.

Tujuan kami berikutnya adalah Badan Perpustakaan Propinsi Jawa Timur. Sebelum berangkat tadi Ubed sudah mempunyai bekal peta lokasi/rute menuju Badan Perpustakaan. Ada hal yang menggelikan ketika dalam perjalanan. Ketika itu kernet kami bertanya kepada tukang becak dimana letak Jawa Pos. Mendengar itu kontan dalam hati aku tertawa karena aku melihat Graha Pena yang merupakan kantor Jawa Pos tepat di belakang mobil kami, mungkin jaraknya 5-7 meter. Kontan juga para tukang becak juga senyum-senyum, wong Jawa Pos sudah ada di depan mata. Kedua dosen kami juga tertawa melihat sopir dan kedua kernetnya yang mereka juga tertawa sendiri.

Seperti pada hari pertama, kami muter-muter lagi mencari alamat dari Badan Perpustakaan Propinsi Jawa Timur yang alamatnya di Jl. Menur Pumpungan No. 32. Sekali lagi hawa sangat panas di Surabaya padahal masih kisaran jam 8. Jalan A. Yani sangat padat oleh manusia-manusia yang mencari kehidupan. Asap kendaraan, suara kendaraan, semuanya komplit untuk julukan kota metropolitan kedua. Tanya sana Tanya sini, Tanya Satpam masih juga tersesat. Surabaya seperti hutan belantara Kalimantan yang berliku-liku, sekali tersesat maka semakin kita tidak tahu jalan. Yang jadi penasaranku kenapa tidak tanya pada Polisi saja, Polisi yang tahu jalan tentunya. Aku jadi geli melihat sopir dan kedua kernetnya sangat takut ketika melihat sesosok manusia berseragam lengkap dengan peluit di jalan. Padahal kita kan semua sama, termasuk Homo sapiens juga. Mobil terus melaju, mencari tempat tujuan, seperti kapalnya Cristhoper Colombus yang mencari daratan. Aku semakin ingin pulang saja, panas sekali hawanya.

Setelah satu jam muter-muter akhirnya kami sampai di Jl. Menur Pumpungan No 32. Sebuah kompleks bangunan yang di pagarnya tertulis Badan Perpustakaan Propinsi Jawa Timur membuatku dan teman-teman sedikit lega. Akhirnya jam tanganku menunjukkan pukul 9.15 kita sudah sampai di tujuan.

Hunter dan Shinta memohon ijin masuk, kemudian kami ikut masuk setelah diijinkan. Sama seperti di Unair, rombongan kami dipersilahkan masuk di sebuah ruangan yang biasa dipakai rapat. Di dalamnya sudah disediakan kotak-kotak yang berisi lemper setelah aku membuka isinya. Kemudian ada dua pegawai teknisi yang mempersiapkan laptop dan LCD. Mereka sibuk sendiri memasang kedua benda tersebut.

Setelah semua siap, acara dimulai ketika dua manusia pria hadir. Pria pertama bertampang agak seram dengan kumis yang seperti jagang vespa, apalagi suaranya yang serak berat seperti robot yang diservis karena kehabisan baterai. Orang ini bernama Hasto Hendarto. Pria yang satu lagi agak pendiam, wajahnya tenang tapi menyimpan misi dan ambisi, namanya seperti nama dalam pewayangan yaitu Abimanyu putra Arjuna. Pak Abimanyu ini merupakan Kepala Bidang Layanan Perpustakaan.

Diskusi dimulai. Pembicaraan kami disekitar minat baca masyarakat yang kurang. Ya itu bisa dimaklumi dan bagiku sangat ironis. Masyarakat di Negara berkembang memang tidak memprioritaskan membaca sebagai kegiatan utama, tetapi mereka terlebih dahulu mencari kebutuhan sandang dan pangan. Hal ini sangat berbeda dengan di negara maju. Masyarakat di negara maju ketersediaan sandang dan pangan sudah maksimal, jadi yang mereka cari selanjutnya adalah wawasan intelektual untuk membangun peradaban, sehingga membaca merupakan prioritas utama2.

Pihak perpustakaan sudah berusaha untuk meningkatkan minat membaca masyarakat. Usaha-usaha itu antara lain, mengadakan perpustakaan keliling, menyumbang buku ke perpustakaan di desa-desa dan Sekolah Dasar, mengadakan lomba membaca dan menceritakan isi dari cerita yang dibaca, dsb. Tapi kenyataannya tetap saja mental orang Indonesia adalah perut, ngerasani orang, dan percaya pada hal yang gaib3, kata Bapak bersuara robot (Hasto Hendarto).

Menilik sejarah dari Badan Perpustakaan Propinsi Jawa Timur, instasi ini dulunya adalah badan milik negara, kemudian menjadi badan kedinasan wilayah berdasarkan Keppres No. 11 Tahun 1989. Kemudian menjadi Perpustakaan Nasional di Daerah berdasarkan Keppres No 50 Tahun 1997. Sekarang karena ada otonomi daerah akhirnya berdasarkan UU No. 44 Tahun 2007 instansi ini menjadi Badan Perpustakaan Propinsi Jawa Timur4.

Mengenai koleksi di perpustakaan ini meliputi buku dan Koran. Untuk koleksi koran lama kami tidak diperbolehkan untuk meminjam. Koleksi buku di perpustakaan ini juga banyak. Buku-buku di letakkan di rak-rak. Tidak seperti di perpustakaan UM yang mempunyai 3 lantai, Badan Perpustakaan Propinsi Jawa Timur ini hanya mempunyai 1 lantai untuk penyimpanan buku. Walaupun hanya satu lantai, koleksi buku-buku di perpustakaan ini jumlah dan kelengkapannya tidak kalah dengan perpustakaan yang lain. Aku juga sempat membaca buku karya Harvey, Permesta, Pemberontakan Setengah Hati. Tapi karena waktu berkunjung sudah habis, aku hanya membaca sedikit.

Akhirnya setelah bersalaman dengan Pak Abimanyu kami pamit. Aku tidak sempat melihat pemberian vandel. Tapi tidak apa-apalah yang penting aku sudah berkunjung ke perpustakaan ini.

***

Perjalanan dilanjutkan kembali. Kali ini perjalanan agak lancar dan agak santai. Tidak setegang seperti sebelumnya. Tahu kenapa kawan? Ternayata ada temanku bernama Lukluk mengetahui jalan menuju Jl. Pemuda No. 7 Surabaya, tujuan kami berikutnya adalah Perpustakaan Gubernur Jawa Timur. Letak perpustakaan ini disebelah Tugu Pahlawan.

Lukluk memberi arahan kepada sopir jalan menuju ke Tugu Pahlawan. Tapi sayangnya dia tidak mau duduk di samping sopir, sehingga dia harus agak berteriak jika memberi arahan. Awalnya aku berpikir, kenapa Lukluk ini tidak mau duduk di depan? Apa karena malu, atau takut atau kenapa?5.

Mobil terus berjalan. Ketika sampai di salah satu traffic light di Surabaya aku melihat sebuah benda menjulang tinggi mengerucut sampai ke atas, mirip bangunan menhir pada masa megalitikum. Inilah Tugu Pahlawan. Monumen ini dibangun untuk mengenang perjuangan heroic arek-arek Surabaya dalam berperang melawan tentara Inggris dan NICA. Walaupun terkena hawa panas yang luar biasa di Surabaya, tugu itu tetap berdiri dengan gagahnya. Sekali lagi aku membayangkan betapa luar biasa seru dan mengerikan pertempuran 10 November 1945 itu. Tentu saja pertempuran ini sangat hebat jika dibandingkan pertempuran antar dunia antara aku dengan nyamuk.

Jam 13.10 kami tiba di kantor Gubernur Jawa Timur. Keadaan kantor agak sepi, sangat paradoks dengan keadaan diluar yang ramai terpampang spanduk calon-calon Gubernur Jawa Timur yang ikut dalam Pilgub (Pemilihan Gubernur) Jawa Timur. Sebelum masuk ke dalam perputakaan Gubernur kami menyempatkan diri untuk sholat Dzuhur dan makan siang di musholla disamping gedung.

Agaknya ada pembangunan di area Gedung Gubernur Jatim ini, jika di atap ada suatu kubah, pastilah akan dibangun sebuah masjid. Tiba aku segera mengambil bungkusan makan. Tadi pagi aku tidak sarapan karena ada masalah dengan perutku. Tapi tidak sarapan bukan hal yang tepat untuk mengobati sakit perut, malah akan semakin parah6. Dengan mengucapkan Bismillah aku pun makan dengan lahap.

Selesai makan aku mengambil air wudhu, kemudian melakukan sholat Dzuhur yang aku jamak sekalian dengan sholat Asar. Selesai sholat aku istirahat bersama teman-teman. Ada pemandangan yang umum di musholla ini, ada beberapa PNS yang tidak bekerja tapi tidur di musholla, aku sempat memfotonya. Ironis juga kenapa Pegawai Negeri kita tidak bekerja dengan rajin untuk negaranya.

Setelah mendapat ijin dari pihak kantor, kami pun naik ke atas (gedung). Sebelum naik ke atas, aku, Hunter, Ubed, dan Khoiruddin nyangkut di mobil dulu, kita ngopi dulu dengan sopir yang sedang ngumpul-ngumpul dengan sopir yang lain. Kemudian kami berempat ikut naik ke atas. Perpustakaan Gubernur ada di lantai tiga. Di dalamya tidak ada yang menarik, hanya terdapat buku-buku tentang sejarah dan kondisi sosial, budaya, politik, dan ekonomi Jawa Timur. Ada juga banyak Staatblad. Rupanya di perpustakaan ini banyak tersimpan buku-buku jaman Hindia Belanda. Praktis kegiatan kami hanya mencari dan membaca beberapa buku di sana.

Karena sudah dirasa cukup kami pun pamit dan menyerahkan vandel kepada ketua pengurus bagian perpustakaan.

***

Hari masih siang, jam tanganku menunjukkan pukul 14.50. Pak Joko mengusulkan kepada kami untuk melanjutkan perjalanan lagi daripada nganggur dan buang-buang waktu. Kami agak berdebat dengan Pak Joko, terutama Shinta yang ingin pulang ke penginapan istimewa. Teman-temanku yang tidak berjilbab juga menolak untuk pergi ke Makam Sunan Ampel, tapi mereka diyakinkan oleh Pak Joko. Kalau aku sih sependapat dengan Pak Joko, dari pada nganggur lebih baik lanjutkan perjalanan saja. Akhirnya kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan kami berikutnya adalah Makam Sunan Ampel.

Kali ini Lukluk duduk di depan, teman-teman agak setengah memaksa agar Lukluk duduk di depan karena dia yang tahu jalan menuju Makam Sunan Ampel. Perjalanan kami lumayan tenang dan santai, permasalahan pada rute jalan sudah teratasi dengan hadirnya Lukluk sebagai navigator. Sekedar bercerita, dalam sebuah mobil angkutan umum yang kami tumpangi, antara kernet dan sopir adalah satu kesatuan. Sopir dan kernet saling membantu dalam menjalankan mobil. Ini seperti pilot dan co pilot dalam mengemudikan pesawat terbang. Jadi kendaraan yang kami tumpangi mempunyai koordinasi yang sama seperti pesawat F14.

Dengan lihai Lukluk menunjukkan jalan. Dan dengan santai kami pun sampai di kompleks Makam Sunan Ampel. Kompleks ini berada di pinggir jalan dan di tengah-tengah perkampungan. Letak ini mirip seperti di Makam Sunan Bonang di Tuban.

Sebelum masuk di masjidnya kami menelusuri tempat para pedagang. Banyak dijual aneka barang-barang dan peralatan untuk orang muslim. Bahkan ada juga parfum, tapi baunya aku sangat tidak suka karena sangat menyengat. Gerbang paduraksa menunjukkan bahwa kami tiba di masjid Ampel.

Arsitektur masjid Ampel ini merupakan salah satu jenis dari masjid jaman Islam kuno. Bangunannya seperti arsitektur masjid Demak. Yang khas dari masjid lawas atau kuno adalah beratap tumpang dan memiliki empat soko guru yang menyangga atap tumpang7. Yang menarik adalah tambahan bangunan berupa tiang-tiang Gothik dan menara.

Seperti denah kompleks makam Islam kuno pada umumnya, di depan masjid (sebelah barat) pasti terdapat makam. Di masjid Ampel juga seperti itu. Di depan Masjid Ampel terdapat Makam Sunan Ampel, keluarga dan kerabat-kerabatnya. Bukan hanya itu keunikan dari Kompleks Makam Sunan Ampel, ada legenda sembilan makam Mbah…(aku lupa namanya) dan ada lima gapura paduraksa. Menurut informasi dari Badan Pengelolaan Teknologi Informasi dan komunikasi Surabaya, kelima gapura ini dibangun oleh masyarakat dengan tujuan memudahkan pengunjung yang ziarah ke Makam. Kelima gapura ini melambangkan lima rukun Islam8.

Sayang sekali pengunjung dilarang memfoto area kompleks pemakaman. Aslinya boleh, tapi sembunyi-sembunyi. Untuk mendapatkan gambar di area pemakaman kami meminjam kalender bergambar kompleks Makam Sunan Ampel. Jadi Hunter memegangi kalender itu kemudian aku dan beberapa teman mengambil foto dari gambar-gambar tersebut. Aku melihat Hunter seperti orang berjualan sambil membawa barang dagangan dan menyandarkan barang dagangan di tubuh depannya.

Masih di kompleks Makam Sunan Ampel. Sebelum pulang kami sempat membicarakan nasib kami di Surabaya dengan kedua dosen kami. Pembicaraan mengenai transportasi kami. Tadi sempat tersiar kabar bahwa sopirnya minta tambahan uang. Tentu saja ini diluar kontrak tertulis. Hal ini sudah aku duga, pasti mereka minta tambahan uang, biasa taktik orang jalanan. Tapi Pak Joko mengusulkan pada kami agar bicara dulu dengan pihak sopir. Satu hal lagi, kata Pak Joko, ketika akan bicara dengan sopir jangan menggunakan nada emosi dan berdebat, bicara dengan baik-baik saja. Kemudian kami juga sepakat untuk memangkas KKL ini menjadi tiga hari saja, yang menurut rencana awal empat hari batal. Jadi besok (Kamis) kami pulang ke Malang.

Selesai di kompleks Makam Sunan Ampel kami kembali ke penginapan. Sang navigator ,Lukluk, kembali duduk di depan untuk menunjukkan jalan. Kemacetan terjadi lagi dan ini merupakan hal yang biasa untuk kota sekelas Surabaya. Mobil kami melewati pasar ikan, kontan saja bau amis menyebar ke dalam ruangan mobil.

Mobil terus melaju dengan aman menuju ke penginapan kedua dosen kami di Green House, kemudian menuju ke Jl. Pagesangan, penginapan istimewa kami. Disinilah terjadi ketegangan lagi. Si sopir ternyata jika malam matanya rabun. Jadi dia memakai kacamata untuk membantu penglihatan di malam hari. Yang jadi persoalan adalah ketika dalam perjalanan menuju ke penginapan si sopir malah kebablasan. Rute jalan tidak sama seperti yang tadi pagi dan kemarin kami lalui. Jadi muter-muter lagi, Tanya sana Tanya sini. Hari sudah malam tepatnya Maghrib, kami masih di jalan. Khairuddin yang duduk di depan juga kebingungan mau tanya orang, dia kemarin yang naik vespa dengan Ubed juga tersesat, tapi sampai di penginapan. Mobil meraung-raung tanda sopirnya emosi. Mobil kami melewati gang demi gang. Dan alhamdulillah akhirnya sampailah kami pada sebuah gang tempat penginapan istimewa kami.

Penumpang langsung turun dan segera melakukan mandi dan tentu saja harus antri. Aku juga langsung turun, bernafas sejenak. Kemudian Hunter mengajakku keluar, alasannya dia mau nelpon temannya di Malang. Tapi ternyata Hunter mengajakku jalan-jalan karena dia stress dan lapar. Kasihan Hunter, dia sebagai Ketua Pelaksana memang pantas bingung demi keselamatan anak buahnya. Kita jalan-jalan menelusuri jalan gang dan sampai di jalan raya. Di seberang jalan ada warung pecel lele, aku mengajak Hunter makan di warung itu. Aku kira pecel lele itu lele dengan bumbu pecel, ternyata aku salah. Dan ternyata yang namanya pecel itu lalapan lele yang biasa aku beli dengan sambal terasi. Walaupun harganya lumayan mahal, tapi tidak apa-apalah aku dan Hunter tetap makan karena memang kita lapar. Setelah makan kita kembali ke penginapan. pada saat kamar mandi kosong aku langsung mandi. Selesai aku sholat jamak Maghrib dan Isya’.

Setelah semuanya sudah mandi, sholat, dan makan, beberapa teman mengajak sopir untuk berbicara soal uang transport. Mereka berkumpul di teras depan penginapan. ada Ubed, Shinta, Mimin, Hunter, dan sopirnya. Pembicaraan santai saja sambil minum kopi. Aku yang santai di depan kamar para laki-laki diajak Hunter untuk ikut diskusi.

Pembicaraan di mulai, wah kalau sudah menyangkut uang lebih baik aku diam. Ubed membuka diskusi kami dan melobi si sopir. Karena KKL kami di Surabaya hanya tiga hari, Ubed meminta potongan harga sewa mobil. Tentu saja si sopir yang tidak bisa melafalkan “r” ini menolak. Pihak kami pun juga sudah menduga. Karena tidak menerima potongan, delegasi kami yang dipimpin Ubed juga tidak menambah uang sewa, dan ini disetujui oleh si sopir. Akhirnya uang sewa mobil diserahkan semua kepada sopir.

Selasai masalahnya akhirnya diskusi bubar, kita membicarakan hal yang lain. Taufik sopir kami ini kalau berbicara lucu,”aku sudah perlnah ke Jakarlta dan Bogorl sopir bis Lorlena”, dengan menggebu-gebu dia cerita ya walaupun kami tahu kalau itu hanya cerita karangan orang jalanan. Masih saja si sopir cerita tentang pengalamannya dengan lafal “r” yang dilesapkan.

Malam semakin larut, Mimin dan Shinta sudah tidak kuat lagi menahan lelah dan kantuk, mereka berdua pun pergi tidur. Tinggal aku, Ubed, Hunter, dan dua orang jalanan (Taufik dan Soleh). Ubed pun juga KO dia tertidur. Tinggal aku dan Hunter. Nah dari sini pembicaraan kami berkisar pada mistis dan gaib. Si sopir bilang kalau dia punya pegangan, dalam hati aku tertawa masa jaman sudah computer masih saja pakai pegangan. Katanya si sopir Hunter juga punya pegangan. Hunter juga senyum-senyum saja,wong dia juga tidak merasa punya pegangan. Kalau aku masih polos katanya Taufik (sopir). Pembicaraan seputar masalah gaib. Ternyata orang jalanan kalau di ajak bicara dan nadanya agak meninggikan derajat mereka, mereka senang sekali9.

Malam semakin larut. Hunter kembali ke kamar merekap judul buku pemberian dari Badan Perpustakaan Propinsi Jawa Timur. Si Taufik sopir juga mau tidur karena besok harus menyetir lagi. Praktis tinggal aku dan Soleh, kernetnya Taufik. Pembicaraan aku dan Soleh masih seputar mistik. dan ternyata kita cocok dalam membicarakan Kejawen10. Pengetahuan Soleh tentang Kejawen lumayan menguasai. Dia pernah belajar ilmu kebatinan pada seorang Kyai di Malang. Doa-doanya pun juga banyak yang hafal. Aku sengaja mengorek informasi dari Soleh ini, pengalaman apa yang dia alami hingga menjadi kernet. Sengaja aku melakukan penelitian dengan metode wawancara langsung seperti petunjuk yang ada dalam buku Metode Penelitian Masyarakat karya Koentjaraningrat11.

Ternyata si Soleh ini mempunyai pengalaman yang luar biasa. Dia pernah bekerja sebagai koki pembuat roti di Bali dan mempunyai penghasilan lumayan banyak. Tapi karena di tipu oleh majikannya dia rugi besar dan kembali ke Malang. Di Malang pun Soleh juga membuat usaha roti. Semakin besar usahanya pada waktu itu. Tapi akhirnya bangkrut juga karena uangnya dihabiskan oleh istrinya. Akhirnya sampai sekarang demi menghidupi istri dan anaknya yang masih berumur 8 bulan, Soleh menjadi kernet mobil angkutan.

Mengenai masalah kejawen, Soleh sudah meninggalkan ajaran itu. Entah kenapa ketika berbicara denganku tentang ini dia teringat semua. Sudah takdir katanya. Aku malah di ajari kejawen, seperti, puasa hari kelahiran, zikir sampai tengah malam, mandi kembang, dsb. Aku juga di ajari doa-doa sebelum melakukan pekerjaan. Kata-kata dalam doa itu adalah akulturasi antara kata dari Arab dan Jawa.

Heran aku, dengan jujur Soleh menceritakan pengalaman hidupnya. Apakah ini yang dinamakan pernyataan dari alam bawah sadar seperti kata Sigmund Freud12, bahwa jika dalam kondisi tenang seseorang akan menceritakan pengalaman hidupnya dengan jujur. Dari diskusi dengan Soleh ini aku jadi semakin mengerti bahwa walaupun dia orang jalanan, tapi masih memiliki kebaikan dan kejujuran dalam hati nuraninya13. Dari sini aku mendapatkan pengalaman yang baru. Sekedar tahu saja, Soleh adalah orang ketiga yang memberi aku wawasan tentang kejamnya dunia. Lain waktu saja aku ceritakan kedua orang itu.

Malam semakin larut, aku sudah tidak kuat lagi menahan ngantuk. Soleh juga mengerti keadaanku dan menyuruhku tidur. Dan akhirnya aku tidur dan melakukan perang antar dunia dengan nyamuk, tapi kali ini aku agak cuek karena aku sangat ngantuk sekali

***

Lampiran Ekspresi Foto (all photo by: Agung Collection)

Diambil pada Rabu 7 Mei 2008


  • Suasana pagi hari di penginapan istimewa.


Gb. 11. Jalan gang depan penginapan

Gb. 12. Kamar para laki-laki

Gb. 13. Aktivitas di pagi hari sebelum berangkat























  • Badan Perpustakaan Propinsi Jawa Timur.

Gb. 14. Pak Mashuri dan Pak Joko sedang berdiskusi di ruang rapat.

Gb. 15. Diskusi dengan manusia bersuara robot (Hasto Hendarto disebelah kiri) dan Pak Abimanyu.












Gb. 16. Bu’ kedinginan ya??

Gb. 17. Mas jangan ngantuk, masih banyak kerjaan lho…








  • Perpustakaan Gubernur Jawa Timur

Gb. 18. Mas tidur aja, emang gak kerja???





Gb. 19. Aku sedang membaca buku (Keren abiz kan…).







Gb. 20. Pak Joko Sayono memberikan vandel kepada pengurus perpustakaan Gubernur Jatim.













  • Kompleks Makam Sunan Ampel

Gb. 21. Suasana di kompleks Makam Sunan Ampel

Gb. 22. Salah satu gapura di kompleks Makam Sunan Ampel.

Gb.23. Hunter manjadi model dengan memamerkan kalender.

Gb. 24. Masjid Ampel nampak dari Selatan



1 menggelandang

2 Pengembangan minat baca di perpustakaan bisa dilihat dalam Wiji Suwarno, Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan; Sebuah Pendekatan Praktis (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007) hal. 31-37.

3 Hal ini seperti gambaran dari tokoh Mahar dalam Novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hinata. Tokoh Mahar ini awalnya sangat fanatik pada hal-hal yang berhubungan dengan mistik, tapi pada akhirnya dia sadar. Novel ini sangat bagus, rugi jika tidak membacanya.

4 Diskusi dengan Hasto Hendarto.

5 Melihat Lukluk aku jadi punya pesan moral nomer dua, jika mempunyai gagasan atau ide secepatnya diutarakan.

6 Pelajaran moral ketiga, sebelum bekerja sarapanlah terlebih dahulu bagi yang punya masalah dengan perut

7 Lihat dalam Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilid 3, (Yogyakarta: Kanisius, 1988).

8 Diambil dari Badan Pengelolaan Teknologi Komunikasi dan Informasi Online, diupdate pada 17 Mei 2008.

9 Pelajaran moral keempat, jika berbicara dengan orang jalanan, gunakan kata-kata yang memuji mereka agar orang-orang jalanan itu senang dan mau membantu kita.

10 Tentang Kejawen ini bisa dilihat dalam Niels Mulder, Mistisisme Jawa Ideologi Di Indonesia, (Yogyakarta: Lkis, 2007).

11 Koentjaraningrat, Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: Gramedia, 1993)

12 Lihat Ferdinand Zaviera, Teori Kepribadian Sigmund Freud, (Yogyakarta: Prismasophie, 2007).

13 Pelajaran moral kelima, kita akan santai berhadapan denga orang jalanan jika mengetahui sisi kepribadiannya yang baik.

3 hari mencari jalan

KATA PENGANTAR


Dalam perkuliahan di Jurusan Sejarah, mahasiswa diberi kajian kuliah lapangan untuk menambah pengalaman dan pengetahuan. Karena itulah Jurusan Sejarah membuat kebijakan untuk diadakannya Kuliah Kerja Lapangan pada mata kuliah tertentu. Mata kuliah yang dimaksud adalah mata kuliah yang mempunyai beban jam studi lebih satu dari jumlah beban SKS tiap mata kuliah. Contohnya seperti mata kuliah Sejarah Indonesia Lama yang mempunyai 3 SKS/4 JS, maksudnya adalah bahwa mata kuliah Sejarah Indonesia Lama mempunyai beban 3 SKS dan mempunyai jam studi 4 jam. Sebenarnya dalam perkuliahan Sejarah Indonesia Lama ini hanya 3 jam sedangkan 1 jamnya untuk kuliah di Lapangan1.

Dalam kurikulum Jurusan Sejarah juga ada mata kuliah KKL (Kuliah Kerja Lapangan) Terintegrasi. Maksudnya adalah mata kuliah yang wajib diikuti oleh mahasiswa Jurusan Sejarah yang tujuannya mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dari perkuliahan. Dalam KKL Terintegrasi ini mahasiswa melakukan tour ataupun kunjungan ke berbagai daerah atau instasi. Disana mahasiswa akan belajar mengaplikasikan ilmunya atau sekurangnya memperoleh informasi dan sumber untuk persiapan penulisan skripsi.

Untuk mahasiswa Jurusan Sejarah, Program Studi Ilmu Sejarah mengadakan Kuliah Kerja Lapangan Terintegrasi ke Surabaya pada 6-8 Mei 2008 kemarin. Sedangkan rekan-rekan mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Sejarah mengadakan KKL ke Bali. Pada laporan perjalanan ini yang penulis deskripsikan adalah catatan perjalanan dari Surabaya karena penulis adalah mahasiswa dari Prodi Ilmu Sejarah.

KKL Terintegrasi (selanjutnya menggunakan istilah KKL) ke Surabaya ini merupakan yang terbaik, yang paling menegangkan, dan yang paling menarik dari KKL (kecil) yang pernah dilakukan. Terjadi beberapa peristiwa enmalig atau bahkan “berbau” funny dalam perjalanan ini. Semua itu penulis catat dalam sebuah buku saku yang selalu penulis bawa selama perjalanan ke Surabaya.

Pak Joko Sayono selama kuliah pernah berkata “Setangkai Pena, Selembar Kertas, dan Seuntai Kata-kata”, kalimat ini yang menjadi inspirasi penulis untuk membuat laporan perjalanan ini. Karena itulah penulis mencoba menceritakan ada apa saja dalam perjalanan kita (para mahasiswa Prodi Ilmu Sejarah) dalam format berupa catatan perjalanan. Mungkin ada sedikit/banyak kata atau kalimat yang mengandung sastra untuk memberi variasi penulisan laporan. Tentu saja penulis tahu bahwa sejarah bukan sastra, karena itu untuk menampilkan sisi obyektif dari tulisan ini penulis menampilkan beberapa foto yang diambil dari berbagai tempat yang kami kunjungi. Penulis membagi tulisan ini menjadi tiga bab berdasarkan hitungan hari perjalanan di Surabaya. Dan penulis menggunakan kata “aku” sebagai sudut pandang orang pertama

Penulisan catatan perjalanan ini mungkin banyak kesalahan dan kekeliruan dalam menyusun kata, dan juga bias dibilang sangat subyektif. Maka dari itu penulis perlu mendapat kritikan dan saran dari pambaca, rekan-rekan mahasiswa, dan dosen pembimbing KKL Terintegrasi. Semoga karya ini bermanfaat dan dapat memberikan informasi bagi kita semua.



Malang, 15 Mei 2008


Penulis

Day 1st


Pagi hari yang dingin, sebelum subuh aku melakukan kegiatan yang jarang dilakukan, yaitu mandi. Hawa sangat dingin, tapi harus dilaksanakan karena jika tidak pasti akan mengalami ngantuk berat dan mengurangi tampilan (fisik). Hawa dingin seperti es kutub yang sengaja dipindah di bak mandi terpaksa aku tahan demi mendapatkan penampilan dan bau harum yang oke. Selesai mandi, kemudian melakukan sholat Subuh, selanjutnya berangkat ke Kampus Universitas Negeri Malang, kampus yang menjadi tempat perjuangan nasibku.

Pada H-1 kita sepakat untuk berkumpul di depan LPM pada Selasa 6 Mei 2008 jam 5 pagi. Tapi aku tidak ikut berkumpul dulu karena harus mengambil konsumsi bersama dengan “Ibu Negara” julukan Luluk teman seofferingku. Sepeda motorku juga aku titipkan di rumah kos yang seperti istana negaranya “Ibu Negara”. Muter-muter sebentar dengan Luluk untuk mengambil konsumsi setelah itu aku dan Luluk ikut berkumpul di LPM.

Sebenarnya kisah perjalanan “menegangkan” kami berawal di pagi hari di depan LPM. Kita sudah berkumpul, bahkan Pak Mashuri sudah datang awal sekali sebelum kami, mungkin pagi-pagi buta setelah adzan Subuh beliau datang. Kami seperti pengungsi dari Gunung Kelud yang menghindari letusan lava. Tas besar-besar, konsumsi makan, vandel terkumpul seperti Kyokenmondinger2 di depan LPM. Kegiatan pertama kami adalah menunggu dengan gelisah mobil yang akan membawa kami ke Surabaya.

Sungguh diluar rencana yang pernah diutarakan pada H-1, sampai pukul 06.40 mobilnya belum datang. Kami sudah mati kutu menunggu wahana ini. Akhirnya kami sepakat untuk sarapan yang tadi aku dan Luluk ambil. Pada waktu makan aku malihat Hunter yang memang ketua panitia KKL ini sedang gelisah. Tak tawari makan pun dia tidak mau. Bolak-balik dia mengayunkan benda bertombol angka ke telinga. Aku baru melihat Hunter mengalami bingung yang luar biasa. Sebelumnya aku tidak pernah melihatnya sebingung itu. Hunter memang sesungguhnya adalah pria yang santai. aku bertanya kepadanya, siapa yang dia telepon? Dia menelepon Shinta, sekretarisnya yang pada waktu itu mau mengurusi transportasi. Bolak-balok nelpon tidak diangkat. Semakin bingunglah si Hunter, seperti orang yang berburu tapi tidak menemui hewan buruan.

Akhirnya tepat jam 7.00 mobilnya datang. Kedatangan tipe Elf ber warna biru tua yang biasa melintas di Arjosari (Malang)-Bungurasih (Surabaya) ini seperti anugrah yang menghidupi semangat teman-teman yang tadi bosan menunggu. Katanya Shinta, mobil ini lama datang karena masih mengurus surat izin melintas ke kota Surabaya. Ini sudah aku duga, karena di semester 3 aku pernah menjadi ketua panitia KKL Kecil ke Kediri. Dan kami pada waktu itu juga menyewa mobil trayek seperti ini. Sama juga ketika itu datangnya terlambat dengan alasan mengurus surat izin ke Dinas Perhubungan Malang. Akhirnya setelah berdoa bersama, kita berangkat melakukan perjalanan ke Surabaya.

***

Awalnya perjalanan lancar-lancar saja ketika masih di wilayah Malang (utara). Kernet sopir juga masih bisa teriak, “Prei Kiriii!!!3. Tapi ketika kita sampai di Bangil, mulai terjadi kemacetan. Hal ini memang sudah menjadi tradisi di daerah Bangil sampai Porong, Sidoarjo, tapi sejak melubernya semburan gas dan Lumpur dari “kesalahan” Lapindo dalam mengebor tanah, menyebabkan dampak sosial dan ekonomi yang memprihatinkan. Salah satu korbannya adalah kami, Rombongan KKL Terintegrasi. Mobil kami terjebak dalam kemacetan yang luar biasa. Kondisi panas,keadaan kami di dalam mobil seperti terjebak dalam oven untuk menanak sosis, gerah sekali, mau bergerak tidak bisa karena sudah penuh dengan Homo sapiens. Bahkan Pak Joko yang duduk di depan merasakan sangat panas4. Apalagi sopirnya mengajak satu orang lagi. Mobil hanya bisa berjalan perlahan-lahan. Pemandangan di luar hanya ada mobil, sepeda motor, truck, bus, yang berbaris seperti bebek. Yang ada hanya macet, macet, dan macet.

Sudah hampir 1,5 jam kita terjebak dalam kemacetan. Situasi kembali plong ketika kita sudah sampai di kota Delta Sungai, Sidoarjo. Hawa gerah dan panas mulai hilang, ingin rasanya seperti sponsor sprite yang setelah minum sprite bisa mencebur dalam tanah yang berubah menjadi air, SENSASI PLONG. Jalan lumayan padat, karena memang jam kerja. Tapi lancar.

Situasi kembali panas ketika sampai pada kota Surabaya (selatan). Kota yang pada 10 November 1945 menjadi ajang pertempuran seru antara pejuang, laskar, dan Tentara Indonesia dengan tentara Inggris dan NICA ini sangat padat. Aku malah teringat pada peristiwa itu. Bagaimana keadaan Surabaya pada waktu itu sangat panas karena mesiu dan mortir, digempur dari darat, laut, dan Udara. Sungguh luar biasa perjuangan Arek-Arek Surabaya pada waktu itu5. Tapi sayang perjuangan itu terlihat paradoks dengan situasi dan kondisi Surabaya yang sekarang.

Melintas di Jl. A. Yani keadaan masih macet. Kernet yang tadi diajak sopirnya berteriak-teriak “Awas Sikilee!!!6. Sungguh padat lalu lintas di sana. Sebutan kota metropolis ke-2 setelah Jakarta agaknya memang pantas untuk Surabaya. Kepadatannya, panasnya, rumah-rumah dan gedung-gedung yang saling berebut tanah. Itulah Surabaya, kota pesisir yang pada abad 17 pernah di serang yang kemudian pernah di kuasai oleh Sultan Agung dengan strategi membendung Sungai Mas dan memberi kotoran agar Pasukan Adipati Surabaya kekuatannya melemah7.

Perjalanan yang sangat lama, karena macet sehingga kita sampai pada tujuan pertama, yaitu di Badan Arsip Propinsi Jawa Timur di Jl. Jagir No 350, Wonokromo jam 10.15. Kita disambut dengan sederhana oleh Bapak Syawal yang sudah kukenal Karena aku dan Hunter pernah survey ke Badan Arsip Jawa Timur, kemudian setelah laporan kita berkumpul di ruang baca. Acara diskusi dibuka oleh Pak Rahmat Hidayat.

Badan Arsip Jawa Timur ini menyimpan beraneka macam arsip, tentu saja yang berjenis arsip statis8. Arsip-arsip tersebut tersimpan di depo arsip yang gedungnya terletak di samping kantor badan arsip. Dalam depo ini tersimpan arsip-arsip baik dari jaman Pemerintahan Hindia Belanda sampai Revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia. Jadi jika dirunut dalam tahun menurut Bu. Ismi adalah paling tertua tahun 1869 sampai 1949. Masih arsip-arsip yang tersimpan dalam depo, di sini terdapat rak-rak tempat peletakan arsip. Arsip dalam rak-rak tersebut berisi arsip dari berbagai daerah di Jawa Timur seperti, Nganjuk, Blitar, Sidoarjo, dsb. Jadi jika kelak aku nanti akan menulis skripsi tentang Kertosono (Nganjuk) arisp pertama yang aku lihat adalah arsip Residentie Kediri, kemudian arsip daerah Nganjuk. Di dalam depo arsip juga terdapat kotak-kotak besar seperti koper yang berukuran super-super jumbo, mungkin ukurannya 3mx3m (seperti kamar kosku). Isi dari kotak ini adalah arsip-arsip yang umurnya tertua diantara arsip yang lain (dari jaman Pemerintahan Hindia Belanda).

Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam gedung depo arsip. Kita bisa masuk Karena “rayuan” dari dosen pembimbing kita, apalagi Pak Mashuri, wah beliau ini yang paling “lihai” jika merayu. Ditambah lagi rombongan kami membawa nama instansi yaitu UM (Universitas Negeri Malang). Jika hanya pengunjung biasa hanya diperbolehkan melihat katalog yang disediakan dikantor (ruang baca/perpustakaan), jika ingin meminta arsip, akan diambilkan oleh petugas dari dari depo arsip. Jadi kami termasuk orang yang beruntung bisa masuk ke dalam secrhet room di Balai Arsip Propinsi Jawa Timur.

Kembali di ruang baca/perpustakaan. Di sana disediakan beberapa buku baik tentang sejarah maupun pengetahuan umum dan katalog. Juga terdapat layanan internet. Aku sempat memetakan informasi dari ruang ini walaupun Cuma sedikit. Untuk katalog terdapat:

  1. Staatblad Van Nederlansch Indie over het jaar 1869.

  2. Staatblad Van Nederlansch Indie over het jaar 1879.

  3. Provinciaal Blad.

  4. Verslag 1 Nederlansch Indie.

  5. Verslag 2 Nederlansch Indie.

  6. Lanbouw

  7. Begrooting Van Nederlansch Indie.

  8. Inventaris Arsip Kartografi.

  9. Palang Merah Indonesia terbitan tahun 2006.

Selain katalog di atas juga terdapat Verslag van Overgave (laporan serah terima jabatan) yang dibukukan. Juga ada arsip yang berupa microfilm, rekaman kaset dan rekaman visual. Hal ini merupakan usaha pengalihmediaan arsip supaya bisa tahan lama dan praktis.

Sayang sekali kami hanya sampai jam 12.00 jadi tidak puas hanya dengan berkunjung. Tapi setidaknya kami sudah tahu prosedur untuk mencari arsip jika salah satu atau salah dua dari kami berkunjung ke Badan Arsip Jawa Timur lagi dengan tujuan mencari sumber sejarah yang berupa arsip.

Setelah memberikan vandel, foto-foto, dan berpamitan kami melanjutkan perjalanan lagi menuju instansi berikutnya yaitu Universitas Airlangga (UNAIR).

***

Sebelum berangkat aku tadi sempat cemas. Ketika kami diskusi di ruang baca Badan Arsip Jawa Timur terdengar suara mobil kami meraung-raung seperti singa yang kakinya tertusuk ranting pohon. Ternyata mobil kami mempunyai masalah dengan kawat gasnya yang hamper putus. Tapi untunglah bisa diperbaiki, jadi kami bisa melanjutkan perjalanan.

Panas sekali cuaca di Surabaya, bisa membuat orang emosi jika terkena masalah. Itulah yang terjadi pada rombongan kami. Ternyata sopir kami tidak tahu jalan di Surabaya, kalau sampai Wonokromo tentu saja sudah tahu, tapi di kota mereka (sopir dan kedua kernetnya) tidak tahu jalan. Padahal ketika Ubed dan Shinta membuat kontrak, sopirnya bilang bahwa Surabaya adalah trayenya, tapi apa buktinya, He lied9. Suasana tegang kembali menyelimuti. Dengan emosi sopir dan kernet bertanya pada tukang becak, Satpam, dan beberapa orang. Jadinya kami muter-muter jalan di Surabaya. Seperti yang aku alami dengan Hunter ketika survey, kita sempat muter-muter tidak tahu jalan. Bahkan Tanya Polisi, Polisinya malah tidak tahu.. Ubed dan Khoiruddin yang naik vespa di depan mobil kami juga muter-muter, vespanya malah seperti bajaj bagiku. Sopirnya malah bicara yang kurang jelas, maklum dia tidak bisa bilang “r”, jadi pada waktu ngomong ke kernetnya,”Leh, llrrlluuul belok killri apa kanan!!!”, “Ayoo Tanya ollrang lagi!!!”. Waduh malah seperti orang belajar ngomong.

Satu hal yang menarik dan lucu, sopir dan kedua kernet kami ternyata sangat takut pada Polisi. Jika ada Polisi jaga di Pos, candela mobil di sebelahnya sopir langsung ditutup. Wah aku jadi agak besar kepala, apakah ayahku yang juga Polisi sebegitu ditakuti oleh sopir angkot?.

Suasana semakin panas saja seperti pertandingan Bulutangkis yang kedua pemain berkejaran angka. Aku lihat teman-teman memasang wajah tegang, apalagi dengan gaya nyetirnya sopir kami yang kasar, kontan kami seringkali berguncang ketika mobil mengerem. Kedua dosen pembimbing kami Cuma geleng-geleng kepala. Sempat aku bertanya pada Hunter, apa yang dia pikirkan sekarang, jawabnya simple, “Gua pengen di Malang sekarang.”.

Mobil masih melaju muter-muter. Tapi dengan doa dan usaha yang keras tentunya akhirnya kami sampai di Universitas Airlangga Jl.Airlangga No.4-6, Surabaya. Aku langsung menghela nafas dan berucap syukur, tapi cobaan masih berlanjut.

Jam tangan di lenganku menunjuk pukul 12.43. Kami berkumpul di ruang rapat Jurusan Sejarah Unair. Kami di sana di sambut dengan mengenyangkan. Di ruangan itu berkumpul beberapa dosen dan beberapa mahasiswa, dan juga Ketua Jurusan Sejarah, serta Dekan Fakultas Sastra yang sekarang di Unair Fakultas Sastra berubah menjadi Fakultas Ilmu Budaya. Setelah berkenalan sejenak, kami dipersilahkan makan nasi kotak yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Aku agak sedikit jengkel pada nasi kotakku, tempat nasi terbalik yang seharusnya ada dibagian bawah kotak, punyaku di bagian atas, jadi sulit untuk makan. Aku juga melihat Ubed yang makan tanpa sendok, seperti orang desa saja. selesai makan kami istirahat dan sholat Dhuhur. Kami di antar oleh Mas Latif dan dua juniornya menuju musholla. Kedua junior Mas Latif ini agak kurang enak kalau di ajak ngobrol. Eman lho padahal yang perempuan berjilbab lumayan manis dan yang laki-laki tingginya seperti aku dan kurus.

Selesai sholat Dhuhur kami kembali lagi ke ruangan Jurusan Sejarah untuk melanjutkan diskusi. Diskusi sangat menarik, kami saling bertukar pikiran tentang kurikulum. Jadi ada perbandingan antara Jurusan Sejarah UM dengan Jurusan Sejarah Unair. Ada semacam spesialisasi ilmu dalam Jurusan Sejarah Unair ini. Mereka membuat kurikulum yang berorientasi pada Sejarah Perkotaan. Dosen-dosennya pun juga mempunyai latar belakang ilmu tentang Sejarah Kota10. Mayoritas dosennya berasal dari UGM (Universitas Gajah Mada).

Spesialisasi pada Sejarah Kota bisa dilihat dari kurikulum mata kuliah di Jurusan Sejarah Unair. Mahasiswa diberi mata kuliah yang berhubungan dengan Sejarah Kota, seperti, Sejarah Perkotaan, Anthropologi Perkotaan, Sosiologi Perkotaan, Psikologi Perkotaan, Sejarah Jatim 1 dan 2, dan mata kuliah yang lain yang berhubungan dengan Sejarah Kota. Menurut Ketua Jurusan Sejarah (waduh aku lupa namanya) spesialisasi ilmu ini adalah belum pernah di lakukan Universitas yang lain, seperti misalnya UI (Universitasn Indonesia) spesialisasinya pada Sejarah Politik, UGM spesialisasinya pada Sejarah Desa, Undip (Universitas Diponegoro) spesialisasinya pada Sejarah Maritim, dsb.

Bagaimana dengan universitas kami? Sempat aku berpikir bahwa Universitas Negeri Malang (UM) tidak mempunyai spesialisasi. Hal ini bisa dilihat di kurikulum mata kuliah dan latar belakang dosen pembimbing. Dosen-dosen di UM mempunyai latar belakang pengetahuan yang beragam. Pak. Haryono Kajur kami memiliki latar belakang Sejarah Politik Kotemporer, Pak Joko Sayono latar belakangnya Sejarah Sosial Keagamaan, Pak Mashuri latar belakangnya Sejarah Politik Revolusi Kemerdekaan RI. Pak Dewa Agung juga Sejarah Politik. Kurikulum mata kuliah di Jurusan Sejarah UM pun kalau menurutka juga tidak spesialisasi, hanya di bedakan antara kajian untuk Ilmu Sejarah dan Pendidikan Sejarah. Tapi itu tidak menjadi masalah bagiku, bagi rombongan kami. Pada saat pembuatan skripsi akan nampak dimana teman-teman akan sadar posisi kalau kata Pak Dr. Haryono.

Walaupun begitu sebenarnya Jurusan Sejarah UM mempunyai spesialisasi di bidang Sejarah Kebudayaan. Jika kami ngomong tentang candi, situs, arca, prasejarah, kita tidak kalah dan sangat menguasai. Buktinya adalah ketika aku diminta tolong oleh teman-teman dari Surabaya yaitu dari Unair dan Unesa (Universitas Negeri Surabaya) untuk menjelaskan tentang histories dari Candi Badut kemarin Sabtu 17 Mei 2008. Terlihat ketika mereka melihat Candi Badut mereka belum paham betul tentang teori bangunan candi. Karena itulah untuk memperkuat keilmuan kami dalam bidang Sejarah Kebudayaan, dalam kurikulum mata kuliah kami dibekali mata kuliah Geohistori.

Satu lagi yang bagiku menarik perhatian, yaitu tentang keterlibatan mahasiswa dalam penelitian atau proyek dari para dosen. Walaupun ada mahasiswa yang masih belum mempunyai pengalaman dalam meneliti, mereka ikut dilibatkan dalam proyek. Dari sini mereka bisa tahu dan mengerti tata cara meneliti secara langsung. Semoga di UM juga begitu, karena selama aku kuliah di UM belum pernah aku melihat dosen mengajak mahasiswa aktif dalam membantu proyek atau penelitiannya. Mungkin yang diajak mahasiswa tertentu saja, yang alasannya aktivis lah, IP di atas rata-rata lah dan apa lah. Maka dari itu mari kita saling bahu membahu dalam mewujudkan Ilmu pengetahuan di bidang Sejarah yang The Best.

Di Unair juga ada koleksi benda-benda purbakala di museum mininya. Tapi benda-bedan tersebut hanya kisaran dari jaman Hindia Belanda. Kalau arca-arca dan batu-batu mereka tidak punya.

***

Akhirnya setelah menyerahkan vandel dan mengucapkan salam perpisahan, rombongan kami melanjutkan perjalanan. Tujuan kami berikutnya adalah pulang ke penginapan. Masih saja muter-muter. Kami mencari penginapan kedua dosen kami yaitu Green House di Ketintang. Malah kami kesasar di Telkom, ngapain kami ke Telkom, perasaan kami semua tidak membawa telepon rumah?? Tapi akhirnya kami sampai di Green House sebelum Maghrib. Hotelnya lumayan bagus dan bersih itulah penginapan dari kedua dosen kami.

Berhenti sejenak untuk melepas ketegangan. Aku lihat Hunter berdiskusi dengan sopir dan kedua kernetnya. Aku pun juga mendekat. Sopir mengusulkan pada kami untuk tujuan selanjutnya adalah yang paling jauh dulu baru yang terdekat terus pulang ke Malang. Aku sudah muak dengan orang-orang jalanan ini, mereka sak penake dewe11 mengatur kami, padahal seharusnya kami yang mengatur mereka. Tapi Hunter, Ketua Pelaksana kami melakukan pendekatan-pendekatan seperti melakukan penelitian kualitatif.

Perjalanan dilanjutkan kembali, kami dibantu oleh saudara sepupu Mimin (panggilan Umi Fitria) untuk menunjukkan jalan ke penginapan kami. Mobil terus berjalan, wah jauh sekali penginapan kami dengan penginapan dosen!! Ternyata penginapan kami masuk ke perkampungan penduduk, masuk gang. Alamatnya kalau tidak salah di Jl. Pagesangan nomernya aku lupa.

Ketika mobil berhenti aku menoleh ke arah kanan, inikah penginapan kami? Bayanganku tidak seperti itu, penginapan ini ternyata rumah kos tapi tak ada bedanya dengan rumah biasa. Kamar bagi laki-laki pun sangat istimewa. Di sana tidak ada kasur Cuma karpet dan kasur gulung yang sudah cemet. Aku sangat berterima kasih pada teman-teman yang sudah mencarikan penginapan istimewa ini. Setidaknya mereka berupaya untuk mencari penginapan yang murah. Aku sempat jengkel juga. Aku dan Hunter sudah mengelilingi Malang untuk mencari Travel yang sekiranya murah, tapi ternyata ada teman kami (aku tidak menyebut merek) yang bersikukuh menyewa kendaraan angkutan umum yang lebih murah dan penginapan yang juga lebih murah. Ya tidak apa-apalah mereka juga telah berjuang mencari dan teman-teman yang lain pun banyak yang setuju dan menurut saja.

Jam 18.30 kami tiba di penginapan. Kegiatan pertama yang akan aku laksanakan adalah mandi. Tapi waduh, ternyata yang mandi antri banget. Akhirnya aku mengalah, baru jam 8.00 aku mandi. Airnya tidak sedingin di Malang, terkesan hangat. Mungkin karena tercemar lingkungan yang sudah terkena polusi.

Lelah sekali aku, setelah makan dari jatah konsumsi ingin rasanya tidur di kasur kamar kosku. Sebelum tidur aku membantu Hunter merekap judul buku dan majalah yang tadi diberi oleh Badan Arsip Propinsi dan Unair sebagai kenang-kenangan. Lumayan banyak buku yang kita dapat, nanti belum yang instansi selanjutnya.

Selesai merekap buku aku mau tidur. Sempat terganggu aku oleh ulah para orang jalanan yang ramai sendiri. Tapi aku cuek saja, aku tidur. Ternyata gangguannya belum berakhir. Musuh selanjutnya yang datang adalah para serangga penghisap darah, nyamuk. Mereka seperti pesawat F18 yang terbang kesana kemari, meraung-meraung di atas daun telinga dan siap mengebom apa saja yang berbentuk kulit. Nyamuk-nyamuk itu siap menusukkan mulut pedangnya tanpa pandang bulu. Tidak heran keesokan harinya muka para laki-laki menjadi berbintik, karena semalam berperang dengan nyamuk seperti peristiwa pengeboman Pearl Harbour oleh pasukan Jepang.

***

Lampiran Ekspresi Foto

(All Photo By: Agung collection)

Diambil pada 6 Mei 2008.


  • Badan Arsip Propinsi Jawa Timur.

Gb 1. Pak Rahmad membuka acara diskusi.

Gb. 2. Bu. Ismi Memberikan Informasi.

Gb. 2. Pak Mashuri dengan senyum dan rayuan khasnya.

Gb 3. Pak Joko Sayono dengan asistennya.

Gb. 3. Rak penyimpanan Arsip.

Gb. 4. Kotak besar tempat penyimpanan Arsip tertua (Foto, Agung Collection).


Gb. 5. Mas jangan ngantuk, habis bergadang ya…

Gb 6. Penyerahan Vandel oleh Pak Mashuri kepada Pak Syawal.











Gb.7. Pak Joko, teman-teman dan wahana yang membawa kami.













  • Universitas Airlangga


1 Tentunya bukan 1 jam saja, tapi selama satu haru penuh mengadakan kuliah kerja lapangan. 1 jam tersebut hanya simbolis dari satu hari.

2 Mengenai Kyokenmondinger bisa dibaca dalam R.P. Suyono, Sejarah Nasional Indonesia Jilid I, masa Prasejarah Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1984).

3 Kata ini biasa diucapakan kernet mobil angkutan umum. Kata ini diucapkan ketika mobil akan menyalip dan keadaan jalan samping mobil yang kosong atau tidak ada kendaraan lain.

4 Pembimbing KKL Terintegrasi kami ke Surabaya adalah Bapak Drs. Mahuri, M.Hum dan Bapak Drs. Joko Sayono, M.Pd, M.Hum.

5 Untuk bisa mendapatkan penjelasan yang jelas mengenai situasi dan kondisi Surabaya bisa dilihat dalam Frederick H, William.,Pandangan Dan Gejolak Masyarakat Kota Dan Lahirnya Revolusi Indonesia (Surabaya 1926-1946), (Jakarta: Gramedia, 1989).

6 Awas kakinya, perlu diketahui bahwa nama sopir kami adalah Taufik, kedua keretnya bernama Soleh (tua) dan Irul (muda dan gak plontos).

7 Keterangan mengenai serangan ke Surabaya ini bisa dilihat dalam Serat Trunojoyo, dan Babad Sultan Agung, juga bisa dilihat dalam Tjandrasasmita, Sejarah Nasional Indonesia Jilid III, Masa Islam, (Jakarta: Balai Pustaka, 1993).

8 Berdasarkan jenisnya arsip dibedakan menjadi arsip statis dan arsip dinamis. Untuk lebih jelasnya lihat Wursanto, Kearsipan I, (Yogyakarta: Kanisius, 1995), hal. 29.

9 Pelajaran Moral Pertama: jangan percaya pada omongan sopir angkot.

10 Hal ini biasanya bisa dilihat dari karya tulis (Tesis maupun Desertasi) dari dosen.

11 Semaunya sendiri

Senin, 21 April 2008

ARSIP PERKULIAHAN MAHASISWA

CATATAN AKHIR KULIAH: PENGELOLAAN ARSIP PERKULIAHAN MAHASISWA


Oleh :

Agung Ari Widodo (305262479251)2


Hidup manusia menunjukkan segala kekuatan pada makhluk manusia yang dipakai sebagai bekal hidup yang perlu dipelihara dan dimajukan hingga dapat mengantarkan manusia mencapai keselamatan lahir dan batin baik pada dirinya dan masyarakat.

(Ki Hajar Dewantara)


Abstrak

Setiap kegiatan manusia selalu meninggalkan jejak (trace). Jejak itu bisa berupa benda baik berupa tulisan maupun non tulisan. Nah, sebagai mahasiswa sudah tentu dalam setiap perkuliahan selalu melakukan kegiatan mencatat (bagi yang suka mencatat). Selain itu, pasti ada tugas dari dosen. File-file tersebut tentunya masih akan digunakan lagi dikemudian hari (bila diperlukan). Untuk itu diperlukan cara atau bisa dibilang teknik untuk bisa menyimpannya dengan aman, rapi, dan mudah untuk dicari. Teknik binder dan teknik folder bisa digunakan unutk menyimpan arsip mahasiswa. Jadi kita bisa dengan mudah mencari dan mengakses data-data kita dimana dan kapan saja.

Key word: mahasiswa, kuliah, teknik binder dan teknik folder.


Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, bagaimana dengan manusia? Tentu saja dengan akal, kita meninggalkan karya atau dalam Antropologi disebut artifak. Nah artifak-artifak inilah yang akan menjadi jejak, bukti, dan peninggalan yang berharga bagi manusia dan juga bagi ilmu pengetahuan. Untuk menghindari agar benda-benda berharga tersebut tidak rusak maupun hilang maka perlu adanya pengelolaan, penyimpanan,dan perawatan.

Salah satu dari peninggalan manusia adalah tulisan. Sejak ditemukannya kertas yang dulunya terbuat dari rumput papyrus, merupakan penemuan penting bagi manusia, karena serat selulosenya menjadi landasan kimiawi bagi pembuatan kertas zaman modern3. Dari penemuan bahan-bahan pembuatan kertas seperti pahatan bata, tanah liat, gulungan papyrus, parchmen, vellum, dan bahan tulis lainnya merupakan awal dari sejarah arsip4. Dengan demikian maka untuk menyimpan arsip-arsip ini lahirlah perpustakaan. Pada awalnya perpustakaan terdapat di Assyiria, Babylonia, Mesir, Yunani, dan Roma5.

Arsip tidak hanya tercipta di suatu instansi ataupun organiasasi, tapi dimana pun akan tercipta benda “imut” yang namanya arsip. Kenapa begitu? Setiap kita melakukan aktivitas yang berhubungan dengan transaksi, pasti ada buktinya, contohnya, ketika kita belanja di Mall atau swalayan, pasti ketika sudah membayar diberi bon (bukti pembayaran); atau juga ketika membeli pulsa di sebuah counter, pasti juga diberi bon6. Nah bon inilah salah satu bentuk arsip karena sebagai tanda bukti pembayaran. Jika ada sesuatu seperti barangnya jelek, atau kurang, kita bisa komplain dengan menggunakan bon tersebut sebagai tanda bukti.

Begitu juga mahasiswa dalam melakukan perkuliahan, tidak luput dari pembuatan arsip. Lalu apa arsip mahasiswa itu?? Tentu saja arsip yang dimaksud disini adalah catatan perkuliahan dan tugas-tugas yang diberikan dosen. Tugas ini bisa berupa makalah, artikel, paper, atau jenis yang lain yang berupa ketikan komputer. Kadangkala semua arsip tersebut dilupakan oleh mahasiswa (emang mahasiswa zaman sekarang agak malas ya, semoga penulis tidak). Padahal, catatan perkuliahan dan tugas-tugas tersebut suatu saat diperlukan, entah sebagai sumber data, informasi, media pengingat, atau hanya sebagai inspirasi untuk menulis sebuah skripsi. Nah, karena itulah diperlukan suatu cara untuk merawat, menyimpan, dan mengelola arsip perkuliahan itu dengan suatu cara yang praktis.

Ada banyak cara untuk menyelamatkan data-data perkuliahan. Bisa dengan mengumpulkan catatatan-catatan kuliah tersebut dalam sebuah binder, untuk yang berupa file komputer bisa dengan dicopy di CD, atau bisa juga disimpan di e-mail. Karena itulah dalam tulisan ini penulis akan mencoba mengulas tentang bagaimana mengelola arsip mahasiswa terutama yang berupa file-file atau ketikan komputer.

Penulis merupakan manusia biasa juga, jadi kemungkinan besar tulisan ini banyak kekurangannya. Maka dari itu mohon bimbingan dari Bapak Marsudi, dan juga teman-teman di Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang untuk memberi kritik, saran, dan makanan juga boleh (akan senang sekali).


Perkuliahan: Aktivitas Mahasiswa di Kampus


By the way, ngomong-ngomong bicara tentang mahasiswa tidak terlepas dengan istilah kuliah. Bahkan ketika penulis bersantai di kamar kos ada seorang teman bertanya, “kamu gak kuliah?”. Sebenarnya apa itu kuliah, apa itu mahasiswa? Kalau bagi kita yang sudah menempuh semester VI, pastilah sudah paham apa mahasiswa dan kuliah, tapi angkatan baru tahun ini pasti ada yang mengalami kebingungan karena peralihan situasi dan kondisi.

Menurut Anees, menjadi mahasiswa berarti menempati posisi tertentu yang berbeda dari yang sebelumnya. Ada banyak julukan bagi mahasiswa, seperti “bukan pelajar lagi, agent of social change (agen perubahan sosial), “tukang demonstrasi. Sejumlah julukan itu menuntut tindakan tertentu7. Jadi mahasiswa merupakan tingkatan selanjutnya setelah siswa. Atau bisa dikatakan peralihan dari siswa menjadi siswa yang maha menjadi mahasiswa.

Ketika manjadi mahasiswa inilah kita akan mendapatkan wacana yang luas. Tentu saja wacana itu diperoleh dari perkuliahan. Apa itu kuliah? Kuliah adalah proses pencarian makna intelektual. Kuliah sebagai forum untuk mengkonfirmasi pemahaman mahasiswa terhadap ilmu pengetahuan8. Kuliah tidak sama dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Dalam perkuliahan antara mahasiswa dan dosen adalah teman diskusi9 (ya walaupun kita harus menghormati dosen sebagai pembimbing kuliah). Jadi melalui perkuliahan, mahasiswa bisa mengaplikasikan ilmunya baik dikampus maupun di masyarakat.

Aktivitas mahasiswa di kampus sebagian besar adalah melakukan perkuliahan karena niat awal dari desa (tempat asal) adalah kuliah. Tapi kadangkala mahasiswa yang kreatif dan tidak mau diam, tidak hanya melakukan PKK (Perpustakaan, Kos, Kuliah), mereka biasanya ikut organisasi intra kampus. Ada juga mahasiswa yang bekerja paruh waktu untuk menambah penghasilan (bekerja yang positif).

Dalam perkuliahan pastilah ada suatu kegiatan ceramah dari dosen, diskusi, atau pemberian tugas dari dosen. Dalam hal ini mahasiswa pasti membuat catatan atau rangkuman kuliah dari dosen. Dosen juga seringkali memberikan tugas-tugas terstruktur kepada mahasiswa10. Nah inilah yang disebut arsip mahasiswa. Arsip ini seringkali dibutuhkan oleh mahasiswa untuk mengingat kembali jika ada kuliah yang berkaitan dengan kuliah sebelumnya. Tapi kadangkala juga mahasiswa kurang memperhatikan arsip ini karena tidak menyimpan secara praktis dan rapi. Sehingga sering ada kejadian kehilangan file atau data-data tugas yang pernah dikerjakan. Lebih berbahaya lagi ketika sedang menempuh skripsi, apalagi belum di print (dicetak) komputernya kena virus. Bisa-bisa mahasiswa yang menempuh skripsi tersebut pusing tujuh keliling atau bahkan stress berat. Karena itulah diperlukan cara untuk mengolah, menyimpan, dan merawat arsip supaya mudah untuk mencari.


Apa itu Arsip?


Di atas sudah disebutkan bahwa arsip adalah bukti dan hasil kegiatan manusia. Ini adalah pengertian awam tentang arsip. Lalu apa itu arsip? Banyak sekali pengertian arsip, dari asal katanya saja ada tiga bahasa yaitu:

  1. Kata arsip berasal dari bahasa Yunani archetioan yang berarti kantor11.

  2. Kata arsip berasal dari bahasa Belanda archief. Menurut Atmosudirdjo12 archief dalam bahasa Belanda mempunyai beberapa pengertian yaitu:

  • Tempat penyimpanan secara teratur bahan-bahan arsip: bahan-bahan tertulis, piagam-piagam, surat-surat, keputusan-keputusan, akte-akte, daftar-daftar, dokumen-dokumen, peta-peta.

  • Kumpulan teratur, daripada bahan-bahan kerasipan tersebut.

  • Bahan-bahan yang harus diarsip itu sendiri.

  1. Dalam bahasa Inggris, arsip dinyatakan dengan istilah file yang berasal dari bahasa Latin filum yang berarti tali atau benang13.

Di atas tadi adalah pengertian arsip dari segi bahasa. Sedangkan pengertian arsip berdasarkan Undang-undang Nomor 7 Tahun 199114 adalah sebagai berikut:

    1. Naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh Lembaga-lembaga Negara dan Badan-badan Pemerintah dalam bentuk corak apa pun, baik dalam keadaan tunggal maupun berkelompok, dalam rangka pelaksanaan kegiatan pemerintah.

    2. Naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh Badan-badan Swasta dan/ atau perorangan, dalam bentuk corak apa pun, baik dalam keadaan tunggal maupun berkelompok, dalam rangka pelaksanaan kehidupan kebangsaan.

Kemudian Undang-undang Nomor 7 Tahun 1991 memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud dengan naskah-naskah dalam bentuk corak bagaimanapun juga dari suatu arsip, adalah meliputi baik yang tertulis, maupun yang dapat dilihat dan didengar seperti hasil-hasil rekaman, film, dan lain sebagaianya. Sedangkan yang dimaksud dengan berkelompok ialah naskah-naskah yang berisikan hal-hal yang berhubungan satu dengan yang lain yang dihimpun dalam satu berkas tersendiri melalui masalah yang sama.

Pengertian arsip menurut Undang-undang Nomor 7 Tahun 1991 ini berkisar pada pembuatan arsip dari Pemerintah maupun badan swasta. Bahkan tujuan dari arsip tersebut untuk menunjang pelaksanaan jalannya pemerintah dan kehidupan kebangsaan. Lalu bagaimana arsip bisa berhubungan dengan perkuliahan mahasiswa?

Dalam pengertian arsip yang lain, menurut Seminar Dokumentasi/Arsip Kementrian-kementrian15 adalah sebagai berikut:

  1. Arsip adalah kumpulan surat-menyurat yang terjadi karena pekerjaan, aksi, transaksi tindak-tanduk dokumenter (dokumentaire handeling), yang disimpan sehingga pada tiap kali dibutuhkan dapat dipersiapkan, untuk melaksanakan tindakan-tindakan selanjutnya.

  2. Arsip adalah suatu badan, dimana diadakan pencatatan, penyimpanan serta pengolahan-pengolahan tentang segala surat, baik dalam pemerintahan maupun dalam soal umum, baik ke dalam maupun keluar dengan satu sistem tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan16.

Menurut T.R. Schellenberg arsip dapat dirumuskan sebagai warkat-warkat (surat) dari suatu badan pemerintah atau swasta yang diputuskan sebagai dokumen berharga untuk diawetkan secara tetap guna keperluan mencari keterangan dan penelitian dan disimpan atau telah dipilih untuk disimpan pada suatu badan kerasipan17.

Dari pengertian-perngertian di atas, yang lebih cocok untuk pengertian arsip mahasiswa adalah dari Seminar Dokumentasi/Arsip Kementrian-kementrian poin a dan pengertian arsip dari T.R. Schellenberg. Kenapa? Karena arsip mahasiswa masih disimpan dan dipersiapkan untuk persiapan penelitian atau tugas selanjutnya.


Jenis-jenis Arsip


Tidak hanya flora, fauna, dan makanan saja yang mempunyai berbagai jenis, arsip pun juga ada jenisnya. Bentuk arsip bisa beragam, tidak hanya berupa lembaran kertas dan tulisan yang dibuat kebanyakan orang saja. Namun kebanyakan arsip merupakan dokumen yang dihasilkan oleh seseorang, instansi, maupun perusahaan. Jenis-jenis arsip adalah sebagai berikut18:

  1. Arsip menurut Subyek atau isinya

Menurut subyek atau isinya arsip dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu;

    • Arsip kepegawaian, contoh; data riwayat hidup pegawai, surat lamaran, surat pengangkatan pegawai, rekaman presensi, dsb.

    • Arsip keuangan, contoh; laporan keuangan, bukti pembayaran, daftar gaji, bukti pembelian, surat perintah membayar.

    • Arsip pemasaran, contoh; suat penawaran, surat pesanan, surat perjanjian penjualan, daftar pelanggan, daftar harga, dsb.

    • Arsip pendidikan, contoh; kurikulum, satuan pelajaran, daftar hadir siswa, rapor, KHS, transkrip mahasiswa, dsb.

  1. Arsip Menurut Bentuk dan Wujud Fisik.

Penggolongan ini lebih didasarkan pada tampilan fisik media yang digunakan dalam rekaman informasi. Arsip jenis ini dapat dibedakan menjadi;

    • Surat, contoh; naskah perjanjian/kontrak, akte pendirian perusahaan, surat keputusan, notulen rapat, berita acara, laporan, table, dsb.

    • Pita rekaman

    • Mikrofilm

    • Disket

    • Compact Disk (CD)

  1. arsip Menurut Nilai atau Kegunaannya

penggolongan arsip lebih didasarkan pada nilai dan kegunannya. Dalam penggolongan ini ada bermacam-macam arsip, yaitu;

    • Arsip bernilai informasi, contoh; pengumuman, pemberitahuan, undangan, dsb.

    • Arsip bernilai Administrasi, contoh; ketentuan-ketentuan organisasi, surat keputusan, prosedur kerja, uraian tugas pegawai, dsb.

    • Arsip bernilai Hukum, contoh; akte pendirian perusahaan, akte kelahiran, akte perkawinan, surat perjanjian, surat kuasa, keputusan peradilan, dsb.

    • Arsip bernilai Sejarah, contoh; laporan tahunan (verslag), notulen rapat, gambar/foto peristiwa, dsb.

    • Arsip bernilai Ilmiah, contoh; hasil penelitian

    • Arsip bernilai keuangan, contoh; kuitansi, bon penjualan, laporan keuangan, dsb.

    • Arsip bernilai Pendidikan, contoh; karya ilmiah para ahli, kurikulum, satuan pelajaran, program pengajaran, dsb.

  1. Arsip menurut Sifat Kepentingannya

Penggolongan ini lebih didasarkan pada sifat kepentingannya atau urgensinya, dalam penggolongan ini ada beberapa macam arsip, yaitu;

  • Arsip Tidak Berguna (nonesensial), contoh; surat undangan, memo, dsb.

  • Arsip berguna, contoh; presensi pegawai, surat permohonan cuti, surat pesanan barang, dsb.

  • Arsip penting, contoh; surat keputusan, daftar riwayat hidup pegawai, laporan keuangan, buku kas, daftar gaji, dsb.

  • Arsip Vital, contoh; akte pendirian perusahaan, buku induk pegawai, sertifikat tanah/bangunan, ijazah, dan sebagainya. Arsip vital ini sangat vital dalam suatu organisasi maupun perusahaan. Jika terjadi hilangnya arsip vital ini, bisa mengakibatkan berhentinya suatu organisasi atau perusahaan19.

    1. arsip menurut Fungsinya

Penggolongan ini lebih didasarkan pada fungsi arsip dalam mendukung kegiatan organisasi. Dalam penggolongan ini ada dua jenis arsip, yaitu;

      • Arsip Dinamis yaitu arsip yang masih dipergunakan secara langsung dalam kegiatan perkantoran sehari-hari20.

      • Arsip Statis, yaitu arsip yang sudah tidak dipergunakan secara langung dalam kegiatan perkantoran sehari-hari.

Menurut Undang-undang Nomor 7 tahun 1991 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kearsipan, yang dimaksud dengan arsip statis dan arsip dinamis, adalah sebagai berikut21:

        1. Arsip Dinamis, yaitu arsip yang dipergunakan secara langsung dalam proses perencanaan, pelaksanaan, penyelenggaraan kehidupan kebangsaan pada umumnya atau dipergunakan secara langsung dalam penyelenggaraan Administrasi Negara.

        2. Arsip Statis, yaitu arsip yang tidak dipergunakan secara langsung untuk perencanaan, penyelenggaraan kehidupan kebangsaan pada umumnya maupun untuk penyelanggaraan sehari-hari Administrasi Negara.

  1. Arsip menurut Tempat/Tingkat Pengelolaannya

Penggolongan ini didasarkan pada tempat atau tingkat pengelolannya, dan sekaligus siapa yang bertanggung jawab. Arsip ini dapat dibedakan menjadi;

    • Arsip Pusat, arsip yang disimpan secara sentralisasi atau berada dipusat organisasi. Berkaitan dengan lembaga pemerintahan; Arnas Pusat di Jakarta.

    • Arsip Unit, arsip yang berada di unit-unit dalam organisasi berkaitan dengan lembaga pemerintah; Armas Daerah di Ibukota Propinsi.

  1. Arsip menurut Keasliannya

Penggolongan ini didasarkan pada tingkat keaslian suatu arsip atau dokumen. Dalam penggolongan ini arsip dapat dibedakan;

  • Arsip Asli, yaitu dokumen yang langsung terkena hentakan mesin ketik, cetakan printer, dengan tanda tangan dan legalisasi yang asli, yang merupakan dokumen utama.

  • Arsip Tembusan, yaitu dokumen kedua, ketiga, dan seterusnya, yang dalam proses pembuatannya bersama dengan dokumen asli, tetapi ditujukan pada pihak lain selain penerima dokumen asli.

  • Arsip Salinan, yaitu dokumen yang proses pembuatannya tidak bersama dengan dokumen asli, tetapi memiliki kesesuaian dengan dokumen asli.

  • Arsip Petikan, yaitu dokumen yang berisi bagian dari suatu dokumen asli.

  1. Arsip menurut Kekuatan Hukum

Penggolongan ini didasarkan pada legalitas yang dilihat dari sisi hukum. Dari segi hukum arsip dibedakan menjadi dua macam, yaitu;

    • Arsip Otentik, adalah arsip di atasnya terdapat tanda tangan asli dengan tinta (bukan fotokopi atau film) sebagai tanda keabsahan dari isi arsip bersangkutan. Arsip otentik dapat dipergunakan sebagai bukti hukum yang sah.

    • Arsip Tidak Otentik adalah arsip yang di atasnya tidak terdapat tanda tangan asli dengan tinta. Arsip ini berupa fotokopi, film, mikrofilm, hasil print komputer, dsb.

Demikian penggolongan arsip berdasarkan jenis-jenis tertentu. Bagaimana dengan arsip perkulian mahasiswa? Termasuk jenis yang mana? Jika melihat fungsi dari arsip perkuliahan itu sendiri yaitu sebagai persiapan, sumber informasi, dan inspirasi serta setiap saat dibutuhkan, maka arsip perkuliahan ini merupakan arsip dinamis.


Manajemen Arsip Perkuliahan Mahasiswa


Setelah melihat pentingnya arsip perkuliahan baik yang berupa tugas-tugas ketikan komputer (termasuk skripsi) maupun catatan kuliah harian, maka diperlukan teknik untuk memenejemen arsip-arsip tersebut. Dalam hal ini penulis akan mencoba mengulas manajemen arsip dengan teknik Binder dan Folder. Serta penyimpanan arsip file ketikan komputer ke dalam e mail. Sebelum mengulas tentang teknik manajemen arsip perkuliahan, terlebih dahulu kita bahas tentang manajemen arsip dinamis.

Apa sih manajemen itu? Manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan pekerjaan anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai sasaran organisasi yang sudah ditetapkan22. Sedangkan orang yang melakukan manajemen adalah manajer. Manajer adalah orang yang bertanggung jawab untuk mengarahkan usaha yang bertujuan membantu organisasi dalam mencapai sasarannya23.

Dalam hal ini manajemen arsip merupakan pelaksanaan fungsi- fungsi manajemen di dalam rangka mengelola keseluruhan daur hidup arsip24. Daur hidup arsip meliputi fase penciptaan arsip, fase penggunaan dan pemeliharaan arsip, dan fase penyusutan arsip25. Menurut Sulistyo Basuki orang yang bertanggung jawab atas manajemen arsip dinamis disebut record manajer, dalam berbagai badan korporasi merupakan manajer tingkat menengah26. Tetapi dalam hal memanajemen arsip perkuliahan, mahasiswa sebagai manajer mempunyai peran yang penting, karena pengelolaan arsip dilakukan secara individu.

Setelah mengetahui pengertian manajemen arsip dinamis, kini beranjak pada pengelolaan arsip dinamis. Seperti yang sudah diutarakan di atas bahwa arsip perkuliahan mahasiswa merupakan jenis arsip dinamis. Menurut fungsi dan kegunaannya arsip dinamis dibedakan menjadi 3 macam, yaitu;

  • Arsip aktif, yaitu arsip yang masih sering dipergunakan bagi kelangsungan kerja.

  • Arsip semi aktif, yaitu arsip yang frekuensi penggunaannya sudah mulai menurun.

  • Arsip inaktif, yaitu arsip yang jarang sekali dipergunakan dalam proses pekerjaan sehari-hari27.

Melihat taraf penggunannya arsip perkuliahan termasuk arsip aktif karena masih sering digunakan. Karena itulah diperlukan teknik untuk mengelolanya. Nah penulis akan mencoba membahas teknik binder dan teknik folder.


  • Teknik Binder

Sebenarnya binder merupakan tempat menyimpan kertas28. Mahasiswa sering membawanya jika mengikuti perkuliahan. Benda ini dianggap praktis dari pada buku, karena disamping praktis, juga ringan untuk dibawa kemana-mana, harganya pun terjangkau bagi kantong mahasiswa29. Ketika masih di sekolah, kita masih menggunakan buku untuk catatan tiap-tiap mata pelajaran dan ini berlangsung selama satu tahun. Sedangkan di kampus, mata kuliah setiap semester ada pergantian. Nah, maka dari itulah penggunaan binder sangat efektif dan efisien bagi mahasiswa.

Kegunaan binder tidak hanya sebagai catatan saja, tapi bisa kita kembangkan untuk menyimpan catatan-catatan perkuliahan semester sebelumnya. Lalu bagaimana caranya? Catatan-catatan perkuliahan semester yang lalu yang masih dianggap penting dikumpulkan di tiap-tiap mata kuliah. Jika ada lembaran catatan (arsip) yang tidak penting, bisa disusutkan (dihilangkan)30. Jika ada kantong tebal, bisa membeli dua binder, yang satu untuk penyimpanan arsip, satunya untuk catatan kuliah. Setelah dikumpulkan di tiap-tiap mata kuliah, catatan-catatan tersebut di masukkan ke dalam binder yang khusus untuk penyimpanan. Dalam binder itu setiap bagian-bagian arsip mata kuliah diberi pembatas untuk membedakan antara mata kuliah yang satu dengan yang lain, dan juga membedakan arsip perkuliahan per-semester.

Untuk mempercantik supaya enak dilihat dan dibuka, binder diberi hiasan. Biasanya mahasiswi yang suka pada hal hias menghias. bisa dihias dengan warna, kata-kata mutiara (bijak), atau foto pacarnya juga boleh. Lebih bagus lagi, jika setiap arsip semester memiliki binder sendiri. Tetapi kelemahannya ada pada finansial karena harus membeli banyak binder. Dan juga kapasitas catatan yang bermacam-macam di tiap semester. Jadi catatan tiap mahasiswa ada yang banyak ada juga yang sedikit (mungkin hanya mencatat poin-poinnya saja).

Arsip-arsip catatan perkuliahan yang sudah dikumpulkan dalam binder hendaknya ditata dengan rapi dan disimpan di tempat yang aman dan mudah agar bisa diambil sewaktu-waktu. Tempat penyimpanan yang dekat adalah didalam lemari31. Namun jika tidak ada lemari bisa diletakkan di meja dengan posisi berdiri (seperti peletakan buku dalam rak perpustakaan). Jadi jangan diletakkan di bawah kasur, di bawah bantal atau bahkan di bawah lemari, nanti bisa dimakan rayap.


  • Teknik Folder

Teknik folder ini digunakan untuk menyimpan arsip perkuliahan yang berupa file ketikan komputer. Sebagaimana kita tahu sekarang adalah zamannya teknologi canggih, termasuk komputer. Setiap kegiatan perkantoran tidak lepas dari komputer. Mahasiswa pun sangat membutuhkan komputer untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Apalagi sekarang sedang berkembang penggunaan laptop dan juga didukung dengan sistem wireless32 di setiap kampus.

Ketika penulis ngobrol dengan teman-teman mahasiswa, ada keluhan diantara mereka. Keluhan mereka adalah file-file ketikan komputer yang merupakan tugas mereka hilang saat mereka membutuhkan untuk rujukan tulisan/makalah selanjutnya. Ada yang bilang kena virus, filenya terhapus, dsb. Dari sinilah penulis mempunyai inspirasi bagaimana menyimpan arsip tugas-tugas itu dalam teknik folder.

Folder merupakan tempat untuk menyimpan file atau dokumen. Di dalam komputer folder berbentuk kotak dan bisa dibuat untuk menyimpan file-file komputer. Folder-folder ini bisa dimanfaatkan untuk menyimpan arsip-arsip tugas perkuliahan. Tugas-tugas perkuliahan dalam hal ini berbentuk file dokumen Microsoft Word. Setiap mata kuliah sudah pasti ada tugas untuk membuat karya tulis (makalah, paper, artikel, dsb.). File-file itu jangan dihapus (kecuali yang tidak penting), tapi disimpan dan dikumpulkan dalam folder. Agar lebih efisien, bisa membuat folder-folder untuk setiap mata kuliah di setiap semester. Jadi gambarannya begini, buat dulu folder-folder untuk setiap semester (foldernya diberi nama sesuai dengan semester berapa). Di dalam setiap folder semester ada folder lagi untuk setiap file tugas mata kuliah.

Untuk mencegah agar folder yang berisi file tugas perkuliahan tidak hilang ketika komputer mengalami error atau install ulang, bisa di copy ke dalam CD (Compact Disk) dengan menggunakan soft ware Nero. Tapi dalam CPU komputer harus mempunyai Disk Rewrite. Sebenarnya bisa juga disimpan di flashdisk (bagi yang punya), tapi seringkali flashdisk juga rawan terkena virus yang menghilangkan folder. Karena itulah CD mempunyai tingkat keamanan relatif tinggi daripada flashdisk.

Untuk data-data vital (penting) seperti file skripsi atau tugas akhir bisa juga disimpan atau di copy ke dalam CD, tapi tidak efektif karena proses pembuatan skripsi maupaun tugas akhir tidak serta-merta langsung jadi tapi melalui proses penulisan yang lama. Jika disimpan dalam CD pun nanti akan terjadi penggandaan file yang bisa menyebabkan file yang sama bisa ditimbun oleh file yang baru. Dan juga penyimpanan yang berulang-ulang bisa menyebabkan kapasitas dalam CD menjadi penuh. Ada cara praktis untuk menyelamatkan data skripsi ini, yaitu disimpan ke dalam e-mail. Tentu saja terlebih dulu kita harus membuat e-mail. File vital itu disimpan atau dicopy ke dalam e-mail dengan cara attachment file. Jadi keuntungannya menyimpan di e-mail, kita bisa mengakses dan membuka file dimana saja dan kapan saja. Kelemahannya, jika ada gangguan internet bisa hilang data-datanya, tetapi kemungkinan ini relatif kecil.

Sekarang berkembang sebuah software yang khusus digunakan untuk kearsipan. Software ini adalah EFS – Cabinet NG, Electronis Filing System for Singapore Judificial, dan Paper Master Pro33. Perangkat lunak ini bisa membantu meningkatkan efisiensi kantor. Tapi untuk mengatur arsip perkuliahan mahasiswa tidak perlu membeli aplikasi-aplikasi di atas. Teknik binder dan teknik folder bisa digunakan untuk memanajemen arsip perkuliahan.


Epilog


Pada umumnya arsip di bedakan menjadi arsip statis dan arsip dinamis. Arsip perkuliahan mahasiswa termasuk dalam arsip dinamis karena arsip tersebut masih digunakan sebagai bahan belajar, persiapan penelitian, persiapan tugas-tugas selanjutnya, dan sebagai inspirasi untuk membuat skripsi. Karena sifatnya yang penting itulah, maka diperlukan teknik untuk memanajemen arsip perkuliahan. Nah, dengan ini penulis mencoba membantu memenejemen arsip perkuliahan dengan teknik binder dan teknik folder.

Melihat pentingnya arsip sebagai media informasi perlu di adakan manajemen arsip. Walaupun hanya berupa kertas, atau mungkin rekaman kaset, semuanya bisa membantu untuk membuat perencanaan selanjutnya. Karena itu, arsip-arsip tersebut jangan dibuang. Apalagi bagi mahasiswa Jurusan Sejarah (Prodi Ilmu Sejarah), informasi dalam arsip baik dari zaman Kolonial Belanda sampai Revolusi atau bahkan sekarang, sangat penting sebagai bahan historiografi.

Semoga dengan memahami arti penting arsip sebagai sumber informasi, penulis dan teman-teman mahasiswa Jurusan Sejarah, terutama Prodi Ilmu Sejarah, bisa melakukan dan mendapatkan sumber sejarah berupa arsip34. Dengan begitu kita bisa membuat sebuah skripsi yang menarik berdasarkan sumber dari arsip tersebut. Amin.


Daftar Rujukan

Basuki, Sulistyo. 2003. Manajemen Arsip Dinamis. Jakarta: Gramedia.

Gigih (catatansigigih.blogger.com). Pengertian Arsip dan Fungsi Arsip Vital. Diupdate pada 18 Juni 2007.

Irawan, Mustari. Manajemen Arsip Dinamis Suatu Pendekatan Kearsipan (www.arsipjatim.go.id), diapdate pada 12 April 2008.

Q-Aness, Bambang. 2006. Nggak Sekedar Ngampus. Bandung: PT. Mizan.

Stoner, James A.F. 1995. Managemen Jilid 1 (terjemahan Alexander Sindoro). Jakarta: Prenhalindo.

Sugiarto, Agus dan Wahyono, Teguh. 2005. Manajemen Kearsipan Modern Dari Konvensional ke Basis Komputer. Yogyakarta: Gaya Media.

Suwardjono. Perilaku Belajar di Perguruan Tinggi (www.suwardjono.com). Diupdate pada 25 November 2004.

Suwarno, Wiji. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan; Sebuah Pendekatan Praktis. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Wursanto, Ig. 1991. Kearsipan 1. Yogyakarta: Kanisius.

2 Penulis adalah mahasisiwa Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang.

3 Wiji Suwarno, Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan; Sebuah Pendekatan Praktis (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007) hal. 20.

4 Ibid hal. 17

5 Ibid. Dalam tulisan ini tidak dibicarakan tentang konsep-konsep perpustakaan. Untuk lebih jelasnya silahkan membaca buku “Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan”, atau berdiskusi dengan Bapak Marsudi, dosen mata kuliah Kearsipan dan Perpustakaan.

6 Kalau membeli pulsa pada agen pulsa berjalan, mungkin tidak ada bonnya, karena mungkin agen itu teman kita juga, tapi laporan transaksi akan dicatat oleh agen tersebut sebagai bukti telah sukses melakukan transaksi pulsa elektrik (penulis merupakan agen pulsa elektrik berjalan, silahkan kalau mau beli).

7 Bambang Q-Anees, Nggak Sekedar Ngampus (Bandung: Mizan, 2006) hal. 16-17. Penulis sarankan kepada mahasiswa baru untuk membaca buku ini untuk memperoleh gambaran tentang kuliah.

8 Suwardjono, Perilaku Belajar di Perguruan Tinggi (www.suwardjono.com), 25 November 2004.

9 Ibid.

10 Kalau bagi mahasiswa Ilmu Sejarah UM, menurut Bapak Marsudi, mahasiswa Ilmu Sejarah harus banyak diberi tugas supaya bisa menulis karya ilmiah. Wah setiap hari bisa ngelembur.

11 Suwarno, loc.cit. Dalam catatan perkuliahan penulis, arsip berasal dari kata archeon dan arche (keduanya berasal dari bahasa Yunani) yang berarti permulaan, tempat utama, asal, kekuasaan, dan juga berarti bangunan kantor.

12 Dalam Wursanto, Kearsipan 1 (Yogyakarta: Kanisius, 1995), hal. 14.

13 Ibid. Penulis heran, kenapa dalam bahasa Inggris tidak menggunakan kata archive? Padahal kata ini lebih cocok untuk asal kata arsip.

14 Ibid, hal. 17.

15 Ibid

16 Agaknya pengertian ini lebih kepada balai kearsipannya, karena disana terdapat kegiatan untuk mencatat, menyimpan, dan mengolah arsip.

17 Ibid, hal. 19.

18 Agus Sugiarto & Teguh Wahyono, Manajemen Kearsipan Modern Dari Konvensional ke Basis Komputer (Yogyakarta: Gava Media, 2005) hal 11-13. Jenis-jenis arsip ini bisa juga dilihat di Wursanto, Kearsipan 1, hal 21-30.

19 Mengenai arsip vital ini bisa dilihat dalam Gigih di catatansigigih.blogger.com tentang Pengertian Arsip dan Fungsi Arsip Vital.

20 Menurut Sulistyo Basuki dalam Manajemen Arsip Dinamis (Jakarta: Gramedia, 2003, hal 12), arsip dinamis merupakan terjemahan dari kata records yang membedakannya dari arsip statis.

21 Wursanto, Op Cit hal 29.

22 James A.F. Stoner, Managemen Jilid 1 (terjemahan Alexander Sindoro, Jakarta: Prenhalindo) hal. 7.

23 Ibid

24 Mustari Irawan, Manajemen Arsip Dinamis Suatu Pendekatan Kearsipan (www.arsipjatim.go.id) diapdate pada 12 April 2008.

25 Ibid

26 Sulistyo Basuki, Op Cit, hal 15.

27 Wursanto, Loc Cit.

28 Kertas yang digunakan biasanya yang bagian kirinya ada lubangnya. Kertas ini bisa dibeli di toko-toko (buku) terdekat. Merek yang sering ada seperti Loose Leaf, dsb.

29 Maklum sebagian besar mahasiswa adalah anak kos, yang harus pandai-pandai mengatur finansial.

30 Mungkin catatan yang tidak penting seperti surat cinta, tulisan-tulisan yang “ngerasanin” dosen, coretan-coretan tidak berguna, dsb.

31 Jika dikamar kos ada lemari atau bagian dalam lemari yang masih sisa, bisa dimanfaatkan untuk menyimpan binder arsip perkuliahan.

32 Salah satu sistem di dalam laptop yang bisa digunakan untuk mengakses internet di suatu area yang ada jaringan spot wireless-nya.

33 Agus Sugiarto dan Teguh Wahyono, Op Cit, hal. 151.

34 Tentu saja mahasiswa sejarah menggunakan metode sejarah, yaitu Heuristik, Kritik, Intepretasi, dan menjadi Historiografi.