Kamis, 05 Februari 2009

SISTEM PENGUASAAN TANAH PADA MASA PEMERINTAHAN LETNAN GUBERNUR JENDERAL RAFFLES (1811-1816)

SISTEM PENGUASAAN TANAH PADA MASA PEMERINTAHAN LETNAN GUBERNUR JENDERAL RAFFLES (1811-1816)

Oleh:
Agung Ari Widodo

Tanah menjadi persoalan yang penting bagi negara yang bersifa agraris. Tanah merupakan hasil evolusi dan mempunyai susunan teratur yang unik yang terdiri dari lapisan-lapisan atau horison-horison yang berkembang secara genetik1. Karena itulah dalam lapisan tanah terkandung zat-zat kimia yang bisa menyuburkan tanah. Pengolaan tanah mulai dilakukan oleh manusia pada masa bercocok tanam. Masa ini adalah perubahan dari food gathering menjadi food producing. Hal ini ditandai oleh cara hidup menetap di suatu perkampungan. Masa bercocok tanam di Indonesia dimulai kira-kira bersamaan dengan berkembangnya kemahiran mengupam alat-alat batu serta mulai dikenalnya pembuatan gerabah2. Kontinuitas ini berlanjut pada masa klasik atau dikenal dengan masa kerajaan Hindhu Budha di Indonesia. Pada masa ini mulai ada aturan-aturan mengenai tanah. Sistem pajak juga mulai diterapkan karena pada masa kerajaan (yang nantinya berlanjut ke masa Islam), tanah merupakan milik raja dan rakyat mengelola tanah atas perintah raja. Setiap masa panen rakyat memberikan upeti kepada raja. Pada jaman kerajaan klasik juga dikenal istilah sima yaitu pembebasan tanah dari pajak yang digunakan untuk membangun bangunan suci (candi)3. Tanah merupaka salah satu elemen bumi yang penting. Di dalamnya terkandung zat-zat yang humus dan yang lain yang menyuburkan tanah. Indonesia juga mempunyai predikat julukan sebagai negara agraris (selain negara maritim tentunnya). Tanah di Indonesia sangat subur, maka tak heran jika dalam lirik lagu koes plus ada istilah bahwa Indonesia adalah tanah surga, tonggak yang ditancapkan pun bisa tumbuh. Kekayaan alam di Indonesia inilah yang mengundang datangnya para penjelajah dari Barat termasuk Belanda. Awalnya mereka bertujuan berdagang, dengan membeli rempah-rempah di Indonesia (nusantara) kemudia dijual atau dipasarkan ke Eropa. Tapi karena ada persaingan dagang di Indonesia, maka pada 22 Maret 1602 Belanda mendirikan VOC yang bertujuan menghindari persaingan dengan kongsi dagang dari negara lain (EIC, dsb) dan melakukan monopoli perdagangan. Pada masa kolonial Belanda (VOC) terjadi pengekspliotasian tanah dan hasil bumi. Rakyat diperas dengan mewajibkan menyerahkan hasil bumi sebagai pajak pada penguasa pribumi dan VOC. Selain itu beberapa orang dari rakyat disuruh melakukan kerja rodi di dalam benteng-benteng, pabrik-pabrik, untuk pertahanan dan pekerjaan umum lainnya, untuk mengangkut barang-barang di daratan, untuk mengurus keperluan-keperluan bagi militer dan pegawai-pegawai yang bepergian, untuk pos, untuk penebangan kayu, pembuatan garam, untuk membuat jalam dan parit-parit4. Pola ekonomi yang di anut Belanda (baik masa VOC maupun pemerintahan Hindia Belanda) inilah yang disebut capital finance yaitu mengeksploitasi hasil bumi dan membeli dengan harga murah untuk mendapatkan laba yang sebesr-besarnya. Keperkasaan VOC mulai surut pada pertengahan abad ke-18. Korupsi merajalela dalam birokrasi VOC. Akhirnya pada 31 Desember 1799 VOC dibubarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Pada waktu itu Negeri Belanda sendiri dikuasai oleh Perancis. Paham liberte, egalite, dan freternite mempengaruhi kebijakan pemerintahan di Indonesia yang dipegang oleh Dirk van Hogendorp (1799-1808). van Hogendorp berpendapat bahwa stelsel feodal yang terdapat di Indonesia mematikan segala kemauan berusaha dan penyebab penyakit masa bodoh orang-orang Jawa yang ia lihat5. Untuk mengatasi hal itu maka van Hegendorp memberikan usul bahwa keduduka bupati dan penguasa daerah diatur kembali, pemilikan atau penguasaan tanah sebagai sumber pemerasan dicabut dan tanah dikembalikan kepada rakyat6. Hal ini berarti bahwa rakyat diharapkan bisa mengolah tanahnya sendiri dan bisa mendapatkan penghasilan maksimal. Penyerahan wajib dilarang kemudian diganti oleh pajak menurut penghasilan7. Sistem van Hogendorp ini mirip seperti yang diterapkan Raffles nantinya. Keadaan Keamanan koloni Belanda mulai terdesak oleh saingannga, Inggris. Karena itulah koloni-koloni Belanda dipertahankan, khususya di Indonesia (Hindia Belanda8). Herman Willem Daendels diutus untuk menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Belanda dan bertugas mempertahankan Pulau Jawa dari Inggris. Sebenarnya pada masa Daendels kebijakan dari van Hogendorp masih dipertahankan. Tapi karena ada serangan dari Inggris, maka Daendels harus mempertahankan pulau Jawa dengan membangun Jalan Raya Pos (Grote Postweg). Otomatis untuk keperluan proyek raksasa ini diperlukan tenaga kerja dalam jumlah besar. Oleh karena itu wajib-kerja (verplichte diensten) dipertahankan. Disamping itu wajib-penyerahan juga masih berlaku, sehingga pada masa pemerintahan Daendels sebenarnya sistem tradisional masih berjalan terus9. Tidak lama setelah kepergian Gubernur Jenderal Daendels dari Indonesia (Hindia Belanda), Jawa diduduki oleh Inggris pada tahun 1811. Sebagai pemerintahannya dipegang oleh Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles10. Meskipun hanya lima tahun berkuasa (1811-1816), Raffles telah meletakkan dasar-dasar kebijakan ekonomi yang sangat mempengaruhi sifat dan arah kebijaksanaannya pemerintahan kolonial Belanda yang dalam tahun 1816 mengambil alih kembali kekuasaan dari pemerintahan kolonial Inggris11. Kebijakan Raffles bisa dikatakan merupakan sebuah revolusi agraria. Ideologi dari Revolusi Perancis sangat mempengaruhi kebijakan Raffles.

Kebijakan Sistem Sewa Tanah

Tahun 1811 Letnan Gubernur Jenderal Raffles mulai memerintah di Indonesia. Azas-azas pemerintahan Raffles ini sangat dipengaruhi pengalaman Inggris di India12. Pada hakekatnya Raffles ingin menciptakan suatu sistem ekonomi di Jawa yang bebas dari segala unsur paksaan yang dahulu melihat pada sistem penyerahan paksa dan pekerjaan rodi yang dijalankan oleh VOC dalam kerjasama dengan raja-raja dan para bupati13. Secara konkrit Raffles Ingin menghapus segala penyerahan wajib dan pekerjaan rodi yang selama jaman VOC selalu dibebankan kepada rakyat, terutama para petani. Karena itulah Raffles mengeluarkan kebijakan Landrent atau sewa tanah. Para penguasa tanah menyewakan tanah dan yang menyewa otomatis membayar sewa berupa uang. Oleh karena itu sistem ekonomi Inggris di Indonesia disebut commers finance. Pada tahun 1813 Raffles mengeluarkan kebijakan Landrent yang isinya sebagai berikut: Menghapuskan segala penyerahan paksa hasil-hasil tanah dengan harga-harga yang tidak pantas, dan penghapusan semua rodi, dengan memberikan kebebasan penuh dalam penanaman dan perdagangan. Pengawasan tertinggi dan langsung dilakukan oleh pemerintah atas tanah-tanah dengan menarik pendapatan dan sewaannya tanpa perantara bupati-bupati, yang pekerjaannya selanjutnya akan terbatas pada pekerjaan-pekerjaan umum. Menyewakan tanah-tanah yang diawasi pemerintah secara langsung itu dalam persil-persil besar atau kecil, menurut keadaan setempat, berdasarkan kontrak-kontrak untuk waktu yang terbatas14. Melihat dasar-dasar di atas terlihat bahwa kebijakan Raffles dipengaruhi oleh faham dari Revolusi Perancis (liberte, egalite, dan freternite). Kebijakan Raffles ini juga mirip dengan kebijakan dari van Hegendorp. Sistem sewa tanah yang kemudian dikenal dengan nama landeljk stelsel bukan saja diharapkan dapat memberikan kebebasan dan kepastian hukum kepada para petani dan merangsang juga arus pendapatan negara yang mantap15. Kebijakan yang dikeluarkan oleh Raffles ini diharapkan bisa menguntungkan petani Indonesia. Perubahan yang dilakukan Raffles bisa dikatakan revolusioner, karena mengandung perubahan azazi, yaitu dihilangkannya unsur paksaan atas rakyat dan digantikannya dengan sistem hubungan ekonomi antara pemerintah di satu pihak dan rakyat di lain pihak berdasarkan kontrak yang diadakan sukarela oleh kedua belah pihak16. Dengan demikian maka dasar masyarakat Jawa yang tradisional hendak digantikan dengan dasar kehidupan masyarakat seperti yang dikenal di negara-negara Barat. Demikian pula ekonomi masyarakat Jawa yang tradisional dan feodal hendak digantikan dengan sistem ekonomi yang berdasarkan atas lalu lintas pertukaran yang bebas.

Pelaksanaan Sewa Tanah

Sistem sewa tanah tidak dilaksanakan di seluruh Jawa. Misalnya saja di daerah sekitar Jakarta, pada waktu itu Batavia, maupun di daerah-daerah Periangan sistem sewa tanah tidak diadakan, karena daerah-daerah sekitar Jakarta pada umumnya adalah milik swasta (tanah partikelir), sedangkan di daerah Periangan pemerintah kolonial berkeberatan untuk menghapus sistem tanam wajib kopi yang memberi keuntungan yang besar dan menghasilkan hasil ekspor yang utama. Karena itu di Periangan sistem pemerintahan lama tetap dipertahankan, dengan nama stelsel Periangan (Preangerstelsel) dan berlangsung terus sampai tahun 187017. Hal pertama yang dilakukan Raffles dalam melaksanakan sistem sewa tanah adalah menggantikan kekuasaan kepala daerah yang kuno dengan suatu pemerintahan Eropa yang langsung18. Jadi dalam melakukan pembayaran pajak, rakyat langsung membayar ke pusat tidak melalui perantara penguasa daerah. Raffles tidak menggunakan para bupati atau penguasa daerah untuk memungut pajak karena supaya tidak terjadi korupsi dan pemerasan terhadap rakyat. Sistem ini memang sangat bagus, tapi nantinya akan menjadi kelemahan kebijakan Raffles. Dengan tidak digunakannya para penguasa daerah ini, maka pejabat-pejabat dari Eropa mengisi jabatan yang dulunya diemban oleh para penguasa daerah tersebut. Bertambahnya pengaruh dari pejabat-pejabat Eropa, pengaruh para Bupati semakin berkurang. Bahkan diantara pejabat-pejabat Eropa timbul keinginan untuk menghilangkan sama sekali jabatan bupati. Tidak mengherankan bahwa perkembangan ini sangat menggelisahkan para bupati yang sebelum Raffles mempunyai kekuasaan dan gengsi sosial yang amat besar19. Ketika jaman VOC maupaun kolonial Belanda, para Bupati diberi tanah sebagai imbalan atas jasa-jasa mereka dalam mengelola pajak atau upeti. Bukan saja tanah yang mereka peroleh, akan tetapi menurut kebiasaan adat mereka dapat pula menuntut peneyerahan wajib hasil-hasil pertanian maupun hasil kerja rodi dari penduduk yang tinggal di atas tanah milik bupati tersebut. Di bawah Raffles kebiasaan ini dihapus dan para bupati kemudian diberi gaji dalam bentuk uang untuk jasa-jasa mereka kepada pemerintah kolonial20. Karena itu para bupati itu hanya hanya dapat memungut pajak tanah saja daripada tanah jabatannya21. Perubahan yang dibuat Raffles dalam sistem politik kolonial Inggris adalah pembaharuan keuangan dalam hubungan antara orang pribumi dengan orang Eropa22. Raffles percaya bahwa sistem pajak tanah tidak hanya untuk membebaskan sejumlah besar penduduk dari perbudakan dan ikatan feodal, tetapi juga untuk kepentingan keuangan pemerintah Inggris23. Jadi petani di daerah kerajaan hanya memiliki hak pakai dan hak garap atas tanah penguasa. Dengan kata lain petani hanya menjadi penyewa dari raja. Pandangan ini telah melahirkan praktek kewajiban bagi petani untuk menyetorkan sejumlah tertentu dari hasil tanah (menurut pemerintah Inggris disebut pajak)24. Jika melihat fakta di lapangan ternyata pelaksanaan pembayaran pajak belum berjalan maksimal. Seperti contoh kasus di daerah Besuki, Panarukan, dan Probolinggo. Mengingat kondisi masyarakat di Besuki, Panarukan, dan Probolinggo pernah dikuasai oleh tuan tanah Cina, David Hopkins menggunakan kepala pribumi (petinggi aris) dalam pemungutan pajak25. Di sini tampak bahwa sekalipun Raffles ingin memajaki petani secara perorangan dan menghapus peranan pribumi, namun dia masih menggunakan petinggi aris untuk bertanggung jawab bagi penarikan pajak tanah26. Sebenarnya peranan petinggi aris sebagai perantara pemungut pajak sudah dimanfaatkan sejak komisaris pajak tanah dipegang oleh John Crawfurd27. Pajak ini diterima dari petinggi setiap desa tanpa melakukan hubungan langsung dengan petani28. Hal inilah yang menyebabkan pemerasan terhadap petani yang dilakukan oleh petinggi desa. Besarnya pajak yang harus dibayar tidak diketahui oleh petani sehingga petinggi desa melakukan penarikan pajak dengan seenaknya. Mengingat bahwa Raffles hanya berkuasa dalam waktu yang singkat, yaitu lima tahun, dan mengingat pula terbatasnya pegawai-pegawai yang cakap dan dana-dana keuangan, tidak mengherankan bahwa Raffles akhirnya tidak sanggup melaksanakan segala peraturan yang berhubungan dengan sistem sewa tanah itu. Perubahan-perubahan struktural yang dilakukan Raffles tidak disertai dengan perubahan mentalitas dan kultural pada masyarakat tradisonal29. Ide-ide Raffles merujuk dari sistem yang ada di Inggris dan juga yang diterapkan di India. Jika dilihat dari negaranya, Inggris merupakan negara yang secara ekonomi terutama segi industrinya sudah maju (modern). Masalah terbesar Raffles yang juga menjadi biang kegagalannya dalam menerapkan sistem sewa tanah adalah keadaan masyarakat Indonesia (Jawa) yang masih sangat feodal dan sistem ekonomi yang masih tertutup. Jadi pembayaran pajak belum sepenuhnya dilakukan dengan menggunakan uang tapi in natura30. Pelaksanaan sistem sewa tanah memang gagal dilaksanakan di Indonesia. Tapi setidaknya Raffles sudah berupaya untuk memodernkan masyarakat Indonesia khususnya Jawa. Setelah diadakan Traktat London, yang isinya bahwa semua koloni Belanda yang dikuasai Inggris dikembalikan kepada Belanda kecuali Tanjung Harapan dan Ceylon. Raffles kemudian meninggalkan Jawa. Walaupun Gagal di Jawa, Raffles menuai keberhasilan di Singapura.
Epilog Kebijakan Raffles mengenai sistem sewa tanah menunjukkan bahwa Raffles menentang adanya pemerasan dan feodalisme. Pengaruh dari Revolusi Perancis mengilhami Raffles dalam mengeluarkan kebijakan sewa tanah. Kebijakan ini diharapkan bisa menambah pendapatan petani dan pemerintah. Petani diberi kebebasan untuk mengolah tanahnya sendiri agar bisa menghasilkan pendapatan yang maksimal. Dari pendapatan ini akan ditarik pajak penghasilan dan dibayar berupa uang. Bisa dikatakan kebijakan ini merupakan perubahan yang revolusioner karena menyangkut hal yang asasi yaitu menghapus sistem feodal. Melihat kenyataan dilapangan, ternyata pelaksanaan sistem sewa tanah tidak memenuhi harapan. Faktor kultural tradisional menjadi penghalang utama pelaksanaan sewa tanah ini. Rakyat sudah terpatrun untuk membayar pajak pada penguasa daerah (bupati-bupati). Lagi pula rakyat Indonesia khususnya Jawa pada waktu itu belum siap dalam melakukan transaksi menggunakan uang. Bisa dikatakan Raffles mengeluarkan kebijakan yang terburu-buru. Dia menggunakan rujukan dari sistem yang ada di Inggris yang melakukan penerapan di India. Tentu saja kultur masyarakat India dan Indonesia sangat berbeda. Ada dampak positif dan negatif dari sistem sewa tanah Raffles. Dampak positifnya antara lain: Memperkenalkan sewa tanah dengan titik berat pada pajak dan ekonomi uang atau moneter. Menunjukkan pemerintahan yang sentralistis. Menunjukkan gaya yang memadukan otoriter versus demokrasi. Dihapuskannya kerja rodi dan upeti. Kopi merupakan sumber pendapatan pemerintah yang terjamin. Sedangkan dampak negatifnya: Menumbuhkembangkan kebencian rakyat pemilik tanah. Timbulnya kerugian yang cukup besar bagi pribumi. Menumpahnya kekecewaan para Sultan, Bupati, dan bangsawan akibat pengambilan pajak secara langsung pada distrik-distrik dan desa-desa serta kepala-kepala rakyat. Petani tidak boleh menjual, membeli maupun menggadaikan tanah. Mendapat reaksi yang keras dari Vallenhoven dan mazhab adatnya yang secara substansi menegaskan bahwa bahwa petani yang hidup di desa-desa diperintah oleh orang-orang tua dan berpegang pada aturan-aturan adat, karena itu tanah merupakan bagian integral dari adat maupun kekuatan desa31 Kebijakan Raffles di Indonesia ini bisa dijadikan refleksi bagi keadaan Indonesia sekarang. Sistem feodal dari jaman kolonial Belanda masih ada sampai sekarang. Orang-orang Indonesai masih memliki gengsi dan orientasi kerja pada Pegawai Negeri Sipil (PNS). Padahal di Indonesia kesempatan untuk menjadi wiraswasta terbuka lebar. Kebebesan alam dan pikiran bisa menjadi uang. Dan akan lebih baik dan sukses jika bisa menjadi PNS dan pengusaha...

DAFTAR RUJUKAN

Burger, D.H. 1956. Sejarah Ekonomi Sosiologis Indonesia. Jakarta: Prajnaparamita.
Foth, Henry D. 1991. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Kartodirdjo, Sartono. 1999. Pengantar Sejarah Indonesia Baru Jilid 1. Jakarta: Gramedia.
Leirisa, R.Z. 1984. Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV (edisi revisi). Jakarta: Balai Pustaka.
Soejono, R.P. 1984. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 1. Jakarta: Balai Pustaka.
Sumadio, Bambang. 1984. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka.

Sutjipto, F.A. 1975. Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Soewito, Marwoto dkk. 2000. Sistem Pemerintaha Indonesia Raffles, Belanda, dan Jepang. Bandung: Koperasi “Abdi Praja” STPDN.
Wijayanti, Putri Agus. 2001. Tanah dan Sistem Perpajakan Masa Kolonial Inggris. Yogyakarta: Tarawang Press.
1 Henry D. Foth, Dasar-dasar Ilmu Tanah, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1991), hal 3. 2 R.P. Soejono, Sejarah Nasional Indonesia Jilid 1, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), hal 167. 3 Lihat Bambang Sumadio, Sejarah Nasional Indonesia Jilid II, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984). 4 D.H. Burger, Sejarah Ekonomi Sosiologis Indonesia, (Jakarta: Prajnaparamita, 1956), hal 113. 5 Ibid, hal 145-146 6 Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru Jilid 1, (Jakarta: Gramedia, 1999), hal 290. lihat juga D. H Burger, op cit, hal 145. 7 Ibid. 8 Pada masa kolonial di Indonesia, sebutan bagi Indonesia ketika itu adalah negara koloni Hindia Belanda. 9 Sartono Kartodirdjo, op cit, hal 292. 10 Raffles merupakan wakil dari Lord Mintho untuk memerintah di Indonesia. Karena itulah Raffles bergelar Letnan Gubernur Jenderal. 11 F.A. Sutjipto, Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1975) hal 57. 12 Ibid 13 Ibid 14 D.H. Burger, op cit, hal 147. 15 R.Z. Leirisa, Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV (edisi revisi), (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), hal 91. 16 Ibid 17 F.A. Sutjipto, op cit, hal 59-60; D.H. Burger, op cit, hal 151. 18 D.H. Burger, ibid, hal 152. 19 F.A. Sutjipto, op cit, hal 61 20 Ibid 21 D.H. Burger, op cit, hal 155. 22 Putri Agus Wijayanti, Tanah dan Sistem Perpajakan Masa Kolonial Inggris, (Yogyakarta: Tarawang Press, 2001), hal 119. 23 Ibid, hal 120. 24 Ibid, hal 122. 25 Ibid, hal 125. David Hopkins adalah komisaris pajak tanah yang bertugas menerima dan mengatur pembayaran pajak di Keresidenan Besuki. 26 Ibid. 27 Komisaris John Crawfurd adalah komisaris pajak tenah sebelum David Hopkins. Pada Agustus 1813 Crawfurd dipindah tugaskan ke daerah Kedu, selanjutnya untuk wilayah Besuki dipegang Oleh David Hopkins. Lihat pada Ibid, hal 123. 28 Ibid. 29 Sartono Kartodirdjo, op cit hal 293. 30 Ibid. 31 Marwoto Soewito, dkk, Sistem Pemerintaha Indonesia Raffles, Belanda, dan Jepang, (Bandung: Koperasi “Abdi Praja” STPDN, 2000), hal 12.

Senin, 12 Januari 2009

Nyo2 Kepompong Imutku


begitulah aku memanggilnya. wanita inilah yang mengubah hidupku yang semakin bermakna. kami sudah menjalin suatu kata indah yang bernama "cinta". alhamdulillah kini kita menapaki tahun ke 4.
wajahnya imut, lucu, agak bulat. badannya montok, bagus berisi bagaikan arca dewi durga. badannya lumayan tinggi untuk wanita seukuran dia. sungguh wanita yang aku idam-idamkan. sampai tidak bisa tidur aku karena membayangkannya. namanya seindah orangnya, Dewi Kusumaningtyas, yang kira-kira maknanya seorang dewi yang menyegarkan hati yang lara
aku mengenalnya ketika masih smp, tepatnya kelas 3. ketika itu aku dikenalkan oleh seorang teman kelas, namanya nela. sebenarnya nela ini memperkenalkan dewi pada bram, teman sekelasku juga. kata nela waktu itu, dia bilang pada bram, "aku punya teman yang asyik, manis dan enak diajak ngobrol". bram percaya saja. di kelasku bram ini orangnya agak jahil kalau masalah wanita.
bram mengajakku berkenalan dengan temannya nela. ketika itu aku mau saja. sepulang sekolah kami ketemuan di parkiran sepeda. aku dan bram menunggu nela dan temannya. ketika mereka berdua datang, kami berkenalan. inilah perkenalan awalku dengan dewi. ketika itu badan dewi agak tambun, tapi wajahnya manis, semanis gula putih. waktu itu aku belum pernah merasakan yang namanya pacaran, dan begitu muak ketika mendengar kata cinta. hal ini nantinya berlangsung sampai sma. aku melihat wajah bram. dia senang sekali, dan seperti berbunga-bunga. aku membatin, "kamu sudah berapa kali menjahili wanita bram??". diam-diam aku eman kepada dewi, jangan sampai jadian sama bram.
semenjak perkenalan itu aku jarang ketemu dewi. sebenarnya aku ini orangnya pemalu kawan, dan kurang bisa bergaul, tapi mind setku ini berubah ketika mengenal cinta. aku juga tidak tahu apakah bram juga sering ketemu dengan dewi.. aku tidak tahu. mungkin cuma say hello, atau cuma bertemu di kantin atau ketika pulang. kau tahu kawan bram ini orangnya manja dan masih nempel sama ibunya. suatu penyakit psikologi. dan dewi tidak suka dengan anak manja...

cerita berlanjut, lulus smp aku berlanjut daftar ke sman 1 kertosono. ketika mendaftar aku agak ketir-ketir karena nilai NEMku agak jeblok, cuma 36, 97. tapi aku harus masuk sma ini karena sma ini satu-satunya sma negeri di kecamatan kertosono. aku juga tidak tahu apakah memang jodoh atau apa aku bertemu dengan dewi dan kami mendaftar bareng. sehari aku memantau perkembangan calon siswa yang mendaftar dengan dewi. ternyata anak perempuan ini enak diajak ngobrol. perangainya ceria, suka bercerita, tipe sanguinis populer. aku merasa enjoy ketika ngobrol dengannya. kami saling berbagi info, berapa calon siswa yang daftar.
mendaftar ke sma favorit dengan NEM pas-pasan membuatku ketir-ketir sampai di rumah. sampai-sampai malam harinya aku tidak bisa tidur, diterima apa tidak ya...
paginya aku ke sekolah (sma) lagi dan bertemu dengan dewi dengan wajah ceria sumringah. dia memberi berita bagus, aku diterima di sma 1 kertosono dengan diurutan 10 dari bawah. alhamdulillah akhirnya aku bisa tidur nyenyak. langsung aku berterima kasih dengan dewi.. tapi kok pada waktu itu aku belum merasakan jantung yang berdebar karena cinta ya, aku masih menganggap dewi sebagai sahabat.
keesokan harinya diadakan pembagian kelas. aku masuk pada kelas 1.5, dewi di 1.3. kelas ini nantinya menjadi suatu kelompok pada kegiatan MOS (masa orientasi siswa), kegiatan yang sudah menjadi tradisi. aku tidak bercerita banyak tentang MOS, karena tidak ada hal yag menarik yang diceritakan.
hatiku mulai agak terbuka kepada dewi ketika sma kelas 1. dia sering lewat kelasku dan sering minjam kamus bahasa inggrisku. pernah suatu ketika aku melihat wajah dewi yang begitu muanis ketika meminjam kamus. baru kali ini aku melihat wajah semanis itu.. begitulah secara berulang-ulang aku sering ketemu dengan dewi..
aku agak kaget ketika melihat dewi pulang sekolah. dia seperti preman saja.. baju seragamnya dikeluarkan, dan berjalan seperti laki-laki. kalau masalah berjalan, dewi memang seperti laki-laki baik ketika masih smp maupun sma, tapi ketika kuliah semakin feminim dan semakin cantik..kembali ke masa sma.. aku seperti tidak percaya apa yang aku lihat, inikah aslinya dewi? kok seperti Xena (tokoh film ksatria wanita dari yunani). dia mendekati cendela kelas tempat aku melihatnya. waduh, semakin takut aku, kalau aku dibogem bagimana?? tapi aku siap, walaupun tampang melankolis tapi aku ini siap menghadapi apa pun. semakin dekat, keluarlah keriingat dinginku. sampai di depan cendela, dia malah tersenyum ketika melihatku, "lho kamu gak pulang?? eh iis mana? aku mau bareng pulang sama dia".. ealah aku kira mau nonjokkin atau mau memalak minta duit, ternyata mencari temannya iis yang sekelas denganku.. tidak jadi aku mengeluarkan beberapa jurus dalam bela diri...

kelas 2 sma. kata orang-orang, kelas 2 sma merupakan masa remaja yang paling indah. masa yang asyik untuk pacaran, untuk berpetualang, untuk berorganisasi. dan tidak aku sangka, aku sekelas dengan dewi...
orang bertipe sangunis memang enak untuk diajak ngobrol. orangnya asyik, selalu ceria, dan bisa menghibur temannya yang sedih. sifat itu ada dalam diri dewi. di kelas dua aku sering berbagi cerita dengan dewi. memang ada kecocokan kalau orang berwatak melankolis seperti aku bertemu dengan orang berwatak sanguinis seperti dewi.
awalnya kami hanya saling cerita. tapi lama-kelamaan timbul suatu rasa yang aneh dalam diriku. hatiku makin enak dan hangat ketika bertemu dengan dewi. dan merasa agak cemburu ketika dewi jalan maupun ngobrol dengan orang lain. ada seorang temanku, dia bernama arifin. anak ini bertubuh gagah perkasa seperti bima. arifin ini juga sangat dekat dengan dewi semenjak hubungan dengan pacarnya agak renggang. arifin ini teman belajarku, ketika kami belajar bersama dia pernah bilang kalau dia ada rasa sama dewi. begitu mendengarnya aku langsung berdebar.. rasanya hatiku ingin melarang arifin jadian sama dewi. dengan refleks aku menjawabnya," ingat fin, kamu kan masih punya pacar".
arifin sering mengajakku ke rumahnya dewi. secara tidak langsung dia berjasa telah mengajakku ke rumahnya dewi. perasaanku semakin agak panas ketika arifin sangat memperhatikan dewi, bahkan sampai ketika dewi sakit, dia selalu membawakan obat dan membelikan makanan. wah persaingan dimulai. saking seringnya arifin ke rumahnya dewi, sampai-sampai ibunya dewi menganggapnya seperti anak sendiri. aku tidak mau kalah, aku juga harus bisa mendekati ibunya dewi. aku selalu ikut ketika ke rumahnya dewi. bahkan pernah aku di rumahnya dewi dari siang sepulang sekolah sampai malam. dan sampai di rumah aku dimarahi ortu. aku beralasan saja, waktu itu aku berteduh, hujannya sampai malam.
ingin sekali aku menembak dewi, tapi ketika berhadapan aku malu dan seperti orang yang kena tembak sebelum menyerang.. padahal pada waktu itu dewi juga sudah tahu kalau aku menyukai dia, tapi dewi diam saja dan malah penasaran padaku masalahnya kelakuanku agak beda. dewi ternyata banyak yang naksir. teman kelas sebelah juga nembak dewi, tapi ditolak. ada senior kelas 3 juga nembak bahkan ekstrim, dewi ditunggu sampai pulang sekolah. orang itu juga rela berkorban apa saja. kontan saja dewi takut, kemudian minta tolong padaku, arifin,d an bangkit untuk melarikan diri ke rumahku. aku setuju saja.. dan adegan penyelamatan putri raja pun dilaksanakan..
oke kwan sampai disini dulu ceritanya nanti disambung lagi... aku sudah lama neh ngenet...ntar mahal lagi...

Rabu, 19 November 2008

my friends

Teman adalah saudara terdekat. Tidak ada teman hidup tidak berguna, percaya deh.. Mencari teman sulit sekali dari pada mencari musuh... Kalo ada temen uehhh enak pokoknya... aku dulu pas belum ngekos dengan teman2, rasnya seperti sendirian di suatu pulau.. bengooong aja.. nah pas ada temen, berat badanku langsung nambah... (Walaupun aku ini orang kurus).... Inilah teman-teman seperjuanganku. karena merekalah aku menjadi mengerti makna dari hidup (ceileee)..
Nah, orng ini namanya Gesang, tetapi punya julukan, PENDEKAR KOYO' FENG. Awalnya aku heran kenapa kok dijuluki seperti itu.??? Trus selidik punya selidik, ternyata orang ini selalu kekuarangan bahan makanan, ya salah satunya kalo kiriman belum datang. Nah, pas uang, dia bingung, mau makan uang nipis, akhirnya beli koyo' untuk ditempelkan diperut biar perut rasanya panas dan ras lapar hilang. satu lagi kelebihannya, dia orangnya kuat banget kalo makan dan minum, sekali makan satu wakul (magic gar) buanyak banget & kalo minum satu botol air (1 liter). mangkanya sekali makan dan minum, si Gesang ini tahan sampai beberapa hari, kayak ular saja,he9. tapi walaupun begitu gesang ini orangnya baik dan sabar, rajin pisan. dia calon sarjana tercepat diantara teman yang lain. kuliah di FIA jur Administrasi Publik Unibraw. ya jeleknya dia sih selalu menghabiskan konsumsi, klo ngejek selalu menyakitkan. tapi inilah teman ku, kamarnya disebelah kamarku pas..
Yang satu ini, namanya Syam, julukan Syampak, Syamboyo, Kasino (bny banget??). dari wajahnya sudah ketahuan sifatnya, yaitu; cabul, mesum, penjahat kelamin, dsb. walaupun tampak blo'on, tapi dia punya pacar lho, manis lagi. klo tidur waduh, seperti gempa bumi, getaran ngoroknya luar biasa.. ni orang klo pacaran lucu banget. selalu cari perhatian. gayanya gk ngetoki (tidak kelihatan) klo pacaran, terus ngumpul ma temen2 biar disuruh temen2 nemenin pacarnya... klo ngomong agak ngelindur.. tapi syam ini orangnya enak banget. selalu membantu temennya klo ada masalah. dia calon sarjana Teknik Peternakan Unibraw. oh ya satu lagi kekurangannya, syam ini orangnya selalu ceroboh. stnk, sim, kunci motor, kunci rumah, selalu lupa kalo naruh. juga sering kehilangan. untung saja "anunya" asli, coba klo buatan terus hilang??? hayooo???!!!ini dia yang paling terkenal. namanya Lukas. anak ini selalu menjadi bahan ejekan, olok2an teman2. ciri-cirinya, mulut besar (dijiluki Si Mulut), suka bersin disembarang tempat (menimbulkan virus antraxx), kamarnya merah menyala (diperkirakan ngepeet), suka menyiram mulutnya dengan air panas (sampai domblee). aku mencari tahu kenapa mulutnya kok besar (bukan rasis lho ini!!). ceritanya, ketika masih sma, si LUkas ini jalan menuju ke sekolah. nah di perjalanan ada gerobak sampah warna kuning. pas lukas berjalan di depannya tiba-tiba tukang sampah mendongkrak gerobaknya dan pegangannya mengenai mulut lukas, Thhhuuuookkkk, kena deh mulut lukas... seketika lukas menjerit kesakitan... sejak saat itu mulut lukas menjadi bengkak.. (untuk kepastian cerita tanya saja pada yang bersangkutan). Lukas ini calon sarjana Sosial Ekonomi Peternakan Unibraw. pokoknya hati2 klo lukas bersin, bisa2 kesedot ke dalam mulutnya.....

wahhh yang satu ini lebih fenomenal. jago makan, jago tidur.. orang ini namanya Khafinda, julukan Pakde (bapak yang guuedee). klo makan ueeeh jangn dekat2, bisa2 kena makan juga.. calon sarjana Sosiologi Unibraw ini orangnya agk pelit, tapi baik kok.. kalo ada barangnya yag hilang semua penghuni kos langsung di sidang... wah klo marah seperti gajah mada. tapi pakde orangnya baik lho. klo setiap pulang dari rumah, selalu bawa makanan buanyaaak ke kosan. pakde sukanya lihat film Masked rider, Shinchan, Doraemon, Naruto, Avatar, dsb yang kartun2. dia juga suka beli mainan orang2an Naruto, Ksatria Baja Hitam, sampai udengnya Naruto dia juga punya... wah kalo adikku yang kecil ketemu pakde, bisa rebutan nehhh..
nah yang ini namanya Yanwar atau anak2 klo manggil ye2n. fotonya agak gelap, karena emg orangnya gelap, he9. wah ini orangny fenomenal. setelah lulus dengan cumelaude dg gelar S.Do di Fak Perikanan Unibraw, kini melanjutkan studi di Teknologi Informatika Universitas Merdeka Malang. anak ini seperti ikan. pas teman-temannya pada tidur, dia melek sendirian, pas teman2nya pada bangun, eh dia tidur.. orangnya nyantai banget abiezz, juragan bEdhak lagi... kebiasannya yang aneh adalah selalu garuk2 rambut klo sudah ngantuk. jadi klo ada tanda2 garuk2 rambut kepala, mata marah, mulut putih... itu yanwar pasti ngantuk.... oh ya, pasti setiap hari pada jam 15.30 pasti dia nongkrong di depan TV nonton SCTV lihat reality show, ya kyak mak comblang, cinta pertama, dll deh...nah ini Idris (kanan) dengan om-nya namanya Erick, pernah dulu satu kosan dengan kita, tapi keluar karena menikah. mesra yaaa.. Idris dan om nya ini penggemar fanatik film B F... wooow di kmarnya ada berpuluh-puluh koleksi lho... hati-hati dris kena UU Pornigrafi dan Pornoaksi ntar.. wah apalagi om-nya, tambah maniak, lihat saja mukanya. tapi Idris ini orang nya gk milih2 teman, suka bergaul, tapi agak tempramen sih, gampang marah.. calon sarjana Hukum Unibraw ini menempati kamar kecil di kosan, sesuai dengan badannya yag mungil. tapi jangan slah lho, walaupun mungil tapi "anunya" boook....... tambah kecil hahaha98x. kuat sekalai lho idris ini. pernah dia pulang kampung, tapi malamnya balik lagi di Malang... dan itu sering dilakukan.. anak ini juga punya penuakit insomnia, jadi gk bisa tidur malam... jadi lagi favoritnya, bergadang jangan bergadangnya Rhoma Irama,,,,

Senin, 29 September 2008

tentang bulan puasa

gak terasa yo, bulan puasa tinggal dua hari lagi. emang satu bulan itu gak ada apa2nya. tapi kalo dirasakan ya berat juga. kita sebagai anak kosan sangat merasakan. kalo dirumah sih gak pa2, bangun tidur, makanan buat saur sudah tersedia. tapi bagi kita anak kos, harus berjuang melawanb ngantuk yang berat untuk berjalan dengan penuh perjuangan menuju sebuah tempat yang memberi kehidupan bagi kita semua, tempat itu adalah warung fajar (gile puitis banget).
ada cerita dan pengalaman neh selama puasa. pada hari pertama kami puasa ada pengalaman yang menyakitkan. di kosan cuma ada tiga orang waktu itu, aku, syam, dan idris. kita bangun jam 2.00 am. ngantuk banget. mana sepi lagi di sekitar. dan anehnya gk ada warung yang buka. mungkin kalo buka yang beli setan kali ya, la wong jam dua. ya akhirnya muter-muter gk karuan cari sumber kehidupan tadi. heran aku kok gak ada yang buka?? apa bakul2 itu lupa kalo puasa sudah dimulai?akhirnya ada sebuah warung dekat masjid, warung soto ayam. akhirnya kita bertiga makan soto ayam....
enak ya soto ayamnya. tapi ketika sampai di kosan, perutku la kok mulesss banget. waduh.... pas azan subuh tambah mules waduh gawat neh... dengan gaya seperti werkudoro aku langsung ke KM. dan byuuuaaaarrrr ahhhhhh legaaaaa. gile gue keracunan neh kayaknya.... wah soto ayam di pagi hari yang menyakitkan... jangan2 warung soto itu bukan warung yang sebenarnya...hiii...
pada minggu kedua, wah puasa semakin nikmat saja, panasnya hawa malang bukan main, klo malam dinginnya bukan main. malam yang dingin uenak buat ML ma selimut dan bantal.... aku juga terlena dengan nafsu tidurkuuu enak sampai ngilerrr... pas jam 2.30 idris bangunin aku. spontan aku bangun dengan wajah kucel kurang tidur. aku masih bermimpi ketemu dewi pujaanku.... akhirnya bangun deh buat makan saur. suasana masih ngantuk banget aku, padahal sudah cuci muka. berjalanlah kita anak sekosan, waktu itu ada 4 orang. aku ngantuk bangettsss. jalan sambil setengah tidur. la pas itu.:
syam:" he....Ceng awas ada ranjau!!!"
aku: "mmmmm huaaaa(masih ngantuk)"
pakde: "gung........!!!!"
dan itu kata pakde....ketika itu aku GUBRAKKKKKK kena tuh sampah dan tukang pemulung......hampir aja aku nyium tu pemulung, wah jadi saur muka orang deh aku....
idris: "tangi le...tangi....."
sekarang aku di kosan sendirian. teman2 pada pulang. aku nunggu cayangku dulu. ntar jam 3 aku pulang,...ahhh perjuangan neh......
Oke semua selamat LEbaran.......

Rabu, 10 September 2008

Helm

HELM

Oleh:

Agung Ari Widodo

(jeneng_pasaran@yahoo.com)


Benda yang satu ini tentu sangat dikenal oleh masyarakat. Bentuknya yang bulat menyerupai kepala ini merupakan pelindung kepala jika berkendara sepeda motor. Menurut pengertian dalam kamus Bahasa Indonesia, helm adalah pelindung kepala yang terbuat dari gabus atau atom (Idrus, 1996). Helm berasal dari Bahasa Inggris helmet.

Di masyarakat Indonesia helm berfungsi tidak hanya sebagai pelindung kepala. Fungsi kedua dari helm adalah sebagai syarat supaya tidak ditilang oleh Om Pol (Om Polisi). Jadi orang yang berkendara sepeda motor di jalan raya tanpa memakai helm harus siap untuk mendapatkan tilang dari Om Pol.

Agaknya masyarakat Indonesia belum memahami fungsi dari helm. Seperti pengertian di atas, halm adalah pelindung kepala. Jadi agar kepala kita aman, maka perlu memakai helm dalam berkendara sepeda motor. Kita semua tahu bahwa kepala merupakan anggota tubuh yang sangat vital. Di dalam tempurung atas kepala kita tersimpan otak yang merupakan komandan dari berbagai organ-organ tubuh kita dan juga sebagai pusat saraf. Nah bisa dibayangkan jika kepala kita terbentur benda yang keras.. Jadi memakai helm pada saat berkendaraan merupakan upaya untuk menjaga diri kita (kepala), bukan untuk syarat supaya tidak ditilang oleh Om Pol.

Selain untuk melindungi kepala, helm juga melindungi bagian tubuh yang lain, yaitu melindungi mata dari debu dan melindungi telinga dari kotoran polusi. Jadi Om Pol tidak salah untuk menilang, mereka para penegak hukum justru memberikan motivasi agar para pengendara sepeda motor memakai helm untuk keselamatan diri pengendara itu sendiri, bukan memakai helm karena ”takut” pada Polisi.

Pemilihan helm juga harus diperhatikan. Memilih helm harus berukuran standart, bukan helm yang seperti tempurung kelapa. Kalau helm yang seperti tempurung kelapa itu mending dipakai gayung untuk mandi saja. Sekarang semakin banyak produk-produk helm standart yang bagus, seperti BMC, Takachi, dsb.

Nah, sekarang helm menjadi semacam fashion. Bentuk-bentuk helm semakin bervariasi dan sangat disukai anak-anak muda. So guys, mari kita berlaku tertib di jalan.

Kamis, 31 Juli 2008

Jam kuliah sudah selesai, untuk mengisi waktu luang saya pergi ke perpustakaan pusat Universitas Negeri Malang. Supaya lebih tenang membaca, saya langsung menuju ke lantai 3. di lantai ini banyak sekali terpajang buku-buku yang “langka” karena selain usia dari buku-buku sudah tua juga sudah jarang atau bahkan tidak ada dalam toko-toko buku. Tentunya saya berpikir semoga ada perawatan lebih intensif agar buku-buku langka ini tidak rusak.

Saya tertarik pada buku yang bergambar wayang. Pengarangnya adalah Anton E. Lucas, berjudul Peristiwa Tiga Daerah, Revolusi Dalam Revolusi. Pertama yang saya buka pada buku ini adalah halaman daftar isi dan kata pengantar. Menarik, buku ini diberi kata pengantar oleh Prof. Dr. Sartono Kartodirjo, salah satu sejarawan Indonesia. Buku ini aslinya adalah disertasi dari Antony E Lucas di Australian National University, Canberra dengan judul The Bamboo Spear Pierces the Payung : The Revolution againts the Bureaucratic Elite in North central Java ini 1945.

Buku memberikan informasi tentang pergolakan sosial yang terjadi di tiga daerah di pesisir utara Jawa Tengah, yaitu; Brebes-Tegal-Pemalang. Sejarah Tiga Daerah penting sebagai peristiwa local revolusi Indonesia, karena merupakan sebuah revolusi sosial dengan ciri khas tersendiri. Disini revolusi sosial diartikan sebagai suatu revolusi untuk mengubah struktur masyarakat kolonial/feudal menjadi suatu susunan masayrakat yang lebih demokratis. Cita-ciata ini mulai diperjuangkan oleh Sarekat Islam di Pekalongan pada tahun 1918, diteruskan oleh gerakan PKI dan Sarekat Rakyat samapi tahun 1926, tetapi baru tercapai pada bulan Oktober-November 1945[1].

Dalam Peristiwa Tiga Daerah ini menceritakan tentang penggulingan elite birokrasi masa kolonial oleh para revolusioner yang ”sakit hati” pada Oktober-Desember 1945. Tidak hanya digulingkan, malah terjadi gerakan sosial yang menimbulkan korban jiwa di pihak kalangan birokrat, bahkan sebelum dibunuh para birokrat ini di arak keliling kampung dulu (atau dalam buku ini disebut dombreng). Hal inilah yang membedakan dengan karya seajrah yang lain, seperti misalnya William H. Frederick yang membahas tentang Surabaya, yang tidak menimbulkan korban jiwa selama revolusi[2]. Atau dalam Taufik Abdullah (editor), Kumpulan tulisan tentang Sejarah Lokal, memuat tentang revolusi ditilik dari segi politik[3].

Karya ini menggunakan style Sejarah Sosial. Dari bab pertama sudah disuguhkan situasi dan kondisi pada masa kolonial, sehingga pembaca bisa merasakan apa yang terjadi pada waktu itu. Anton E. Lucas menggunakan sejarah lisan untuk menambah dan melengkapi sumber-sumber dokumen. Dengan teknik sejarah lisan (wawancara) rekonstruksi peristiwa-peristiwa di tiga daerah menjadi lebih hidup[4]. Tidak hanya peristiwa saja yang diceritakan, kehidupan sosial budaya di tiga daerah pada waktu itu juga diungkapkan dengan detail.

Elite-elite birokrat di tiga daerah merupakan pejabat yang diangkat oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Seperti yang sudah diketahui bahwa pada akhir abad 19 samapi awal abad 20 Belanda melakukan eksploitasi sumber alam untuk mengisi kas negara yang kosong. Untuk mengadakan eksploitasi itu Pemerintah Kolonial mengangikat para priyayi untuk dijadikan pejabat birokrasi yang menangani penyerahan pajak dan hasil bumi rakyat. Dari sinilah timbul korupsi yang dilakukan oleh birokrat priyayi tadi. Ketika Pendudukan Jepang para birokrat juga melakukan hal yang sama. Mereka memeras rakyat agar menetorkan padi dengan paksa. Hal ini dilakuakan oleh birokrat paling bawah, yaitu lurah, untuk menimbun hasil padi[5].

ada perlawanan dari rakyat terhadap birokrat pada masa Pendudukan Jepang. Seperti yang terjadi pada insiden Comal. Dalam insiden ini Camat Raden Basirun tewas ditusuk bambu runcing karena dikeroyok warga. Warga Comal tidak suka pada perlakuan dari R. Basirun yang sering menggunakan kekerasan fisik[6].

Perlawanan rakyat terhadap pangreh praja, lurah, dan kaum birokrat yang lain semakin ”ganas” ketika pasca Proklamasi 17 Agustus 1945. Aksi-aksi yang terjadi adalah kekerasan yaitu merusak, merampok, membakar, atau bahkan membunuh. Seperti yang erjadi pada Juwito, bekas pegawai Jawatan pertanian yang tewas ketika rakyat membakar rumah lurah dan camat di Pemalang[7].

Ada ritual menarik pada revolusi ini, yaitu ritual dombreng. Pola ritual ini ada sebagai berikut. Kalau yang kedapatan, ia pun diseret keluar dan dipertontonkan di muka umum. Seringkali ia di dikalungi beras atau padi, dan diiringi bunyi ”breng dong breng” yang berasal dari kaleng kosong yang dipukul-pukul. Hal ini selalu terjadi di siang hari, supaya sebanyak mungkin orang dapat menyaksikan[8]. Aksi ini tidak lepas dari peran para Lenggaong[9] yang memimpin ritual dombreng. Para lenggaong ini juga mempunyai peran dalam Revolusi Tiga Daerah.

Struktrur birokrasi juga mengalami perubahan. Yang merubah adalah orang-orang dari organisasi seperti AMRI, API, Sareikat Rakyat dan PKI bawah tanah. Bahkan budaya pun juga berubah. Seperti dalam hal bahasa. Bahasa kromo dihilangkan, dan menggunakan bahasa ngoko untuk berkomunikasi. Hal ini bertujuan supaya terjalin keakraban dan menghilangkan sikap feodal.

Revolusi selalu terjadi pada suatu peristiwa yang menjadi peralihan jaman. Peristiwa Tiga Daerah ini terjadi pada peralihan masa dari masa Kolonial Hindia Belanda, Pendudukan Jepang, sampai proklamasi kemerdekaan. Proklamasi membuka pintu untuk kekuatan sosial dan politik, cita-cita dan nilai-nilai di kalangan masyarakat, yang sebelumnya tertindas atau tidak dapat ditampilkan[10].

Peralihan jaman pada 1965-1966 juga menimbulkan gejolak pada masyarakat. Juga pada 1998. karena itulah diperlukan suatu saling mengerti dan saling percaya antara pemerintah dan rakyat. Pemerintah harus selalu terbuka terhadap rakyat dan selalu memperhatikan nasib rakyat. Rakyat juga harus legowo dengan melaksanakan aturan-aturan pemerintah. Tetapi jika ada tindakan pemerintah yang menyeleweng, maka rakyat harus bertindak.

Hanya kedekatan penguasa dan rakyatlah suatu negara bisa makmur.



[1] Hal. 2.

[2]William H. Frederick, Pandangan dan Gejolak, Masyarakat Kota dan Lahirnya Revolusi Indonesia (Surabaya 1926-1946), Jakarta: Gramedia, 1989. Temporal dalam karya ini juga relatif panjang yaitu antara 1926-1946 dan puncak gejolaknya yaitu pada pertempuran 10 November 1945

[3] Taufik Abdullah, Sejarah Lokal Indonesia

[4] Seperti pada karya disertasi lainnya, dala buku ini juga dilampirkan transkripsi wawancara dengan saksi mata. Selain itu juga terdapat foto, arsip, dan sumber pustaka.

[5] Hal. 41.

[6] Hal. 68.

[7] Hal. 204.

[8] Hal. 193.

[9] Orang yang mempunyai pekerjaan merampok/ mencuri barang. Ada juga Lenggaong yang merampok harta orang kaya untuk diberikan kepada orang miskin (seperti cerita robin hood saja...).

[10] Hal. 299.

tebal muka

busyet hampir saja gue jadi malu neh. maunya ngenet gratis eh hampir aje dapatnya malu...tapi gpp wong aku ini orangnya hampir bermuka tebal (eh semua kok hampir2?). begini ceritanya kawan
aku mau ngenet gratis neh, la stop contactnya itu dah penuh. ada satu yang kosong tapi di aku harus mencabut salah satu steker terus tak pindah biar aku kebagian. stekerku kan model gemuk, la orang yang mau stekernya tak ganti tu steker yang kecil. waduh kok mumet gini!! jadi begini, steker gemuk tak pasang di pinggir dan steker yang kecil tak pasang di tengah. la punyaku yang besar (jangan mikir jorok lho ya!!!) tah pasang di pinggir. jadi kan pas. nah uniknya nih kan tadi sebelum pasang- memasang, orang yang punya laptpop agak mrengut, la gimana laptopnya tidak ada batrenya, jadi harus dimatikan dulu. sebenarnya ada colokan (stop contact) nganggur di depanku tapi ramai. la gak enaknya eh pas aku hampir malu karena gangguin dua cewek yang anunya (hayo..hayooo) tak copot terus tak pasang lagi, kata enaknya menganggu. la kok orang-orang yang ngenet di depanku dah selesai dan pada pergi. wah kalau tahu gitu aku ngenet di sana aja. tapi pokoke gue tebal muka deh.....