Kamis, 05 Februari 2009

PERTEMPURAN 10 NOVEMBER 1945 BUNG TOMO (SUTOMO) (KESAKSIAN DAN PENGALAMAN SEORANG AKTOR SEJARAH)

PERTEMPURAN 10 NOVEMBER 1945 BUNG TOMO (SUTOMO) (KESAKSIAN DAN PENGALAMAN SEORANG AKTOR SEJARAH)

Sesuai dengan anak judulnya, buku ini merupakan catatan atau kisah yang dialami oleh Sutomo (Bung Tomo). Di dalam buku ini mengisahkan sebuah peristiwa yang selalu dikenang di Indonesia, pertempuran 10 November 1945. Buku ini sebenarnya pernah diterbitkan pada tahun 1950, kemudian di tahun 2008, bulan November ini diterbitkan lagi oleh Visi media. Walaupun sudah diedit, buku ini bisa menjadi rujukan dalam menulis Sejarah, apalagi tentang Surabaya. Aku memang ingin menulis tentang Bung Tomo. Entah itu biografinya atau sisi yang lain. Karena itulah aku berusaha mengumulkan sumber buku yang relevan. Ketika sedang nyantai sambil baca koran (ketika itu tgl 16 Nov 2008), aku membuka halaman resensi buku, ketika itu memang hari minggu dan Jawa Pos mempunyai halaman resensi buku pada hari minggu. Kemudian aku lihat daftar buku terbaru. Ternyata buku dari Bung Tomo berjudul Pertempuran 10 November 1945 sudah terbit. Sebelumnya aku mendapat bocoran dari Pak Mulyono, editor buku ini. Pada waktu telepon aku diberi informasi kalau buku ini segera terbit. Aku langsung bangun ketika dalam daftar buku baru ada buku Bung Tomo. Langsung saja aku pergi ke Toga Mas, toko buku diskon di sebelahnya plasa Dieng. Ternyata di toko buku ini banyak bermunculan buku-buku baru. Waduh sering-sering saja aku ke toko buku ini. Dan benar, di lantai dua aku menemukan buku Pertempuran 10 November 1945. Asyik bukunya, bahasanya komunikatif. Ini merupakan pengalaman orang yang ditulis. Memang benar, menulis pengalaman itu jika dibaca, tulisannya menjadi lebih hidup. Inilah kesaksian dari Bung Tomo. Sama bahasanya seperti pada buku istrinya Sulistina Sutomo, Bung Tomo Suamiku. Pengalaman hidup yang asyik. Pertempuran Surabaya 1945, dikisahkan oleh Bung Tomo. Bung Tomo menceritakan tentang kronologis peristiwa-peristiwa sebelum pertempuran heboh itu. Pada bagian awal dikisahkan tentang keadaan Surabaya setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Kemudian dilanjutkan pada kedatangan pasukan payung Sekutu (hal 11). Menyerahnya Jepang terhadap sekutu ini menyebabkan kedatangan para orang-orang Belanda ke Surabaya1. Penduduk Surabaya tidak suka dengan perlakuan congkak orang-orang Belanda itu. kemudian terjadilah Insiden bendera di Hotel Yamato. Kedatangan Sekutu yang membonceng NICA tambah membuat gusar rakyat Surabaya. Terjadilah pertempuran-pertempuran. Diplomasi antara Pemerintah Indonesia dengan Sekutu dilakukan untuk menghentikan tembak-menembak. Tapi ketika diplomasi Mallaby tewas. Tewasnya Mallaby ini merupakan awal dari pertempuran dahsyat pada 10 November 1045. Dalam buku ini juga menceritakan Bung Tomo yang mengalami kegelisahan. Hal ini disebabkan karena situasi yang tidak sama antara Jakarta dan Surabaya. Di Jakarta orang-orang Sekutu ”berkeliaran” dengan bebas, sedangkan di Surabaya (Jawa Timur) sebaliknya. Sikap inilah yang melahirkan gagasan untuk membentuk BPRI (Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia). Disebutkan pula dengan jujur kalau Bung Tomo berbohong kepada pemerintah Surabaya agar mendirikan radio pemberontakan (hal 74). Mungkin orang yang bisa menyaingi Bung Karno adalah Bung Tomo. Orasi-orasinya sangat membara, membakar semangat. Seakan-akan rakyat termotivasi dan terpengaruh. Ketika mendengar Pidato Bung Karno dan Bung Tomo, merinding rasanya. Dan apakah tidak ada tokoh kharismatis di Indonesia sekarang? Kita tunggu saja... 1 Lihat juga pada William H. Frederick, Pandangan dan Gejolak, Masyarakat Kota dan Lahirnya Revolusi Indonesia (Surabaya 1926-1946), (Jakarta: Gramedia, 1989), hal. 249.

Nyo2 kepompong imut 2

Dari menulis di blok aku teruskan menulis di laptop. Tidak enak kalau tidak diteruskan. Nanti aku copy saja filenya di blogku. Oke cerita berlanjut. Ketika itu pulang sekolah aku, arifin, bangkit mempunyai misi menyelamatkan seorang putri. Kami melewati pintu gerbang belakang sekolah agar tidak ketahuan sang senior yang menunggu di depan sekolah. Sebenarnya pengen sekali aku yang membonceng Dewi hingga sampai rumahku, tapi Arifin sudah keburu naik ke motor Honda ulungku. Dewi akhirnya dibonceng oleh Bangkit. Dalam hati aku berkata, “enak banget si Bangkit”.. Misi berhasil dilaksanakan. Kami berhasil mencapai rumahku. Setelah mengantarkan Dewi Bangkit langsung pulang karena ada acara. Sampai di rumah aku berandai-andai, “andai aku yang menembak Dewi, pasti sukses”. Di rumahku kebetulan tidak ada orang, ibuku yang biasanya di rumah pergi ke Jombang karena ada acara arisan, biasa ibu-ibu Bhayangkari (perkumpulan istri polisi). Karena tidak ada makanan, akhirnya arifin keluar membeli nasi pecel. Kesempatan, tinggal aku dan Dewi berdua saja. Aku harus bisa menembak. Langsung aku menyetel lagunya Ada Band, yang kasetnya aku pinjam dari temanku, judul lagunya Jadikan Aku Raja. Begitu aku melihat wajahnya aku berdebar-debar. Mau menembak kok rasanya waktunya tidak tepat ya. Aku melihat Dewi begitu menikmati lagu Jadika Aku Raja. Padahal lagu itu merupakan representasi dari hatiku yang paling dalam. Dan sepertinya wajah Dewi terlihat kelelahan. Aku diam saja sambil sedikit melirik wajah Dewi. Kesempatanku akhirnua berakhir ketika Arifin datang membawa nasi pecel. Kami bertiga akhirnya makan dulu. Hilanglah sudah kesempatanku. Matahari semakin jatuh ke Barat. Tidak terasa hari sudah sore. Waktunya memulangkan tuan puteri ke istananya, takut nantinya ibundanya marah besar. Arifin bilang padaku, “Gung, aku tidak bisa mengantar Dewi, kamu aja yang ngantar, enak lho bonceng cewek”. Kontan saja aku bilang iya.. Benar kawan membonceng cewek itu rasanya lain, apalagi cewek itu adalah orang yang kita sukai, hangaaat rasanya. Inilah aku pertama kali membonceng cewek. Sebeumnya tidak pernah aku membonceng cewek, kecuali ibuku. Langsung aku starter motor Honda ulungku. Sengaja aku pelankan kecepatannya biar bisa ngobrol panjang dengan Dewi. Di jalan kami bercerita tentang masa kecil, tentang keluarga, sampai pada sang senior yang mau menembak Dewi tadi. Jarak antara rumahku ke rumahnya Dewi hanya 3 km, tapi bagiku seperti 1 m. Kok cepat sampai ya?? Senyum manis Dewi mengambang kepadaku, “Thak’s ya...”. Aduhh, manis sekali.. Sampai rumah aku berpikir, “kenapa ya aku kok tidak bisa menembak, menyatakan aku sayang padamu”. Nasib-nasib, kalau bertemu wanita aku selalu demam panggung. Padahal Dewi ini adalah sahabatku dari SMP, atau tepatnya dari mendaftar ke SMA. Ada satu pengalaman yang sangat mengasyikkan bagiku. Ketika itu pulang sekolah pagi, biasa ada rapat dewan guru. Aku diajak Arifin dan pacarnya dolan, main ke Kediri. Dan lebih asyik lagi aku mengajak Dewi. Dua kali aku membonceng cewek. Waktu itu kami ke Sri Ratu, sebuah maal di kota Kediri. Dari Sri Ratu kami beli beberapa camilan kemudian tujuan selanjutnya adalah ke tempat wisata Goa Selomangkleng. Sebuah situs berbentuk gua yang ada tulisannya dan berhuruf kwadrat, huruf kuno yang diperkirakan berasal dari Kerajaan Kadiri. Sepeda motoran jarak jauh pertama bagiku... Dengan wanita yang aku sukai lagi.. hatiku berbunga-bunga. Kenaikan ke kelas 3 merupakan hal yang tidak aku inginkan. Aku harus berpisah kelas dengan Dewi. Aku juga merasa sedih, teman-teman dekatku masuk ke kelas IPA semua, sedangkan aku masuh ke kelas Bahasa. Sampai kelas tiga pun aku belum bisa menembak Dewi. Sebelum kenaikan kelas, teman-temanku mengadakan rekreasi ke Pantai Pasir Putih di Trenggalek. Tapi persediaan dana tidak mencukupi. Akhirnya aku mengajak Alfian ikut. Eh bukannya menjadi penyelamat, Alfian malah jadi duri yang menyebabkan penyakit tetanus. Alfian malah dekat dengan Dewi, duduknya pun di dekatnya Dewi ketika di dalam mini bus. Walah malah ketika di Gua Lawa (gua kelelawar), di dalamnya kan gelap, lha si Alfian malah menggandeng Dewi.. Api cemburuku membara.. Aku jadi agak naik pitam, biasanya aku 3-4 kali seminggu ke rumahnya Dewi, aku tidak ke sana selama seminggu. Aneh ya, padahal belum jadian.
Kelas tiga SMA merupakan penentuan masa sekolah. Aku sudah mulai konsentrasi sekolah dan merencanakan akan kuliah dimana. Kelasku ada di paling pojok. Setiap hari setiap pulang sekolah aku selalu melihat ke jendela, melihat Dewi yang berjalan pulang dan selalu melewati kelasku. Ya Allah, semakin dekat saja hatiku dengan Dewi. Di kelas tiga kami semakin dekat. Aku juga sering ke kelasnya ketika pulang sekolah, maupun ketika istrahat. Sering aku ngobrol dengan Dewi di depan kelasnya di IPA 3. Suatu ketika Rifky temanku sekelas mengajakku nonton konser band Cokelat di Jombang. Teman-teman yang melihat konser pergi berpasangan, Rifky dengan Nano, Eko dengan Lia, aku sama siapa ya? Terus ada Dewi melintas di depan kelasku. Sifat malu pada wanita masih melekat dalam diriku. Ingin aku mengajak Dewi kok ya sulit sekali. Untung saja Sri memotivasiku untuk mengajak Dewi. Dewi pun mau. Grogi kawan rasanya mengajak cewek lihat konser pertama kali. Sampai di rumah aku bingung mau dandan apa? Pakai ini kok tidak cocok, pakai itu salah.. Sampai jam pun berlalu, aku janjian jemput Dewi jam 7, konsernya dimulai jam 9.00. Karena terburu-buru aku pun pakai kostum seadanya. Aku menjemput Dewi. Sebelum berangkat ke Jombang aku ngumpul dulu di rumahnya Rifky, nanti berangkat bareng. Dan kau tahu kawan sampai di rumahnya Rifky Dewi senyum-senyum kepadaku. GR (gede rasa) aku rasanya. Teman-teman yang lain juga tertawa melihatku. “Hai Gung, kamu mau lihat konser atau mau olahraga??” kata Rifky. Ketika aku melihat diriku, astaga, aku memakai kostum yang unik. Aku memakai training (celana olahraga) dan memakai jaket merah, persis pelatih sepak bola. Mangkanya teman-teman pada tertawa. Akhirnya biarlah aku memakai kostum ini. Kemudian berangkatlah kita ke Jombang. Ternyata lihat konser seru juga, banyak orang. Ketika artisnya manggung yang nonton pada loncat-loncat. Dalam konser panggung di tempat terbuka pasti ada penonton yang tawuran. Gila orang tawuran itu, seperti orang kesurupan dan itu terjadi di depan kita. Dengan refleks aku langsung merangkul Dewi. Ketika reda aku melihat tanganku masih merangkul, dan Dewi senyum-senyum saja. Dengan malu aku langsung melepaskan tanganku. Senang rasanya melihat Dewi ceria sambil loncat-loncat menirukan lagunya Cokelat. Dag dig dug hatiku. Dalam hati aku malah berdoa semoga ada tawuran lagi, nanti aku merangkul Dewi lagi. Ternyata doaku terkabul. Bukan tawuran yang terjadi tapi foto bersama. Ketika foto bersama aku dengan agak deredeg (nervous =Jawa) merangkul Dewi lagi dengan tangan kiriku. Dan jepret... Asyik aku bisa merangkul cewek yang pertama kali...
Ulang tahun ke 17 merupakan spesial bagi remaja. Angka 17 ini merupakan angka keramat bagi kawula muda karena merupakan simbol dari kedewasaan tahap awal. Besok tanggal 30 Juni merupakan ultah Dewi yang ke-17 tahun. Aku bimbang, enaknya diberi hadiah apa ya? Sepulang sekolah aku diajak Arifin ke pasar Warungjayeng buat beli hadiah. Agak sewot aku sebenarnya sama anak ini, tapi tidak apa-apalah, positif thingking saja. Di pasar kami mencari hadiah yang cocok buat Dewi. Lama mencari dan bingung mau dikado apa, akhirnya Arifin memberi usul, “kita beki sajadah saja, jan Dewi sholatnya agak kurang”. Sebenarnya aku juga bingung, tapi tidak apa-apalah. Kemudian kami ke sebuah toko baju muslim dan membeli sajadah, itupun pakai uang ku, padahal tadinya kita urunan. Tidak apa-apalah Seperti biasa tradisi ulang tahun kita adalah mentraktir, tempat yang sering dipakai traktiran adalah warung bambu di depan sekolah (SMA 1 Kertosono). Kali ini aku berdandan normal, tidak memakai celana training lagi. Berangkat aku dengan Honda ulung ke rumahnya Dewi. Teman-teman juga sudah pada ngumpul. Ada yang ganjel di pikiranku ketika di rumahnya Dewi. Doni teman lain kelas yang pernah nembak Dewi datang juga. Panas lah hatiku, apalagi teman-teman yang lain mencomblangi mereka, bukan aku. Berangkat ke Bambu pun aku malah bonceng Anis, Dewi malah dibonceng sama Doni. Tambah panaslah hatiku. Makan di Bambu rasanya hambar, tidak enak banget. Aku dilanda cemburu. Aku melihat Doni ngobrol terus sama Dewi, duduknya dekat lagi.. Yang paling tidak enak lagi ibunya Dewi mengirim SMS ke Bangkit. Bangkit ini sebelumnya punya masalah, dia di putusin sama pacarnya. Ibunya Dewi malah merekomendasikan Bangkit pacaran sama Dewi. Walah hancur bagaikan di terjang badai tsunami hatiku...
Mendekati kelulusan biasanya di sekolah menyelanggarakan informasi tentang Perguruan Tinggi. Aku juga mendaftar, waktu itu aku mendaftar PMDK (Penelusuran Minat Dan Kemampuan) di UM (Universitas Negeri Malang) di Jurusan Sejarah dan mendaftar UM (Ujian Masuk) UGM (Universitas Gajah Mada), juga milih Jurusan Sejarah. Dewi juga ikut PMDK di UM mengambil Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Hari demi hari semakin dekat aku dengan Dewi. Aku sering mengantarnya pulang, mengantar ke sekolah kalau ada jadwal olahraga pagi. Dan seringkali juga menjemput ke rumahnya. Tapi perlu dicatat, aku belum jadian sama Dewi. Dewi ini sebenarnya tidak suka dengan hubungan tanpa status. Tapi anehnya, kok lama ya hubungan sama aku? Sering juga Dewi menelpun rumahku. Sampai-sampai aku duduk di sebelahnya telepon rumahku, menunggu telepon dari Dewi. Bulan Maret tepatnya tanggal 31 adalah ulang tahunku. Sesuai tradisi nantinya aku harus mentraktir teman-teman. Tapi di bulan awal bulan April aku harus ke Yogyakarta sama teman-teman yang lain untuk ikut UM UGM. Otomatis aku harus menghemat uang. Dengan terpaksa aku minta maaf sama teman-teman dekatku kalau aku tidak bisa mentraktir. Sebelum hari H aku berangkat ke Yogyakarta, waktu itu tepatnya tanggal 31 Maret pas hari ultahku, siang hari aku di telepon oleh Dewi. Aku disuruh ke rumahnya, penting katanya. Aku juga tidak habis pikir, ada apa ini? Dengan agak tergesa-gesa aku menstarter sepeda ulungku. Berangkatlah aku dengan mengebut seperti Valentino Rossi ke rumahnya Dewi. Sampai di rumahnya, lho kok banyak anak ngumpul, apa ada kondangan atau bancaan (kenduri: ritual orang Jawa). Aku di suruh masuk oleh anak-anak. Banyak berkumpul ternyata termasuk Arifin. Aku masuk saja terus duduk di sofa. Kemudian tiga cewek keluar dari kamarnya Dewi yang ada di depan. Dewi, Mega, Entuk (panggilan Astutik) membawa seperti tumpeng. Dan benar di atas sebuah layah (tempat beras di bersihkan) ada segunung nasi dan beberapa lauknya. Aku heran, “itu untuk apa?” tanyaku. “Selamat Ulang Tahun Agung, panjang umur ya”.. Mendengar tiga cewek tadi hatiku trenyuh. Aku kira karena aku tidak mentraktir teman-teman aku ditinggalkan atau dijauhi ternyata tidak. Ternyata mereka mempersiapkan ritual untuk memeriahkan pesta ulang tahunku. Dan yang paling semangat mengadakan acara itu adalah Dewi. Terima kasih teman-teman. Aku menjadi manusia yang paling beruntung dikelilingi oleh teman-teman yang baik. Kemudian aku dikasih Dewi sebuah gulungan kertas dari sisa kalender. Aku disuruh buka dirumah. Ternyata isinya adalah ucapan selamat Ultah dari empat wanita Dewi, Mega, Entuk, dan Lusi. Ucapan selamat, kesan dan pesan itu ditulis dengan menggunakan huruf Jawa. Doa teman-teman inilah yang membuatku sukses dalam ujian di UGM, aku berhasil diterima di sana di Jurusan Sejarah. Tapi tidak aku ambil karena di UM melaluia jalur PMDK aku juga diterima di Jurusan yang sama. Aku memilih di UM selain karena PMDK juga karena Dewi kuliah di Malang.
Putaran roda kehidupan terus berlanjut. Aku semakin dekat saja dengan Dewi. Berangkat sekolah aku selalu menjemput Dewi. Tapi kok aku belum menyatakan “rasa” ya? Malam itu tanggal 15 April (aku sudah kelas 3 SMA) aku diajak ngumpul di rumahnya Dewi. Di situ juga ada Haxni dan Lusi. Dan ternyata mereka berdua saling suka. Aku dan Dewi ditinggal di rumahnya sedangkan dua orang itu ngobrol di depan rumahnya Dewi, tepatnya di bukit rel kereta api. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi melihat wajah Haxni dan Lusi aku sudah bisa menebaknya, ya mereka sudah jadian. Sesudah menyatakan cinta Haxni dan Lusi pergi berdua, tinggalah aku dan Dewi di rumahnya. Suasana yang mendukung, di tengah kami melihat audisi API (Audisi Pelawan Indonesia) aku duduk berdua dengan Dewi. Lama kelamaan aku menggandeng tangannya dan Dewi juga merespon dengan bersandar di pundak kiriku. Berdebar rasanya. “Lusi dan Haxni sudah jadian, senang ya”. “Iya”, kataku. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Akhirnya aku tidak tahan, “Wi, sebenarnya aku sayang kamu” mak dueeer rasanya hatiku. Dewi kemudian merespon, “sejak kapan?”. “Sejak kelas dua, sejak kamu duduk di depan bangkuku, dan yang membuat aku makin sayang adalah pas ulang tahunku”, akhirnya aku membuka hatiku. Dewi masih bersandar di pundakku. Aku semakin deg-degan. Dewi tidak berkomentar. Karena sudah malam aku pamitan pulang. Masih ngambang rasanya. Tapi aku senangnya bukan main, aku sudah jadian pikirku, padahal kemarin Cuma menyatakan rasa, bukan “menembak”. Tapi setidaknya dari kejadian itu aku sangat dekat dengan Dewi, ketika ketemu selalu berdua, ketika pulang sekolah aku selalu mengantar. Tapi menurut Dewi kita masih belum jadian, kita masih ngambang, dan itu berlangsung beberapa hari. “Kamu jangan senang dulu, kamu belum nembak aku” katanya. Waduh bingung aku, sampai tidak bisa tidur. Ternyata aku belum menembak dan hubunganku dengan Dewi masih mengambang. Aku ini tidak tahu harus berbuat apa? Sampai ketika itu hari Jum’at tanggal 6 Mei 2004. Seperti biasa kami selalu ketemuan di kelas Bahasa. Dewi dieeem saja. Tak ajak bicara tidak merespon. Terus kemudian aku digandeng dan di ajak di kelasnya, IPA 3. Ngapain? Pikirku. “Udah sekarang enaknya gimana hubungan kita” katanya. Aku bingung tapi secepat kilat aku merespon, kan aku belum jadian. Langsung saja aku ajak duduk, dan aku memegang kedua tangannya. Aku mulai bilang seperti mau mengadakan Mou.” Wi, maukah kamu menjadi pacarku?”. Berdebar kencang hatiku. Aku melihat Dewi, kok dia tidak merespon? Aku ulangi perkataanku lagi sampai tiga kali. Agak kesal rasanya, aku diam. Kemudian Dewi berkata “yes, I do”. Kata yang indah, mengalahkan keindahan puisi Rendra, mengalahkan kalimat-kalimat dari Pramodya Ananta Toer. Hatiku berbunga-bunga. Hatiku bergelora seperti pertandingan Manchester United vs Chelsea. Selama ini aku menjomblo, tidak punya pacar, akhirnya aku melepas kesendirianku. Akhirnya aku mendapatkan wanita yang aku sayangi, akhirnya aku punya pacar.. Terima kasih ya Allah.

Keinginan Tyas

Terik matahari siang di Surabaya. Sangat panas rasanya. Tyas sudah hampir putus asa. Sudah keliling Surabaya dan sudah meletakkan beberapa lamaran pekerjaan pada beberapa perusahaan, belum ada satu pun yang menerimanya. Lelah, capek rasanya. Sebenarnya di Malang Tyas sudah punya pekerjaan, akan tetapi pekerjaan itu sangat melelahkan, bukan untung yang didapat, buntung iya. Bekerja begitu keras sampai malam tapi bayaran sedikit. Bahkan selama dua bulan ini Tyas belum menerima bayaran. Dia belum menjual produk perusahaan, jadi kena hukuman, tidak digaji. Untungnya masih ada uang sisa bonus yang dia terima. Siang itu Tyas mampir ke rumah mbak yu-nya, kakak perempuan satu-satunya, saudara kandungnya yang ada di Surabaya. Niat awal Tyas hanya mampir saja, masak ke Surabaya tidak mampir ke rumah mbaknya. Rencananya setelah mampir dia langsung balik ke Malang lagi. Masih ada urusan yang harus di selesaikan di Malang. Tyas masih tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Brawijaya Malang. Tyas segera mengurus dulu administrasi untuk kelulusan, kata kerennya wisuda. Tyas agak terlambat mengurus wisuda karena ditinggal kerja, teman-temannya sebagian besar sudah melakukan wisuda. Cuma memakai berdandan memakai toga, kemudian rektor menggeser tali di topi toga, bisa membuat orang bingung mengurus. Lebih-lebih harus memeras otak untuk studi selama 3-4 tahun, bahkan ada yang sampai 5 tahun. Pamit mau pulang kembali ke Malang menjadi awal keberuntungan bagi Tyas. Wati, sahabatnya sejak SMP menjemput Tyas di rumah mbaknya. Wati memberikan informasi kepada Tyas bahwa ada recruitment di perusahaan tampat dia bekerja, kata Wati sistemnya walking interview. Kesempatan tidak datang dua kali. Tyas mengurungkan niatnya kembali ke Malang. Tyas akhirnya di bonceng Wati kembali ke kosnya Wati. Sangat mendadak, walking interview-nya diadakan besok pagi Malam hari itu juga Tyas mempersiaplam segala dokumen lamaran pekerjaan. Baju pinjam ke Wati, sekaligus sepatu. Malam itu Tyas sibuk sekali, seperti seorang komandan yang merancang strategi untuk menghadapi medan perang pada keesokan harinya. ”Santai aja Yas, kamu istirahat saja, besok kan harus fit untuk wawancara”, Wati mengingatkan. Keesokan harinya Tyas melirik kalender yang ada di tembok dekat pintu keluar kamar kos. Tanggal 16 Januari 2009, ”Semoga aku beruntung”, batinnya. Tyas berangkat menuju sebuah gedung. Ternyata interviewnya diadakan di Hotel Mercury. Di lobby hotel banyak sekali orang. Sudah bisa ditebak itu adalah orang-orang yang melamar pekerjaan. Rupanya perusahaan itu menjanjikan. Dengan senyum Tyas melirik map lamaran kerjanya, Axtra Mandiri, itulah nama perusahannya. Melihat banyak orang Tyas bukannya senang ada temannya, tapi malah bingung. ”Mbak, ini interviewnya kapan?”, tanya Tyas kepada salah satu pelamar. ”Lho, mbak gak tahu ya, ini sudah intervew yang kedua. Kemarin sudah interview tahap pertama, sekarang intervew tahap kedua”. Tyas semakin bingung, ”Kok sudah tahap kedua, katanya Wati ada walking interview?”. Kemudian ada pegawai recruitment yang ke kamar mandi. Tanpa malu Tyas membuntutinya sampai ke toilet. ”Orang ini lama banget sih, ngapain di dalam”, Tyas menggerutu. Lama menunggu akhirnya nongol juga orangnya. Dengan muka tebal Tyas bertanya,”Mbak, mau nanya, ini walking interviewnya kapan?”, ”Maksudnya?” pegawai itu bingung. ”Kata teman saya, di perusahaan ini ada walking interview, tapi kok sudah tahap kedua?”. ”Teman kamu siapa?”, tanya pegawai itu lagi. ”Egawati, staf AF1 di perusahaan ini”. Mendengar keterangan Tyas pegawai itu meminta map lamarannya kemudian membacanya, ”Oke, tunggu sebentar ya”. Kecemasan meliputi hati dan pikiran Tyas. Dia sudah pasrah apapun hasilnya. Tidak ada 7 menit kemudian, ”Kusumaningtyas, mohon ke ruang interview”. Belum selesai merenungi nasib sudah ada panggilan. Tyas segera sadar dan berjalan menuju ruang interview. Di ruangan itu Tyas memandangi suasana ruangan. Tentu bukan hal baru baginya menerima panggilan di sebuah ruang interview. Sebelumnya di Malang dia sudah pernah mengalaminya. Agak tegang rasanya tapi Tyas bisa segera mengatasinya. Kemudian datang pria memakai setelan jas hitam, dasinya cokelat agak keputih-putihan. Umurnya separuh baya. Orang ini adalah kepala unit recruitmen. ”Selamat pagi Kusumaningtyas”, suaranya berwibawa seperti seorang manager pada umumnya. ”Sebelumnya Anda sudah kerja?”. ”Sudah Pak”, jawab Tyas. ”Kalau boleh tahu kerja di perusahaan mana?”. ”Saya kerja di perusahaan Heroes yang bergerak di bidang properti di Malang Pak, bagian Marketing”. ”Oo properti ya, kalau begitu coba Anda praktekkan bagaimana cara Anda memikat konsumen”, tantang sang penginterview. Tentu menghadapi orang yang ingin membeli rumah bukan hal yang baru bagi Tyas. Dengan panjang lebar Tyas menjelaskan tentang produk perusahannya dulu di Malang. Dia kemudian menjelaskan rumah-rumah di Paralayangan, di Graha Warna dan lainnya. Penjelasan Tyas sangat jelas walaupun tidak memakai brosur. Tyas melihat wajah pria yang menginterviewnya sepertinya terkesan. Setelah menjalani interview, Tyas diminta meninggalkan tempat dan menunggu untuk dipanggil kembali. Selesai interview Tyas mengambil nafas dulu, istirahat sebentar. Belum lama istirahat, speaker kembali bersuara memanggil namanya. Kali ini Tyas menjalani interview yang kedua. Kali ini yang mengiterview adalah wanita separuh baya. Gaya pakaiannya seperti wanita karir kebanyakan. Memakai jas dengan setelan rok berwarna cokelat kehitam-hitaman. Panjang rambutnya sepundak. Tanpa banyak basa basi, wanita itu langsung memberondong Tyas dengan berbagai pertanyaan. ”Anda disini ingin mendapat gaji berapa?”, ”Saya ingin mendapat gaji 10 juta Bu”, jawab Tyas tegas. ”Anda ini termasuk berani ingin mendapat gaji 10 juta, kalau begitu Anda di perusahaan ini ingin ditempatkan di bagian apa?”, ”Saya menginginkan di bagian FA Bu,”. ”Oo begitu, asal tahu saja gaji di FA minimal dua juta tiga ratus, dipotong pajak, paling nanti dapatnya dua juta seratusan. Kenapa Anda tadi ingin gaji 10 juta?” Wanita itu agak tinggi nada bicaranya. ”Ibu tadi menanyakan saya ingin gaji berapa. Kalau pertanyaannya ”ingin”, tentu saya juga menjawabnya sesuai dengan keinginan saya. Penghasilan yang saya inginkan adalah 10 juta” Tyas menjawab singkat jelas. ”Kenapa Anda ingin di bagian FA?” tanya wanita itu lagi. ”Soalnya saya ini sangat menyukai bekerja dengan langsung menghadapi konsumen”. Agaknya jawaban Tyas ini menjadi pamungkas serentetan pertanyaan, kemudian Tyas dipersilahkan meninggalkan ruangan dan menunggu kembali panggilan berikutnya. Sudah dua kali Tyas duduk di kursi panas. Pikirannya sudah melayang. Sejenak termenung tidak ada 6 menit kembali, ”Kusumaningtyas harap memasuki ruang”. ”Apa lagi sekarang?”, batin Tyas. Memasuki ruang berikutnya bukan pria ataupun wanita yang menginterview. Kali ini yang dihadapi Tyas adalah soal-soal psikotes. Waduh sudah capek diinterview, belum sarapan, malah diberi soal. Lembar demi lembar Tyas menjawab soal psikotes. Sudah dua halaman yang berhasil dijawab oleh Tyas. Tinggal halaman terakhir, tapi bel menandakan berhenti sudah berbunyi. Keluar dari ruangan tes badan Tyas terhuyung, kunang-kunang kecil berkeliling di kepalanya. Untung saja Hp-nya berbunyi, kalau tidak mungkin Tyas sudah pingsan. Temannya Wati menelepon. ”Bagaimana tesnya”, ”Ya sudah selesai semua, tapi yang psikotes halaman terakhir belum aku kerjakan”. ”Ahh tidak apa-apa, itu gak begitu penting, aku malah cuma mengerjakan selembar”, ”Trus, kamu udah ketemu ama Bu Widya?” lanjut Wati di telepon. ”Siapa itu Bu Widya?” Tyas bingung. ”Ibu itu yang suka sama orang yang pintar dan punya semangat kerja, dia masih paro baya dan rambutnya sepundak, dia itu yang nantinya nyeleksi siapa yang berhak lolos”. Tyas berpikir sejenak, siapa ya? Jangan-jangan Ibu itu yang menginterviewnya tadi. ”Sudah, tadi aku sudah diinterview”. Selagi mengobrol dengan Wati Tyas melihat papan pengumuman terakhir seleksi rekruitmen. Banyak orang yang melihat. Satu persatu mulai meninggalkan tempat dengan muka lesu karena namanya tidak ada dalam daftar seleksi akhir. Tyas masih dalam keadaan telepon, dia melihat orang-orang satu-persatu meninggalkan tempat. Tyas melongok ke daftar yang lolos seleksi. Hanya empat yang lolos dari 156 pelamar dan ada nama Kusumaningtyas. ”Lho Wat, kok namaku ada di daftar pengumuman akhir, aku sungkan, tadi aku datang telat. Gak enak sama orang-orang?” Tyas tidak percaya kalau namanya ada dalam daftar. ”Ya wis to, itu bejomu2, berarti kamu diterima, ya udah siap-siap aja. Udah ya, selamat”, Wati menutup teleponnya. Tyas masih terbengong-bengong. Kemudian dia untuk kesekian kalinya dipanggil lagi. Empat orang yang diterima dikumpulkan dalam suatu ruangan. Di ruangan itu mereka di beri pengarahan. Akan ada tes lagi. Jadwal untuk besok adalah tes kesehatan. Kemudian mereka berempat akan melakukan tes akademis di Jakarta. Oleh karena itulah tes kesehatan penting dilakukan. Pihak perusahaan tidak menginginkan ada orang yang stress ketika di Jakarta karena tes di Ibukota negara itu sangat berat. Di ruangan itu juga ada Ibu Widya dan memberikan instruksi, ”Kalian harus bisa lolos tes, karena kalian ini akan ditempatkan di Jawa Timur. Asal kalian tahu orang dari Jawa Timur masih diperhitungkan oleh perusahaan. Jangan sampai kalah, dan jangan sampai mempermalukan saya yang telah memilih kalian”. Luar biasa perjuangan Tyas. Tidak rugi berangkat dari Malang malam-malam sehabis jaga stan di Matos, apalagi dia tidak bilang kekasihnya kalau ke Surabaya. Perjuangan berat itu mendapat balasan yang setimpal oleh Tuhan. Tyas diterima kerja di Axtra walaupun masih harus tes lagi di Jakarta. Setidaknya sudah 70% Tyas diterima. Sebelumnya di Surabaya Tyas memasukkan lamaran di berbagai perusahaan. Tidak ada panggilan membuat Tyas stress dan putus asa. Ada satu kunci keberhasilan Tyas. Ketika dia frustasi dia pinjam buku motivasi pada Wati. Tyas merasa pikirannya kering, kosong, dan tidak ada motivasi. Lembar demi lembar, halaman demi halaman Tyas membaca buku motivasinya Wati. Kemudian dia menemukan sebuah rahasia kehidupan yang berupa keinginan dan menuliskannya pada secarik kertas. Ternyata tulisan Tyas di kertas itu menjadi kenyataan. Dia berhasil di terima di Axtra dengan menyingkirkan para pesaingnya yang lain dan ajaibnya Tyas hanya melakukannya dalam waktu satu hari. Dia tidak tahu kalau wawancara diadakan dua kali. Tulisan di secarik kertas itu mengandung kekuatan yang sangat luar biasa. Tyas hanya menulis, ”AKU DITERIMA DI AXTRA MANDIRI PADA TANGGAL 16 JANUARI 2009”.
1 Advertising Financial
2 Keberuntungan

Pelabuhan Brondong, Lamongan

NELAYAN

  1. Organisasi

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu pemilik perahu-Pak Katelan-, diperoleh informasi tentang struktur organisasi nelayan di Pelabuhan Brondong, Lamongan. Struktur organisasi tersebut bisa di buat bagan sebagai berikut;

Dalam setiap perahu/ kapal mempunyai struktur organisasi sendiri, walaupun hanya juragan kapal dan awak kapal saja. Tetapi hubungan antara juragan kapal yang satu dengan yang lain bisa dibilang erat, mereka menganggap saudara karena sesama nelayan (mata pencaharian yang sama). Kekompakan para nelayan terjadi ketika mereka berkumpul membahas persoalan tentang pekerjaan (melaut). Hal yang sering dibahas dalam perkumpulan para juragan itu adalah tentang harga ikan atau hasil tangkapan yang lain. Karena itulah kumpulan para juragan ini menempati urutan teratas dalam struktur organisasi nelayan di Pelabuhan Brondong.

  1. Ekonomi

Kehidupan ekonomi para nelayan tersebut sangat sejahtera dan terjamin, jika melihat dari penghasilan yang diperoleh. Penghasilan yang diperoleh dalam sekali melaut adalah sebesar Rp.200.000-Rp.800.000/orang setelah dibagi dengan modal awal. Dalam kehidupan ekonomi, biasanya para nelayan ikut arisan. Dalam urusan yang lain biasanya istri para nelayan membelanjakan uang untuk sesuatu yang kadang tidak berguna,contohnya barang-barang elektronik,makanan dan cenderung berfoya-foya. Kehidupan mereka biasanya bersaing dengan tetangganya, apabila tetangganya mempunyai barang yang mewah maka yang lainnya membeli barang yang lebih. Biasanya istri para nelayan itu memakai perhiasan yang berlebihan,contohnya kalung,gelang atau cincin yang besar jika diukur dengan timbangan sekitar 5-7gram.

  1. Sosial-budaya

Nelayan-nelayan yang ada di Pelabuhan Brondong, Lamongan ini berasal dari berbagai daerah. Pada musim panen ikan (musim panen iwak) para nelayan berbondong-bondong pergi melaut untuk mencari penghasilan yang besar. dalam menangkap ikan, para nelayan ini bisa menghabiskan waktu sampai seminggu. Menurut Masyuri kegiatan ini di Jawa disebut mboro atau orang Madura menyebutnya dengan istilah ngandon, yakni kebiasaan bermigrasi musiman untuk melakukan penangkapan ikan ke tempat-tempat lain yang jauh dari tempat tinggalnya[1].

Budaya Mboro ini menyebabkan interaksi di antara nelayan, dan adaptasi teknologi dalam konteks ini bukan hal yang mustahil. Seperti yang dimiliki oleh Pak Lan yaitu sebuah kotak yang berupa elemen yang bisa menampung tenaga matahari yang digunakan untuk menyalakan VCD Player beserta sound system-nya. Tidak hanya itu, bahkan ada beberapa nelayan yang memiliki kapal yang berukuran lebih besar dari kapal Pak Lan mempunyai satelit atau alat detektor ikan.

  1. Modal

Untuk membuat sebuah perahu/ kapal ternyata membutuhkan biaya yang cukup besar, bahkan biaya yang dibutuhkan untuk membuat perahu/ kapal bisa mendapatkan satu buah Honda Jazz. Menurut penuturan Pak Lan (panggilan Pak Katelan) biaya untuk pembuatan kapalnya sendiri sebesar 132 juta, itu pun perahu/ kapal dalam kondisi kosongan. Untuk mendapatkan perlengkapan di dalam kapal seperti mesin, jaring, dan beberapa peralatan yang lain setidak-tidaknya membutuhkan biaya 250 juta.

Modal awal yang dibutuhkan didapatkan dari perorangan dalam hal ini didapatkan dari Pak Katelan selaku pemilik kapal. Tetapi dalam pembagian hasilnya,dibagikan sesuai dengan jumlah awak kapal,setelah dipotong dengan modal awal. Seperti yang dicontohkan saudara Hendri sebagai berikut

« Pendapatan rata-rata tiap kapal sekali berlayar sekitar 50-73 juta selama 10-13 hari.

« Hasil tangkapan senilai 50-73 diatas dibagikan ke masing-masing awak sejumlah 12-13 awak kapal.

« Masing-masing awak mendapatkan antara 1 sampai 1,5 juta sekali berlayar.

Perhitungan pendapatan :

Bagian mesin = 2 awak

Bagian kapal = 4 awak

Bagian jaring = 1/5 awak.

Sebagai contoh seumpama pendapatan kapal selama 10 hari adalah Rp. 73.000.000,00 dengan awak kaal sejumlah 13

Perhitunganya : 73.000.000 / 13 = 5.615.385

Maka bagian :

Mesin 2 X 5.615.385 = 11.230.769

Kapal 4 X 5.615.385 = 22.461.538

Jaring 0,5 X 5.615.385 = 2.807.692

Juragan 3 X 5.615.385 = 16.846.155

Total 53.346.154

Pendapatan per-awak :

73.000.000 - 53.346.154 = 19.653.846

19.653.846 / 13 = 1.511.834,308


KAPAL/ PERAHU

  1. Jenis kapal/perahu

Jenis kapal yang ada di pantai utara Jawa beragam. Selain itu juga memiliki ukuran yang berbeda-beda. Berdasarkan ukurannya ada dua jenis kapal. Yang pertama adalah tipe jukung, yaitu tipe perahu yang berukuran kecil, yang dibuat dari sebuah batang pohon yang dibentuk menjadi perahu, dengan kadang-kadang mempertinggi sampingnya dengan tambahan papan. Kedua adalah tipe mayang, yakni tipe perahu yang berukuran besar, yang dibangun seluruhnya dari papan, baik dengan haluan yang membesar, haluan dan yang melengkung ataupun tidak[2].

Kapal-kapal yang ada di Pelabuhan Brondong mayoritas berukuran besar-besar. Kapal yang kami teliti adalah kapal jaya Bakti, yang lumayan besar. Jika dilihat dari ciri-dirinya Kapal yang bernama Jaya Bakti ini termasuk tipe mayang. Kapal jaya bakti ini dulunya adalah perahu yang menggunakan layar yang sering disebut dengan perahu layar. Sering dengan perkembangan jaman perahu layar ini diberi mesin untuk menjalankan kapal. Perahu ini digunakan sebagai penangkapan ikan. Sehingga disebut kapal jenis untuk penangkapan ikan.

  1. Kepemilikan

Kapal-kapal yang ada di tempat pelelangan ikan (TPI) Brondong ini mayoritas adalah kapal swasta (milik sendiri). Dimana kapal tersebut dibeli oleh seseorang dengan modal sendiri atau keluarga dan orang tersebut memperkerjakan beberapa nelayan di kapal tersebut (menjadi awak kapal) untuk penangkapan ikan.

Kapal yang kami teliti bernama Jaya Bakti. Kapal Jaya Bakti adalah kapal swasta yang pemiliknya bernama Pak Katelan yang berasal dari daerah Palang, Tuban. Selain pemilik kapal, Pak Lan (panggilan Pak Katelan) juga seorang nelayan, jadi Pak Lan juga juga ikut dalam berlayar untuk menangkap ikan langsung dengan pekerjanya (awak kapalnya).

Pak Lan mempunyai 13 awak kapal. Para awak kapal ini berasal dari berbagai daerah, ada yang asli Brondong, Pemalang, Tuban.

  1. Spesifik Kapal

Kapal Jaya bakti ini mempunyai ukuran panjang 12m, lebar 5m, Tinggi 2m. Dalam berlayar untuk penangkapan ikan dan peralatan-peralatan penangkapan ikan. Kapal Jaya Bakti ini membutuhkan biaya operasional ± 6 juta satu kali berlayar dengan rincian penggunaan sebagai berikut:

    • Pembelian gas 4 drum
    • Beras 60 kg selama berlayar
    • Es 120 bal untuk penyegaran atau pengawetan ikan
    • Biaya perbaikan kerusakan kapal dan peralatan penangkapan pelayaran.

Biaya-biaya tersebut yang ± 6 juta diambil dari uang hasil melaut atau penjualan hasil tangkapan. Daya angkut kapal Jaya Bakti tersebut ± 8 ton, yaitu berat perkakas kapal dan peralatan berlayar 3 ton, 13 orang x 50 kg, ikan atau hasil penangkapan 3 ton.

Kapal ini mempunyai tiga bagian:

  1. Bagian depan terdiri dari
    • Tiang, berfungsi sebagai penyangga layar
    • Bagasi depan, sebagai penyimpanan persediaan makanan
  2. Bagian tengah terdiri dari:
    • Mesin gardan, mempunyai tenaga 30 bk, digunakan untuk menggulung jaring, sebagai jaring penangkapan ikan
    • Andang-andang terbuat dari bambu sebagai penyimpanan barang atau jaring cadangan dan pakaian
    • 6 bagasi untuk penyimpanan hasil tangkapan dan diawetkan dengan es batu (satu bagasi berisi 8 kwintal ikan).
  3. Bagian belakang, terdiri dari:
    • Diesel, untuk penggerak kapal
    • Dua kemudi kapal kiri dan kanan
    • Kotak tenaga surya, dari tenaga surya, untuk menghidupkan VCD, tape, dan lampu

Di samping tiga bagian tersebut, terdapat dua bagian lagi yaitu:

Þ Bagian samping kiri terdapat delapan bagasi yang berisi tampar yang panjangnya 900m.

Þ Bagian samping kanan terdapat delapan bagasi kosong untuk menguras air.

Selain itu terdapat peralatan yang lain yang terdapat di dalam kapal seperti

Þ Ban, yang diletakkan disamping yang berfungsi sebagai pelindung agar buritan kapal tidak rusak ketika berbenturan dengan pinggir pelabuhan ataupun dengan kapal yang lain.

Þ Tong, untuk tempat kompor dan peralatan masak

Þ Dua jangkar sebagai patokan kapal

Þ Bendera, sebagai identitas kapal

Þ Tangga penyeberangan


HASIL TANGKAPAN DAN SISTEM PENGELOLAANNYA

Mayoritas penduduk Kecamatan Brondong menggeluti profesi keseharian sebagai nelayan. Pekerjaan ini yang menjadikan masyarakat di sekitar Pelabuhan Brondong, Lamongan untuk terus eksist bertahan hidup, meskipun pusaran ekonomi yang tidak menentu dan kadang-kadang tidak berpihak kepada mereka. Ini tampak dari berbagai keluhan masyarakat pesisir yang berhasil kami wawancarai. Contohnya, mereka terkesan tidak tahu menahu dengan kondisi perpolitikan di Indonesia (apolitis) tetapi lebih mementingkan aspek kesejahteraan ekonomi mereka sendiri—keluhan mendasar mereka terutama pada melambungnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM)[3].

Secara umum, aktivitas perekonomian masyarakat Brondong terpusat di pasar pelabuhan. "Jam-jam sibuk" penduduk berkisar antar jam 10.00-14.00 siang. Di pelabuhan tersebut terdapat PPI (Pusat Pelelengan Ikan); merupakan tempat berlabuhnya hasil tangkapan nelayan yang baru melaut. Di depan PPI terdapat pabrik pengeringan ikan yang hasilnya berupa ikan-ikan kering (asin) berbagai jenis seperti ikan teri nasi, ikan kapas, ikan selar. Hasil pengeringan ini merupakan produk "ekspor lokal'' yang dikirimkan ke sejumlah kota-kota besar di Jawa Timur, seperti: Malang, Jember, Surabaya dan juga luar Jawa Timur seperti Bali dan Jakarta.

Selain itu, jenis ikan hasil tangkapan nelayan Brondong antara lain: ikan jaket, ikan layang, ikan kakap merah, ikan bukur, udang, cumi-cumi dan lain-lain. Hal yang paling umum yang dilakukan nelayan disana adalah melakukan penyimpanan hasil tangkapan selama 4-5 hari, setelah itu baru di jual ke pengepul ataupun langsung ke PPI. Ikan tangkapan yang disimpan tersebut termasuk dalam ikan-ikan kualitas ekspor.




[1] Masyuri, Menyisir Pantai Utara: Usaha dan Perekonomian Nelayan di Jawa dan Madura 1850-1940, (Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama), hal 44.

[2] Masyuri, Menyisir Pantai Utara, ibid, hal 42.

[3] Wawanara dengan Rohim (28 tahun), salah seorang awak kapal Jaya Bakti di Pelabuhan Brondong, Lamongan tanggal 28 Juni 2008.

SISTEM PENGUASAAN TANAH PADA MASA PEMERINTAHAN LETNAN GUBERNUR JENDERAL RAFFLES (1811-1816)

SISTEM PENGUASAAN TANAH PADA MASA PEMERINTAHAN LETNAN GUBERNUR JENDERAL RAFFLES (1811-1816)

Oleh:
Agung Ari Widodo

Tanah menjadi persoalan yang penting bagi negara yang bersifa agraris. Tanah merupakan hasil evolusi dan mempunyai susunan teratur yang unik yang terdiri dari lapisan-lapisan atau horison-horison yang berkembang secara genetik1. Karena itulah dalam lapisan tanah terkandung zat-zat kimia yang bisa menyuburkan tanah. Pengolaan tanah mulai dilakukan oleh manusia pada masa bercocok tanam. Masa ini adalah perubahan dari food gathering menjadi food producing. Hal ini ditandai oleh cara hidup menetap di suatu perkampungan. Masa bercocok tanam di Indonesia dimulai kira-kira bersamaan dengan berkembangnya kemahiran mengupam alat-alat batu serta mulai dikenalnya pembuatan gerabah2. Kontinuitas ini berlanjut pada masa klasik atau dikenal dengan masa kerajaan Hindhu Budha di Indonesia. Pada masa ini mulai ada aturan-aturan mengenai tanah. Sistem pajak juga mulai diterapkan karena pada masa kerajaan (yang nantinya berlanjut ke masa Islam), tanah merupakan milik raja dan rakyat mengelola tanah atas perintah raja. Setiap masa panen rakyat memberikan upeti kepada raja. Pada jaman kerajaan klasik juga dikenal istilah sima yaitu pembebasan tanah dari pajak yang digunakan untuk membangun bangunan suci (candi)3. Tanah merupaka salah satu elemen bumi yang penting. Di dalamnya terkandung zat-zat yang humus dan yang lain yang menyuburkan tanah. Indonesia juga mempunyai predikat julukan sebagai negara agraris (selain negara maritim tentunnya). Tanah di Indonesia sangat subur, maka tak heran jika dalam lirik lagu koes plus ada istilah bahwa Indonesia adalah tanah surga, tonggak yang ditancapkan pun bisa tumbuh. Kekayaan alam di Indonesia inilah yang mengundang datangnya para penjelajah dari Barat termasuk Belanda. Awalnya mereka bertujuan berdagang, dengan membeli rempah-rempah di Indonesia (nusantara) kemudia dijual atau dipasarkan ke Eropa. Tapi karena ada persaingan dagang di Indonesia, maka pada 22 Maret 1602 Belanda mendirikan VOC yang bertujuan menghindari persaingan dengan kongsi dagang dari negara lain (EIC, dsb) dan melakukan monopoli perdagangan. Pada masa kolonial Belanda (VOC) terjadi pengekspliotasian tanah dan hasil bumi. Rakyat diperas dengan mewajibkan menyerahkan hasil bumi sebagai pajak pada penguasa pribumi dan VOC. Selain itu beberapa orang dari rakyat disuruh melakukan kerja rodi di dalam benteng-benteng, pabrik-pabrik, untuk pertahanan dan pekerjaan umum lainnya, untuk mengangkut barang-barang di daratan, untuk mengurus keperluan-keperluan bagi militer dan pegawai-pegawai yang bepergian, untuk pos, untuk penebangan kayu, pembuatan garam, untuk membuat jalam dan parit-parit4. Pola ekonomi yang di anut Belanda (baik masa VOC maupun pemerintahan Hindia Belanda) inilah yang disebut capital finance yaitu mengeksploitasi hasil bumi dan membeli dengan harga murah untuk mendapatkan laba yang sebesr-besarnya. Keperkasaan VOC mulai surut pada pertengahan abad ke-18. Korupsi merajalela dalam birokrasi VOC. Akhirnya pada 31 Desember 1799 VOC dibubarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Pada waktu itu Negeri Belanda sendiri dikuasai oleh Perancis. Paham liberte, egalite, dan freternite mempengaruhi kebijakan pemerintahan di Indonesia yang dipegang oleh Dirk van Hogendorp (1799-1808). van Hogendorp berpendapat bahwa stelsel feodal yang terdapat di Indonesia mematikan segala kemauan berusaha dan penyebab penyakit masa bodoh orang-orang Jawa yang ia lihat5. Untuk mengatasi hal itu maka van Hegendorp memberikan usul bahwa keduduka bupati dan penguasa daerah diatur kembali, pemilikan atau penguasaan tanah sebagai sumber pemerasan dicabut dan tanah dikembalikan kepada rakyat6. Hal ini berarti bahwa rakyat diharapkan bisa mengolah tanahnya sendiri dan bisa mendapatkan penghasilan maksimal. Penyerahan wajib dilarang kemudian diganti oleh pajak menurut penghasilan7. Sistem van Hogendorp ini mirip seperti yang diterapkan Raffles nantinya. Keadaan Keamanan koloni Belanda mulai terdesak oleh saingannga, Inggris. Karena itulah koloni-koloni Belanda dipertahankan, khususya di Indonesia (Hindia Belanda8). Herman Willem Daendels diutus untuk menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Belanda dan bertugas mempertahankan Pulau Jawa dari Inggris. Sebenarnya pada masa Daendels kebijakan dari van Hogendorp masih dipertahankan. Tapi karena ada serangan dari Inggris, maka Daendels harus mempertahankan pulau Jawa dengan membangun Jalan Raya Pos (Grote Postweg). Otomatis untuk keperluan proyek raksasa ini diperlukan tenaga kerja dalam jumlah besar. Oleh karena itu wajib-kerja (verplichte diensten) dipertahankan. Disamping itu wajib-penyerahan juga masih berlaku, sehingga pada masa pemerintahan Daendels sebenarnya sistem tradisional masih berjalan terus9. Tidak lama setelah kepergian Gubernur Jenderal Daendels dari Indonesia (Hindia Belanda), Jawa diduduki oleh Inggris pada tahun 1811. Sebagai pemerintahannya dipegang oleh Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles10. Meskipun hanya lima tahun berkuasa (1811-1816), Raffles telah meletakkan dasar-dasar kebijakan ekonomi yang sangat mempengaruhi sifat dan arah kebijaksanaannya pemerintahan kolonial Belanda yang dalam tahun 1816 mengambil alih kembali kekuasaan dari pemerintahan kolonial Inggris11. Kebijakan Raffles bisa dikatakan merupakan sebuah revolusi agraria. Ideologi dari Revolusi Perancis sangat mempengaruhi kebijakan Raffles.

Kebijakan Sistem Sewa Tanah

Tahun 1811 Letnan Gubernur Jenderal Raffles mulai memerintah di Indonesia. Azas-azas pemerintahan Raffles ini sangat dipengaruhi pengalaman Inggris di India12. Pada hakekatnya Raffles ingin menciptakan suatu sistem ekonomi di Jawa yang bebas dari segala unsur paksaan yang dahulu melihat pada sistem penyerahan paksa dan pekerjaan rodi yang dijalankan oleh VOC dalam kerjasama dengan raja-raja dan para bupati13. Secara konkrit Raffles Ingin menghapus segala penyerahan wajib dan pekerjaan rodi yang selama jaman VOC selalu dibebankan kepada rakyat, terutama para petani. Karena itulah Raffles mengeluarkan kebijakan Landrent atau sewa tanah. Para penguasa tanah menyewakan tanah dan yang menyewa otomatis membayar sewa berupa uang. Oleh karena itu sistem ekonomi Inggris di Indonesia disebut commers finance. Pada tahun 1813 Raffles mengeluarkan kebijakan Landrent yang isinya sebagai berikut: Menghapuskan segala penyerahan paksa hasil-hasil tanah dengan harga-harga yang tidak pantas, dan penghapusan semua rodi, dengan memberikan kebebasan penuh dalam penanaman dan perdagangan. Pengawasan tertinggi dan langsung dilakukan oleh pemerintah atas tanah-tanah dengan menarik pendapatan dan sewaannya tanpa perantara bupati-bupati, yang pekerjaannya selanjutnya akan terbatas pada pekerjaan-pekerjaan umum. Menyewakan tanah-tanah yang diawasi pemerintah secara langsung itu dalam persil-persil besar atau kecil, menurut keadaan setempat, berdasarkan kontrak-kontrak untuk waktu yang terbatas14. Melihat dasar-dasar di atas terlihat bahwa kebijakan Raffles dipengaruhi oleh faham dari Revolusi Perancis (liberte, egalite, dan freternite). Kebijakan Raffles ini juga mirip dengan kebijakan dari van Hegendorp. Sistem sewa tanah yang kemudian dikenal dengan nama landeljk stelsel bukan saja diharapkan dapat memberikan kebebasan dan kepastian hukum kepada para petani dan merangsang juga arus pendapatan negara yang mantap15. Kebijakan yang dikeluarkan oleh Raffles ini diharapkan bisa menguntungkan petani Indonesia. Perubahan yang dilakukan Raffles bisa dikatakan revolusioner, karena mengandung perubahan azazi, yaitu dihilangkannya unsur paksaan atas rakyat dan digantikannya dengan sistem hubungan ekonomi antara pemerintah di satu pihak dan rakyat di lain pihak berdasarkan kontrak yang diadakan sukarela oleh kedua belah pihak16. Dengan demikian maka dasar masyarakat Jawa yang tradisional hendak digantikan dengan dasar kehidupan masyarakat seperti yang dikenal di negara-negara Barat. Demikian pula ekonomi masyarakat Jawa yang tradisional dan feodal hendak digantikan dengan sistem ekonomi yang berdasarkan atas lalu lintas pertukaran yang bebas.

Pelaksanaan Sewa Tanah

Sistem sewa tanah tidak dilaksanakan di seluruh Jawa. Misalnya saja di daerah sekitar Jakarta, pada waktu itu Batavia, maupun di daerah-daerah Periangan sistem sewa tanah tidak diadakan, karena daerah-daerah sekitar Jakarta pada umumnya adalah milik swasta (tanah partikelir), sedangkan di daerah Periangan pemerintah kolonial berkeberatan untuk menghapus sistem tanam wajib kopi yang memberi keuntungan yang besar dan menghasilkan hasil ekspor yang utama. Karena itu di Periangan sistem pemerintahan lama tetap dipertahankan, dengan nama stelsel Periangan (Preangerstelsel) dan berlangsung terus sampai tahun 187017. Hal pertama yang dilakukan Raffles dalam melaksanakan sistem sewa tanah adalah menggantikan kekuasaan kepala daerah yang kuno dengan suatu pemerintahan Eropa yang langsung18. Jadi dalam melakukan pembayaran pajak, rakyat langsung membayar ke pusat tidak melalui perantara penguasa daerah. Raffles tidak menggunakan para bupati atau penguasa daerah untuk memungut pajak karena supaya tidak terjadi korupsi dan pemerasan terhadap rakyat. Sistem ini memang sangat bagus, tapi nantinya akan menjadi kelemahan kebijakan Raffles. Dengan tidak digunakannya para penguasa daerah ini, maka pejabat-pejabat dari Eropa mengisi jabatan yang dulunya diemban oleh para penguasa daerah tersebut. Bertambahnya pengaruh dari pejabat-pejabat Eropa, pengaruh para Bupati semakin berkurang. Bahkan diantara pejabat-pejabat Eropa timbul keinginan untuk menghilangkan sama sekali jabatan bupati. Tidak mengherankan bahwa perkembangan ini sangat menggelisahkan para bupati yang sebelum Raffles mempunyai kekuasaan dan gengsi sosial yang amat besar19. Ketika jaman VOC maupaun kolonial Belanda, para Bupati diberi tanah sebagai imbalan atas jasa-jasa mereka dalam mengelola pajak atau upeti. Bukan saja tanah yang mereka peroleh, akan tetapi menurut kebiasaan adat mereka dapat pula menuntut peneyerahan wajib hasil-hasil pertanian maupun hasil kerja rodi dari penduduk yang tinggal di atas tanah milik bupati tersebut. Di bawah Raffles kebiasaan ini dihapus dan para bupati kemudian diberi gaji dalam bentuk uang untuk jasa-jasa mereka kepada pemerintah kolonial20. Karena itu para bupati itu hanya hanya dapat memungut pajak tanah saja daripada tanah jabatannya21. Perubahan yang dibuat Raffles dalam sistem politik kolonial Inggris adalah pembaharuan keuangan dalam hubungan antara orang pribumi dengan orang Eropa22. Raffles percaya bahwa sistem pajak tanah tidak hanya untuk membebaskan sejumlah besar penduduk dari perbudakan dan ikatan feodal, tetapi juga untuk kepentingan keuangan pemerintah Inggris23. Jadi petani di daerah kerajaan hanya memiliki hak pakai dan hak garap atas tanah penguasa. Dengan kata lain petani hanya menjadi penyewa dari raja. Pandangan ini telah melahirkan praktek kewajiban bagi petani untuk menyetorkan sejumlah tertentu dari hasil tanah (menurut pemerintah Inggris disebut pajak)24. Jika melihat fakta di lapangan ternyata pelaksanaan pembayaran pajak belum berjalan maksimal. Seperti contoh kasus di daerah Besuki, Panarukan, dan Probolinggo. Mengingat kondisi masyarakat di Besuki, Panarukan, dan Probolinggo pernah dikuasai oleh tuan tanah Cina, David Hopkins menggunakan kepala pribumi (petinggi aris) dalam pemungutan pajak25. Di sini tampak bahwa sekalipun Raffles ingin memajaki petani secara perorangan dan menghapus peranan pribumi, namun dia masih menggunakan petinggi aris untuk bertanggung jawab bagi penarikan pajak tanah26. Sebenarnya peranan petinggi aris sebagai perantara pemungut pajak sudah dimanfaatkan sejak komisaris pajak tanah dipegang oleh John Crawfurd27. Pajak ini diterima dari petinggi setiap desa tanpa melakukan hubungan langsung dengan petani28. Hal inilah yang menyebabkan pemerasan terhadap petani yang dilakukan oleh petinggi desa. Besarnya pajak yang harus dibayar tidak diketahui oleh petani sehingga petinggi desa melakukan penarikan pajak dengan seenaknya. Mengingat bahwa Raffles hanya berkuasa dalam waktu yang singkat, yaitu lima tahun, dan mengingat pula terbatasnya pegawai-pegawai yang cakap dan dana-dana keuangan, tidak mengherankan bahwa Raffles akhirnya tidak sanggup melaksanakan segala peraturan yang berhubungan dengan sistem sewa tanah itu. Perubahan-perubahan struktural yang dilakukan Raffles tidak disertai dengan perubahan mentalitas dan kultural pada masyarakat tradisonal29. Ide-ide Raffles merujuk dari sistem yang ada di Inggris dan juga yang diterapkan di India. Jika dilihat dari negaranya, Inggris merupakan negara yang secara ekonomi terutama segi industrinya sudah maju (modern). Masalah terbesar Raffles yang juga menjadi biang kegagalannya dalam menerapkan sistem sewa tanah adalah keadaan masyarakat Indonesia (Jawa) yang masih sangat feodal dan sistem ekonomi yang masih tertutup. Jadi pembayaran pajak belum sepenuhnya dilakukan dengan menggunakan uang tapi in natura30. Pelaksanaan sistem sewa tanah memang gagal dilaksanakan di Indonesia. Tapi setidaknya Raffles sudah berupaya untuk memodernkan masyarakat Indonesia khususnya Jawa. Setelah diadakan Traktat London, yang isinya bahwa semua koloni Belanda yang dikuasai Inggris dikembalikan kepada Belanda kecuali Tanjung Harapan dan Ceylon. Raffles kemudian meninggalkan Jawa. Walaupun Gagal di Jawa, Raffles menuai keberhasilan di Singapura.
Epilog Kebijakan Raffles mengenai sistem sewa tanah menunjukkan bahwa Raffles menentang adanya pemerasan dan feodalisme. Pengaruh dari Revolusi Perancis mengilhami Raffles dalam mengeluarkan kebijakan sewa tanah. Kebijakan ini diharapkan bisa menambah pendapatan petani dan pemerintah. Petani diberi kebebasan untuk mengolah tanahnya sendiri agar bisa menghasilkan pendapatan yang maksimal. Dari pendapatan ini akan ditarik pajak penghasilan dan dibayar berupa uang. Bisa dikatakan kebijakan ini merupakan perubahan yang revolusioner karena menyangkut hal yang asasi yaitu menghapus sistem feodal. Melihat kenyataan dilapangan, ternyata pelaksanaan sistem sewa tanah tidak memenuhi harapan. Faktor kultural tradisional menjadi penghalang utama pelaksanaan sewa tanah ini. Rakyat sudah terpatrun untuk membayar pajak pada penguasa daerah (bupati-bupati). Lagi pula rakyat Indonesia khususnya Jawa pada waktu itu belum siap dalam melakukan transaksi menggunakan uang. Bisa dikatakan Raffles mengeluarkan kebijakan yang terburu-buru. Dia menggunakan rujukan dari sistem yang ada di Inggris yang melakukan penerapan di India. Tentu saja kultur masyarakat India dan Indonesia sangat berbeda. Ada dampak positif dan negatif dari sistem sewa tanah Raffles. Dampak positifnya antara lain: Memperkenalkan sewa tanah dengan titik berat pada pajak dan ekonomi uang atau moneter. Menunjukkan pemerintahan yang sentralistis. Menunjukkan gaya yang memadukan otoriter versus demokrasi. Dihapuskannya kerja rodi dan upeti. Kopi merupakan sumber pendapatan pemerintah yang terjamin. Sedangkan dampak negatifnya: Menumbuhkembangkan kebencian rakyat pemilik tanah. Timbulnya kerugian yang cukup besar bagi pribumi. Menumpahnya kekecewaan para Sultan, Bupati, dan bangsawan akibat pengambilan pajak secara langsung pada distrik-distrik dan desa-desa serta kepala-kepala rakyat. Petani tidak boleh menjual, membeli maupun menggadaikan tanah. Mendapat reaksi yang keras dari Vallenhoven dan mazhab adatnya yang secara substansi menegaskan bahwa bahwa petani yang hidup di desa-desa diperintah oleh orang-orang tua dan berpegang pada aturan-aturan adat, karena itu tanah merupakan bagian integral dari adat maupun kekuatan desa31 Kebijakan Raffles di Indonesia ini bisa dijadikan refleksi bagi keadaan Indonesia sekarang. Sistem feodal dari jaman kolonial Belanda masih ada sampai sekarang. Orang-orang Indonesai masih memliki gengsi dan orientasi kerja pada Pegawai Negeri Sipil (PNS). Padahal di Indonesia kesempatan untuk menjadi wiraswasta terbuka lebar. Kebebesan alam dan pikiran bisa menjadi uang. Dan akan lebih baik dan sukses jika bisa menjadi PNS dan pengusaha...

DAFTAR RUJUKAN

Burger, D.H. 1956. Sejarah Ekonomi Sosiologis Indonesia. Jakarta: Prajnaparamita.
Foth, Henry D. 1991. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Kartodirdjo, Sartono. 1999. Pengantar Sejarah Indonesia Baru Jilid 1. Jakarta: Gramedia.
Leirisa, R.Z. 1984. Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV (edisi revisi). Jakarta: Balai Pustaka.
Soejono, R.P. 1984. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 1. Jakarta: Balai Pustaka.
Sumadio, Bambang. 1984. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka.

Sutjipto, F.A. 1975. Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Soewito, Marwoto dkk. 2000. Sistem Pemerintaha Indonesia Raffles, Belanda, dan Jepang. Bandung: Koperasi “Abdi Praja” STPDN.
Wijayanti, Putri Agus. 2001. Tanah dan Sistem Perpajakan Masa Kolonial Inggris. Yogyakarta: Tarawang Press.
1 Henry D. Foth, Dasar-dasar Ilmu Tanah, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1991), hal 3. 2 R.P. Soejono, Sejarah Nasional Indonesia Jilid 1, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), hal 167. 3 Lihat Bambang Sumadio, Sejarah Nasional Indonesia Jilid II, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984). 4 D.H. Burger, Sejarah Ekonomi Sosiologis Indonesia, (Jakarta: Prajnaparamita, 1956), hal 113. 5 Ibid, hal 145-146 6 Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru Jilid 1, (Jakarta: Gramedia, 1999), hal 290. lihat juga D. H Burger, op cit, hal 145. 7 Ibid. 8 Pada masa kolonial di Indonesia, sebutan bagi Indonesia ketika itu adalah negara koloni Hindia Belanda. 9 Sartono Kartodirdjo, op cit, hal 292. 10 Raffles merupakan wakil dari Lord Mintho untuk memerintah di Indonesia. Karena itulah Raffles bergelar Letnan Gubernur Jenderal. 11 F.A. Sutjipto, Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1975) hal 57. 12 Ibid 13 Ibid 14 D.H. Burger, op cit, hal 147. 15 R.Z. Leirisa, Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV (edisi revisi), (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), hal 91. 16 Ibid 17 F.A. Sutjipto, op cit, hal 59-60; D.H. Burger, op cit, hal 151. 18 D.H. Burger, ibid, hal 152. 19 F.A. Sutjipto, op cit, hal 61 20 Ibid 21 D.H. Burger, op cit, hal 155. 22 Putri Agus Wijayanti, Tanah dan Sistem Perpajakan Masa Kolonial Inggris, (Yogyakarta: Tarawang Press, 2001), hal 119. 23 Ibid, hal 120. 24 Ibid, hal 122. 25 Ibid, hal 125. David Hopkins adalah komisaris pajak tanah yang bertugas menerima dan mengatur pembayaran pajak di Keresidenan Besuki. 26 Ibid. 27 Komisaris John Crawfurd adalah komisaris pajak tenah sebelum David Hopkins. Pada Agustus 1813 Crawfurd dipindah tugaskan ke daerah Kedu, selanjutnya untuk wilayah Besuki dipegang Oleh David Hopkins. Lihat pada Ibid, hal 123. 28 Ibid. 29 Sartono Kartodirdjo, op cit hal 293. 30 Ibid. 31 Marwoto Soewito, dkk, Sistem Pemerintaha Indonesia Raffles, Belanda, dan Jepang, (Bandung: Koperasi “Abdi Praja” STPDN, 2000), hal 12.

Senin, 12 Januari 2009

Nyo2 Kepompong Imutku


begitulah aku memanggilnya. wanita inilah yang mengubah hidupku yang semakin bermakna. kami sudah menjalin suatu kata indah yang bernama "cinta". alhamdulillah kini kita menapaki tahun ke 4.
wajahnya imut, lucu, agak bulat. badannya montok, bagus berisi bagaikan arca dewi durga. badannya lumayan tinggi untuk wanita seukuran dia. sungguh wanita yang aku idam-idamkan. sampai tidak bisa tidur aku karena membayangkannya. namanya seindah orangnya, Dewi Kusumaningtyas, yang kira-kira maknanya seorang dewi yang menyegarkan hati yang lara
aku mengenalnya ketika masih smp, tepatnya kelas 3. ketika itu aku dikenalkan oleh seorang teman kelas, namanya nela. sebenarnya nela ini memperkenalkan dewi pada bram, teman sekelasku juga. kata nela waktu itu, dia bilang pada bram, "aku punya teman yang asyik, manis dan enak diajak ngobrol". bram percaya saja. di kelasku bram ini orangnya agak jahil kalau masalah wanita.
bram mengajakku berkenalan dengan temannya nela. ketika itu aku mau saja. sepulang sekolah kami ketemuan di parkiran sepeda. aku dan bram menunggu nela dan temannya. ketika mereka berdua datang, kami berkenalan. inilah perkenalan awalku dengan dewi. ketika itu badan dewi agak tambun, tapi wajahnya manis, semanis gula putih. waktu itu aku belum pernah merasakan yang namanya pacaran, dan begitu muak ketika mendengar kata cinta. hal ini nantinya berlangsung sampai sma. aku melihat wajah bram. dia senang sekali, dan seperti berbunga-bunga. aku membatin, "kamu sudah berapa kali menjahili wanita bram??". diam-diam aku eman kepada dewi, jangan sampai jadian sama bram.
semenjak perkenalan itu aku jarang ketemu dewi. sebenarnya aku ini orangnya pemalu kawan, dan kurang bisa bergaul, tapi mind setku ini berubah ketika mengenal cinta. aku juga tidak tahu apakah bram juga sering ketemu dengan dewi.. aku tidak tahu. mungkin cuma say hello, atau cuma bertemu di kantin atau ketika pulang. kau tahu kawan bram ini orangnya manja dan masih nempel sama ibunya. suatu penyakit psikologi. dan dewi tidak suka dengan anak manja...

cerita berlanjut, lulus smp aku berlanjut daftar ke sman 1 kertosono. ketika mendaftar aku agak ketir-ketir karena nilai NEMku agak jeblok, cuma 36, 97. tapi aku harus masuk sma ini karena sma ini satu-satunya sma negeri di kecamatan kertosono. aku juga tidak tahu apakah memang jodoh atau apa aku bertemu dengan dewi dan kami mendaftar bareng. sehari aku memantau perkembangan calon siswa yang mendaftar dengan dewi. ternyata anak perempuan ini enak diajak ngobrol. perangainya ceria, suka bercerita, tipe sanguinis populer. aku merasa enjoy ketika ngobrol dengannya. kami saling berbagi info, berapa calon siswa yang daftar.
mendaftar ke sma favorit dengan NEM pas-pasan membuatku ketir-ketir sampai di rumah. sampai-sampai malam harinya aku tidak bisa tidur, diterima apa tidak ya...
paginya aku ke sekolah (sma) lagi dan bertemu dengan dewi dengan wajah ceria sumringah. dia memberi berita bagus, aku diterima di sma 1 kertosono dengan diurutan 10 dari bawah. alhamdulillah akhirnya aku bisa tidur nyenyak. langsung aku berterima kasih dengan dewi.. tapi kok pada waktu itu aku belum merasakan jantung yang berdebar karena cinta ya, aku masih menganggap dewi sebagai sahabat.
keesokan harinya diadakan pembagian kelas. aku masuk pada kelas 1.5, dewi di 1.3. kelas ini nantinya menjadi suatu kelompok pada kegiatan MOS (masa orientasi siswa), kegiatan yang sudah menjadi tradisi. aku tidak bercerita banyak tentang MOS, karena tidak ada hal yag menarik yang diceritakan.
hatiku mulai agak terbuka kepada dewi ketika sma kelas 1. dia sering lewat kelasku dan sering minjam kamus bahasa inggrisku. pernah suatu ketika aku melihat wajah dewi yang begitu muanis ketika meminjam kamus. baru kali ini aku melihat wajah semanis itu.. begitulah secara berulang-ulang aku sering ketemu dengan dewi..
aku agak kaget ketika melihat dewi pulang sekolah. dia seperti preman saja.. baju seragamnya dikeluarkan, dan berjalan seperti laki-laki. kalau masalah berjalan, dewi memang seperti laki-laki baik ketika masih smp maupun sma, tapi ketika kuliah semakin feminim dan semakin cantik..kembali ke masa sma.. aku seperti tidak percaya apa yang aku lihat, inikah aslinya dewi? kok seperti Xena (tokoh film ksatria wanita dari yunani). dia mendekati cendela kelas tempat aku melihatnya. waduh, semakin takut aku, kalau aku dibogem bagimana?? tapi aku siap, walaupun tampang melankolis tapi aku ini siap menghadapi apa pun. semakin dekat, keluarlah keriingat dinginku. sampai di depan cendela, dia malah tersenyum ketika melihatku, "lho kamu gak pulang?? eh iis mana? aku mau bareng pulang sama dia".. ealah aku kira mau nonjokkin atau mau memalak minta duit, ternyata mencari temannya iis yang sekelas denganku.. tidak jadi aku mengeluarkan beberapa jurus dalam bela diri...

kelas 2 sma. kata orang-orang, kelas 2 sma merupakan masa remaja yang paling indah. masa yang asyik untuk pacaran, untuk berpetualang, untuk berorganisasi. dan tidak aku sangka, aku sekelas dengan dewi...
orang bertipe sangunis memang enak untuk diajak ngobrol. orangnya asyik, selalu ceria, dan bisa menghibur temannya yang sedih. sifat itu ada dalam diri dewi. di kelas dua aku sering berbagi cerita dengan dewi. memang ada kecocokan kalau orang berwatak melankolis seperti aku bertemu dengan orang berwatak sanguinis seperti dewi.
awalnya kami hanya saling cerita. tapi lama-kelamaan timbul suatu rasa yang aneh dalam diriku. hatiku makin enak dan hangat ketika bertemu dengan dewi. dan merasa agak cemburu ketika dewi jalan maupun ngobrol dengan orang lain. ada seorang temanku, dia bernama arifin. anak ini bertubuh gagah perkasa seperti bima. arifin ini juga sangat dekat dengan dewi semenjak hubungan dengan pacarnya agak renggang. arifin ini teman belajarku, ketika kami belajar bersama dia pernah bilang kalau dia ada rasa sama dewi. begitu mendengarnya aku langsung berdebar.. rasanya hatiku ingin melarang arifin jadian sama dewi. dengan refleks aku menjawabnya," ingat fin, kamu kan masih punya pacar".
arifin sering mengajakku ke rumahnya dewi. secara tidak langsung dia berjasa telah mengajakku ke rumahnya dewi. perasaanku semakin agak panas ketika arifin sangat memperhatikan dewi, bahkan sampai ketika dewi sakit, dia selalu membawakan obat dan membelikan makanan. wah persaingan dimulai. saking seringnya arifin ke rumahnya dewi, sampai-sampai ibunya dewi menganggapnya seperti anak sendiri. aku tidak mau kalah, aku juga harus bisa mendekati ibunya dewi. aku selalu ikut ketika ke rumahnya dewi. bahkan pernah aku di rumahnya dewi dari siang sepulang sekolah sampai malam. dan sampai di rumah aku dimarahi ortu. aku beralasan saja, waktu itu aku berteduh, hujannya sampai malam.
ingin sekali aku menembak dewi, tapi ketika berhadapan aku malu dan seperti orang yang kena tembak sebelum menyerang.. padahal pada waktu itu dewi juga sudah tahu kalau aku menyukai dia, tapi dewi diam saja dan malah penasaran padaku masalahnya kelakuanku agak beda. dewi ternyata banyak yang naksir. teman kelas sebelah juga nembak dewi, tapi ditolak. ada senior kelas 3 juga nembak bahkan ekstrim, dewi ditunggu sampai pulang sekolah. orang itu juga rela berkorban apa saja. kontan saja dewi takut, kemudian minta tolong padaku, arifin,d an bangkit untuk melarikan diri ke rumahku. aku setuju saja.. dan adegan penyelamatan putri raja pun dilaksanakan..
oke kwan sampai disini dulu ceritanya nanti disambung lagi... aku sudah lama neh ngenet...ntar mahal lagi...

Rabu, 19 November 2008

my friends

Teman adalah saudara terdekat. Tidak ada teman hidup tidak berguna, percaya deh.. Mencari teman sulit sekali dari pada mencari musuh... Kalo ada temen uehhh enak pokoknya... aku dulu pas belum ngekos dengan teman2, rasnya seperti sendirian di suatu pulau.. bengooong aja.. nah pas ada temen, berat badanku langsung nambah... (Walaupun aku ini orang kurus).... Inilah teman-teman seperjuanganku. karena merekalah aku menjadi mengerti makna dari hidup (ceileee)..
Nah, orng ini namanya Gesang, tetapi punya julukan, PENDEKAR KOYO' FENG. Awalnya aku heran kenapa kok dijuluki seperti itu.??? Trus selidik punya selidik, ternyata orang ini selalu kekuarangan bahan makanan, ya salah satunya kalo kiriman belum datang. Nah, pas uang, dia bingung, mau makan uang nipis, akhirnya beli koyo' untuk ditempelkan diperut biar perut rasanya panas dan ras lapar hilang. satu lagi kelebihannya, dia orangnya kuat banget kalo makan dan minum, sekali makan satu wakul (magic gar) buanyak banget & kalo minum satu botol air (1 liter). mangkanya sekali makan dan minum, si Gesang ini tahan sampai beberapa hari, kayak ular saja,he9. tapi walaupun begitu gesang ini orangnya baik dan sabar, rajin pisan. dia calon sarjana tercepat diantara teman yang lain. kuliah di FIA jur Administrasi Publik Unibraw. ya jeleknya dia sih selalu menghabiskan konsumsi, klo ngejek selalu menyakitkan. tapi inilah teman ku, kamarnya disebelah kamarku pas..
Yang satu ini, namanya Syam, julukan Syampak, Syamboyo, Kasino (bny banget??). dari wajahnya sudah ketahuan sifatnya, yaitu; cabul, mesum, penjahat kelamin, dsb. walaupun tampak blo'on, tapi dia punya pacar lho, manis lagi. klo tidur waduh, seperti gempa bumi, getaran ngoroknya luar biasa.. ni orang klo pacaran lucu banget. selalu cari perhatian. gayanya gk ngetoki (tidak kelihatan) klo pacaran, terus ngumpul ma temen2 biar disuruh temen2 nemenin pacarnya... klo ngomong agak ngelindur.. tapi syam ini orangnya enak banget. selalu membantu temennya klo ada masalah. dia calon sarjana Teknik Peternakan Unibraw. oh ya satu lagi kekurangannya, syam ini orangnya selalu ceroboh. stnk, sim, kunci motor, kunci rumah, selalu lupa kalo naruh. juga sering kehilangan. untung saja "anunya" asli, coba klo buatan terus hilang??? hayooo???!!!ini dia yang paling terkenal. namanya Lukas. anak ini selalu menjadi bahan ejekan, olok2an teman2. ciri-cirinya, mulut besar (dijiluki Si Mulut), suka bersin disembarang tempat (menimbulkan virus antraxx), kamarnya merah menyala (diperkirakan ngepeet), suka menyiram mulutnya dengan air panas (sampai domblee). aku mencari tahu kenapa mulutnya kok besar (bukan rasis lho ini!!). ceritanya, ketika masih sma, si LUkas ini jalan menuju ke sekolah. nah di perjalanan ada gerobak sampah warna kuning. pas lukas berjalan di depannya tiba-tiba tukang sampah mendongkrak gerobaknya dan pegangannya mengenai mulut lukas, Thhhuuuookkkk, kena deh mulut lukas... seketika lukas menjerit kesakitan... sejak saat itu mulut lukas menjadi bengkak.. (untuk kepastian cerita tanya saja pada yang bersangkutan). Lukas ini calon sarjana Sosial Ekonomi Peternakan Unibraw. pokoknya hati2 klo lukas bersin, bisa2 kesedot ke dalam mulutnya.....

wahhh yang satu ini lebih fenomenal. jago makan, jago tidur.. orang ini namanya Khafinda, julukan Pakde (bapak yang guuedee). klo makan ueeeh jangn dekat2, bisa2 kena makan juga.. calon sarjana Sosiologi Unibraw ini orangnya agk pelit, tapi baik kok.. kalo ada barangnya yag hilang semua penghuni kos langsung di sidang... wah klo marah seperti gajah mada. tapi pakde orangnya baik lho. klo setiap pulang dari rumah, selalu bawa makanan buanyaaak ke kosan. pakde sukanya lihat film Masked rider, Shinchan, Doraemon, Naruto, Avatar, dsb yang kartun2. dia juga suka beli mainan orang2an Naruto, Ksatria Baja Hitam, sampai udengnya Naruto dia juga punya... wah kalo adikku yang kecil ketemu pakde, bisa rebutan nehhh..
nah yang ini namanya Yanwar atau anak2 klo manggil ye2n. fotonya agak gelap, karena emg orangnya gelap, he9. wah ini orangny fenomenal. setelah lulus dengan cumelaude dg gelar S.Do di Fak Perikanan Unibraw, kini melanjutkan studi di Teknologi Informatika Universitas Merdeka Malang. anak ini seperti ikan. pas teman-temannya pada tidur, dia melek sendirian, pas teman2nya pada bangun, eh dia tidur.. orangnya nyantai banget abiezz, juragan bEdhak lagi... kebiasannya yang aneh adalah selalu garuk2 rambut klo sudah ngantuk. jadi klo ada tanda2 garuk2 rambut kepala, mata marah, mulut putih... itu yanwar pasti ngantuk.... oh ya, pasti setiap hari pada jam 15.30 pasti dia nongkrong di depan TV nonton SCTV lihat reality show, ya kyak mak comblang, cinta pertama, dll deh...nah ini Idris (kanan) dengan om-nya namanya Erick, pernah dulu satu kosan dengan kita, tapi keluar karena menikah. mesra yaaa.. Idris dan om nya ini penggemar fanatik film B F... wooow di kmarnya ada berpuluh-puluh koleksi lho... hati-hati dris kena UU Pornigrafi dan Pornoaksi ntar.. wah apalagi om-nya, tambah maniak, lihat saja mukanya. tapi Idris ini orang nya gk milih2 teman, suka bergaul, tapi agak tempramen sih, gampang marah.. calon sarjana Hukum Unibraw ini menempati kamar kecil di kosan, sesuai dengan badannya yag mungil. tapi jangan slah lho, walaupun mungil tapi "anunya" boook....... tambah kecil hahaha98x. kuat sekalai lho idris ini. pernah dia pulang kampung, tapi malamnya balik lagi di Malang... dan itu sering dilakukan.. anak ini juga punya penuakit insomnia, jadi gk bisa tidur malam... jadi lagi favoritnya, bergadang jangan bergadangnya Rhoma Irama,,,,