Selasa, 06 Oktober 2009

Skripsi : Perjuangan menuju kesuksesan (1)

Kamis, 27 November 2008

Skripsi? Apa itu skripsi? Para mahasiswa semester akhir (semester 7 ke atas) pasti pusing mengerjakan skripsi ini. Terus apa itu skripsi?? Aku juga bingung apa itu skripsi? Kenapa aku bingung? Iya karena aku juga mengerjakan sesuatu yang bernama skripsi ini.. Lalu apa itu skripsi?? Skripsi ini membuatku pusing juga. Semester 7 ini sudah berjalan hampir berakhir aku belum selesai menyelesaikan pra skripisi atau sering juga disebut proposal penelitian.

Mulailah aku mencari apa itu pengertian skripsi. Mulailah aku baca buku. Skripsi adalah jenis penelitian yang berorientasi pada data empiris di lapangan. Skripsi ini adalah syarat kelulusan untuk kita mahasiswa yang menempuh jenjang sarjana S1. Kalau menurutku sih skripsi adalah hasil akhir dari kita kuliah sampai semester akhir. Teori-teori yang kita dapat dari kuliah kita praktekkan dalam skripsi. Kita tulis dalam skripsi. Kata para dosenku sih skripsi ini adalah ”latihan” dalam mahasiswa yang menyelesaikan studi S1. Beda lagi nantinya kalau menulis tesis atau desertasi, wah tampang pusing kurus kering....

Itulah skripsi. Inilah yang membuatku pusing. Saat ini belum aku mengerjakan skripsi. Aku masih mengerjakan dalam taraf praskripsi. Apa itu? Apa bedanya dengan prasejarah? Ya yang dimaksud praskripsi ini adalah proposal penelitian. Atau lebih mudahnya rencana penelitian. Wah ini aku pusing lagi. Sebenarnya gak pusing sih, cuma aku saja yang agak bulet.. Lho kok gitu?? Ya semua berawal dari diri-sendiri. Kalau ada niatan pasti ada jalan. Tapi aku belum ada jalan, niat sudah.

Dari tadi panjang lebar bercerita tentang skripsi.. Aku mau bercerita tentang diriku. Aku ini sebenarnya mahasiswa Jurusan Sejarah di salah satu universitas negeri di Malang, namanya Universitas Negeri Malang (UM). Sering orang-orang salah dengan sebutan UM, mereka mengira UM itu adalah Universitas Muhammadiyah. Nah sekarang ini aku lagi dalam proses mengerjakan proposal. Lha jadi belum mengerjakan skripsi. Dengan tertawa ha ha ha ha ya aku masih praskripsi. Proposalku sebenarnya sudah jadi. Tapi pas aku lihat lagi kok amburadul?? Terus aku mengikuti seminar. Aku maju di urutan nomer lima. Di kampusku seminar itu mata kuliah dan aku ikut mata kuliah itu di semester tujuh ini. Nah cerita dilanjutkan kembali. Aku melihat teman-teman yang maju. Wah ternyata amburadul. Terus aku melihat proposalku sendiri.. Walah tambah amburadul. Butuh antivirus PC Media neh, biar virus amburadulnya bisa terhapus.

Nah melihat pengalaman dari teman-teman yang sudah maju, aku bertekad proposalku harus aku ubah biar bener. Mulailah aku merevisi sendiri proposal. Bukannya tambah baik eh malah tambah pusing aku?? Aku mengetik kata demi kata. Tapi gak selesai-selesai setiap satu kalimat yang kuketik aku delete aku hapus. Terus ngetik lagi, hapus lagi, terus begitu. Walah malah pecah deh kepala. Terus aku konsultasi pada dosen namanya Pak Joko (maaf ya kalau aku menyebut merk). Konsultasi setengah curhat aku. ”Pak aku pusing pak, gimana nih..??” kataku. Terus akhirnya aku diberi jalan keluar untuk judul proposalku. Oh ya kawan judul proposalku yang diusulkan Pak Joko ”Pemikiran Sutomo tentang Pergerakan Politik di Indonesia”. Sebenarnya dari setahun yang lalu aku menyiapkan tema Biografi Bung Tomo, aku mencari buku-buku tentang Bung Tomo. Sampai saat ini yang aku temukan cuma lima buku. Rencana skripsiku adalah biografi Bung Tomo

Oke kembali ke proposal. Yah akhirnya daripada bingung dan pusing 77 keliling aku akhirnya membuat proposal yang judulnya tadi diberikan oleh Pak Joko. Waktu itu tinggal seminggu lagi aku maju seminar. Wah aku buat deh. Proposalku yang lama aku lanjutkan ya aku tambahi dengan kata-kata dari buku dan kata-kataku sendiri. inilah kawan kalau kita tidak banyak membaca. Salah satunya aku. Aku kekurangan kata-kata yang pas untuk tak masukkan dalam proposal. Apalagi di bagian latar belakang... Tapi weess pokoknya buat dulu, ntar kan ada revisi dan dosennya pasti mencoret-coret dari halaman per-halaman.

Pada waktu mau ngumpulin proposal, sehari sebelum aku tampil eh dosen pembimbing seminar malah sibuk jadi panitia sertifikasi di Batu. Oke deh aku sangat memahami, karena itu memang tugas berat menentukan nasib para guru. Maaf aku menyebutkan nama orang lagi, dosen pembimbingku seminar adalah Pak Mashuri. Wah orangnya melankolis banget, perfeksionis, kalau moodnya lagi enak, wuah ueenak kalau konsultasi. Nah pas aku tampil wah mood orang ini lagi negatif, maklmum baru pulang dari sertifikasi di Batu larut malam terus paginya datang ke seminarku.

Oke ceritanya begini. Aku kan seminar hari Jumat. Proposal harus aku serahkan sehari sebelum seminar. Hari Kamis aku mengontak Pak Mashuri. Pas Rabu malam aku menelpun rumahnya, gak ada yang ngangkat. Aku telpun Hpnya gak aktif. Waduh pusing deh. Akhirnya hari Kamis aku ke kampus kalau-kalau Pak Mashuri ada. Tapi ditunggu pun tidak kunjung nongol. Akhirnya aku telpun ke Hp dan alhamdulillah aktif. Telpun, terus aku harus menemuinya ke Batu, waktu itu beliau ada di Hotel Tiara depan kantor kecamatan Batu. Berangkatlah aku kesana, demi mengumpulkan proposal. Oke sampai di hotel. Wah bingung.. Kata Pak Mashuri, kalau beliau tidak ada serahkan ke Pak Saiful atau mbak Dina, anggota beliau. Di hotel aku mondar-mandir gak ketemu ma kedua orang di atas. Tanya orang pada gak tahu. Ada yang tau tapi orangnya gak ada. Dari pada pusing aku malah ngobrol sama guru yang disertifikasi, tapi aku lupa namanya. Terus aku diantarkan oleh guru itu ke panitia pusat sertifikasi. Tapi gak nemu. Akhirnya dengan wajah agak mrengut aku pasrah sajalah.

Berjalan aku di depan hotel Tiara. Masuk lagi ke dalam. Dan beruntung aku bertemu dengan Ibu Widya (atau siapa ya aku lupa). Nah ibu ini juga salah satu anggota dari Pak Mashuri. Aku titipkan proposalku ke orang ini. Dan orangnya mau, aku berterima kasih. Ooalaah mau nyerahkan proposal kok angel banget... Wess aku lega pulang ke Malang. Terus malamnya aku persiapkan power point buat presentasi besoknya (Jumat). Aku menyerahkan proposal hari Kamis 6 November 2008, aku presentasi Jumat 7 November 2008.

Jumat pagi aku tampil. Aku lihat Pak Mashuri tampak kelelahan. Ya maklumlah beliau banyak kegiatan alias sibuk banget. Presentasiku agak kacau, terus proposalku tambah kacau. Aku pikir proposalku dicorat-coret dalamnya lembar demi lembar, eh tidak. Dibaca pun tidak. Ya pak Mashuri kan sibuk, seharusnya aku mengumpulkan seminggu sebelumnya. Tapi dua temanku mengumpulakan sehari sebelumnya enak dicorat-coret lembar demi lembar. Jadi tahu salahnya. Lha aku cuma ditulis di depan cover. Wah ini proposalku kuaaacaau atau bagus?? Tapi kayaknya kacau soalnya gak fokus. Lha seminarku juga agak kurang sip karena cuma satu jam soalnya Pak Mashuri juga ada kegiatan lagi.. Walah gimana ini? Gimana mau revisi wong gak ada coretannya?

Ternyata memang harus revisi total kawan. Proposalku kacau. Kata-kata yang di latar belakang itu tidak sinkron. Aku harus banyak baca lagi. Ada ketakutan tidak lulus aku. Aku harus mengumpulkan sumber lagi ini. Harus dapat? Gimana caranya?? Satu hari satu paragraf. Dan setiap hari baca. Syukur-syukur kalau bisa ketemu sumber primer. Inilah sejarah kawan. Aku harus menemukan sumber-sumber primer baik saksi hidup, arsip, maupun buku. Aku tidak mengharapkan molor lama, tapi aku berpikir proses. Proses membuat tulisan...

Sabtu, 6 Desember 2008

Kawan, ternyata menulis itu susah banget, apalagi menulis karya ilmiah seperti skripsi ini. Padahal aku masih menulis praskripsi. Satu hari satu kata atau satu paragraf ternyata tidak bisa berjalan dengan teratur. Masih saja ada halangan, entah itu malas atau gak ada inspirasi.

Malas, kata ini sengaja aku cetak tebal. Kata ini membuat hidup seseorang menjadi tidak berguna. Ya itu benar, termasuk aku yang terkena penyakit psikologis ini. Kalau mau menulis menunggu dengan malas ya tidak berguna. Sebenarnya aku banyak inspirasi kawan. Aku mulai sering berdiskusi, sering membaca di perpustakaan. Inspirasi untuk menulis itu ada. Tapi ketika menghadapi komputer untuk mengetik, ya ampun mengetik kata pertama aja tidak bisa, rasanya kayak ada yang kurang. Aku udah banyak baca, aku udah sering lihat proposal skripsi di perpustakaan Lab Jurusan Sejarah. Lalu apa masalahnya???.

Belajar terus tanpa henti. Seorang dosenku bernama Pak Najib sering mengatakan gaat late voor leren (moga kalimatnya benar), yang artinya tidak ada kata terlambat untuk belajar. Ternyata kata ini asyik kawan. Aku begitu menikmati belajar di semester akhir ini (semester 7). Aku juga sangat paham teori tentang penulisan sejarah, pengumpulan sumber, metodologi, dan teknis untuk menulis. Inspirasi menulis juga buanyak aku dapatkan. Ada satu pengalaman yang membuat adrenalin-ku bergejolak. Kemarin hari Kamis, 4 Desember 2008 aku mengikuti seminar dari kelas Program Studi (Prodi) Pendidikan Sejarah. Ternyata kebingungan dan kesalahan menulis proposal tidak hanya aku yang mengalami. Teman-teman dari Prodi lain juga begitu. Malah ada mahasiswa yang tingkat intelektualnya tinggi menulis proposal aja kalang kabut. Aku melihat tampilan power point-nya, dan melihat metodologinya, wah kacau. Ternyata orang ini juga sama. Terus sesudah presentasi, diberi penjelasan oleh dosen pembimbing seminar, ketika itu Pak Deny. Penjelasan dari Pak Deny ini sangat enak, kita diberi tahu teknik-teknik menulis proposal.

Inilah kawan, aku berusaha mencari inspirasi dalam menulis proposal yang kelak nanti menjadi skripsiku. Aku mulai belajar. Aku banyak-banyak membaca buku-buku hasil penelitian, buku biografi (karena temaku ini biografi tokoh). Melihat seminar dari Prodi lain. Aku menjadi bertambah paham akan penulisan penelitian sejarah. Tinggal praktek. Nah, ini yang agak sulit. Gak tahu ya kok menulis satu kalimat aja sulitnya bukan main. Apa bingung kata apa yang kira-kira cocok ya??

Begini kawan dalam proposal kan ada sistematikanya: setelah kita menentukan tema apa yang cocok, kita mempersempitkannya menjadi topik, misalnya aku mau membahas tentang tema tokoh pahlawan, kemudian aku sempitkan menjadi topik biografi tokoh, yang aku pilih adalah Sutomo atau lebih dikenal dengan nama Bung Tomo. Kenapa aku memilih tokoh ini? Sebelumnya Bung Tomo ini belum mendapatkan pahlawan nasional. Namanya terkenal pada peristiwa perang 10 November 1945 di Surabaya. Tokoh ini kontroversi, kisahnya hanya diceritakan sepenggal-sepenggal. Bahkan kegiatan pada masa pasca revolusi belum ada yang mengupas. Nah inilah kawan alasanku memilih tokoh ini. Alasan ini ada dalam latar belakang. Judulku adalah Biografi Politik Bung Tomo 1920-1981. Kemudian aku merumuskan masalah, bagaimana latar belakang lingkungan Bung Tomo, bagaimana pemikiran Bung Tomo, dan bagaimana kegiatan politik dari Bung Tomo. Mungkin untuk tujuan tidak aku bahas, soalnya subbab itu mengikuti rumusan masalah. Untuk manfaat aku tidak terlalu muluk, cukup untuk sebagai pengalaman dan pelajaran dari tokoh yang aku tulis, sebagai referensi, dan kalau sukses dan diterbitkan, bisa bermanfaat bagi masyarakat, biar tahu siapa Bung Tomo dan juga agar bisa menjadi pelajaran. Yang penting subbab manfaat realistis saja, gak usah muluk-muluk.

Pada kajian pustaka mau aku menjelaskan tenang konsep biografi. Aku mencari definisi biografi dari buku-buku yang meceritakan tentang biografi tokoh, dan juga mencari di kamus ilmu pengetahuan, mungkin nanti aku mencarinya di kamus besar Bahasa Indonesia. Tapi menurutku definisinya sama aja, yaitu kisah atau menceritakan tentang riwayat hidup seseorang. Terus di subbab kajian pustaka ini juga aku nantinya menampilakan karya-karya biografi yang lain dan memetakaannya. Kan jenis biografi itu bermacam-macam, ada yang biografi politik, ada yang biografi pemikiran, dan yang lain yang belum aku temukan, ha100x. Kemudian aku juga akan menulis tentang situasi politik selama Bung Tomo hidup.

Metodologi. Metode yang aku gunakan adalah metode historis. Kuntowijoyo sudah mengatakan dan aku paham tentang metode ini, heuristik, kritik, dan interpretasi, kemudian historiografi.

Ø Heuristik adalah cerita mengumpulkan sumber. Jadi dalam proposalku nantinya akan aku tulis pengalamanku ketika mengumpulkan/ eksplorasi sumber. Mengklasifikasi sumber, mana yang primer, sekunder, tersier, kuarter, dan ter-ter yang lain. Kemudian identifikasi, apakah sumber ini terkait dengan judulku. Tentunya cerita ini memakai bahasa ilimiah, bukan bahasa kayak gini, bisa ditonjok sama Ketua Jurusan.....

Ø Kritik, ada dua ekstern dan intern. Ekstern itu kritik dari bagian luar sumber. Apakah sumber yang ditemukan asli atau palsu. Ini bagian luarnya lho ya, kalau sumber dilihat dari luar sudah kelihatan palsu ya di buang aja. Terus intern, itu dari dalam. Ketika sudah diluar sudah asli, lalu diteliti di bagian dalam. Nah kalo ternyata di bagian dalam ini menyimpang isinya dan tidak cocok dengan luarnya, ya dibuang juga. Begitu juga dengan sumber saksi sejarah. Topik kita adalah perang di Surabaya, terus menemukan saksi sejarah. Ngakunya sebagai pemimpin tapi ditanya dulu gimana strategi perang, eh dia gak bisa jawab, ya hati2 palsu dia. Terus bandingkan dengan saksi yang lain. Terus ternyata yang diwawancarai pertama tadi ternyata tukang masak gimana, berabe doonkk!! Jadi ibarat kita meneliti seorang wanita. Dari luar wwuuaah cuuantikkk, mulus... tapi kok kakiny berbulu, wah berarti palsu..

Ø Interpretasi. Nah ini setelah mendapatkan sumber dan memastikan sumber itu asli, mulai kita tafsirkan. Tentu tafsiran ini tidak asal-asalan, sebelumnya kita harus tahu tentang isi dari sumber yang menyangkut topik/ judul kita. Tidak main comot terus dirujuk. Ini kawan kesalahanku juga dalam menulis proposal. Pokoknya ada sumber aku comot saja jadi rujukan. Penggunaan teori juga dibutuhkan dalam mentafsirkan sumber. Misalnya menemukan batu bata merah. Kalau kita tidak tahu teori tentang arkeologi, ya gak tau ini batu bata buat apa dan dari mana. Mungkin kalau dikejar anjing bisa tahu gunanya.

Ø Tahap terakhir adalah historiografi. Inilah yang menentukan. Tugas peneliti adalah menuliskan secara kronologis dan sistematis dalam sebuah karya ilmiah. Aku teringat kata-kata dari Pak Joko, Setangkai Pena, Selembar Kertas, Seuntai Kata-kata. Dan benar kawan kata-kata ini membuatku semangat dalam menulis. Dari setangkai pena (mungkin sekarang sebuah laptop) aku menuliskan dalam sebuah kertas yang lama-lama karena banyak menulis kata-kata hingga menjadi sebuah buku. Dan jika semakin banyak menulis akan banyak menerima uang, amiiiinnnn. Ya kawan inilah impianku..

Itulah kawan aku bisa dan paham menuliskan teknik menulis karya ilimah. Tapi pas aku praktek, walah malah pusing sendiri. Kelemahanku saat ini adalah sumber sejarah. Ya itu dia sumber sejarah, sekali lagi sumber sejarah. Aku harus segera mendapatkan sumber sejarah. Aku harus mengumpulkan sumber sumber tentang Bung Tomo. Aku harus mengejar, berusaha.. Aku tidak berpikir muluk-muluk, aku berpikir proses. Apa yang ada sekarang ya aku pakai, apa yang ada sekarang aku gunakan dahulu. Nanti setelah dapat sumber baru dibenahi.. Ternyata menulis ilmiah itu suliit ya...

Sabtu, 3 Januari 2009

Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, dan hari berganti hari. Sudah dua minggu aku mengejar tema Biografi Bung Tomo. Sampai sekarang belum aku temukan sumber primer, aku belum bertemu dengan Ibu Sulistina Sutomo. Merasa berdosa aku rasanya, aku tidak menepati janji dengan beliau. Padahal kemarin sebelum pekan sunyi aku sudah merencakan untuk ke Bogor dengan Hunter. Bahkan Ibu Sulistina sudah aku hubungi via telepon. Tapi tidak jadi. Tahu masalahnya kawan??

Jadi begini, seminggu sebelum pekan sunyi aku sudah pasrah dengan judul proposal Biografi Bung Tomo ini. Aku sudah pusing bagaimana aku mengerjakannya. Sumbernya jauh dan waktu untuk kesana mepet banget. Kemudian aku berpikir realistis saja, aku akan berganti judul yang dekat denganku. Judul yang aku persiapkan adalah Sejarah Terbentuknya Kamra (Keamanan Rakyat) di Indonesia tahunnya 1998-2000. Pikirku, mungkin dengan judul ini aku bisa lebih mudah mengerjakannya. Aku bisa bertanya dengan ayahku yang nota bene adalah polisi dan bisa mencari saksi hidupnya. Aku mulai mencari-cari sumber basah tentang Kamra melalui internet.

Temanku Hunter, menyatakan kesediaan siap untuk berangkat ke Bogor. Ini yang membuatku pusing lagi. Aku mempersiapkan tema yang lain malah ada jalan menuju ke Bogor. Dan waktunya sempit sekali, hanya seminggu, tapi aku rasa cukup untuk sekedar lulus. Inilah kawan pemikiran mahasiswa semester 7, bawaannya pengen lulus saja. Hambatannya yang lain adalah pada hari sabtunya aku harus pulang ke rumah. Ada acara boyongan rumah, aku boyongan dari Kertosono ke Jombang. Acaranya berlangsung sampai minggu. Aku berencana tapi tidak niat, nanti sepulang dari Kertosono aku langsung ke Bogor. Tapi Tuhan berkehendak lain. Pada waktu acara boyongan aku jatuh sakit.

Kesalahan yang sangat besar aku lakukan adalah menelpun Ibu Sulistina dan menjanjikan ke Bogor pada pekan sunyi, yaitu tanggal 28 Desember 2008-4 Januari 2009. Mungkin di Bogor sana aku hanya bertemu dua hari dengan Ibu Sulistina, soalnya waktu yang mepet, belum mencari rumahnya. Dengan tololnya aku ngomong di telepon dengan Ibu Sulistina kalau aku mau kesana dan ingin bertemu. Dan aku sudah bilang kalau aku ingin bertemunya pada hari rabu atau kamis. Dan Ibu Sulistina bilang ya.. Lalu sampai sekarang aku belum kesana dan belum juga menghubungi kalau tidak jadi ke Bogor. Tidak enak aku rasanya. Untung saja Ibu Sulistina tidak menanyakan nomer Hpku, bisa-bisa aku kena masalah yang besar. Aduh aku sangat merasa bersalah.

Ketika di rumah Kertosono aku terus memikirkan tema skripsiku dan pergi ke Bogor. Tahu akibatnya kawan? Sampai tema itu datang di mimpiku. Alam bawah sadarku langsung membaca seluruh keinginanku itu. Banyak sekali yang datang dalam mimpiku, ada dosen pembimbing, ada teman-teman, bahkan Bung Tomo dan istrinya juga ada. Semua menumpuk di kepalaku. Memang benar kata neurolog Sigmund Freud, apa yang ada dalam alam nyata akan kembali ada pada alam bawah sadar, termasuk ide. Dan yang terjadi padaku adalah, paginya badanku langsung meriang kedinginan dan rasanya panas dingin. Sungguh luar biasa kekuatan alam bawah sadar.

Pemikiran orang-orang, gagal merupakan musibah yang tek terkira. Tapi bagiku gagal adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa. Dari gagal aku bisa menjadi lebih baik lagi, dan meraih kesuksesan. Gagal, aku membuat proposal ini gagal dan ingin rasanya mengulang dengan membuat yang lebih baik lagi. Tapi untuk syarat lulus, aku tetap berusaha mengerjakan proposalku. Kemudian aku berkontemplasi, aku harus mengganti kesalahanku terhadap Ibu Sulistina. Jika aku lolos dan berhasil mengerjakan skripsi, aku akan membuat Biografi dari Bung Tomo. Bung Tomo merupakan salah satu idolaku. Aku ingin bisa menulis seperti Bung Tomo.

Kini aku diliputi banyak ide dan gagasan. Setelah membaca novel Maryamah Karpov, Tetralogi Laskar Pelangi yang terakhir, motivasiku untuk menggapai impian tumbuh lagi. Aku ingin sekali menulis, menghasilkan karya yang sangat bagus dan bisa dibaca oleh banyak orang di seluruh Indonesia atau bahkan di seluruh dunia.

Aku akan berusaha mengumpulkan banyak sumber lagi untuk tema baruku ini. Aku harus bisa membuat sebuah karya ilmiah yang bagus yang terbagus, yang terbaik. Semester depan aku akan mengeksplorasi sumber-sumber sejarah. Jika ganti judul dan mengajukan judul, tentu sumber-sumbernya harus ada. Biar aku bisa beragumen. Diam-diam aku menantang Pak Mashuri, dosen pembimbing seminar. Aku harus bisa..

Rabu, 28 Januari 2009

Lama juga aku tidak menulis, hampir tiga minggu. Oke kawan perjalanan menggapai kelulusan dilanjutkan kembali. Minggu ini aku melakukan KRS (Kartu Rencana Studi). Dalam KRS itu tercantum 4 mata kuliah yaitu, Skripsi, KKN, Kapita Selekta I dan II. KKN aku delete karena aku memilih mata kuliah Kapita Selekta I dan II. Pada hari pertama KRS-an (begitu kita menyebutnya) yaitu kemarin, aku mengajukan judul skripsiku. Mau tahu kawan apa judul skripsiku? Ahh kau mau tahu aja, baiklah. Judul skripsiku tetap yang kemarin, yaitu Biografi Politik Sutomo (1920-1981). Aku akhirnya mengajukan judul ini karena melihat seminarku kemarin aku lulus walaupun mendapat nilai B-. Sampai sekarang aku tidak tahu kapan pengunguman penerimaan judul? Semoga saja diterima. Amiin.

Aku sudah menebak-nebak siapa calon pembimbingku. Kemungkinan besar aku mendapat dosen pembimbing yang ”kejam”. Ternyata dari aku mengobrol dan berdiskusi dengan senior-senior yang sudah lulus, judul dan isi skripsi kita tidak digubris, yang diotak-atik sampai membuat pusing adalah masalah metodologi. Inilah kawan dari sekarang aku harus belajar, harus banyak belajar tentang metodologi penelitian sejarah.

Jika umpama judulku diterima, masalah berikutnya adalah menghubungi keluarga Sutomo. Malu aku kawan, kemarin aku sudah membuat janji, malah aku yang tidak datang. Lalu besok bagaimana. Tapi ada cara, ada planning yang akan aku terapkan nantinya. Jangan sekarang aku memberitahukan, besok saja kalau berhasil.

Aku realistis saja kawan. Hampir saja aku memolorkan diri kuliah. Semester ini aku harus selesai. Untuk itu kawan, judulku inilah yang aku ajukan. Motivasi yang lain adalah jika aku tidak segera lulus dan bekerja, nanti pacarku atau calon istriku mau makan apa? Aku tidak ingin menjadi para idealis-idealis yang nandon di kampus. Aku harus bisa selesai kemudian mencari kerja dan menikah. Enakkan kawan??

Perjuangan belum selesai. Ini masih persiapan awal, ibaratnya perang, ini masih tahap pengumpulan amunisi. Aku sangat menikmati situasi ini. Inilah kawan, kalau ingin menggapai cita-cita tidak perlu terlalu ambusius, cukup menikmati saja hidup ini dan tentu dengan kerja yang maksimal. Kawan, ayo berjuang.

Jumat, 20 Februari 2009

Langkah pertama telah aku lalui. Tidak percuma aku berharap dan memandangi papan pengumuman di jurusan. Aku seringkali melihat judul-judul skripsi yang terpampang. Dalam lubuk hati yang paling dalam aku berkata, ”suatu saat judulku akan dipasang disini”. Setelah menunggu selama dua minggu akhirnya judulku ada, walaupun cuma tiga kata dan dua rentang tahun setidaknya judulku sudah diterima. Lega rasanya, tapi ini masih awal mula perjuanganku.

Tidak tanggung-tanggung kawan, pembimbing skripsiku adalah dua orang yang penting di Jurusan Sejarah. Mereka adalah Ketua Jurusan Sejarah, Prof. Dr. Haryono, M.Pd. dan Sekretaris Jurusan Sejarah, Drs. Marsudi, M.Hum. Mendengar informasi tentang pembimbingku ini aku hatiku berdegub kencang, seperti mau menembak seorang wanita yang kusayangi. Aku merasa agak minder dengan kedua pembimbing di atas, tapi di sisi lain aku merasa tertantang dan ingin terus berkarya, ingin terus menulis. Inilah kawan impianku, menjadi penulis yang handal.

Hari-hari aku lewati dengan membuat perencanaan untuk menulis skripi. Aku mulai dengan menulis jadwal mengajar dari kedua dosen. Kemudian membuat perjanjian untuk konsultasi. Ayo semangat.

Untuk mengisi waktu yang sangat kosong aku mulai membuka usaha kawan. Aku memdirikan counter pulsa. Tidak apa-apalah walaupun dapat Rp. 1.000- Rp. 10.000, yang penting punya kegiatan yang menghasilkan sesuatu. Aku juga sering menulis jika lagi menganggur. Jadi kawan yang perlu diperhatikan adalah manfaatkan waktu luang sebaik-baiknya, satu menit bisa menghasilkan Rp. 1.000,-. Aku percaya itu..

Selasa, 3 Maret 1987

Hari kamis kemarin aku pertama kali melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing skripsi. Tidak seperti aku bayangkan, hari pertama kemarin konsultasi tidak seperti yang aku harapkan. Prof. Hariono, pembimbing pertamaku, ternyata sedang sibuk. Ketika aku menemui, beliau sudah ditunggu Pembantu Dekan I untuk rapat. Akhirnya ya sudahlah, aku cuma meletakkan di mejanya dan janjian hari senin ketemuan lagi karena Jum’at beliau ada acara di Surabaya. Kemudian aku diskusi dengan pembimbing kedua, Pak Marsudi. Beliau cuma menyarankan untuk banyak membaca buku-buku yang berhubungan dengan temporal selama Bung Tomo hidup. Ya baiklah, aku tidak terburu-buru, yang penting sambil jalan skripsi dikerjakan.

Oh ya kawan satu hal yang ingin aku ceritakan. Aku janjian dengan Pak Hariono dengan cara mengirim pesan singkat (SMS). Aku mengirim SMS pada hari Rabu malam jam 20.00. Kau tahu kawan, Pak Hariono membalas SMS-ku malam dini hari yaitu jam 2.17 menit. Agaknya orang ini tipe orang yang tidak konsisten, atau memang workaholic karena banyak sekali kegiatan (sibuk). Aku janjian ketemuan jam 11.00 di kantor Jurusan. Tapi ketika aku kesana beliaunya lagi rapat, ada pelatihan komputer. Sebenarnya aku sudah tahu dari Mas Deni, salah satu dosen Sejarah juga. Tapi aku mencoba menyelidiki bagaimana konsistennya Pak Hariono, satu-satunya Profesor di Jurusan Sejarah dalam mengasuh mahasiswanya.

Aku yakin kalau hari senin kemarin Pak Hariono juga mempunyai kesibukan yang luar biasa. Akan tetapi pastilah ada waktu untuk mengoreksi. Pokoknya aku tetap harus berkomunikasi dengan baik dengan Pak Hariono. Aku juga punya cita-cita kawan. Aku tidak ingin skripsi ini hanya menjadi pajangan di lemari perpustakaan kampus (Perpustakaan fakultas, universitas, dan Lab. Sejarah). Aku ingin publik mengetahui hasil kerja kerasku ini. Aku membayangkan skripsiku ini terpampang di Toga Mas dan Gramedia. Aku tidak punya apa-apa kawan, tapi aku punya cita-cita, keinginan, impian setinggi langit.

Dari hari Sabtu sampai sekarang aku berada di Surabaya. Aku menemui pujaan hatiku kawan, maklum sudah sebulan tidak bertemu. Dia sekarang bekerja di Axa Mandiri. Perjuangan yang luar biasa dari Nyo2 (panggilanku kepadanya). Aku nanti jam 7an balik ke Malang. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di Malang. Waktu luang tidak akan aku sia-siakan. Satu detik saja merupakan peluang yang harus diambil. Semangaaatttt!!!!!!

Kamis. 12 Maret 2009

Sudah tiga hari aku berada di Surabaya. Selama tiga hari itu juga aku menyempatkan waktu untuk mengunjungi jurusan Sejarah UNAIR (Universitas Airlangga) dan UNESA (Universitas Negeri Surabaya). Setelah konsultasi dengan Pak Hariono seminggu yang lalu aku langsung melakukan sidak lapangan. Sebenarnya aku tidak ada rencana untuk ke Surabaya, tapi karena ada urusan mengantarkan Nyo2, jadi sekalian saja untuk mencari referensi dan inspirasi di Surabaya (UNAIR dan UNESA).

Aku kemarin konsultasi dengan Pak Hariono (pembimbing pertama) pada Rabu, 4 Maret 2009. Ternyata bimbingan dan saran dari Pak Hariono sangat bijaksana, tidak aku kira seperti ini. Ternyata tidak seperti kata kawan-kawan yang katanya skripsinya dicorat-coret, dimarahi, dosen minta ini itu dan apalah. Akan tetapi ketika aku diskusi dengan Pak Hariono bukan omelan yang aku terima, tapi sebuah saran yang membangun dan sangat bijaksana. Sebelumnya memang aku sudah berpikir positif saja, aku optimis para pembimbingku bakal mendukungku.

Kembali ke kota Surabaya. Luar biasa kota Pahlawan ini. Semalam ketika aku mengantarkan Nyo2 ke kosnya, di sepanjang jalan banjir sampai setengah ban. Baru kali ini aku mengendarai sepeda motor seperti mengendarai jetsky atau perahu motor. Hujan deras sepanjang malam kemarin sungguh luar biasa di Surabaya.

Kau tahu kawan, ternyata judul-judul skripsi di Jurusan Sejarah UNAIR boleh dibilang sederhana, tapi mempunyai isi yang padat dan kreatif. Aku sempat melihat dan membaca satu bab skripsi tentag biografi Abdoel Gani, mantan rektor UNAIR. Asyik isinya, sistematikanya mungkin nantinya bisa aku tiru. Jurusan Sejarah UNESA malah lebih sederhana lagi. Kemarin aku pinjam satu skripsi, tebalnya tidak sampai 80 halaman, tipis kawan. Wah, semakin semangat saja aku. Di UNESA juga aku berkenalan dengan Pak Wahyu, salah satu dosen Jurusan Sejarah. Beliau ini pernah menulis sebuah draft usul kepada DPRD Propinsi untuk mengusulkan Bung Tomo menjadi Pahlawan Nasional. Tapi, perkenalan kita agak tidak bagus karena beliau sedang sibuk. Tidak apa-apalah yang penting sudah punya kenalan yang mempunyai referensi dan gambaran.

Aku kemarin hari Selasa sempat berkenalan dengan M. Nursam, editor ombak. Perkenalan yang sangat menyenangkan walaupun hanya via SMS. Perkenalan ini berawal dari ketika aku menemukan buku tentang biografi Sartono Kartodirdjo. Halaman belakang buku ini ada biodata penulisnya (M. Nursam) dan nomor handphone-nya. Iseng saja aku sms, eh ternyata M. Nursam membalas SMS-ku. Perkenalan yang menguntungkan bagiku. Padahal kemarin aku hanya mengirim pesan yang isinya memuji karya M. Nursam, malah menjadi sebuah perkenalan. Beruntung kawan, M. Nursam ini adalah spesialisasi menulis biografi. Jika aku bisa belajar darinya, aku bisa menulis Biografi Sutomo ini dengan baik dan syukur bila berhasil diterbitkan. Optimis, aku percaya itu...

Selasa, 12 Mei 2009

Woow lama juga aku tidak menulis, hampir sebulan jemariku tidak menyentuh tuts laptop. Kini aku kembali lagi kawan. Sekian lama aku tidak menyentuh skripsiku. Aku terlena dalam mencari sumber kehidupan. Akan tetapi ketika Wawan, temanku dari UNAIR, memberikan informasi. Dia menemukan arsip tentang Bung Tomo. Seketikan rasa semangat dan optimis tinggi menyelimutiku.

Selasa, 19 Mei 2009

Kemarin Jum’at setelah Jum’atan aku menyerahkan bab I ke kedua dosen pembimbingku. Rencananya besok pagi aku konsultasi alias bimbingan. Sebenarnya agak bingung aku mengerjakan Bab I. Masalahnya, di Bab I aku hanya menulis tidak sampai 20 halaman. Wah ini agak ruwet. Untuk mencari jalan keluarnya aku meminta nasehat ke Pak Nursam bagaimana membuat Biografi yang menarik.

Sungguh kawan, aku semangat sekali. Aku mau mewujudkan impianku, menjadi penulis, sejarawan, pengusaha yang sukses. Aku tidak sabar melihat corat-coret pulpen dari dosen pembimbing, bagiku itu adalah lukisan yang indah mewarnai tulisanku. Aku juga tidak sabar mendengarkan omelan dan caci maki dari dosen pembimbing, bagiku suara itu seperti pujian yang indah. Aku menginginkan skripsi ini tidak hanya terpampang di kampus saja, aku ingin seluruh orang membaca. Aku berjanji, setelah aku sukses, aku akan menularkannya kepada teman-teman. Aku akan selalu memberikan motivasi kepada teman-teman.. Ayo semangat!!!

Senin. 25 Mei 2009

Hari ini aku pertama real bimbingan skripsi. Asyik sekali, itu yang aku rasakan. Banyak sekali kesalahan dalam penulisan Bab I skripsiku, banyak pula pelajaran yang aku peroleh. Menulis skripsi atau karya ilmiah yang lain ternyata memerlukan keuletan, ketelitian, dan penggunaan EYD yang tepat. Penulisan skripsiku jauh dari kesempurnaan, tapi tidak apa-apa. Aku semakin banyak belajar dan semakin bersemangat dalam belajar menulis skripsi.

Tadi siang jam 12.30 aku bimbingan. Tidak seperti hari-hari biasanya ketika aku menemui dosen pembimbing, agak dredeg juga rasanya tadi siang di kantot jurusan. Ada apa gerangan, kok tidak seperti biasanya. Inilah yang namanya ”kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah anda”.

Corat-coret di draf Bab I skripsiku aku pelajari baik-baik. Aku catat kembali coretan-coretan dari dosen pembimbing dengan baik agar bisa dengan mudah aku pelajari. Banyak nasihat yang aku peroleh dan juga banyak saran. Keuletan, itu kuncinya dalam menulis skripsi disamping semangat, antusias dan kepercayaan tinggi akan kesuksesan.

Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Aku harus terus belajar, setiap hari membaca, banyak diskusi dengan dosen maupun rekan mahasiswa. Pokoknya waktu sangat berharga bagiku. Apapun instruksi dari kedua dosen pembimbingku yang sangat bermanfaatkan akan aku laksanakan. Pencarian sumber untuk skripsi secara besar-besaran aku mulai dari sekarang. Doakan aku ayah, ibu, nyo2, dan kawan-kawan semua.. (to be continued)

Rabu, 27 Mei 2009

RAHASIA SI DUKUN CILIK ASAL JOMBANG

Oleh:
Agung Ari Widodo

Para dokter mulai mengeluarkan suaranya tentang kontroversi dukun cilik. Dukun yang masih duduk di kelas 3 SD diyakini masyarakat setempat mempunyai kekuatan gaib. Menurut pemberitaan dari Surya (2 Febuari 2009), kekuatan si dukun cilik berasal dari batu sebesar kepalan tangan manusia. Si dukun cilik yang mempunyai nama asli Muhammad Ponari, menemukan ”batu sakti” itu dengan tidak sengaja di tepi sungai (atau di suatu tempat). Ketika hujan deras, Ponari berkali-kali mendengar suara petir disertai dengan kilat yang menyambar. Batu yang ditemukan Ponari kemudian menyala berwarna merah. Melihat sesuatu yang aneh Ponari membawa batu itu pulang ke rumah.
Berita tentang kesaktian batu dengan cepat tersebar. Masyarakat percaya akan kasiat dari batu itu yaitu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tidak heran banyak orang-orang yang berobat ke dukun cilik tersebut. Orang yang berobat bahkan ada yang datang dari luar desa. Begitu ampuhkah batu tersebut? Polisi menutup klinik dukun cilik karena ada dua pasiennya yang meninggal. Penyebab meninggalnya pasien tersebut masih dalam proses penyelidikan. Penulis rasa kedua pasien tersebut meninggal karena penyakitnya sendiri. Ditambah lagi dengan rasa depresi sehingga menyebabkan kedua pasien tersebut berobat ke dukun cilik. Tapi sebelum obatnya diminum Tuhan sudah memanggil duluan, Allahualam.
Kembali ke dukun cilik. Benarkah sang dukun cilik itu sakti? Benarkah batu yang merupakan ”pusaka” sang dukun bisa menyembuhkan segala macam penyakit? Hanya dengan menyelupkan batu di dalam air mineral kemudian diminum oleh pasien, sembuhkah?
Jawabannya adalah ya kenapa tidak.. Kenapa bisa begitu? Kunci dari kesembuhan penyakit sebenarnya bukan pada kesaktian dari si dukun cilik dan bukan pula pada kasiat dari batu ”pusaka” melainkan pada iman (percaya), sugesti kalau menurut bahasa ilmiah. Percaya bahwa sesuatu itu ada dan terjadi pasti akan terjadi. Percaya atau iman merupakan energi positif yang bisa mewujukan keinginan. Kalau boleh jujur, sebenarnya segala obat yang bersifat kimia maupun alami adalah racun dan hanya meredam rasa sakit dalam waktu yang tidak lama. Kesembuhan hanya bisa disembuhkan oleh badan kita sendiri. Jika seseorang hanya memikirkan penyakitnya, bukan kesembuhan yang datang tapi penyakitnya tambah parah atau bahkan ajal menjemput. Seseorang yang selalu mempunyai pikiran positif dan keadaan psikologis yang sehat, penyakit yang dideritanya akan berangsur sembuh. Orang yang percaya pasti keinginannya akan terwujud, percaya bahwa penyakit ini akan sembuh, maka sembuhlah.
Itulah rahasia (the secret), kekuatan yang dimiliki oleh si dukun cilik dan batu ajaibnya. Apapun keinginan Anda, keinginan kita, tariklah keinginan tersebut dalam angan kita dan percayalah bahwa keinginan itu akan terwujud. Dalam buku The Secret karya Ronda Byrne teori itu disebut The Law Of Attraction (hukum tarik menarik). Apapun keinginan Anda, apapun yang Anda pikirkan, semuanya akan datang dan pasti datang dan tercapai.

PIAGAM PERJUANGAN SEBAGAI DASAR PEMBENTUKAN PEMERINTAH REVOLUSIONER REPUBLIK INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Nasib malang yang menimpa Indonesia dalam era Demokrasi Liberal ditandai oleh pemerintahan yang tidak stabil antara tahun 1950-1957, ada tujuh kali jatuh bangun kabinet parlementer. Tidak terdapat satu pun pemerintah pasca revolusi yang dapat memenuhi harapan rakyat setelah kemenangan perjuangan nasionalis melawan kolonialisme Belanda.
Pada masa Kabinet Ali Sastroamijoyo II harus menghadapi kesukaran adanya perasaan tidak senang yang muncul di daerah-daerah seperti di Sumatera dan Sulawesi yang dikarenakan ketidakpuasan terhadap alokasi biaya pembangunan yang diterima dari pusat . Selain alasan tersebut mereka juga tidak lagi menaruh kepercayaan terhadap pemerintah. Karena mengubah pemerintah dengan jalan parlementer tidak bisa dilakukan, maka mereka menempuh jalan ekstra parlementer. Gerakan-gerakan daerah mendapat dukungan dari beberapa panglima dan terbentuklah dewan-dewan daerah yaitu Dewan Banteng di Sumatera Barat yang dibentuk oleh Letnan Kolonel Achmad Husein, Komandan Resimern Infanteri empat pada tanggal 20 Desember 1956. Dewan Gajah dibentuk oleh Kolonel Maludin Simbolon Panglima Tentara dan Territorium I (TT I) di Medan pada tanggal 22 Desember 1956, Dewan Garuda di Sumatera Selatan dan Dewan Manguni dibentuk oleh Letnan Kolonel Ventje Sumual di Manado pada tanggal 18 Februari 1957 .
Untuk meredakan pergolakan di daerah-daerah, dari tanggal 10 sampai 14 September 1957 telah dilangsungkan Musyawarah Nasional (Munas) yang dihadiri oleh tokoh-tokoh nasional baik di Pusat maupun di Daerah. Hadir pada pertemuan itu juga mantan Wakil Presiden Moh. Hatta. Di dalam musyawarah itu antara lain telah dibicarakan masalah-masalah pemerintahan, soal-soal daerah, ekonomi, keuangan, Angkatan Perang, kepartaian serta masalah yang menyangkut Dwitunggal Sukarno-Hatta .

2. Rumusan Masalah

Dari uraian di atas maka dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana proses pembentukan PRRI?
2. Bagaimana strategi Pemerintah dalam menghadapi PRRI?

3. Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah;
1. Untuk mengetahui proses pembentukan PRRI
2. Untuk mengetahui strategi Pemerintah dalam menghadapi PRRI.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pembentukan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia)

PRRI merupakan pemerintahan Revolusioner yang didirikan oleh sekelompok orang yang merasa “kecewa” dengan kebijakan pemerintah. Mereka melakukan pembangkangan dengan membentuk suatu pemerintahan sendiri . Mereka adalah para politisi pemerintah yang terdiri dari militer dan sipil, antara lain dari pihak militer, Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel Dahlan Djambek, Kawilarang. Dari pihak sipil antara M. Syarifuddin Prawiranegara, Mohammad Natsir, Mr. Burhanuddin Harahap, Mr. Asaat, Dr. Sumitrojoyohadikusumo serta dihormati dan didukung oleh pemerintah daerah.
Latar belakang pembentukan ini berawal dari pertemuan dari eks Dewan Banteng di Padang pada bulan November 1956 yang dihadiri oleh sekitar 600 orang. Pada pertemuan ini awalnya membahas tentang kesejahteraan mantan pejuang, terutama yang berasal dari Divisi Banteng, namun kemudian acara reuni ini pembahasannya berkembang lebih jauh, mereka mulai menyoroti masalah-masalah yang bersifat nasional. Ada semacam koreksi terhadap pemerintahan pusat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Diantaranya membahas masalah ekonomi, politik, pemerintahan, serta pembangunan.
Dalam bidang pemerintahan, problem yang muncul yaitu pada sentralisasi kekuasaan yang seluruhnya dipusatkan serta ditentukan di Jakarta. Sehingga terdapat banyak pejabat yang didatangkan langsung dari pusat ke daerah. Dalam bidang politik, masyarakat daerah melihat bahwa pemerintahan pusat telah mendapat pengaruh dari PKI yang terbukti dari masuknya PKI di Kabinet Djuanda. Sedangkan dalam bidang ekonomi yaitu pada pembangunan yang tidak merata. Pada saat itu pembangunan dikenal dengan pembangunan proyek-proyek mercusuar.
Pertemuan ini melahirkan suatu dewan yang dikenal dengan Dewan Banteng. Dewan ini menghasilkan maklumat yang dikenal dengan nama “Piagam Perjuangan“(Syamdani, 2001: 73-74). Piagam ini di keluarkan pada tanggal 10 februari 1958 dan berisi sejumlah tuntutan yang ditujukan kepada pemerintah agar bersedia kembali kepada kedudukan yang konstitusional. Isi tuntutan tersebut antara lain :
1. Tuntutan supaya Kabinet Juanda mengundurkan diri dan mengembalikan mandatnya kepada Presiden.
2. Agar pejabat Presiden Sartono membentuk kabinet baru.
3. Tuntutan agar kabinet baru diberi mandat sepenuhnya untuk bekerja sampai diselenggarakannya Pemilu.
4. Tuntutan agar Presiden Sukarno membatasi diri menurut konstitusi.
Apabila tuntutan semua di atas tidak dipenuhi dalam waktu 5x24 jam maka Dewan Perjuangan akan mengambil langkah kebijaksanaan sendiri.
Faktanya ultimatum dari Dewan Perjuangan tersebut ditolak secara tegas oleh Pemerintah. Tindakan pemerintah ini mengakibatkan Dewan Banteng mendeklarasikan:
1. Mendirikan “Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia“ (PRRI) pada 15 Februari 1958 dengan Syarifuddin Prawiranegara sebagai perdana menteri. Anggota kabinet terdiri dari tokoh-tokoh asal Sumatera dan Sulawesi termasuk para bekas menteri yang meninggalkan Jawa seperti Mohammad Natsir, Burhanuddin Harahap, Sumitro Joyohadikusumo.
2. Menolak Demokrasi Terpimpin buatan Sukarno dan Komunis.

2. Usaha Pemerintah Dalam Menghadapi PRRI

Pada tanggal 16 Februari 1958 Sukarno kembali mendesak diterapkannya perlakuan keras terhadap kaum “pemberontak“. Juanda, Nasution, serta kebanyakan pemimpin PNI dan PKI juga menghendaki “pemberontakan“ itu ditumpas. Hatta bersama-sama dengan para pemimpin Masyumi dan PSI di Jakarta mendesak suatu penyelesaian dengan perundingan sehingga menempatkan diri mereka pada posisi kompromis. Hamengkubuwono IX, yang secara tidak resmi merupakan sekutu PSI, juga lebih menyukai perundingan dan tidak bersedia menerima jabatan dalam kabinet ketika diubah susunannya pada bulan Juni 1958 karena adanya garis keras pemerintah terhadap PRRI .
Karena usaha melalui musyawarah tidak berhasil, maka untuk memulihkan keamanan negara, pemerintah dan KSAD memutuskan untuk melancarkan operasi militer. Operasi gabungan AD-AL-AU terhadap PRRI di Sumatera Tengah itu diberi nama Operasi 17 Agustus. Selain untuk menghancurkan kaum separatis, operasi ini juga bermaksud mencegah mereka meluaskan diri ke tempat-tempat lain dan mencegah turut campurnya kekuatan asing. Kekuatan asing dikhawatirkan akan mengadakan intervensi dengan dalih melindungi modal dan warganegara, sebab di Sumatera Timur dan Riau banyak terdapat kepentingan modal asing. Oleh sebab itu gerakan Angkatan Perang (APRI) pertama kali ditujukan ke Pekanbaru untuk mengamankan sumber-sumber minyak di situ. Pasukan APRI dapat menguasai Pekanbaru sejak tanggal 14 Maret 1958. Dari Pekanbaru operasi dikembangkan ke pusat pertahanan PRRI dan akhirnya pada tanggal 4 Mei 1958 Bukittinggi dapat direbut kembali. Setelah itu APRI membersihkan daerah bekas kekuasaan PRRI di mana banyak anggotanya yang melarikan diri ke hutan-hutan .

BAB III
PENUTUP

Analisis Dan Kesimpulan
Sejarah perjalanan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di gambarkan sebagai persekutuan para politisi dan petualang militer yang menemui jalan buntu untuk menjatuhkan Bung karno. Pandangan ini tentunya akan di tolak oleh siapapun yang mengerti duduk perkaranya.tetapi, dalam kurun waktu 40 tahun peristiwa PRRI banyak meninggalkan kenangan yang mempunyai citra negatif. Dalam buku-buku sejarah anak sekolah, keterangan-keterangan tentang PRRI, yang biasanya sejalan dengan Permesta, menyodorkan fakta-fakta, yang menimbulkan ketakutan, yang maknanya pujian untuk pusat kekuasaan jakarta.
Dalam buku Kontrovesi Sejarah Di indonesia banyak para pelaku sejarah baik dari PRRI, ulama dan budayawan, yang mengatakan senada bahwa PRRI yang ada saat itu adalah akibat dari pemerintahan pusat yang mengabaikan daerah. Keikutsertaan Muhammad Natsir bukan untuk mendirikan negara sumatra melainkan memberikan pelajaran kepada pemerintahan bung Karno yang dinilai sudah melanggar UUD 1945. Selain itu juga PRRI merupakan hasil dari akumulasi, kekecewaan anggota-anggota Resimen 6 Divisi IV Banteng terhadap induk kesatuan, yang pada saat itu hanya divisi ini yang di melikuidir oleh Kasad Kolonel A.H. Nasution, dan hanya satu-satunya divisi ini yang di perlakukan demikian.
Jadi bisa dianalisis bahwa yang bergabung dengan PRRI adalah merupakan barisan sakit hati baik dari kalangan sipil maupun militer, selain itu juga perang ideologi untuk saling mempengaruhi sangat mencolok dimana di Padang banyak yang beridealiskan agamis, sedangkan dari pusat banyak ditumpangi oleh ideologi Komunis hal ini terbukti dengan diikut sertakanya OPR (Organisasi Pemuda Rakyat) yang merupakan sayap dari Komunis tersebut dalam melakukan penumpasan PRRI, dimana telah kita ketahui bahwa. Pemerintahan memanfaatkan Komunis untuk melakukan penumpasan karena memang keduanya sudah saling bermusuhan. Salah-satunya koreksi yang tidak disukai oleh PRRI terhadap pemerintahan pusat dibidang politik adalah Komunisme yang membonceng di belakang pemerintah hal itulah yang menyebabkan komunis untuk menyerang balik. Hal ini sudah tidak diherankan lagi jika kedua ideologi ini sangat bertentang, bila kita tarik latar belakang sejarah sejak tahun 1914 yang merupakan malapetaka bagi SI (Sarekat dagang) dengan masuknya ideologi komunis, yang kedepannya memecah belah SI menjadi dua bagian.
Sedangkan analisis dimiliter, akibat adanya perampingan di dalam tubuh militer banyak prajurit yang kecewa, wajar bila prajurit kecewa, karena para prajurit merasa mempunyai andil dalam membangun republik ini, perwakilan dari pihak Dewan Banteng yang mengirimkan perwiranya ke Jakarta untuk memprotes hasil keputusan Kasad. Klonel.A.H Nasution untuk mengubah keputusannya menghapuskan Divisi Banteng tidak digubrisnya. Hal ini membuat banyak kecewa pada para mantan Prajurit dari kesatuan Divisi Banteng.
Dampak dari ketidakpuasan dari pemerintahan pusat ini adalah dengan berkumpulnya para tokoh politis maupun militer yang menuangkan tuntutan terhadap pemerintahan pusat pada tanggal 19 Februari 1958, melalui Radio Republik Indonesia (RRI) Padang, atas nama “Dewan Perjuangan“ mengeluarkan pernyataan “Piagam Perjuangan“. Tetapi setelah tenggang waktu yang telah diberikan tidak ada jawaban dari pemerintahan pusat, maka pada tanggal 15 Februari 1958 Dewan Perjuangan mengumumkan mendirikan pemerintahan tandingan lengkap dengan kabinetnya dan mereka menamakan dengan sebutan “Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)“


DAFTAR RUJUKAN
Pontoh, H. 2005. Menentang Mitos Tentara Rakyat. Yogyakarta: Resist Book.
Poesponegoro dan Notosusanto. 1993. Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka.
Ricklefs, M.C. 1981. Sejarah Indonesia Baru. Terjemahan. Prof. Dharmono Hardjowidjono.2005. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Syamdani. 2001. Kontrovesi Sejarah Di Indonesia. Jakarta:Grasindo.
Taher, Y.T. 2007. Fakta Sejarah PRRI. (www.kabarindonesia.com). Di akses Tanggal,10 Maret 2008. Pukul, 20:14:58 WIB

BENDA CAGAR BUDAYA

BENDA CAGAR BUDAYA
Haruskah kita lindungi…?

Oleh:
Agung Ari Widodo

Baru-baru ini di situs kota kuno Trowulan digemparkan dengan pembangunan PIM (Pusat Informasi Majapahit). Pembangunan proyek ini bisa mengakibatkan kerusakan pada situs-situs purbakala di sekitar Trowulan. Kontan saja para sejarawan dan arkeolog mengkritik pembangunan proyek besar ini.
Kalau boleh jujur, sebenarnya perusakan pada Benda Cagar Budaya (selanjutnya di singkat BCB) tidak hanya pada pembangunan PIM itu saja. Di mana-mana, di setiap daerah yang terdapat BCB atau situs sejarah rawan sekali mengalami perusakan. Ada saja yang diperbuat manusia-manusia jahil untuk merusak tatanan BCB, seperti misalnya, mencorat-coret dinding (batu) pada candi (seperti yang ada di Candi Badut), mengambil bagian dari bangunan BCB, menjual BCB atau malah merusaknya habis-habisan seperti kasus perusakan bekas penjara militer di kawasan Koblen, Surabaya (padahal bangunan itu dinyatakan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata sebagai BCB).
Pemerintah sudah mengeluarkan Undang-undang Perlindungan Benda Cagar Budaya No. 5 Tahun 1992 (nanti dilihat lagi) sebagai upaya melindungi BCB. Dalam UU tersebut sudah terlampir ancaman dan denda bagi orang yang merusak BCB. Tidak tanggung-tanggung mereka yang merusak, mengambil, atau menjual akan dikenakan denda Rp. 500.000.000,- dan akan dihukum penjara selama 5 tahun. Agaknya peraturan hukum ini masih lemah jika melihat kenyataan (fenomena) yang ada. Papan pengumuman yang bertuliskan larangan merusak BCB yang dipasang di sekitar BCB hanya berfungsi sebagai hiasan pelengkap saja, bahkan sampai karatan hingga tidak bisa dibaca.
Orang-orang “jail” sering melakukan perusakan pada BCB terutama bangunan atau situs-situs dari masa prasejarah maupun dari masa klasik (Hindu-Budha). Peninggalan bercorak Islam (kerajaan Islam kuno) jarang mengalami perusakan, demikian juga dengan bangunan Hindis (bangunan Eropa). Pertanyaannya kenapa? Agaknya permasalahan ini harus dilihat pada perjalanan sejarah Indonesia dan masyarakat pendukung kebudayaan.
Indonesia mengalami perubahan sejarah dari masa ke masa. Berdasarkan penemuan-penemuan BCB yang terselamatkan, perjalanan sejarah Indonesia diawali dari masa Prasejarah. Kemudian dilanjutkan pada masa kerajaan klasik (Hindu-Budha), diteruskan pada masa kerajaan Islam, kemudian masa Hindia Belanda, dan terakhir masa Kemerdekaan. Tentu saja dari setiap periode ini terdapat tinggalan kebudayaan, dan masyarakat yang hidup di setiap periode tentu merupakan masyarakat pendukung kebudayaan. Masyarakat Prasejarah mendukung dan melindungi punden berundak, menhir, sarkofagus, alat-alat dari batu, tembikar, dan sebagainya. Mereka menganggap benda-benda tersebut memiliki kekuatan magis, hal ini tentu saja berkaitan dengan religi di setiap periode. Begitu juga dengan candi Hindu maupun Budha, dan masjid kuno pada masa Islam. Masyarakat pendukung ini menjadi hal penting dalam melindungi dan melestarikan peninggalan Budaya.
Bagaimana dengan masyarakat sekarang? Agaknya masyarakat sekarang sangat pragmatis dan tidak begitu memperdulikan BCB, terutama peninggalan masa Hindu-Budha. Masyarakat awam menganggap reruntuhan candi ataupun situs tidak memiliki nilai. Mereka menganggap itu hanya sebuah sisa batu saja, dan malah mengambil batu-batuan tersebut untuk tambahan pondasi rumah atau keperluan yang lain. Berbeda dengan situs masjid kuno dan bangunan-bangunan Hindis. Masyarakat masih mau merawat dan melestarikan karena masih bisa digunakan lagi yaitu untuk tempat ibadah dan tempat tinggal. Masyarakat tidak sepenuhnya mendukung pelestarian bangunan Hindu-Budha, hanya yang memiliki emosi keagamaan yang memanfaatkan situs-situs Hindu-Budha. Biasanya mereka melakukan ritual-ritual, misalnya nyepi, sendratari (Sendratari Ramayana di Prambanan), ataupun berdoa meminta rezeki.
BCB memiliki arti penting dalam Sejarah, Budaya, dan Ilmu Pengetahuan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya, kata Soekarno. Perlu introspeksi diri, apakah kita ini bangsa yang besar? Walaupun Cuma seonggok batu atauu reruntuhan bangunan, ini merupakan identitas bangsa Indonesia. Kemegahan bangunan-bangunan kuno tersebut merupakan suatu seni arsitektur yang luar biasa di masa lampau. Sangatlah bijak jika dalam menata kehidupan yang sekarang kita menengok di masa lalu. Di Jakarta tidak akan banjir jika tatanan kota yang rapi dari masa Hindia Belanda tidak di acuhkan. Di Mojokerto tidak akan kekeringan jika kanal-kanal kuno (ancient canal) di kota Trowulan tetap dipertahankan sebagai sarana irigasi.
Memang perawatan BCB tidak membutuhkan biaya yang sedikit. Pemerintah harus mengeluarkan jutaan uang hanya untuk membersihkan situs. Pemerintah pun bisa menggali devisa dari BCB. Pemerintah bisa membuka BCB sebagai kawasan wisata, baik wisata religi maupun wisata pendidikan. Para mahasiswa dari jurusan Pariwisata dan dari jurusan Sejarah bisa membantu memberikan informasi tentang BCB. Dengan cara ini diharapkan batu, arca, dan situs-situs yang lain bisa “bicara” dan “berkomunikasi” dengan masyarakat melalui informasi yang diberikan para mahasiswa ataupun orang yang ahli di bidang sejarah dan arkeologi. Pemerintah juga hendaknya bekerja sama dengan para ahli sejarah dan arkeologi untuk membangun tempat wisata BCB. Hal ini perlu sekali dilakukan agar pembangunan nantinya tidak merusak tatanan situs yang ada seperti kasus pembangunan PIM di Trowulan, Mojokerto
Jika kita tahu dan paham akan nilai dari BCB, akan banyak keuntungan yang kita peroleh. Masyarakat hanya perlu informasi dan pemahaman untuk melindungi BCB. Setelah tahu dan paham arti penting dari BCB, masih perlukah kita melindungi BCB?

Sabtu, 28 Maret 2009

PON PIN (Pondok Pintar)

BAB I PENDAHULUAN


  1. Judul Kegiatan: PON-PIN (Pondok Pintar)

Usaha Pon-Pin ini menyajikan berbagai jenis makanan dengan harga sangat terjangkau. Selain makanan, pondok ini juga menyajikan buku bacaan. Tujuan dari adanya buku-buku bacaan ini adalah sebagai pengisi waktu konsumen yang menunggu makanan. Pon-pin juga menyewakan buku-buku tersebut pada konsumen yang merasa tertarik pada buku yang dibacanya. Di Pon-pin juga menjual buku berdiskon. Selain usaha di atas, di Pon-pin juga menyediakan pelayanan pulsa elektrik dan fisik. Pada kesimpulannya Pon-pin ini adalah suatu perusahaan kecil yang menyediakan berbagai macam usaha.


  1. Status Usaha:

Pon-pin ini sudah berdiri sejak tanggal 10 November 2007. Pendiri Pon-pin ini adalah 5 mahasiswa dari Universitas Negeri Malang. Saat ini Pon-pin sudah berjalan selama empat bulan. Hal ini berarti status usaha Pon-pin adalah dalam masa pengembangan.


  1. Rasional Kegiatan

Usaha ini merupakan wadah yang menampung ide-ide para mahasiswa pendiri Pon-pin. Mereka mempunyai ide dalam hal interpreneurship. Pertemuan kelima mahasiswa tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa untuk menampung ide-ide itu maka didirikanlah Pon-pin.

Pon-pin menyediakan berbagai macam menu makanan. Tersedia juga buku-buku bacaan yang bisa disewakan dan dibeli dengan harga diskon

Alasan saya mengembangkan usaha ini adalah:

  • Faktor lokasi: Lokasi Pon-pin berada dipinggir jalan tepatnya di Jalan Bendungan Sutami No. 109 B Malang. Letak yang strategis ini memungkinkan untuk mendapatkan laba.

  • Faktor relasi: Pon-pin ini sering menjadi sebuah tempat diskusi dan berkumpulnya teman-teman mahasiswa khususnya dari Universitas Negeri Malang. Banyaknya relasi ini juga membuat Pon-pin ramai dikunjungi konsumen.

  • Faktor harga: Harga makanan dan buku di Pon-pin sangat terjangkau, apalagi oleh mahasiswa. Penulis menyadari bahwa mahasiswa suka akan harga yang murah. Oleh karena itulah Pon-pin memberikan harga mahasiswa.


  1. Tujuan

Tujuan dari didirikannya usaha Pon-pin ini adalah:

  1. Untuk memberikan pelayanan yang maksimal agar bisa menyenangkan konsumen.

  2. Untuk mendapatkan pengalaman dari berinteraksi dengan orang lain (konsumen).

  3. Untuk mendapatkan relasi dan memperluas jaringan usaha.

  4. Untuk mendapatkan penghasilan dari laba Pon-pin.


BAB II. METODE PELAKSANAAN


  1. Produk

Pon-pin menyediakan aneka menu makanan dan buku-buku bacaan. Adapun menu makanan adalah sebagai berikut:

    • Nasi lengko

    • Nasi goreng ala Pon-pin

    • Mie Sunda

    • Aneka lalapan

    • Kopi

    • Susu

    • Aneka jus

    • Es Ngecebong

    • Teh Tarik

Buku-buku bacaan yang ada di Pon-pin antara lain komik, novel, dan buku-buku pengetahuan umum. Pada penjualan buku, sementara ini kami menjalin kerja sama dengan penerbit Ar ruzz. Dalam pengembangan usaha nantinya kami akan menjalin kerja sama dengan penerbit buku yang lain.

Pada usaha counter pulsa, Pon-pin Cell menyediakan pulsa elektrik untuk semua operator, voucher fisik, dan berbagai kartu perdana. Rencana penulis nantinya akan mengembangkan counter pulsa menjadi server atau grosir pulsa elektrik.


  1. Bahan Baku

Usaha makanan di Pon-pin menyediakan berbagai menu makanan seperti yang sudah penulis tulis di atas. Penulis akan memaparkan bahan baku dari masing-masing menu makanan di atas, adalah sebagai berikut:nanti tanya mbak putri

Pada usaha buku, untuk sementara ini kami mengambil dari penerbit Ar-Ruzz. Anggota kami nantinya akan memperluas jaringan dengan melakukan kerja sama dengan penerbit yang lain.

Counter pulsa kami menyediakan pulsa voucher elektrik, pulsa voucher fisik, dan kartu perdana. Voucher elektrik kami stok dari agen/ grossir pulsa elektrik all operator Brawijaya E Reload. Voucher fisik dan kartu perdana kami ambil dari Millenium.


  1. Proses Produksi

  • Proses produksi makanan pada menu makanan: (tanya mbak putri)

  • Proses penjualan buku

    1. Menyetok buku dari penerbit sejumlah yang diperlukan.

    2. Melakukan perjanjian mengenai harga dan diskon.

    3. Menjual buku di Pon-pin.

      • Proses penjualan pulsa (elektrik)

  1. Menyetok pulsa (deposit) pada agen pulsa elektrik berupa saldo pulsa kemudian dijual kembali.

  2. Cara mengisi pulsa elektrik pada konsumen: ketik kode voucher (sesuai di brosur) (titik) no Hp kirim ke nomer pusat pesan transaksi

Kamis, 05 Februari 2009

PENGATURAN AIR DI KOTA TROWULAN PADA MASA MAJAPAHIT

PENGATURAN AIR DI KOTA TROWULAN PADA MASA MAJAPAHIT


Oleh:
Agung Ari Widodo
(305262479251)


Sejarah tanpa geografi melayang-layang di angkasa, dan sebaliknya geografi tanpa sejarah hanya merupakan mayat yang kaku saja.
(E.G. East)


Indonesia pernah mengalami jaman kejayaan. Kejayaan itu muncul pada jaman klasik atau disebut jaman kerajaan Hindu-Budha. Masuknya peradaban dari India membuat suatu perubahan di Indonesia. Lihat saja kemegahan Kerajaan Sriwijaya pada abad 8 kemudian dilanjutkan dengan kemegahan Wilwatikta atau lebih dikenal dengan nama Majapahit pada abad 14. Majapahit mengalami puncak kemegahannya pada masa Hayam Wuruk (Sri Rajasanagara) (1350-1389) dengan Maha Patihnya yang bernama Gajah Mada yang terkenal dengan amukti palapa -nya.
Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya yang merupakan menantu dari Kertanegara. Ketika Kerajaan Singhasari diserang oleh pasukan Jayaktwang, Raden Wijaya, istri-istrinya, dan beberapa pejabat kerajaan berhasil melarikan diri. Mereka mengungsi ke Madura dan bertemu dengan Arya Wiraraja1. Melalui Arya Wiraraja ini Raden Wijaya diberi ijin tinggal di wilayah kekuasaan Jayaktwang (Kadiri) dan diberi tanah di hutan Terik. Hutan ini kemudian di ubah menjadi desa dengan dalih untuk pertahanan2. Desa ini kemudian diberi nama Majapahit3.
Diam-diam Raden Wijaya membangun kekuatan di desa Majapahit. Kemudian datanglah pasukan Kubilai Khan untuk membalas dendam atas perlakuan Kertanegara yang melukai utusan Kubulai Khan. Dengan tipu muslihatnya Raden Wijaya berhasil menghasut pasukan Kubilai Khan supaya menyerang Jayaktwang. Berhasil menaklukkan Jayakatwang, pasukan Kubilai Khan yang terlena dengan kemenangan dihancurkan oleh pasukan Raden Wijaya. Setelah itu kemudian berdirilah Kerajaan Majapahit dengan Raden Wijaya sebagai rajanya dengan gelar Sri Kertarajasa Jayawardhana4.
Lokasi kota Majapahit diperkirakan berada di Trowulan, Mojokerto. Peninggalan-peninggalan arkeologis dari masa Majapahit banyak ditemukan di daerah ini. Trowulan banyak dikaji oleh para sejarawan dan arkeolog. Penelitian itu menghasilkan rekonstruksi tata kota Majapahit. Menurut Atmadi (1993) salah satu dasar yang rupanya digunakan dalam menentukan tata ruang dan letak bengunan di Majapahit dan di Jawa pada waktu itu adalah orientasi pada alam sekitarnya seperti gunung, dataran, dan laut5. Gunung disimbolkan sebagai tempat suci dan laut sebagai tempat kurang suci.
Bangunan air di kota Majapahit juga sudah tertata. Pengairan atau irigasi yang teratur sudah dikenal di Majapahit. Hal ini dapat dilihat dari bangunan-bangunan tadah air, kanal-kanal, dan patirtan, seperti kolam Segaran, Candi Tikus, sisa-sisa waduk kuno, sisa-sisa tinggalan saluran-saluran air. Sayangnya tidak ada sumber data tertulis tentang kanal-kanal air ini. Tapi pembuatan kanal ini membuktikan bahwa arsitek-arsitek Majapahit sudah bisa mengatur alam. Ketika informasi tentang kanal-kanal di kota Majapahit sangat terbatas, maka latar belakang pembuatan kanal-kanal ini bisa dianalisis dengan menggunakan pendekatan geografi.
Peranan bangunan air ini sangat penting bagi kehidupan di kota Majapahit. Sebagai kerajaan yang bersifat agraris, diperlukan pengairan yang teratur untuk mengairi sawah sehingga dibangun kanal air sebagai sistem pengairan. Begitu juga ketika pada musim kemarau panjang, maka dibangunlah tempat penampungan air yang nantinya disalurkan ke pemukiman penduduk. Penampungan air tersebut diperkirakan adalah kolam Segaran.
Selain sebagai kebutuhan agraris, bangunan-bangunan air ini juga mempunyai fungsi magis, yaitu sebagai tempat pemandian suci, misalnya di Candi Tikus. Bangunan air di kota Majapahit juga mempunyai peranan dalam mengatur air di Sungai Brantas agar tidak meluap.
Pembangunan saluran-saluran air ini tentu tidak asal-asalan. Ada pertimbangan alam kondisi alam. Untuk mengetahui latar belakang pembuatan bangunan air ini perlu diketahui terlebih dulu tentang kondisi alam pada masa Majapahit. Setelah mengetahui kondisi alam pada masa Majapahit, selanjutnya bagaimana kondisi alam tersebut mempengaruhi pembuatan bangunan air.


Keadaan Alam Kota Majapahit

Setelah mendapat ijin dari Jayaktwang, Raden Wijaya mendapat tanah di hutan Terik. Hutan ini kemudian di buka dijadikan sebuah perkampungan. Raden Wijaya mendapat bantuan dari orang-orang Madura (Wiraraja) dalam membangunan perkampungannya. Perkampungan baru itu dinamakan Majapahit6. Ketika kekuatan di Majapahit sudah terkumpul, Raden Wijaya dan pasukannya menyerang Jayaktwang. Setelah mengalahkan Jayaktwang maka berdirilah kerajaan Majapahit.
Lokasi pusat kerajaan Majapahit diperkirakan berada di dekat Trowulan yang letakknya ± 10 km di sebelah barat daya kota Mojokerto sekarang. Dugaan ini dilandaskan pada banyaknya temuan-temuan berupa pondasi candi, gapura, reservoar air, umpak-umpak, pernik-pernik, dan patung-patung yang kini masih dapat dilihat di museum Trowulan.
Pusat kerajaan Majapahit berada pada ujung bawah suatu kipas aluvial pada ketinggian 30-40 m di atas permukaan laut. Di sebelah utaranya terhampar dataran banjir kali Brantas sedangkan disebelah Selatan dan Tenggaranya sejauh ± 25 km menjulang tinggi kompleks gunung Anjasmoro, Arjuna, dan Welirang dengan ketinggian antara 2000-3000 m7. Di sebelah utara deretan pegunungan tersebut terdapat gunung Penanggungan yang merupakan gunung yang penting bagi kerajaan Hindu di Jawa Timur.
Dengan dikelilingi oleh pegunungan dan sungai bisa dipastikan bahwa Majapahit memiliki tanah yang subur. Lahan yang subur ini sangat baik untuk pertanian. Oleh karena itu sektor pertanian menjadi penyangga kehidupan perekonomian Majapahit8.
Kondisi geografis daerah kraton Majapahit dan sekitarnya pada masa lampau bisa dianalisis dengan membandingkan keadaan geografis pada masa sekarang. Tentu saja ada perbedaannya, tetapi perbedaan tersebut masih berada pada julat (range) yang dapat diterima. Perbedaan tersebut tentunya lebih banyak diakibatkan oleh aktivitas gunung api yang relatif terletak di sebelah selatannya (Gunung Api Anjasmoro, Kelud, dan Penanggungan)9.
Menurut Sutikno, daerah Trowulan dan sekitarnya dapat dibedakan menjadi beberapa satuan bentuk lahan, yaitu: dataran aluvial, dataran fluvio vulkanik, dan kipas fluvio vulkanik10.
Dataran aluvial terdapat di sebelah utara Trowulan ke arah Mojokerto. Dataran aluvial terbentuk oleh aktivitas aliran air. Aliran air yang berperan terhadap pembentukan dataran aluvial tersebut adalah Sungai Brantas yang sering menimbulkan banjir. Dataran aluvial tersebut meluas dari arah Jombang ke arah timur melalui Mojokerto hingga mencapai Sidoarjo. Dataran aluvial tersebut di cirikan oleh topografi datar dengan kemiringan lereng ± 2%, material penyusunnya yang utama adalah endapan dengan tekstur yang relatuf halus, pasir, geluh, dan lempung. Masalah yang dihadapi lingkungan macam ini adalah banjir. Oleh karena materi penyusun utamanya adalah material lepas dengan tekstur pasir dengan gradien sungai pada lokasi tersebut rendah, maka alur sungai sering mengalami karena erosi lateral dan air banjir. Sebagai akibat pergeseran Sungai Brantas tersebut di masa lalu. Di beberapa tempat terdapat daerah rendah yang merupakan bekas rawa belakang (backswamp). Daerah dataran aluvial pada umumnya subur, sehingga menjadi pemusatan penduduk, meskipun ada hambatan karena sering terkena banjir. Selain tanahnya subur, topografinya datar sehingga aksesebilitasnya mudah.
Dataran fluvio vulkanik terdapat di sebelah barat Trowulan, meluas ke arah selatan dari Mojoagung. Dataran tersebut dicirikan oleh topografi yang landai serta dilalui oleh sungai-sungai yang berpola radial, misalnya Sungai Jarak dan Sungai Gunting yang berasal dari lereng barat Gunung Argowayang dan Blokoburuh. Material penyusun dataran fluvio vulkanik adalah material yang berasal dari kompleks Gunung Api Arjuna dan Kelud. Karena materialnya berasal dari material gunung api, terletak pada topografi yang datar, serta persediaan air yang cukup banyak, maka daerah di sebelah barat Trowulan sampai selatan Mojoagung merupakan daerah yang subur. Kemungkinan daerah tersebut merupakan daerah hutan yang pada awal kerajaan Majapahit dibuka seperti hutan Terik. Setelah daerah dibuka kemudian menjadi lahan pertanian yang subur, bahkan mungkin menjadi lumbung padi. Banjir lahar dimungkinkan terjadi karena sungai yang mengalir banyak terpengaruh oleh aktivitas Gunung Kelud. Sedangkan banjir yang diperkirakan terjadi pada dataran fluvio vulkanik ini didasarkan pada pola sungai yang berkelok-kelok (meander) dengan belokan-belokan yang tajam.
Dataran kipas fluvio vulkanik meluas dari daerah Trowulan ke arah tenggara11. Pembentukan kipas fluvial vulkanik diakibatkan oleh aliran sungai yang berasal dari Gunung Api Anjasmoro dan Welirang yang mengalir ke arah barat melalui daerah dengan perubahan topografi yang tegas. Semula sungai-sungai tersebut mengalir di daerah yang relatif berlereng terjal kemudian mengalir pada daerah yang relatif datar seperti yang terjadi di hulu Sungai Brangkal di sebelah tenggara Trowulan. Trowulan yang merupakan lokasi Kraton Majapahit didirikan terletak pada bagian bawah kipas fluvio vulkanik tersebut.
Dari keadaan geomorfologis di atas dapat di interpretasikan bahwa kehancuran kerajaan Majapahit bisa disebabkan karena faktor alam. Penelitian dari Institut Teknologi Bandung tahun 1980 menghasilkan suatu teori bahwa kehancuran kerajaan Majapahit disebabkan oleh ledakan gunung berapi yang disertai dengan banjir besar12.
Bagaimana dengan iklim di Majapahit? Iklim di Majapahit bisa diintepretasikan mirip dengan keadaan sekarang. Berdasarkan kualifikasi iklim, menurut Koppen daerah sekitar Trowulan beriklim hujan tropika (tipe A). Syarat tipe iklim A adalah sebagai berikut :
1.temperatur udara bulan terdingin >18°,
2.curah hujan rata-rata tahunan adalah :
a.lebih besar 20 t, apabila kebanyakan hujan jatuh pada musim dingin,
b.lebih besar 20 (t + 7), apabila hujan jatuh sepanjang tahun,
c.lebih besar 20 (t + 14), apabila hujan jatuh kebanyakan pada musim panas; dalam hal ini t adalah temperatur rata-rata tahunan13
Tipe iklim A menurut Koppen tersebut dapat di bedakan menjadi :
a.Af: apabila jumlah hujan rata-rata bulan terkering >60 mm,
b.Am: apabila jumlah hujan bulan basah dapat mengimbangi kekeringan hujan pada bulan kering,
c.Aw: apabila jumlah hujan bulan basah tidak dapat mengimbangi kekeringan hujan pada bulan kering14.
Berdasarkan klasifikasi tipe iklim di atas maka daerah Trowulan dan sekitarnya termasuk tipe Aw. Daerah yang bertipe iklim Aw mempunyai musim kemarau yang panjang. Oleh karena itu bisa diperkirakan bahwa temuan arkeologis yang berkaitan dengan air berhubungan dengam iklim di Trowulan. Di Trowulan terdapat tinggalan tinggalan kepurbakalaan yang berkaitan dengan air yaitu 6 buah waduk, 3 kolam buatan, dan sejumlah saluran air15. Tiga kolam buatan tersebut adalah Segaran, Balong Dowo, dan Balong Bunder. Penelitian terbaru menyebutkan jumlah waduk di daerah Trowulan sekitar 20 buah yang tersebar di dataran sebelah utara Gunung Anjasmoro, Welirang, dan Arjuno. Waduk Baureno, Kumitir, Domas, Kraton, Temon, dan Kedung Wulan adalah waduk-waduk yang berhubungan dengan Kota Majapahit yang letaknya di antara Kali Brangkal di sebelah timur dan Kali Gunting di sebelah barat. Hanya waduk Kedung Wulan yang tidak ditemukan lagi sisa-sisa bangunannya, baik dari foto udara maupun di lapangan16.
Tipe iklim di daerah hulu-hulu sungai yang mengalir melalui daerah Trowulan, yaitu yang terdapat di sebelah selatannya, memiliki tipe iklim Cw (lihat pada gambar 3). Ciri-ciri iklim C adalah temperatur rata-rata bulan terdingin lebih besar dari -3°, tetapi lebih kecil dari 18°, dan rata-rata temperatur bulan terpanas lebih besar dari 10°. Tipe iklim Cw mempunyai musim kering dalam musim dingin tengah tahun, yang pada bulan tersebut hujan paling terkecil sepersepuluh dari hujan bulan panas terbasah. Tipe iklim di sebelah selatan daerah Trowulan yang merupakan pegunungan tersebut mempunyai curah hujan relatif lebih tinggi. Hal ini bahwa daerah pegunungan tersebut memberi imbuhan air yang banyak ke daerah bawah. Oleh karena daearh pegunungan di sebelah selatan tersebut pada umumnya berlereng curam, maka air hujan banyak menjadi aliran permukaan. Oleh sebab itu apabila tidak ada tandon air di bawah kemungkinan air kurang mencukupi sepanjang tahun17.


Bangunan Air Masa Majapahit

Melihat keadaan alam pada masa Majapahit dan masalah kekeringan air maka bisa diinterpretasikan bahwa pembangunan kolam-kolam dan waduk-waduk buatan bertujuan untuk mengatasi masalah kekurangan air. Penduduk Majapahit sangat membutuhkan air karena Majapahit merupakan kerajaan agraris. Pertanian merupakan penopang ekonomi kerajaan. Oleh karena itu jika tidak ada air bisa dimungkinkan tidak ada kehidupan.
Bicara tentang bangunan air di Majapahit tidak terlepas dari Sungai Brantas. Sungai inilah yang menjadi ”senjata andalan” Raden Wijaya dalam membangun kerajaan Majapahit18. Raden Wijaya ketika mengungsi ke Madura tentunya keluar masuk desa-desa yang sekitarnya masih penuh dengan rawa-rawa. Kemudian setelah wilayah tersebut dihadiahkan oleh raja Jayaktwang kepadanya lalu dikeringkan. Untuk pekerjaan raksasa itu Raden Wijaya mendatangkan tenaga dari Tumapel dan Madura19. Dengan adanya Sungai Brantas ini kerajaan Majapahit bisa berhubungan dengan dunia luar, terutama dengan pelabuhannya yang terkenal yaitu Hujung galuh (Surabaya)20. Selain Sungai Brantas, Gunung Penanggungan juga mempunyai peran penting. Air yang mengalir dari gunung ini juga memberi kehidupan pada penduduk Majapahit. Selain berfungsi sebagai penopang kehidupan, Gunung Penanggungan juga di anggap gunung suci. Oleh karena itulah banyak peninggalan-peninggalan arkeologis yang tersebar di Gunung Penanggungan.
Pembangunan bangunan-bangunan air masa Majapahit mengikuti kondisi geografis wilayah Majapahit. Di sekitar-sekitar sungai dan pegunungan di bangun kanal-bangunan air air yang saling berhubungan. Untuk mengatasi masalah kekeringan dibangunlah kolam buatan, sumur buatan, dan waduk buatan.
Pada tahun 1973 pemotretan dilakukan di Trowulan dengan memakai alat multispektral foto dan fales colour infra red. Pemotretan ini berhasil menangkap jaringan air. Lebar jaringan air antara 20-30 m dengan kedalaman sekitar 4 m21. Kemudian dilakukan penelitian lebih lanjut dan menghasilkan interpretasi bahwa ibukota Majapahit dikelilingi oleh jaringan jalur air yang lebar dan dalam serta mempunyai jalan keluar ke arah barat menuju ke Sungai Brantas22. Interpretasi udara yang pankhromatik, ditemukan pula jalur-jalur lurus yang saling tegak di antara reruntuhan bangunan Segaran, Sumur Upas, Candi Tikus, Candi Bajang Ratu, Wringin Lawang, dsb. Kemudian dengan teknik geolistrik menjadi lebih jelas. Jalur-jalur lurus yang semula diduga jaringan jalan raya berupa pengerasan tanah ternyata salah. Isinya justru lumpur basah. Adapun bangunan di sekitarnya sekarang berupa sisa-sisa bata yang digali oleh penduduk untuk bahan bangunan baru23.
Solusi masalah kekeringan di Majapahit adalah dengan pembangunan waduk buatan, sumur buatan, dan kolam buatan. Waduk Baureo adalah waduk yang terbesar yang terletak 0,5 km dari pertemuan Kali Boro dengan Kali Landean. Bendungannya dikenal dengan sebutan Candi Lima. Tidak jauh dari Candi Lima, gabungan sungai tersebut bersatu dengan Kali Pikatan membentuk Kali Brangkal. Bekas waduk ini sekarang merupakan cekungan alamiah yang ukurannya besar dan dialiri oleh beberapa sungai. Seperti halnya Waduk Baureno, waduk-waduk lainnya sekarang telah rusak dan yang terlihat hanya berupa cekungan alamiah, misalnya Waduk Domas yang terletak di utara Waduk Baureno, Waduk Kumitir (Rawa Kumitir) yang terletak di sebelah barat Waduk Baureno, Waduk Kraton yang terletak di utara Gapura Bajangratu, dan Waduk Temon yang terletak di selatan Waduk Kraton dan di barat daya Waduk Kumitir24.
Di daerah-daerah dekat sungai yang meluap di musim hujan dan surut di musim kemarau, penduduk biasa membuat suatu tempat penampungan air yang dinamakan belik untuk persedian di musim kemarau. Belik adalah suatu galian di tepi sungai yang lebarnya kurang dari setengah meter dan dalamnya tidak melebihi satu meter25.
Di Trowulan terdapat tiga kolam buatan yang letaknya berdekatan, yaitu Segaran, Balong Bunder dan Balong Dowo. Kolam Segaran26 memperoleh air dari saluran yang berasal dari Waduk Kraton. Balong Bunder sekarang merupakan rawa yang terletak 250 meter di sebelah selatan Kolam Segaran. Balong Dowo juga merupakan rawa yang terletak 125 meter di sebelah barat daya Kolam Segaran. Hanya Kolam Segaran yang diperkuat dengan dinding-dinding tebal di keempat sisinya, sehingga terlihat merupakan bangunan air paling monumental di Kota Majapahit.27
Bangunan-bangunan air yang berupa waduk, sumur, dan kolam tersebut dihubungkan oleh kanal-kanal air. Foto udara yang dibuat pada tahun 1970an di wilayah Trowulan dan sekitarnya memperlihatkan dengan jelas adanya kanal-kanal berupa jalur-jalur yang bersilangan saling tegak lurus dengan orientasi utara-selatan dan barat-timur. Juga terdapat jalur-jalur yang agak menyerong dengan lebar bervariasi, antara 35-45 m atau hanya 12 m, dan bahkan 94 m yang kemungkinan disebabkan oleh aktivitas penduduk masa kini28.
Kanal-kanal di daerah pemukiman, berdasarkan pengeboran yang pernah dilakukan memperlihatkan adanya lapisan sedimentasi sedalam empat meter dan pernah ditemukan susunan bata setinggi 2,5 meter yang memberi kesan bahwa dahulu kanal-kanal tersebut diberi tanggul, seperti di tepi kanal yang terletak di daerah Kedaton yang lebarnya 26 meter diberi tanggul. Kanal-kanal itu ada yang ujungnya berakhir di Waduk Temon dan Kali Gunting, dan sekurang-kurangnya tiga kanal berakhir di Kali Kepiting, di selatan Kota Majapahit. Kanal-kanal yang cukup lebar menimbulkan dugaan bahwa fungsinya bukan sekedar untuk mengairi sawah (irigasi), tetapi mungkin juga untuk sarana transportasi yang dapat dilalui oleh perahu kecil29.
Kanal, waduk dan kolam buatan ini didukung pula oleh saluran-saluran air yang lebih kecil yang merupakan bagian dari sistem jaringan air di Majapahit30. Di wilayah Trowulan gorong-gorong yang dibangun dari bata sering ditemukan ukurannya cukup besar, memungkinkan orang dewasa untuk masuk ke dalamnya. Candi Tikus yang merupakan pemandian (petirtaan) misalnya, mempunyai gorong-gorong yang besar untuk menyalurkan airnya ke dalam dan ke luar candi. Selain gorong-gorong atau saluran bawah tanah, banyak pula ditemukan saluran terbuka untuk mengairi sawah-sawah, serta temuan pipa-pipa terakota yang kemungkinan besar digunakan untuk menyalurkan air ke rumah-rumah, serta selokan-selokan dari susunan bata di antara sisa-sisa rumah-rumah kuno.
Epilog

Keterangan tentang keadaan alam dan bangunan-bangunan air memang tidak ada dalam sumber tertulis (prasasti dan kitab). Hal ini bisa dibantu dengan menggunakan analisis Geografi. Dengan analisis secara geografis bisa mengetahui tentang kondisi alam pada masa lampau.
Analisa geografis menyebutkan bahwa kondisi alam Majapahit bisa di interpretsikan dengan keadaan yang sekarang. Trowulan sebagai kota Majapahit terletak di dataran aluvial. Oleh karena itulah tanah di wilayah ini sangat subur dan baik untuk pertanian. Hal ini di dukung juga oleh aliran-aliran air yang mengalir dari pegunungan di selatan Majapahit yaitu Anjasmoro, Arjuno, Welirang dan Penanggungan.
Pembangunan bangunan-bangunan air pada masa Majapahit juga di pengaruhi oleh iklim. Daerah Trowulan memiliki iklim Aw yang mempunyai musim kemarau yang panjang. Untuk mengatasi masalah kekeringan maka di buatlah waduk, sumur, dan kolam buatan. Di antara bangunan-bangunan ini terdapat kanal-kanal (saluran-saluran) yang saling berhubungan.
Pemerintah kerajaan membuat waduk-waduk, kolam-kolam, dan saluran air untuk persediaan di musim kemarau dari sungai-sungai besar yang letaknya beberapa km dari Trowulan, untuk kepentingan masyarakat dan perekonomian negara31.Melihat banyak dan besarnya bangunan-bangunan air dapat diperkirakan bahwa pembangunan dan pemeliharaannya membutuhkan suatu sistem organisasi yang teratur. Hal ini terbukti dari pengetahuan dana teknologi yang mereka miliki yang memungkinkan mereka mampu mengendalikan banjir dan menjadikan pusat kota terlindungi serta aman dihuni32.
DAFTAR RUJUKAN

Sumber Buku :

Atmadi, Parmono. 1993. Bunga rampai Arsitektur Dan Pola Kota Keraton Majapahit, dalam Sartono Kartodirjo, dkk (editor), 700 Tahun Majapahit Suatu Bunga rampai. Surabaya: Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Jawa Timur.

Daldjoeni, N. 1982. Geografi Kesejarahan II. Bandung: Alumni.

Muljana, Slamet. 2006. Tafsir Sejarah Nagarakretagama. Yogyakarta: Lkis.

Bambang Sumadio, Sejarah Nasiona Indonesia Jilid II, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), hal 423.

Subroto, Ph. 1993. Sektor Pertanian Sebagai Penyangga Kehidupan Perekonomian Majapahit, dalam Sartono Kartodirjo dkk (editor), 700 tahun Majapahit Suatu Bunga rampai. Surabaya: Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Jawa Timur.

Sukardjo, Agung. Beberapa Catatan Tentang Temuan Sumur Kuna di Trowulan, Pertemuan Ilmiah Arkeologi III Ciloto 23-28 Mei 1983.

Sutikno. 1993. Kondisi Geografis Keraton Majapahit, dalam Sartono Kartodirjo, dkk (editor), 700 tahun Majapahit Suatu Bunga rampai. Surabaya: Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Jawa Timur.

Pinardi, Slamet & Mambo, Winston S. D. Perdagangan Masa Majapahit, dalam 700 tahun Majapahit Suatu Bunga rampai. Surabaya: Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Jawa Timur.

Sumber Internet :

Arifin, Karina. 2008. Bangunan Air Dari Masa Majapahit, www.majapahit-kingdom.com, diakses pada 7 Oktober 2008.